Tips Tidur Nyaman dan Cepat di Malam Hari

Tips Tidur Nyaman dan Cepat di Malam Hari
ilustrasi: Google
TIDUR yang cepat, nyaman, dan pulas di malam hari pasti didambakan setiap orang. Dengan kepuasan tidur, kita akan bangun dalam kondisi yang segar pada pagi hari. Namun, ada sejumlah orang yang mengaku sulit untuk tidur. Kami telah merangkumnya dari akun Twitter @blogdokter dan akan membagi beberapa tips tidur untuk Anda, di antaranya:

  1. Kurangi durasi tidur siang, bila anda memiliki kebiasaan tidur siang. Cukup 30 menit atau kurang setiap harinya. Selain itu, tidur dan bangun di waktu yang sama setiap harinya.
  2. Saat akan tidur, biasakan mematikan semua layar gadget, televisi, komputer. Perangkat-perangkat elektronik tersebut dapat memancarkan sinar biru halus yang akan membuat anda selalu terjaga.
  3. Jauhkan jam dari pandangan karena dapat menimbulkan kecemasaan saat tak bisa tidur.
  4. Gunakan bantal yang tidak terlalu tinggi atau rendah. Usahakan leher lurus atau dalam posisi netral.
  5. Agar tidak sakit pinggang, tidurlah miring lalu taruh bantal di antara kedua lutut.
  6. Pastikan seprai, kasur, dan bantal bersih, bebas kotoran, dan kutu. Pastikan juga tempat tidur hanya untuk aktivitas tidur dan berhubungan intim.
  7. Hindari makan dan minum terlalu banyak sebelum tidur. Jauhi juga minuman beralkohol dan rokok. Hindari juga olah raga di malam hari.
  8. Saat anda akan tidur, kosongkan pikiran, jangan memikirkan pekerjaan ketika berada di atas tempat tidur.

Sumber : Dewiyatini/*Pikiran Rakyat* Minggu, 29 Desember 2013

Kelelawar :: WS RENDRA

Silau oleh sinar lampu lalulintas
aku menunduk memandang sepatuku
aku gentayangan bagai kelelawar
tidak gembira, tidak sedih
terapung dalam waktu
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan
sungguh tidak menyangka
begitu penuh kamu mengisi buku
alamat batinku
sekarang aku kembali berjalan

Apakah aku akan menelefon teman?
apakah aku akan makan udang gapit
di restoran?
aku sebel terhadap cendikiawan
yang menolak menjadi saksi
masalah sosial dipoles gincu menjadi
metafisika

Sikap jiwa dianggap maya dibanding
mobil berlapis baja
hanya kamu yang enak diajak bicara

Kakiku melangkah melewati sampah-sampah

Aku akan menulis sajak-sajak lagi
rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja
kesini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan

--Rendra
Tomang Tinggi, 1981


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya :: WS RENDRA

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita
yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan
suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra
serta mencipta dan mengukir dunia
kita menyandang tugas

Kerna tugas adalah tugas.
bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia
kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu

Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita
tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun
kuasa menghapuskannya

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna
sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita
sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda
dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara
bukan kerna senyuman adalah satu kedok
Tetapi kerna senyuman adalah satu sikap
sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama
nasib, dan kehidupan

Lihatlah! sembilan puluh tahun penuh warna
kenangkanlah bahwa kita telah selalu
menolak menjadi koma
kita menjadi goyah dan bongkok
kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan kerna kita telah terkalahkan

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenang encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Burung-burung Kondor :: WS RENDRA

Angin gunung turun merembes ke hutan
lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas
dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau

Kemudian hatinya pilu
melihat jejak-jejak sedih para tani buruh
yang terpacak di atas tanah gembur
namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya

Para petani buruh bekerja,
berumah di gubug-gubug tanpa jendela
menanam bibit di tanah yang subur
memanen hasil yang berlimpah dan makmur
namun hidup mereka sendiri sengsara.
Mereka memanen untuk tuan tanah
yang mempunyai istana indah
Keringat mereka menjelma menjadi emas
yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa
Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan
para ahli ekonomi membetulkan letak dasi
dan menjawab dengan mengirim kondom

Penderitaan mengalir
dari parit-parit wajah rakyatku.
Dari pagi sampai sore
rakyat negeriku bergerak dengan lunglai
menggapai-gapai
menoleh ke kiri, menoleh ke kanan
di dalam usaha tak menentu
Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah
dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai
dan sukmanya berubah menjadi burung kondor

Beribu-ribu burung kondor,
berjuta-juta burung kondor,
bergerak menuju ke gunung tinggi,
dan disana mendapat hiburan dari sepi.
Karena hanya sepi
mampu menghisap dendam dan sakit hati

Burung-burung kondor menjerit.
Di dalam marah menjerit
tersingkir ke tempat-tempat yang sepi
Burung-burung kondor menjerit
di batu-batu gunung menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi

Berjuta-juta burung kondor
mencakar batu-batu,
mematuki batu-batu
mematuki udara,
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya.

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Wanitaku - wanitaku :: WS RENDRA

Wanitaku-wanitaku
gerimis menampar mukaku
dan aku berseru padamu dimanakah kamu wanitaku?
kamu menghilang di belakang hotel
di dalam kabut kuburu kamu
kamu lari ke dalam bis kota
dan lenyaplah kamu untuk selama-lamanya
Aku bernyanyi dikamar mandi
dan tiba-tiba tubuhmu yang telanjang
terbayang lagi
apakah kamu mengerti kesepianku?
Sukmamu mengembara kedalam rumah
diantara buku buku poster-poster butut
meja makan yang berantakan
ranjang yang berbau mimipi
aku terseduh-seduh
hubungan kita sia-sia
sukmaku menjelma
menjadi seekor kucing tua yang lalu mengembara
luput ke dalam perkampungan
sudah sekian lama
sudah bertahun tahun
sudah berabad abad
melewati kepulan debu
melewati angin panas
melewati serdadu dan algojo
melewati anjing anjing
aku memburu-memburu
berburu-berburu diatas harley davidson
mencari sukmamu dan sukmaku
yang telah lenyap bersama

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Kembali :: WS RENDRA

Delapan ratus kilo aku berlari
dan aku tetap melihat wajahmu
wajahmu adalah wajah terhina
yang diingkari keadilan

Aku berlari ke timur
ke kota yang antik
delapan ratus kilo dari kamu
karena bimbang menempuh bimbang

Sebagai anjing aku termangu
di samping piano
mencari masa lalu
karena gamang akan masa yang datang

Wahai wajah yang terhina
wajah tanpa alamat surat
aku akan kembali kepadamu
karena kamu adalah masa kini
yang harus aku hadapi
dan masa depan
adalah masa kini yang dihayati

Delapan ratus kilo akan ku tempuh
untuk berendeng bersamamu
delapan ratus kilo akan ku tempuh
untuk membaca kemarau bersamamu

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Nyai Dasimah :: WS RENDRA

Nyai Dasimah, yang lebat rambutnya
sudah lama tidak berjumpa
kini kulihat
tetap saja kamu jelita

Menggeleng-gelengkan kepala
dibawah lampu jalan,
kamu mengadu kepadaku
ya ya ya keadaan sudah berubah
tentu saja
pabrik-pabrik didirikan di desa
orang desa menjual tanahnya
pergi ke kota menjadi jadi gelandangan
ya ya ya keadaan sudah berubah
bendungan yang didirikan
ditumbuhi enceng gondok
pengairan malah berkurang
dan tenaga listriknya
hanya mampu dibeli oleh modal asing

Nyai Dasimah yang lentik bulu matanya
sudah lama tidak berjumpa
kini ku lihat
lesung pipitnya tetap sempurna

Dunia berubah ia terbata-bata
tetapi cuma sementara
ketika pabrik batik gulung tikar
dan wanita-wanita pembatik berkeluyuran di jalan
di waktu malam
dengan cepat ia membuka kedai makan
ia judes terhadap langganan yang berhutang
ia bekerja siang dan malam

Nyai Dasimah bibirnya merah kesumba
sudah lama tidak berjumpa
kini ku lihat
ia tetap cantik dan perkasa
ia tak pernah ragu-ragu
kadang-kadang menangis juga
tetapi cuma sedikit
air matanya
anaknya yang tamat SMA
tak dapat kerja
cepat-cepat ia seret ke pasar
ia suruh berdagang saja
dunia berubah
ya .....senantiasa akan berubah
tentu saja
tapi Dasimah tetap Dasimah
Ia melenggang satu dua
dan dunia
terkesima oleh pantatnya

Dasimah wahai Dasimah
uangmu kamu hitung, uangmu kamu simpan
semangatmu memandang ke depan
uang itu gaib katamu
mungkin
sebab nyatanya
diburu bagai bayangan
dihayati ia menjadi kenyataan

Nyai Dasimah menggeliatkan tubuhnya
sudah lama tak berjumpa
kini ketemu ia minta pijitan

Ayolah Nyai mari ke mari
kebayamu yang rapih
bersih berkanji
yet iyet tebu
yet iyet pisang
meski kamu sudah ibu
kamu toh tetap girang

--Rendra
Jakarta, 23 Oktober 1976


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Nyanyian Fatimah untuk Suto :: WS RENDRA

Kelambu ranjangku tersingkap
dibantal berenda tergolek nasibku
apabila firmanmu terucap
masuklah kalbumu ke dalam kalbuku
sedu sedan mengetuk tingkapku
dari bumi dibawah rumpun mawar
waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
tapi hidup bukanlah tawar menawar

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Nyanyian Suto untuk Fatimah :: WS RENDRA

Dua puluh tiga matahari bangkit dari pundakmu
tubuhmu menguapkan bau tanah
dan menyelalah sukmaku.
langit bagai kain tetoron yang biru
terbentang berkilat dan berkilau
menantang jendela kalbu yang berduka cita
rohku dan rohmu bagai proton dan elektron
bergolak bergolak bergolak bergolak
dibawah dua puluh tiga matahari
dua puluh tiga matahari membakar duka cita

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Hutan Bogor :: WS RENDRA

Badai turun
didalam hutan
badai turun
didalam sajak sajakku
selalu sayang
aku terkenang kepadamu

Sudah jam empat sore
hujan jatuh di hutan kenari
semula nampak manis
kemudian mendahsyatkan
di dalam hujan, mendung dan petir
bumi pun nampak fana
Tak ada yang abadi

Buruk dan basah
jenggot pohonan
lumut lumut didahan, benalu dan
paku paku
aku berpikir
betulkah aku tidak menipumu

Didalam hujan
bumi dan sajak
terasa fana
berhadapan dengan maut
dengan malu
telanjanglah kita

Menggapailah tangan tangan kita
bagai dahan dahan pohonan
dan beriaklah suara suara
dalam perkelahian yang fana
tapi dengan dahsyat
dahan dahan tetap menggapai
yang penting
bukanlah kekalahan ataupun kemenangan
tapi bahwa tangan tangan telah di kepalkan
biarpun kecapaian

Badai turun
di dalam hutan
badai turun
di dalam sajak sajak

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api :: WS RENDRA

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya?
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan
kepastian hidup bersama?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan
kaki langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku?
Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
Ataukah ini bau limbah pencemaran?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah priangan?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku!
Apakah yang terjadi?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga.
Kini
Kami tersentak,Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan zaman
Apakah yang terjadi?
Apakah yang telah kamu lakukan?
Apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Rajawali :: WS RENDRA

Sebuah sangkar besi
tidak bisa merubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Paman Doblang :: WS RENDRA

Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya pengap
Ada hawa tak ada angkasa
Terkucil temanmu beratus-ratus nyamuk semata
Terkunci tak tahu kapan pintu akan terbuka
Kamu tak tahu di mana berada

Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?

Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama
Aku istirah di sini
Tenaga ghaib memupuk jiwaku

Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala
Kamu terkurung dalam lingkaran
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana
Kaki kamu dirantai ke batang karang
Kamu dikutuk dan disalahkan
Tanpa pengadilan

Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata

--Rendra
Depok, 22 April 1981


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Doa di Jakarta :: WS RENDRA

Tuhan yang Maha Esa
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai
fikiran yang dipabrikkan
dan masyarakat yang diternakkan

Malam rebah dalam udara yang kotor
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan
terpenjara, tanpa jendela

Tuhan yang Maha Faham
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang berarti empat puluh tahun gaji seorang buruh
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C
Hati manusia telah menjadi baja
Bagai dash board yang tak acuh
panser yang angkuh
traktor yang dendam

Tuhan yang Maha Rahman
ketika air mata menjadi gombal
dan kata-kata menjadi lumpur becek
aku menoleh ke utara dan ke selatan
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk uang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?

Ya, Tuhan yang Maha Hakim
harapan kosong, optimisme hampa
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata

--Rendra
Jakarta 29 Mei 1983


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Widuri untuk Joki Tobing :: WS RENDRA

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir
Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba
Orang-orang miskin menentang kemelaratan
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
kerna wajahmu muncul dalam mimpiku
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
karena terlibat aku di dalam napasmu
Dari bis kota ke bis kota
kamu memburuku
Kita duduk bersandingan
menyaksikan hidup yang kumal
Dan perlahan tersirap darah kita
melihat sekuntum bunga telah mekar
dari puingan masa yang putus asa

--Rendra
9 Mei 1977
Nusantara Film
Jakarta


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Joki Tobing untuk Widuri :: WS RENDRA

Dengan latar belakang gubug-gubug karton
aku terkenang akan wajahmu
Di atas debu kemiskinan
aku berdiri menghadapmu
Usaplah wajahku, Widuri
Mimpi remajaku gugur
di atas padang pengangguran
Ciliwung keruh
wajah-wajah nelayan keruh
lalu muncullah rambutmu yang berkibaran

Kemiskinan dan kelaparan
membangkitkan keangkuhanku
Wajah indah dan rambutmu
menjadi pelangi di cakrawalaku

-- Rendra
9 Mei 1977
Nusantara Film
Jakarta


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Lirik Lagu Selamat Untukmu Album Ternyata (1989) KATARA SINGERS

Katara Singers
“Selamat Untukmu” lagu yang dibawakan Katara Singers (Deddy Hasan, Rika, Nana, dan Andre Hehanussa) grup vokal asal Bandung ini, mungkin tak asing untuk menikmat musik di awal tahun sembilanpuluhan. Termasuk saya juga menyukai beberapa lagu Katara Singers di album Ternyata (1989), seperti lagu: Masa Bodo, Ternyata, Fiesta de Rio, dan Selamat Untukmu.

Untuk mengenang kembali masa muda (jiahh pemuda jadul, ternyatah … yahhh). Di bawah ini saya arsipkan lirik lagu Selamat Untukmu:

SELAMAT UNTUKMU
Cipt: Erwin Gutawa, Harry Kiss
Album: Ternyata (1989), KATARA SINGERS
Produksi: Midilab Production & Aquarius

Mentari pagi ini
berseri menyambutmu
Tak terasa hari ini
tambah satu usiamu

Tahun t'lah berganti
usiapun menyusuri
jelang waktu yang terus berlalu

Harapku kau bahagia
di hari milikmu
Dan semoga tahun ini
mengawali sinarmu

Indah...
kan seindah nirwana
nan seputih kasih
Hening...
sebening sinarmu

Kupersembahkan lagu ini
s'lamat untukmu
Semoga kau bahagia slalu...

Harapku kau bahagia
di hari milikmu
Dan semoga tahun ini
mengawali sinarmu

Indah...
kan seindah nirwana
nan seputih kasih
Hening...
sebening sinarmu

Kupersembahkan lagu ini
s'lamat untukmu
semoga kasih slalu bersamamu

Lupakan duka
gapai citamu
doaku bersamamu slalu

Sikap dewasa
menanti di jalanmu kini
bekal kehidupan nanti

Kupersembahkan lagu ini
s'lamat untukmu
semoga kasih slalu bersamamu

Lupakan duka
gapai citamu
doaku bersamamu (denganmu)

Kuucapkan s'lamat untukmu
gapai citamu
semoga kau bahagia

Bagaimana Sobat jadul masih mengingat/menikmati lagu-lagu Katara Singers grup vokal asal Bandung ini? Tempo hari saya sempat lihat di youtube ada beberapa lagu juga liriknya.

Oh iyah tak lupa buat yang hari ini (10 November) tambah satu usia. Semoga selalu diberi sehat oleh Sang Pencipta.

salam

Ganjaran Kanu sarakah :: Dongéng

Kacaturkeun di tatar pakidulan Garut, aya hiji kulawarga nu kacida masakatna. Banda nu jadi tatalang ragana mung saukur imah sacangkewok jeung balong tukangan imah sagede kobokan.

Baheula mah basa keur ngorana éta kulawarga téh éstu beurat beunghar. Di lembur téh pangjegudna. Salakina teureuh menak, ngan hanjakal loba harta lunak libuk téh teu dibarengan ku beunghar haténa. Karesepna éta salaki pamajikan téh kan curak-curak jeung ngahambur-hambur duit warisan kolotna.

Ganjaran Kanu sarakah
ilustrasi: google
Ari kangaranan harta, sakumaha lobana ogé tangtu ninggang di béak. Kitu ogé harta kulawarga, tungtungna mah ludes. Pamustungan nu bisa hirup senang, ngarumas pisan ningal kaayaan nu lieuk euweuh ragap taya téh.

Sanajan kaayaanana kitu, naon-naon nu tumiba ka maranéhkan téh tangtu waé teu bisa bérés ku humandeuar. Barang gawé mah tetep kudu, da beuteung mah angger kudu dieusian.

Sanggeus kaayaanana kitu, salakina jadi rajin barang gawé. Sasatna mah teu bauan. Daék itu daék ieu, rancagé tur rapékan. Ngan, abong adat geus kakururng ku iga, karesepna kana ngahambur-hambur mah teu leungit.

Beubeunangan hasil gawé sapoé jeput téh ludes-ludes waé, euweuh nu nyangsang hiji-hiji acan, boh kana tanah boh ingon-ingon pibekeleun pikahareupeun. Nu jadi pikiranana ngan kana eusi kadut. Kulantaran tara rikirik, hirupna angger waé teu aya menyatna.

Beuki kolot mah tanagana téh beuki suda. Atuh panghasilan tina barang gawée teu kawas baheula. Nu mercaya gawé manéhna ogé beuki ngurangan, da loba kénéh nu jagjag jeung waringas. Antukna manéhna jadi leungiteun kasab. Kiwari sapopoéna ogé ukur jadi tukang buburuh ngarit.

Hiji poé, waktu manéhna ngarit di leuweung, panggih jeung saurang pamuda nu sarua keur ngarit. Pangawakana beresih jeung gagah, saliwat mah teu mantes kudu barang gawé kasar kitu mah.

Duanana uplek ngobrol, manéhna ngébréhkeun bangbaluh ka éta pamuda, kumaha kasusah nu tumiba ka dirina. Tina paromanana mah si pamuda haateun pisan. Bérés cacarita, éta pamuda téh tuluy ngajak ka mumunggang gunung.

Manéhna teu talangké nuturkeun pamuda. Sanggeus nepi di mumunggang gunung. Si pamuda téh nuduhkeun hiji tangkal kawung nu doyong kalebah jurang. Barang disidik-sidik mah, horéng tanggal kawung téh ahéng kacida. Kawung téh buahan caruluk emas.

“Ieu téh tangkal kawung pelak karuhun kuring.” Ceuk éta pamuda bari tuluy naék kana tangkal kawung. Sanggeus nepi ka luhur, tuluy mipit sababaraha siki caruluk emas, diasupkeun kana kojana. Geus kitu mah tuluy turun deui.

Ari manéhna bati colohok, asa hémeng jeung cangcaya.

“Kang, kuring mah teu bisa marengan lila, lantaran aya pangabutuh séjén. Sok waé ngala sacukupna ulah loba teuing. Kahareupna tangtu anak incu urang saréréa bakal sarua butuh,” ceuk éta pamuda bari tuluy ngaléos.

Heuleut sawatara linana saditinggalkeun ku si pamuda, manéhna téh kacida bungaheunana ningali emas nu ting gurilap. Teu talangké tuluy ngudalkeun kabéh jukut tina karung nu geus pinuh. Laju naék, ngala caruluk emas.

Nénjo emas nu sakitu lobana, dina pikirna ngalangkang deui kahirupan manéhna mangsa keur beurat beunghar. Antukna najan inget ogé kana papatah si pamuda teu dipaliré. Caruluk emah téh kabeh dipupu, diwadahan kana karung nepi ka pinuh ku emas.

Waktu rék turun manéhna bingung pisan, karung nu rék pinuh ku emas téh hésé nurunkeunana. Rék dipuragkeun, kulantaran kawungna doyong ka jurang, tangtu waé moal bisa. Murag nagndung harti dipicen. Ari rék dipicenan sawaréh, tangtu waé lebar. Bororaah satengahna, dalah sasiki ogé lebar kacida. Antukna caruluk emas nu sakarung téh dipaksakeun dibawa turun.

Karék ogé saléngkah, awakna kaburu kabawa mantén ku karung nu eusi emas. Manéhna jeung carulukna ragrag ka jurang, emas euewuh nu kapluk. Manéhna nemahan pati saharita kénéh, lantaran katinggang pisan ku karung nu eusi emas.

Jadi hirup mah ulah sieun béakeun rijki ku batur. Masing-masing ogé geus aya bagéanana. Atuh lamun dina ayana, ulah sok aya asa aing aya, dimonyah-monyah nepi ka poho ka poé isuk jeung kabatur. Tangtu waé sipat-sipat nu sarakah mah pamustunganana téh teu weléh numbuk di sué. *** (Sumber; Taufik Rahayu/Mangle No. 2358)

Teks Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.



Teks asli SOEMPAH PEMOEDA hasil rumusan Moehammad Yamin (28 Oktober 1928) menggunakan ejaan lama yaitu untuk huruf "U" masih menggunakan "OE", huruf "J" menggunakan "DJ", dan huruf "Y" menggunakan huruf "J". Sbb:
  • Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
  • Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  • Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sumber: google

Babasan jeung Paribasa | W – Y

W
Waspada permana tingal Terus tingal, ilikan weruh sadurung winarah.

Wawuh munding Wawuh meueusan pédah sok panggih di jalan atawa dina pasamoan.

Weruh sadurung winarah Nyaho méméh dibéjaan.

Wiwirang di kolong catang nya gedé nya panjang Wiwirang gedé nu teu bisa dibunian.

Watang sinambungan Nu paséa atawa nu boga perkara batur, tapi ari cékcokna jeung urang.


Y
Yuni kembang Jelema anu pasipatanana kawas kembang, pikaresepeun atawa pikalucueun.

Yuni tai Jelema anu pasipatanana teu pikaresepeun atawa teu pikalucueun.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | U

Ubar puruluk Omongan pikeun nengtremkeun pikir sakadarna, ulah ngarasula.

Ukur pulang modal Henteu untung henteu rugi, balik jinis.

Ulah andelan ulah pidelan Ulah percayaan teuing, tapi ulah teu percaya teuing.

Ulah cara ka kembang malati, kudu cara ka picung Ulah babari bosen, kudu mayeng kayaah, kudu mimitina asih beuki lila beuki asih.

Ulah ieu aing uyah kidul Ulah asa aing pangpunjulna.

Ulah incah balilahan Entong pindah tempat.

Ulah nyeungseurikeun upih ragrag Ulah ngageuhgeuykeun (kolot) nu ku urang sorangan bakal kasorang (kaalaman)

Ulah sambat kaniaya Ulah majar manéh dikaniaya, da bongan boga dosa.

Ulah tiis tiis jahé Ulah senang-senang atawa cicing-cicing baé saméméh sasadiaan pikeun ngalaksanakeun perkara nu disanghareupan.

Umur gagaduhan, banda sasampiran Boh umur boh harta banda teu ngaboga-boga, sabab dina hakékatna mah sadayana ogé kagungan Allah.

Uncal kaauban surak Ngadéngé béja tacan sidik tuluy diandel enya baé.

Uncal tara ridueun ku tanduk Élmu moal matak ridu mamawa.

Undur kadeuleu punduk, datang kadeuleu tarang Henteu ngaléos kitu baé, bébéja heula, basa rék indit saperti basa datang.

Unggah adat jelema anu robah pangadatan (pamaké) atawa kalakuan, ku sabab ngarasa yén darajat dirina geus ningkat.

Urang curug ngebul Jalma dusun ti nu jauh pisan ti kota.

Urang kampung bau lisung, cacah rucah atah warah Jelema dusun.

Uteuk tongo dina tarang batur katénjo (kanyahoan), ari gajah depa dina pundak teu karasa kagoréngan batur sanajan saeutik kanyahoan, ari cacad awak sorangan masing gedé ogé teu karasa.

Uteuk tongo walang taga barang-barang atawa sasatoan anu panglaleutikna

Uyah tara téés kaluhur Sipat anak sok ngala ka indung-bapana.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | T

Taarna téja mentrangan tarang anu alus kawas anu cahayaan.

Tacan aya nu nganjang ka pagéto Can aya jelema nu nyaho naon anu bakal kajadian di ahir.

Tai ka hulu-hulu Tingali miyuni hurang, tai kahulu-hulu(na).

Taktak korangeun Taktak anu leway kawas kempis.

Tamba gado ngaborayot (ngagayot) Tamba cicing teu barangdahar, lumayan sanajan lain nu ngeunah.

Tamiang meulit ka bitis Malindes ka diri sorangan.

Tamplok aseupan Turun sagemblengna ka anak, boh dedegpangadegna boh tingkah lakuna.

Tamplok batokeun Béréhan, balabah teuing nepi ka teu ngingetkeun kana kaperluan sorangan.

Tangkal kai teu kalis ku angin Unggal jelema kudu baé nyorang kasusah.

Tarajé nanggeuh dulang tinandé Sadia ngajalankeun paréntah.

Tarik alabatan (alahbatan) mimis Kacida tarikna.

Tatah wadung Rajakaya anu dipiboga ku hiji jalma.

Tawar gatra Nawaran (ngajak) dahar tamba henteu basa-basa acan. Bandingkeun ajak jawa.

Taya dunya kinasihan Sagala rupa dibikeun pikeun jalma nu dipikaasih mah.

Taya genah panasaran Geus ngarasa sugema, teu ngandung haté.

Taya geusan pakumaha (pananggeuhan) euweuh batur keur diajak badami.

Taya halodo panyadapan Taya eureunna paséa.

Taya kabau Sagala daék, sagala beuki.

Taya tangan pangawasa Leuleus, taya tanaga.

Témbong (kanyahoan) tambagana Kaayaan haté atawa laku lampahna anu goréng ahirna kanyahoaan, sok sanajan tadina disumputkeun.

Témbong gélor Hiji barang atawa tempat anu katémbongna mah deukuet padahal saenyana jauh.

Téng manuk téng, anak mérak kukuncungan Ngala ka indung jeung ka bapa.

Tebus purun paradah wani Upama perlu daék nebus, sarta wani katempuhan jeung wani tanggung jawab.

Teguh pancuh Teguh pamadegan.

Teluh kéjo Tunduh lantaran seubeuh teuing dahar.

Terusing ratu rembesing kusumah Turunan raja-raja atawa ménak.

Teu asup ka Rewah-Mulud Jelema anu tara diondang kana sidekah dina bulan Rewah jeung Mulud.

Teu asup kolem Teu asup bilangan, teu kaaku golongan.

Teu aya geuneuk maleukmeuk Bersih haté, teu ngunek-ngunek.

Teu badé gawé Teu pantes bisa digawé.

Teu basa (béja) teu carita Teu aya béja pisan.

Teu basa-basa acan Teu ngedalkeun rasa bungah, sono atawa tumarima.

Teu beunang dikoét ku nu kékéd Jelema korét, teu beunang dipéntaan tulung ku nu keur susah.

Teu beunang disupa dulang Teu beunang dibébénjokeun.

Teu boga pikir rangkepan Bolostrong, teu boga curiga, atawa teu boga rasa timburu.

Teu boga tulang tonggong Teu boga tatalang raga.

Teu busik bulu salambar Salamet atawa meunang kaunggulan, henteu kabeunangan ku musuh.

Teu busik-busik acan Salamet, henteu kabeunangan ku musuh. Bandingkeun teu busik bulu salambar.

Teu cai hérang-hérang acan Teu disuguhan naon-naon.

Teu di hurang teu di keuyeup Parasaan mah teu di cacah teu di ménak, sarua baé.

Teu diambeuan Teu dihargaan, teu diajénan, teu dipikasérab, teu dipikaéra, teu dipikasieun.

Teu dibéré cai atah Teu diogo.

Teu didéngé ku tai ceuli (bujur) Teu diperhatikeun pisan.

Teu didingding kelir Diceplakkeun satarabasna taya nu dipinding-pinding.

Teu dipiceun sasieur Ceplés, sarua pisan.

Teu ditari (ditalék) teu ditakon Diantep, teu ditanya-tanya acan, sumawonna diajak nyarita.

Teu éléh géléng Henteu éléh pangabisa.

Teu elok teu embol Teu katénjo datang atawa balikna, teu témbong-témbong.

Teu embut teu ciak Teu méré béja sautik-eutik acan.

Teu gedang bulu salambar Teu sieun saetuik-eutik acan ku ancaman musuh.

Teu gugur teu angina Teu aya lalantaranana, teu aya sabab-musababna.

Teu hir teu walahir Teu baraya meueus-meueus acan.

Teu inget sacongo buuk Poho sama sakali.

Teu jauh ti juru tihang, teu anggang ti tihang tengah Geus goréng rupana téh goréng, sabab sok pulang-paling.

Teu kabadanan Teu katanagaan.

Teu kakurung ku entik Teu kaasup bilangan jelema anu kudu disuguhan/dibéré dahar.

Teu kaleungitan peuting (Awéwé) nu tacan kaleungitan salaki sapeuting jeput euweuh di imah (ciri-ciri teu mangduakeun).

Teu kaur benta/teu kaur buluan Teu kaur aya kaboga, béak deui béak deui.

Teu lémék teu nyarék Teu ngomong naon-naon.

Teu mais teu meuleum Teu pipilueun kana urusan nu jadi carita.

Teu meunang cai atah Teu dipangmeunangkeun.

Teu nalipak manéh Teu ngukur ka kujur, ngalampahkeun kalakuan nu teu saluyu jeung kaayaan dirina.

Teu ngalarung nu burung, teu nyésakeun nu édan Ngumbar napsu sahwat bari henteu pipilih heula.

Teu nginjeum ceuli teu nginjeum mata Nyaksian sorangan, lain beunang béja.

Teu nyaho di alip bingkeng Buta hurup, teu bisa ngéjah-ngéjah acan.

Teu nyaho di hitut bau Teu loba pangalaman, dusun.

Teu nyaho di kalér-kidul Linglung, kapaider.

Teu pindo gawé Teu ngabohong.

Teu puguh alang ujurna (hulu buntutna) Teu puguh éntép seureuhna, teu bérés (bisa kana omongan atawa pagawéan).

Teu puguh monyét hideungna Teu puguh tungtungna.

Teu sanak teu baraya Teu boga baraya pisan.

Teu tata pasini Teu cacarita heula, teu badami heula.

Teu tuah teu dosa Teu boga kasalahan naon-naon.

Teu uyahan Réhé, teu lucu.

Teu wawuh wuwuh pajauh, teu loma tambah paanggang Balukar tina teu wawuh, tangtu bakal jadi pajauh.

Ti batan meunang pala anggur meunang palu Ti batan meunang pujian atawa buruhan kalah ka dicarékan.

Ti kikirik nepi ka jadi anjing Ti bubudak (leuleutik) tepi ka sawawa (déwasa).

Ti nanggerang lila beurang ti nangkorék lila poék Ti mana-mana, ti siklakna ti siklukna.

Ti ngongkoak nepi ka ngungkueuk Ti bubudak nepi ka bongkok ku kakolotan.

Ti peuting kapalingan, ti beurang kasayaban Karoroncodan leuwih ti sakali.

Tibalik pasangan Lain kitu kuduna, tojaiah jeung nu bener.

Tibatan kapok, anggur gawok Henteu kapok, anggur ngahanakeun.

Tiis ceuli hérang mata Ngarasa sugema, taya kahariwang, ngeunah téténjoan.

Tiis dingin paripurna Sampurnaning tiis pikir, tibra saré, kacida ngarasa sugemana, taya kahariwang.

Tiis leungeun Jadian pepelakan.

Tiis pikir Senang haté.

Tiis-tiis jahé Tenang-tenang waé, padahal rék nyanghareupan pagawéan gedé tur bangga.

Tikoro andon péso Nyampeurkeun nu rék néwak atawa ngahukum.

Tikoro kotokeun, caréham hayameun Isuk-isuk kénéh (neut hudang) geus kudu barangdahar.

Tilas tepus Ukur sacukupna baé.

Tinggal tulang jeung kulit Kacida begangna (nu gering ripuh).

Tinggar kalongeun Tina mindeng teuing dicarékan atawa dilarang, tungtungna teu sieuneun.

Tipu keling ragaji Inggris Pinter dina urusan kajahatan, pangpangna dina nipu atawa macikeuh deungeun.

Tisusut didungdung Digawé ti isuk nepi ka peuting teu eureun-eureun.

Titip diri sangsang badan Mihapékeun manéh, kumawula supaya aya anu méré dahar jeung paké.

Titirah ngadon kanceuh Néangan kasenangan, tapi kalah meunang kasusah.

Torojol (tumorojog) tanpa larapan Datang henteu ngiberan heula.

Totopong heureut dibébér bébér kalah soéh Rejeki saeutik ari kaperluan loba, tungtungna timbul kasusah.

Trong kohkol morongkol, dur bedug murungkut Dilarapkeun ka jelema nu kedul hudang subuh.

Tuang jinis Jelema nu sok seuri ku carita atawa dongéngna sorangan, ari batur mah euweuh nu seuri.

Tugur tundang cuntang gantang Kawajiban nu leutik ngalampahkeun papagon nagara.

Tumpang sirang Teu pantes barangpaké, tumamu lantaran kararagok waé jeung nu dicicingan.

Tunggu tutung Nu ngajaga atawa nu tunggu kapalingan ku lantaran lalawora.

Tunggul dirarud, catang dirumpak Ngalajur napsu taya nu dihiding, euweuh kasieun, sagala dirumpak.

Tunggul kuras Duit teu sabaraha anu ngahaja disésakeun, tamba kosong teuing pésak (dompét).

Tunggul sirungan catang supaan Aya kajadian goréng di ahir nu matak teu ngeunah balukarna.

Tungkul ka jukut, tanggah ka sadapan Junun digawé henteu kabéngbat ku pagawéan séjén.

Turun ka ranjang Kawin ka adi beuteung sanggeus jeung lanceukna kapegat ku ajal atawa pepegatan. Sabalikna tina unggah ka ranjang.

Turun tangis Babarian ceurik.

Turunan tumenggung sundung, patih arit Lain turunan ménak sanajan enya jeneng.

Tutung atahan Pagawéan atawa jijieunan anu alus sawaréh.

Tuturut munding Nurutan kalakuan batur bari teu ngarti kana maksudna.

Tutus langkung, képang halang, bobo sapanon carang sapakan Omongan atawa caritaan anu salah pok-pokanana atawa teu pati merenah.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | S

Saampar samak Sageblég jeung kaayaanana méh sarua, sakapat atawa satatar (ngeunaan sawah, kebon), disebutkeun kana sawah atawa tanah nu padeukeut atawa tepung wates jeung sawah atawa tanah batur.

Saaub payung sacaang damar Lahan atawa pakarangan heureut.

Sabata sarimbagan, sabobot sapihanéan Layeut sauyunan, tara pasalia pikir. Tingali ogé sareundeuk saigel, saketak sapihanéan, sabata sarimbagan.

Sabda pandita ratu Pangandika raja kudu beunang dipercaya kawas sabda pandita, raja teu meunang cidra.

Sabelas dua belas Sarua kénéh, sakitu-kitu kénéh.

Sabuni-buni nu ngising Sanajan dibuni-buni/dirasiahkeun, pagawéan serong mah awal ahir sok kanyahoan.

Sabuni-buni (nu neundeun) tarasi Sanajan dibuni-buni/dirasiahkeun, pagawéan sérong mah awal ahir sok kanyahoan.

Sacangreud pageuh, sagolék pangkék Sagala omonganana ditedunan, tara jalir jangji, pageuh nyekel jangji, tara sulaya tina omonganana.

Saciduh metu, saucap nyata Sipat nu luhung élmuna, sagala rupa kasauranana aya buktina.

Saciriking duit sakocopoking bogo Rupa-rupa perkara anu boga daya tarik kana haté.

Sadom araning baraja (braja), sakunang araning geni Perkara (barang) anu bisa ngalantarankeun cilaka, sanajan teu pira (jadi ulah sok mokahaan).

Saeutik mahi, loba nyésa Jelema anu bisa ngatur rejeki, najan ukur meunang saeutik, tapi bisa nyumponan pangabutuh.

Saeutik patri Najan saeutik tapi matak sugema lantaran alus.

Sagalak-galakna (sagalak-galaking) macan, tara ngahakan (nyatu) anak sorangan Sakumaha bengisna atawa kejemna jelema, moal nepi ka ngabinasa atawa nyilakakeun anak.

Sahérang-hérangna cibéas Sabersih-beresihna haté jelema nu geus nganyenyeri moal beresih pisan.

Sakésér daun Babari lapar deui.

Sakecap kadua gobang Babari ambek, malah mun ambek bari sok ngagunakeun pakarang.

Sakti mandraguna (manggulang-mangguling) Pohara Saktina.

Sakuru-kuruna lembu, saregéng-regéngna banténg Sakumaha teu bogana, jalma nu asalna beunghar, moal miskin-miskin teuing.

Salieuk béh beunghar, sagala aya.

Salisung garduh Sapongkol (sakongkol).

Saluhurna punduk tara ngaliwatan hulu Sakumaha pinterna murid (waktu harita), moal leuwih pinter ti guruna.

Samagaha pikir (haté) Hirup bingung, baluweng mikiran kasusah.

Sanajan nepi ka bisa ngukir langit Sanajan sakumah pinterna.

Sangsara di geusan betah Jelema anu kacida miskinan, tapi anéhna téh ari hirup mah hayang kénéh.

Sapapait samamanis Hirup rukun.

Sapi anut ka banténg Awéwé ngawula ka salaki.

Sapu nyéré pegat simpay Papisah sanggeus babarengan lila, lantaran pindah tempat.

Sareundeuk saigel sabobot (saketak) sapihanéan sabata sarimbangan Rembug sauyunan, sabagja sacilaka, lulus runtut.

Sari gunung Tegep geulis katénjona ti kaanggangan ari ti kadeukeutan mah teu sabaraha.

Sasieureun sabeunyeureun Saeutik-eutikeun.

Satalén tilu baru Kitu-kitu kénéh.

Satengah buah lenca Rada gélo, kurang ingetan.

Sato busana daging, jalma busana élmu Jelema mah minangka nu jadi papakéanana téh élmu lain daging kawas sato.

Saumur nyunyuhun hulu Tibarang lahir, ti barang inget.

Saungkab peundeuy Omongan nu ringkes sarta rada janggal, upamana nu carang takol, ari rajeun ngomong saungkab peundeuy.

Saur manuk Ngajawab pertanyaan bareng sarta sarua, saperti ngucapkeun, “Mupakat, akur!”

Sawaja sabeusi Sarua harkatna, darajatna atawa rajakayana; sakupu (salaki jeung pamajikan).

Sawan geureuh Kawas nureuwas ku digeunggeureuh-keun.

Sawan kuya Kawas kuya nangkarak teu bisa nangkub, dilarapkeun ka jalma nu naék teu bisa turun atawa nu hayang eureun tina pagawéan nu geus dimimitian tapi teu bisa.

Séngsérang padung Jelema geus kolot, ceuk taksiran geus deukeut ka paéh.

Séngsérang panon Jajaka atawa parawan nu keur meujeuhna pikaresepeun, atawa keur meujeuhna resep nénjo nu tegep lantaran keur mangkat begér.

Sétan bungkeuleukan Jelema anu kacida jahatna, taya rasrasan dina kadolimanana.

Sela hapitan gunung Budak lalaki nu boga lanceuk awéwé hiji jeung adi awéwé hiji.

Selang-seling Aya éling aya henteu (nu gering rada owah).

Selenting bawaning angin, kolépat bawaning kilat (béja) Kabar angin atawa kabar tolok, nyaéta béja anu nyebarkeun ditatalépakeun, teu puguh sumberna.

Sentak badakeun Digawé rosa tapi ngan sajongjongan; digawéna getol sakapeung, reureundahan.

Sepi paling towong rampog Aman kerta raharja,

Serah bongkokan Taluk, sanggeus ngarasa tétér.

Sereg di buana (panto) logor di liang jarum Teu bisa atawa teu wani campur jeung jalma réa nu balener lantaran jahat (loba dosa), biasana campurna di kalangan nu jarahat deui bari susulumputan.

Seukeut ambeu seukeut panon Loba mata-matana.

Seukeut tambang manan gobang Sakumaha gagahna jelema lamun ngalawan ka pamaréntah tangtu katangkep.

Seuneu hurung dipancaran Jelema nukeurambek ditambahan piambekeunana.

Seuneu hurung cai caah, ulah disorang Jalma anu keur napsu ulah diladénan atawa diheureuyan.

Seuri konéng Seuri maur, seuri rada éra atawa nyeri, upamana tas ceurik atawa tas ngambek.

Seuseut batan neureuy keueus Kacida héséna.

Ci cépot jadi raja Jelema euweuh kabisa jadi pamingpin.

Sibanyo laleur Ledis pisan, teu nyésa saeutik eutik acan.

Siduru isuk Nyunatan budak teu maké raraméan, sarta teu ondang-ondang.

Sieun képlok jadi tamplok Sieun rugi saeutik, tapi tungtungna rugi gedé pisan.

Sieun nyakclak jadi bahé Sieun rugi tapi tungtungna jadi lapur.

Sieuran (Awéwé) ku saliwat katénjona teu kaasup geulis, tapi mun ditelek-telek tegep; sabalikna tina sari gunung.

Siga béntang kabeurangan Geulis pisan.

Siga bungaok Goréng patut pisan.

Silih jenggut jeung nu gundul Pakumaha-kumaha jeung batur nu pada teu boga nanaon.

Siniger tengah Sikep atawa pamadegan nu sedeng, biasana henteu biluk ka salahsahiji pihak.

Sireum ateulan Teu adil dina babagi atawa teu sarua gedéna dina barangjieun; teu sarua ukuranana (gedéna).

Sireum ngalawan kadal Nuleutik ngalawan nu gedé.

Sirung ngaluhuran tunggul Jelema nu darajatna atawa élmuna ngungkulan kolotna atawa guruna.

Sisit kadal Goréng milik.

Sisit kancra Alus milik.

Soéh keuyeupeun Soéh nyiku atawa masékon (baju, samping, jsb).

Sono bogoh geus kalakon, lara wirang geus kasorang Geus cukup pangalaman ngarasakeun suka-duka.

Sosoroh gawé Ménta digawékeun tanpa buruhan, asal dibéré dahar.

Sosoroh kojor Milu perang nandonkeun nyawa, tapi miluna teu iklas, lantaran dipaksa.

Suku sambung leumpang, biwir (létah) sambung lémék Darma mangnepikeun maksud batur, lain niat sorangan.

Sulit ati belang bayah Dilarapkeun ka jelema nu pundungan jeung goréng sangka ka batur.

Suluh besem ari diasur-asur mah hurung Jelema sabat ogé ari hantem diangsonan mah piraku teu ngalawan.

Sumput salindung Boga kalakuan anu ulah kanyahoan ku batur (salaki ku pamajikan atawa sabalikna).

Sundul ka langit Kacida luhurna nepi ka kawas nu adek kana langit.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | R

Ranggaék méméh tandukan Loba kahayang nu teu saimbang jeung kaayaan dirina. Saharti jeung beunghar méméh boga atawa jeneng méméh pangkat.

Raweuy beuweungeun rambay alaeun Subur mamur loba dahareun hasil tani.

Réa harta réa harti, réa ketan réa keton Loba paré (dahareun) jeung loba duit, taya kakurangan.

Réa rambat kamaléna Réa patula-patalina jeung perkara séjén.

Rék dibeureum rék dihideung gé pasrah Dikumahakeun ogé moal ngalawan.

Rék dijieun jimat paripih (parépéh) Rék didama-dama, awéwé ku salakina nu kacida bogoheunana.

Rejeki kaseser ku hakan Rejeki béak ku dipaké barangdahar atawa béak ku kaperluan dahareun wungkul.

Rejeki maungeun Rejeki gedé anu datangna bleg-blegan, tapi langka pisan.

Rempung jukung Sauyunan, sahaté, silihtulungan.

Reuneuh munding Awéwé reuneuh leuwih ti salapan bulan.

Reuntas ku tingkah Turun harkat lantaran goréng laku lampah.

Risi ku bisi, rémpan ku sugan Réa kaselempangan dina waktu kurang aman.

Rokrok pondokeun, peunggas (getas) harupateun Babari ambek, babari anggeus-anggeusan.

Rubuh-rubuh gedang Barudak nu dialajar salat berjamaah (amum) kakara nurutan ruku-sujudna wungkul atawa migawé sarupaning perkara teu karana nyaho kana maksudna, sakadar nurutan batur.

Rumbak caringin di buruan Geus euweuh nu bakal ngingetan, ku sabab geus teu boga kolot saluhureun.

Rup ku padung rap ku lemah, katuruban (diurugan) taneuh beureum Geus maot, dikubur.

Rusuh luput gancang pincang, kajeun kendor dapon ngagémbol Sanajan gancang ari gaplah percumah, mending kendor tapi hasil.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | P

Paanteur-anteur julang Nu tas dianteurkeun, nganteurkeun deui nu tas nganteurkeunana.

Pabalik (ti balik) létah Barangbéré tapi dipénta deui.

Pacikrak ngalawan merak Rayat leutik ngalawan ménak atawa nu keur kuasa, nu lemah ngalawan nu kuat.

Pada rubak sisi samping Pada gedé hampura, atawa pada loba luang pangalaman.

Padaringan kebek Repok nu alus, bakal moal kakurangan rejeki.

Padu teu (moal) buruk digantung Perkara moal robah atawa bolay ku ditunda-tunda; geus maot sarta dikubur.

Paéh pikir Teu boga karep.

Paéh poso Méakeun kadaék, tisusut tidungdung.

Paéh teu hos, hirup teu neut Gering ngalanglayung, hirup tapi teu eureun-eureun gering.

Pagedé-gedé urat renggé Patarik-tarik nyoara (nu paséa).

Pageuh kancing loba anjing Taki-taki mageuhan tulak, bisi aya bancang pakéwuh.

Pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian Hayang leuwih ti babaturan dina jalan usaha, teu daék sapapait-samamanis, teu daék silih tulungan.

Paheuyeuk-heuyeuk leungeun Babarengan, sauyunan.

Pait daging pahang tulang Mulus awak langka katerap kasakit.

Pait paria Pait ngeunah.

Pajauh huma Pegat babarayaan.

Pakait pikir Jangji rék ngahiji.

Pakokolot supa Padeukeut umurna, henteu sabaraha ganjor.

Pamuka lawang Oléh-oléh, kiriman.

Panasbaran Babari ambek.

Panas leungeun Teu jadian pepelakan, sabalikna tina tiis leungeun.

Panday tara bogaeun bedog Nyindiran tukang nyieun sarupaning barang, nu teu bogaeun éta barang nu sok dijieunna.

Pangéran mah tara nanggeuy ti bongkokna Ilikan Allah mah tara nanggeuy ti bongkokna.

Pangeprak reumis Purah diutah-étah, ngajalankeun pagawéan nu lumayan.

Panjang ingetan Teu babari poho.

Panjang léngkah Jauh panyabaan, henteu kagok indit-inditan.

Panjang leungeun Cocorokot, sok pulang-paling.

Panon kéongeun Panon nu caian baé.

Panonna kandar ka sisi resep ngarérétan nu kasép (dilarapkeun ka awéwé lalenger).

Papadon los ka kolong Nu jangji tara jadi; pasini geus asak pisan tuluyna bolay.

Papais-pais paray Patéép kawas paray nu dipais, bari ngahuntu kala.

Paraji ukur malar saji Dukun palsu, ngan ngarah buruhan wungkul.

Pardu kasambut sunat kalampah Ngalakukeun anu wajib bari sakalian anu sunat.

Pareumeun obor teu nyaho saha-sahana nu jadi baraya atawa karuhun lantaran euweuh nu ngabéjaan.

Pariuk manggih kekeb Papada meunangkeun nu goréng patut.

Pasini jangji pasang subaya Nyieun perjanjian.

Pasrah arit Pasrah teu terus jeung haté.

Pat-pat gulipat Kalakuan licik, teu jujur.

Pelengkung bekas (beukas) nyalahan Keur ngorana bageur, tapi ka kolotnakeun jadi teu eucreug.

Perang urat sarap Perang teu maké pakarang.

Perlaya ing yuda Kasambut (maot) di pangperangan.

Pétot béngo dulur sorangan Sanajan ngéwa atawa ambek ka dulur atawa ka baraya anu landes, ari manéhna meunang karerepet mah teu weléh hayang nulungan, jeung ngahampura kasalahanana, henteu téga ngantep (bandingkeun jeung buruk-buruk papan jati).

Peujit koréseun Isuk-isuk kénéh geus kudu barangdahar, elat meueusan sok nyalingit beuteung.

Peunggas rancatan Béak modal, tepi ka pugag usaha, atawa ditinggalkeun maot ku anu jadi andelan.

Peupeureuman (leleyep) asu Tacan saré tibra.

Peureum hayam Peureum meueusan, bisa kénéh nénjo atawa api-api meureum.

Peureum kadeuleu beunta katara (karasa) Inget baé (ka jelema).

Picung cibur Saregepna digawé ngan mimiti baé (jelema goréng gawé).

Piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir Mikahayang anu henteu layak pikeun dirina.

Pilih kasih Teu adil (upama dina ngabagi rejeki).

Pindah cai dibawa tampianana Aya di pangumbaraan, mageuhan adat kabiasaan sorangan.

Pindah cai pindah tampian Nyaluyukeun diri kana adat kabiasaan di tempat anyar.

Pindah pileumpangan Robah adat atawa robah kalakuan, tina hadé jadi goréng.

Pinter aling -aling bodo Saenyana mah pinter, tapi embung kanyahoan ku batur, malah kalah sok nyeta-nyeta nu bodo.

Pinter kabalinger Ongkoh pinter tapi katipu atawa ngayakeun aturan anu teu bener pikeun kapentingan sorangan.

Pinter kodék Licik, daék ménta embung méré.

Pipilih nyiar nu leuwih, kocéplak meunang nu pécak Hayang nu leluwih alus, kalah meunang nu goréng.

Piruruhan dikatengah-imahkeun Nu hina jadi mulya, tapi sanggeus mulya adatna jadi ningkah loba léléwa.

Poék mongkléng buta radin Poék pisan, teu katénjo nu legok-legok, siga rata baé.

Poho ka purwadaksina (wiwitan) Pindah pileumpangan, robah adat jadi gedé hulu.

Pokrol bambu Pangacara nu teu boga kaahlian dina widang hukum, ngan ukur boga pangalaman.

Pondok catur panjang maksud Caritaan anu ringkes tapi ngeusi.

Pondok heureut Kurang akal, teu daék mikir nu hésé-hésé.

Pondok jodo Teu awét laki-rabi.

Pondok jodo panjang baraya Sanajan pondok jodo sing nuluy jadi baraya.

Pondok léngkah Teu pati bébas lunta ti lembur.

Pondok nyogok panjang nyugak Omongan anu matak nyentug kana haté, garihal teu matak resep ngadéngékeunana.

Potol jarum Awéwé nu taya pisan boga pakaya.

Potol téko Lalaki nu taya pisan boga pakaya.

Pucuk awian Tara puguh pamadegan (jangji), luak-léok baé.

Puguh éntép seureuhna Merélé, sarta alus susunan basana.

Pupulur méméh mantun Ménta diburuhan méméh prak digawé.

Pur kuntul kari tunggul, lar gagak kari (jadi) tunggak Katideresa, katindih ku kari-kari, dituding boga dosa lantaran kabeneran aya ditempat kajadianana kajahatan.

Pur manuk Ngagawékeun jelema bari teu jeung disuguh, ngan diburuhan duit wungkul.

Puraga tamba kadengda Digawé asal jadi, tamba henteu, asal baé.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | O

Ombak banyuan Buuk nu galing ombak-ombakan.

Omong harus batan goong Béja gampang nerekabna, jeung biasana sok pada ngaleuwihan tina buktina.

Oray nyampeurkeun paneunggeul Nyampeurkeun atawa ngadeukeutan pibahlaeun atawa pibahayaeun.

Owah akal Teu jejeg pikiranana.

Owah gingsir Hanteu tetep dina hiji pamadegan.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | N

Naheun bubu pahareup-hareup Pahutang-hutang nepi ka pada kagok nagih (pihutangeun).

Najan dibawa ka liang cocopét, moal burung nuturkeun Dibawa ka mana-mana ogé daék (awéwé ku sakalina).

Nanggung bugang Ditinggalkeun maot ku lanceuk jeung ku adi.

Nangkeup mawa euyeub (eunyeuh) Mawa cilaka ka nu dipéntaan tulung.

Nangtung di karungan, ngadeg di karageman Kumpulan barempung (ragem), musawarah.

Némbongkeun sihung Némbongkeun kapunjul (kakawasaan, kabeungharan, kapinteran) dirina sangkan dipikasérab atawa dipikasieun batur.

Nénéh bonténg Ngogo ka budak, tapi ari ambek gampang neunggeul.

Népakeun jurig pateuh Mindahkeun kagoréngan ka batur sangkan sorangan salamet.

Nété akar ngeumbing jangkar Sésélékét ka nu hésé, nyorang wewengkon anu rumpil.

Nété porot ngeumbing lesot Sagala ihtiar teu hasil.

Nété semplék nincak semplak Kitu salah kieu salah, sagala rupa ihtiar teu hasil.

Nété tarajé, nincak hambalan Kudu merenah, kudu puguh péréléanana (ti handap heula).

Nepak cai malar cérét Ngagunakeun akal, supaya batur nyaritakeun perkara anu ku urang keur ditalungtik.

Nepak dada Ngagulkeun jasa diri sorangan.

Nepi ka nyanghulu ngalér Nepi ka paéh.

Nepi ka pakotrék iteuk Nepi ka pakokolot pisan (nu awét laki-rabi ti keur pada ngora).

Nepung-nepung bangkelung Ngaraketkeun babarayaan ku jalan bébésanan.

Neukteuk curuk dina pingping Nyilakakeun baraya atawa batur sagolongan.

Neukteuk leukeur meulah jantung, geus lain-laina deui Teu hayang dibalikan deui (awéwé ka urut salakina).

Neundeun haté Aya kahayang nu henteu dikedalkeun.

Neundeun piheuleut nunda picela Néangan lantaran supaya jadi goréng atawa bengkah.

Ngabéjaan bulu tuur Ngabéjaan perkara nu geus teu anéh keur nu dibéjaan, da geus nyahoeun.

Ngabeungeutan Némbongkeun kagetolan jeung kasatiaan dina mimiti kumawula wungkul.

Ngaborétékeun liang tai di pasar Nyaritakeun rasiah sorangan nu matak aéb.

Ngabudi ucing Kawas nu nu teu karep, api-api teu hayang, padahal ngadagoan batur bongoh.

Ngabudian Némbongkeun pasemon ngéwa, baud-baeud.

Ngabuntut bangkong Teu bisa méré katerangan nepi ka écés pisan, atawa teu sanggup nganggeuskeun pagawéan.

Ngaburuy Nginum cai wungkul bari teu maké lalawuh (upamana sémah nu teu disuguhan kadaharan).

Ngacak-ngebur Mangpang-meungpeung sabab sagala geus nyampak.

Ngadagoan belut buluan (sisitan), oray jangjangan Moal kaalaman, mustahil kajadian.

Ngadagoan kudu tandukan Ngaharepkeun perkara nu mustahil bisa kajadian.

Ngadagoan uncal mahpal (mabal) Ngadagoan rejeki bari teu ihtiar.

Ngado-dago (nganti-nganti) dawuh Téréh maot.

Ngadaweung (ngalangeu) ngabangbang (ngawangwang) areuy (tineung) Ngadaweung bari kawas nu jarauh panineungan.

Ngadék sacékna, nilas saplasna Nyarita satarabasna, teu diréka.

Ngadeupaan lincar Karalang-kuriling deukeut imah nu keur hajat (sidekah) ngarah diaku atawa diondang.

Ngadu angklung Parebut omong atawa paréa-réa omong nu taya gunana.

Ngadu bako Ngobrol ngaler-ngidul bari teu puguh jejerna.

Ngadu-ngadu rajawisuna Ngahudangkeun amarah batur ngarah paraséa.

Ngagandong kéjo susah nyatu Loba titaheun ngan hanjakal ku hésé nitahna, lantaran euweuh nu daékeun ari.

Ngagedag bari mulungan Nanyakeun hiji perkara anu manéhna sorangan teu nyaho jawabanana, susuganan bisa terus nyaho tina jawaban ti nu ditanyana.

Ngahihileudan Ngahalang-halang jadina hiji perkara ku jalan ngagogoréng, nyingsieunan atawa mitenah.

Ngahuntu kala Paselang nu luhur jeung nu handap dina jajaran.

Ngahurun balung ku tulang Jelema anu diuk bari nangkeup tuur lantaran keur susah atawa keur bingung.

Ngajelér paéh Ngajepat alus (halis).

Ngajerit maratan langit, ngocéak maratan méga (jagat) Ngajerit tarik pisan.

Ngajual jarum ka tukang géndong Niat nipu ka nu pinter.

Ngajul béntang (bulan) ku asiwung Mikahayang nu pamohalan bisa kalaksanakeun.

Ngalalakon Nyieun peta nu matak ngahésékeun.

Ngalambang sari Awéwé atawa lalaki nu geus boga salaki atawa pamajikan ngalakukeun hubungan seks di luar nikah; jinah.

Ngalamot curuk Teu beubeunangan, teu hasil.

Ngalap haté Ngagenahkeun haté batur sangkan nyaaheun ka urang.

Ngalénghoy lir macan teu nangan Awéwé anu leumpang ngalénghoy atawa ngalanggéor.

Ngalétak ciduh Teu tulus atawa ngabatalkeun omongan.

Ngalebur tapak (dosa) Ngaleungitkeun lampah goréng, supaya migawé nu hadé.

Ngalegokan (ngajeroan) tapak Nambahan kasalahan atawa dosa.

Ngaleut-ngaleut (ngeungkeuy) ngabandaleut, ngembat-ngembat nyatang pinang Iring-iringan nu panjang naker.

Ngaliarkeun taleus ateul Resep ngucah-ngacéh kagoréngan batur.

Ngalingling ngadeuleu maling Nénjo bari susulumputan da embung kanyahoan ku nu diténjo atawa ku batur.

Ngalintuhan maung kuru Néangan pibahayaeun.

Ngalungkeunkeun kuya ka leuwi Nempatkeun jelema (pagawé) ka lemburna sorangan.

Ngan ukur saoléseun Ngan ukur keur kaulinan atawa keur saheulaanan, lain rék enya-enya dijieun pamajikan nu bener.

Ngandung haté Ngunek-ngunek, boga haté goréng hayang males kanyeri; rasa teu ngeunah dina haté anu can leungit-leungit.

Nganjuk kudu naur, ngahutang kudu mayar Pihutang, tagihan, sabalikna tina hutang-hatong.

Nganjuk teu naur, ngahutang teu mayar Ngajeblug.

Nganyam samak neukteukan bari motongan Néang anak ngadeukeutan popotongan.

Ngarah ngarinah Ngarugikeun batur ku jalan ngabobodo, nipu, jsté.

Ngarah sahuap-sakopeun Usaha leuleutikan, néangan rejeki saharitaeun.

Ngaraja déwék Maréntah nagara nurutkeun kahayang sorangan.

Ngarangkay koja Robah adat, tina hadé kana goréng, ngan henteu ngadadak, tapi lila.

Ngarawu ku siku Hayang loba panghasilan ku rupa-rupa usaha nu tungtungna teu kaurus, sabalikna tina karawu kapangku.

Ngareuntaskeun (ngarangkaskeun) dungus Kalaksanakeun ngawin kabogoh ti keur ngora dina umur pakokolot.

Ngarujak sentul Nu keur paguneman paharé-haré, batur ka kidul ieu ka kalér.

Ngawur kasintu nyieuhkeun hayam Méré mawéh ka deungeun-deungeun ari ka baraya jolédar.

Ngawurkeun wijén ka keusik Pagawéan nu mubadir.

Ngéplék jawér ngandar jangjang, miyuni hayam kabiri Kecing, borangan, éléhan.

Ngebutkeun totopong Ngetrukkeun élmu pangabisa.

Ngeduk cikur kudu mihatur, nyokél jahé kudu micarék, ngagégél kudu béwara Kudu ménta idin heula ka nu bogana.

Ngégél curuk (Basa Sunda kamalayon tina menggigit jari) Teu beubeunangan, teu hasil.

Ngembang awi Ngeumbreuk, teu laku dagangan (asal tina eumbreuk).

Ngembang bako Bosongot (asal tina bosongot).

Ngembang bolang Ancal-ancalan kénéh, tacan ceuyah bubuahan (asal tina ancal).

Ngembang boléd Tétéla (asala tina katéla).

Ngembang cau Jantungeun (asal tina jantung).

Ngembang céngék Méncéngés, nenggang ti nu séjén, nu geulis (asal tina péncéngés).

Ngembang génjér Gélényé (asal tina gélényé).

Ngembang Jaat Jalingeur (asal tina jalingeur).

Ngembang jambé Kumayangyang (asal tina mayang).

Ngembang jambu Lumenyap (asal tina lenyap).

Ngembang jéngkol Merekenyenyeng (asal tina merekenyenyen).

Ngembang kadu Olohok (asal tina olohok).

Ngembang kaso Curiwis (asal tina curiwis).

Ngembang laja Jamotrot (asal tina jamotrot).

Ngembang lopang Nyacas (asal tina cacas).

Ngembang paré Baringsang (asal tina ringsang).

Ngembang tiwu Ngabadaus (asal tina badaus).

Ngembang waluh Aléwoh (asal tina aléwoh).

Ngembang wéra Beureum beungeut lantaran ambek atawa éra (asal tina wéra).

Ngembat-ngembat nyatang pinang Kacida panjangna, iring-iringan, aleutan.

Ngepung méja Dariuk sakurilingeun méja, rék dalahar

Ngeunah angen ngeunah angeun Senang haté (taya kasusah) jeung ngeunah barangdahar.

Ngeunah Éon teu ngeunah Éhé Hayang ngeunah sorangan baé, teu ngingetkeun kaperluan batur, teu adil lantaran nu sapihak pinter kodék.

Ngeunah nyandang ngeunah nyanding Hirup senang lantaran cukup paké jeung nyandingkeun pamajikan nu satia.

Ngeundeuk-ngeundeuk geusan eunteup Néangan akal pikeun nyilakakeun dunungan.

Ngeupeul ngahuapan manéh Méré naséhat atawa nyieun aturan kalawan maksud nguntungkeun sorangan.

Ngindung ka waktu, ngabapa ka mangsa Nyurupkeun kalakuan kana kaayaan jaman.

Ngijing sila béngkok sembah Teu satia ka dunungan.

Ngimpi gé diangir mandi Palias, bararaid teuing, kacida teu panujuna, teu (tarima) meueus-meueus acan.

Ngingu (ngukut) kuda kuru, ari geus lintuh (gedé) nyépak Miara atawa ngaméménan jalma walurat, ari geus senang jadi cucungah.

Nginjeum sirit ka nu kawin Nginjeum barang (parabot) anu keur dipaké ku bu bogana, jeung ngan sakitu-kituna.

Ngodok liang buntu Geus hésé capé, ari pék téh teu hasil sabab aya nu ngahalangan.

Ngomong(na) sabedug sakali Arang ngomong.

Ngorbankeun jiwa jeung raga Ngorbankeun sagala rupa nu dipibanda, sanajan nepi ka nyawa pisan.

Ngotok ngowo Cicicng baé di imah, tara liar.

Ngudag-ngudag kalangkang heulang Ngarep-ngarep perkara anu samar kalaksanakeun.

Ngukur baju sasereg awak Hirup saeukeurna, dina papait jeung mamanis teu daék pacorok jeung batur.

Ngukur ka kujur nimbang ka awak Diluyukeun jeung kaayaan atawa pangaboga.

Ngulit bawang Ipis, henteu terus kana haté.

Ngusap birit bari indit Ninggalkeun pasamoan tanpa pamit heula.

Ngusik-ngusik ula mandi, ngobah-ngobah (ngahudangkeun) macan turu Ngagugat-gugat perkara nu geus kaliwat, sarta nu temahna matak nimbulkeun deui pacogrégan.

Nikukur Nyebut ngaran sorangan ka nu anyar pinanggih.

Nilik bari ngeusi Babanda ngumpulkeun parabot imah henteu disakalikeun, tapi ditungtut saeutik-saeutik.

Nimu luang tinu burang Meunang pangalaman lantaran cilaka heula.

Nincak parahu dua Migawé dua perkara anu upama teu bisa bener, gedé atawa aya bahlana; digawé ngarancabang (biasana tara bener hiji-hiji acan).

Ninggalkeun hayam dudutaneun Ninggalkeun pagawéan nu can anggeus.

Nini-nini dikeningan, awéwé randa dihiasan Ngararangkenan barang nu geus butut, najan dirias dihadé-hadé ogé angger baé teu katénjo alus.

Nini-nini leungit sapeuting, tai maung huisan katuding pédah aya patalina jeung kajadian nu jadi perkara.

Nista, maja, utama Sakali keun baé, dua kali dihampura kénéh, ari katilu kali mah lain antepeun (urusan kagoréngan).

Nongtot jodo Geus aya nu ngalamar tapi bedo deui.

Noong ka kolong Leutik haté, pondok pikiran.

Nu asih dipulang sengit, nu haat dipulang moha Nu nyieun kahadéan dibales ku kagoréngan.

Nu borok dirorojok, nu titeuleum disimbeuhan Nu keur susah dipupuas atawa ditambah kasusahna.

Nu burung diangklungan, nu gélo didogdogan, nu édan dikendangan Nu gedebul dihaminan supaya tambah maceuh.

Nu geulis jadi werejit, nu lenjang jadi baruang Nu geulis bisa jadi matak ngabahlakeun (ngabahayakeun) ka lalaki (salaki).

Nu titeuleum disimbeuhan Nu keur cilaka dipupuas. Ilikan ogé Nu borok dirorojok, nu siteuleum disembeuhan.

Nuju hurup ninggang wirahma Paséhat tur ngeunah laguna (nu ngaji).

Nulungan anjing kadempét (tiselap) Nulungan jelema nu taya panarimana.

Numbuk di sué Meneran keur sué sawatara kali.

Nunggul pinang Geus teu boga baraya.

Nungtut bari ngeusi Usaha ngulik élmu atawa ngumpulkeun rejeki saeutik-saeutik nepi ka aya buktina.

Nurub cupu Ngarepok, sarua alusna.

Nutup lobang ngali lobang Mayar hutang ku duit meunang nginjeum.

Nuturkeun indung suku Leumpang sakaparan-paran, henteu puguh anu dijugjug.

Nya di hurang nya dikeuyeup Boh di ménak boh di kuring, wiwirang atawa kateungeunahan haté mah sarua baé.

Nya ngagogog nya mantog/Ngagogog bari mantog 1. Manéhna nu nyieun surat, manéhna ogé nu nganteurkeun; 2. Nitah digawé ka batur bari jeung prakna ku sorangan.

Nya picung nya hulu maung Haré-haré, batur ngalér ieu ngidul (jawaban atawa caritaan dina paguneman).

Nyaah dulang Nyaah ka anak ngan ngurus dahar-pakéna, henteu nguruskeun atikanana.

Nyaeuran gunung ku taneuh, nyaeuran sagara ku uyah Méré atawa nambahan kauntungan (kakayaan) ka anu geus beunghar.

Nyaho lautanana Nyaho karesep jeung kateuresepna.

Nyair hurang meunang kancra Kabeneran meunang untung gedé ku usaha leuleutikan.

Nyakrawati bahu denda Maréntah, ngaheuyeuk nagara.

Nyaliksik ka buuk leutik Barangpénta atawa ngarah kauntungan ku rupa-rupa jalan ti rayat (dilakukeun ku pamimpin atawa kapala nu kadedemes).

Nyalindung di caangna Ngahaja meres rayat (bawahan) supaya meunang kauntungan nu leuwih gedé, ku jalan ngajual ngaran pamaréntah, pangagung, atawa dunungan.

Nyalindung ka gelung Lalaki nu cicing, ari awéwé digawé. Atawa lalaki teu boga, boga mapajikan ka nu beunghar.

Nyandang tatali Ditalian atawa dibarogol lantaran boga dosa.

Nyanggakeun beuheung teukteukeun, tikoro gorokeun, suku genténg belokeun Masrahkeun manéh pikeun dihukum lantaran rumasa boga dosa.

Nyanggakeun buukna salambar, getihna satétés Pokpokan lalaki nu nyérénkeun pamajikanana ka mitoha dina waktu nyerahkeun.

Nyanghulu ka jarian Ngadunungan ka jelema nu sahandapeun martabatna.

Nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang Omongan kudu ditimbang-timbang heula bisi nyentug kana haté batur.

Nyecepo ka nu rarémpo Ngahinakeun ka jalma anu teu boga.

Nyekel sabuk milang tatu Ngadu jajatén, gelut atawa perang.

Nyeri beuheung sosonggeteun Geus lila ngadagoan nu kuduna geus datang.

Nyeri peurih geus kapanggih, lara wirang geus kasorang Sagala dodoja hirup geus kaalaman.

Nyeungeut damar di suhunan Némbongkeun kabeungharan atawa méré mawéh ka deungeun-deungeun ngarah kapuji.

Nyeungseurikeun upih murag Nyeungseurikeun batur padahal ku manéhna bakal kasorang.

Nyiar batuk pibaraheun, nyieun piheueuh Néangan pipanyakiteun (pipaséaeun).

Nyiar teri meunang japung Meunang untung gedé ti batan nu diharepkeun.

Nyiduh ka langit Mapatahan ka saluhureun (pangpangna dina kanyaho atawa élmu).

Nyieun catur taya dapur Ngarang carita teu puguh galurna.

Nyieun piandel Ngatur carita bohong ngarah dipercaya.

Nyieun pucuk ti girang Nyieun jalan pipaséaeun.

Nyiruan teu resepeun nyeuseup nu pait-pait Kalumrahanana jelema mah teu resepeun cacampuran jeung nu miskin.

Nyiuk cai ku ayakan Migawé (kalakuan) nu moal aya hasilna.

Nyium bari ngégél Muji bari ngarepkeun dibéré.

Nyokot lésot ngeumbing porot Sagala rupa ihtiar atawa tarékah teu hasil.

Nyolok mata buncelik Ngalampahkeun naon-naon di hareupeun hiji jalma, kalayan maksud nganyenyeri kana haté éta jelema.

Nyolong badé Siga bageur tapi jahat.

Nyoo gado Ngunghak, ngaheureuykeun.

Nyukcruk leuwi malar cai, nyiar seuneu kundang damar Nyusul-nyusul pituduh batur nu jauh gara-gara teu waspada kanu nyampak di pribadina.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Babasan jeung Paribasa | M

Mabuk pangkat Adigung, ieu aing jeneng.

Macan biungan Jelema anu teu akur jeung batur selembur.

Mageuhan cangcut tali wanda Saged rék bajoang.

Maju jurang mundur jungkrang Taya piliheun, ka ditu ka dieu pibalaieun.

Malapah gedang Malibir beula méméh nyaritakeun maksud nu saenyana.

Maléngpéng pakél ku munding, ngajul bulan ku asiwung Ngalampahkeun perkara nu moal pihasileun.

Maliding sanak Pilih kasih.

Malik ka temen Asal babanyolan tuluyna jadi enyaan.

Malik mépéh Gulang-guling lantaran henteu kuat nahan kanyeri atawa keur sakarat.

Malik rabi pindah ngawula Nganteuran dahareun ka dunungan anyar.

Malik tali (malik tambang) Malik hukum.

Malikkeun pakarang Ngalawan ka dunungan ku pakarang paméréna.

Malikkeun pangali Nu disérénan pagawéan kawajibanana, kalah nempuhkeun ka nu nyérénkeunana.

Manan léwéh mending waléh Tinimbang matak susah sorangan, mending nyarita satarabasna.

Manasina sambel jahé, top-top téwéwét Moal ujug-ujug kaala hasilna, kudu sabar.

Mandi getih Baloboran getih lantaran tatu.

Mandi oray Mandi ngan sakilat, mandi ngan sakecebes, teu maké sabun.

Mangkok emas eusi madu Jelema anu omongna, lampahna, nepi ka haténa ogé hadé.

Mangpéngkeun kuya ka leuwi Nu dititah ka lembur asalna kari-kari ngelelep teu balik deui.

Manis lambé Jangji sanggup naon-naon tapi ngan omong wungkul (kalah ka omong).

Manuk hiber ku jangjangna Jelema hirup ku akalna.

Maot ulah manggih tungtung, paéh ulah manggih béja Sing bener waktu keur hirup, supaya ulah diomongkeun upama geus maot.

Mapatahan naék ka monyét Mapatahan ka nu leuwih pinter.

Mapatahan ngojay ka meri Mapatahan ka jalma nu leuwih loba kanyahona jeung pangalamanana.

Mapay ka puhu leungeun Kasalahan jelema sok mamawa goréng ka kolotna atawa ka saluhureunana.

Maras miris Teu pati wani.

Marebutkeun (ngagugulung) balung tanpa eusi Marebutkeun perkara nu teu aya gunana.

Marebutkeun paisan kosong Marebutkeun perkara nu teu aya gunana.

Mata dijual ka peda Dilarapkeun ka nu mapaweung, nepi ka teu awas ka nu disanghareupan (mata molotot tapi teu awas)

Mata duiteun Piduit pisan.

Mata karanjang Sadeuleu-deuleuna, béngbatan, biasana lalaki ka awéwé.

Mata simeuteun Ngarasa héran, nepi ka olohok teu ngiceup-ngiceup.

Matak andel-andeleun Matak ngurangan kapercayaan nepi ka handeueul nu nitah.

Matak ibur salelembur, matak éar sajajagat Matak geunjleung jadi carita dimana-mana.

Matak muringkak (muriding) bulu punduk Matak cararengkat bulu punduk, lantaran sieun ku nu lain-lain keur nyorangan.

Matak pajauh huma Matak hésé silih anjangan atawa matak teu silih pikanyaah.

Matak tibalik aseupan Matak teu bisa nyangu.

Maung malang (maung sarungkun) Sabondoroyot atawa sakulawarga ngawangun ponggawa atawa pagawé di hiji désa, tapi dina bendéngna alahbatan jeung deungeun-deungeun haseum.

Maung ngamuk gajah meta Bancang pakéwuh.

Maung ompong, bedil kosong, karéta kosong Jalma nu boga komara mah, sanajan geus teu nyekel kakawasaan ogé teu weléh dipikasérab.

Maut ka puhu Paséa budak mamawa ka kolot.

Maut nyéré ka congona Asal beunghar, beuki kolot beuki kokoro; hirup susah pakokolot atawa ngarandapan kurang rejeki sanggeus kolot.

Mébér-mébér totopong heureut Ngajeujeuhkeun rejeki saeutik supaya mahi.

Ménta buntut Ménta deui.

Méré langgir kalieun Méré barang (duit) nu kudu diakalan heula ku nu dibéré, bari can tangtu hasilna.

Medal sila Ninggalkeun riungan lantaran ambek atawa wirang.

Melengkung beukas nyalahan Keur ngorna bageur, tapi ari geus kolot henteu eucreug; atawa nu ditaksir hadé tapi goréng jadina.

Melengkung umbul-umbulna, ngerab-ngerab bandérana Ngagambarkeun iring-iringan atawa kaayaan di tempat pésta.

Mending kendor ngagémbol tinimbang (tibatan) gancang pincang Mending kénéh lila tapi hasilna alus tibatan gancang tapi hasilna goréng.

Mending pait di heula tinimbang pait tungtungna Dina urusan jaul-beli atawa usaha kudu asak heula badami, bisi jadi pacogrégan di ahirna.

Meubeut meulit Nyarékan bari mamawa (nyabit-nyabit) ka nu lian nepi ka balukarna goréng.

Meuli teri meunang japuh Kalawan teu disangka-sangka ti saméméhna urang meunang milik anu leuwih gedé.

Meunang kopi pait Digelendeng atawa dicarékan ku dunungan.

Meunang luang tina burang Meunang pangalaman pait lantaran cilaka heula.

Meungpeun carang (ku ayakan) Api-api teu nyaho (teu nénjo), ngantep batur milampah pagawéan anu dilarang.

Meupeus keuyang Ngabudalkeun kakeuheul atawa amarah ka nu teu tuah teu dosa, tampolana kana barang, lantaran ka nu boga kasalahanana teu wani ngambek.

Miceun batok meunang coét Miceun anu goréng ku sabab hayang meunang anu alus, tapi tungtungna mah kalah meunang nu goréng deui baé.

Miceun beungeut Ngabalieur, embung pateuteup lantaran ngéwa atawa éra.

Mihapé hayam ka heulang Teu boga wiwaha, titip barang atawa harta banda ka nu geus katotol teu jujur.

Mihapékeun manéh Nyeiun pikanyaaheun jeung pikaresepeun nu dicicingan atawa nu jadi dunungan.

Milih-milih rabi, mindah-mindah rasa Ganti pamajikan sugan leuwih ngarepok.

Milik teu pahili-hili, bagja teu paala-ala Rijki mah moal patukeur. Allah anu ngarijkian sakabéh mahluk-Na.

Mindingan beungeut ku saweuy Nyimbutan rasiah sorangan nu geus kanyahoan ku batur.

Mipit kudu amit ngala kudu ménta Teu meunang cocorokot kana barang batur.

Miyuni (cara) hurang, tai ka hulu-hulu-(na) Bodo pisan.

Miyuni hayam kabiri, ngémplék jawér ngandar jangjang, kuméok éléh ku bikang Leutik burih, euweuh kawani. Tingali ogé Ngéplék jawér ngandar jangjang, miyuni hayam kabiri.

Miyuni hui kamayung Teu payaan, katoél saeutik ngambek.

Miyuni umang Teu daék ihtiar nepi ka bisa boga imah sorangan (saumur-umurna nyéwa atawa ngontrak).

Moal aya haseup mun euweuh seuneu Sagala rupa béja tangtu aya benerna, sanajan sok loba tambahan nu meunang ngaréka.

Moal ceurik ménta eusi Henteu maksa hayang dibéré atawa dieusian.

Moal ditarajéan Teu sieun, wani.

Moal jauh laukna Moal hésé piuntungeunana.

Moal mundur (ngejat) satunjang béas Teu sieun teu gimir saeutik-eutik acan.

Moal néangan jurig nu teu kadeuleu Moal nyangka ka saha-saha deui nu boga dosana, lantaran Si dadap geus katotol teu jujur.

Moal ngabéjaan indung suku Rusiah pisan, moal dibéja-béja.

Mobok manggih gorowong Eukeur mah aya maksud, ari hég aya jalan pikeun ngahasilkeun usaha nu keur dipaju.

Modal dengkul Modal mangrupa kadaék jeung tanaga wungkul, teu maké duit.

Monyét dibéré (sé)séngkéd Dibéré kasempetan komo ngahanakeun (kana kalakuan goréng)

Monyét kapalingan jagong Nu maling kapalingan, tukang tipu katipu.

Monyét ngagugulung kalapa Nyaho luarna wungkul, teu apal kana jerona.

Mopo méméh nanggung Wegah méméh pék ngalaksanakeun pagawéan.

Moro julang ngaleupaskeun peusing Ninggalkeun kauntungan nu geus tangtu, moro nu tacan puguh.

Moro taya, tinggal kaya Pakaya nu geus mukti ditinggalkeun, lantaran pindah ka tempat nu singsarwa euweuh.

Mucuk eurih (Ramo kuku awéwé) laléncop kawas pucuk eurih.

Muga sing ngaréndékéh kawas séréh, ngarandakah manan manjah Sing loba turunan.

Mukti wibawa Hirup senang sarta pada ngambeuan jeung pada ngahormat lantaran boga pangaruh.

Mulih ka jati mulang ka asal Maot, asal ti Alloh balik deui ka Alloh.

Mun di lembur kayu randu, mun di leuweung kayu dangdeur, dipaké pamikul bengkung, dipaké pangeret bingkeng, dipaké pancar teu ruhay, dipaké tihul teu hurung Jelema nu taya pupurieunana atawa araheunana, lantaran sagala pugag atawa taya kabisa.

Mun kiruh ti giran, komo ka hilirna Lamun pamingpin lampahna kurang hadé, komo nu dipingpinna.

Mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih, mun teu ngoprék (ngopék) moal nyapék Lamun teu usaha/digawé moal boga dahareun.

Muncang labuh ka puhu, kebo mulih pakandangan Balik ti pangumbaraan ka tempat asal sarta teu niat ingkah deui.

Mupugkeun tai kanjut Kairan leuwih gedé ti biasa, lantaran ku ijiran moal rék kariaan deui (ngawinkeun atawa nyunatan anak bungsu).

Murag bulu bitis Teu betah cicing di imah, karesepna ngan nyaba baé.

Murah sandang murah pangan Teu kakurangan, loba pakéeun jeung dahareun (di nagara nu raharja).

Muriang teu kawayaan Kalah wowotan, teu kuat nyagga lara ati, upamana anu keur kabungbulengan (kaédanan).

Mustika pagulingan Wanoja geulis pisan.

Musuh (satru) kabuyutan Musuh di baheula nepi ka ayeuna, atawa musuh turunan kawas ucing jeung anjing.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005

Ngabuburit Nonton Angklung Sered

ALAM Priangan dengan keelokan dan kekayaan alamnya yang berlimpah telah menciptakan kultur masyarakat yang senantiasa arif dalam menjaga dan mengelola alam. Untuk menjaga dan mengolahnya, tidak serta merta menekankan pada pengetahuan (teknologi) dan budaya semata, tetapi juga harus ditunjang moral yang berlandaskan agama (Islam).

Agama (Islam) yang berkembang di lingkungan masyarakat di Kampung Balandongan Ds. Sukaluyu, Kec. Mangunreja, Kab. Tasikmalaya, bukan hanya dijadikan sarana berhubungan antara manusia dengan penciptanya, Allah swt, tetapi juga menjadi penjaga perilaku dalam berhubungan dengan sesama serta mengelola alam dan lingkungan.

Kondisi seperti itu yang terus dipertahankan dan diwariskan masyarakat di Kampung Balandongan, diantaranya melalui kesenian angklung sered. Suatu kesenian yang sudah berkembang di masyarakat Mangunreja yang dikenal sangat taat menjalankan aturan dan akidah agama (Islam), seperti halnya daerah lain di Tasikmalaya, semisal Manonjaya, dan Cipasung.

Ngabuburit Nonton Angklung Sered
RETNO HY/PR

Kesenian angklung sered yang sudah ada dan berkembang sejak tahun 1908, menjadi bagian tidak terpisahkan dengan masyarakat di Punduh Sukaluyu, khususnya Kampung Balandongan. Kesenian angklung menjadi media hubungan antara masyarakat dengan alam (pertanian), juga dengan sesama manusia.

Kesenian angklung dimainkan di sela-sela bertani, bukan semata-mata untuk mengusir rasa penat. “Akan tetapi kesenian angklung saat ini menjadi media rasa syukur petani atas kesuburan dan berlimpahnya hasil pertanian yang sudah diberikan Sang Pencipta,” ungkap Ustadz Tatang Somantri, salah seorang tokoh Kamp. Balandongan, saat menyaksikan rutinitas seni angklung yang dilaksanakan masyarakat sekitar di sela-sela waktu menunggu berbuka puasa. Minggu (21/7/2013).

Memang sangat menarik menyaksikan kegiatan masyarakat Kamp. Balandongan, di saat menunggu azan Magrib berkumandang. Sebelum membersihkan diri, seusai rutinitas menggarap lahan pesawahan dan kebun, mereka menggelar seni angklung sered, yang biasa dilakukan setiap hari Sabtu atau Minggu.

Adegan Perkelahian
Permainan angklung sered diawali dengan seorang sesepuh warga yang membunyikan angklung indung dari rumah atau saung (dangau). Suara angklung tersebut dilayani warga lainnya hingga akhirnya semua warga berkumpul di lapangan.

Setelah terbagi dalam dua kelompok yang masing-masing berjumlah 10 orang, diiringi pukulan dog-dog, kendang dan goong dalam memainkan musik padung-dung, angklung sered pun dimulai. Awalnya di antara kedua kelompok tersebut menari memainkan angklung dengan cara meliuk-liuk seperti ular mengikuti pemain angklung yang memegang angklung indung.

Gerakan mengitari tanah lapang tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kekuatan lawan. Setelah merasa saatnya melalukan penyerangan, pemain yang memegang angklung indung langsunbg ke tengah lapang dan mereka memperlihatkan jurus-jurus menyerupai perilaku hewan, semisal jurus belut, sered munding, bintih hayam, dan lainnya yang puncauknya saling bergumul (puket) dengan tetap memegang angklung hingga salah seorang di antaranya sama sekali tidak bisa bergerak karena terkunci.

Selain melakukan perkelahian dengan bergumul, pemegang angklung indung juga menunjukan kekuatan dengan saling mengadu kaki. “Gaya ini disebut ngadu bitis yang mencontoh gaya ayam sedang diadu,“ tutur Agus AW, yang untuk tesis pascasarjananya pernah melakukan penelitian tentang seni angklung sered ini selama dua tahun.

Kesenian yang mulai dikenal sejak tahun 1908 tersebut awalnya hanya berupa penanda bila ada bahaya, dan tahun 1917 hingga 1942 menjadi sarana adu jajaten (kekuatan ilmu bela diri) untuk memilih jago yang menjadi pasukan RAA Wiratanuningrat. Memasuki masa perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan, seni angklung dijadikan sarna perjuangan, hingga tahun 1950 dan puncaknya 1987 menjadi sarana hiburan dan tradisi. Biasanya dalam sekali permainan angklung sered dilakukan sebanyak tiga babak dengan menampilkan tiga orang jago. Seperti pada Minggu (21/7/2013) itu, seusai tiga babak tanpa terasa hari mulai gelap dan azan magrib pun bergema.

Sumber: Retno HY/“Pikiran Rakyat” Selasa 23 Juli 2013

Babasan jeung Paribasa | L

Labuh diuk, tiba neundeut Sarua salahna atawa sarua cilakana.

Ladang késang Rejeki ti Allah lantaran usaha sorangan.

Laér gado Sok kabitaan ku kadaharan nu aya di batur.

Lain lantung tambuh laku, lain lentang tanpa seja (béja) Lain indit-inditan teu puguh nu dimaksud, tapi aya picaritaeun nu penting; indit bari mawa tujuan anu pasti.

Lain palid ku cikiih, lain datang ku cileuncang Lain jalma andar-andar, tapi datang ku sabab boga tujuan anu tangtu.

Lalaki kembang kamangi Lalaki nu teu bisa nyukupan kebatuhan rumah tangga.

Lalaki langit lalanang jagat Lalaki anu kasép sarta gagah perkasa.

Lali (poho) ka purwadaksina Jelema anu poho ka asal cara anu linglung, lantaran pangkat luhur atawa kabeungharan nu teu wajar.

Lali rabi, tegang pati Poho ka pamajikan jeung téga kana nyawa pikeun ngabélaan nagara jeung bangsa.

Lanca-linci luncat mulang Jalir janji, udar subaya.

Landung kandungan laér aisan Gedé timbanganana, asak hampura.

Langkung saur bahé carék Nyarita nu matak nyentug atawa anu matak nyeri kana haté batur.

Lantip budi Gancang ngarti kana maksud atawa kahayang batur sanajan henteu diucapkeun.

Lasminingrat Nu panggeulisna di sakuliah dunya.

Lauk buruk milu mijah, piritan milu endogan Pipilueun nyarita atawa ilubiung kana sarupaning urusan.

Légég lebé budi santri, ari lampah euwah-euwah Jalma jahat bisa nipu ku tindak-tanduk nu sopan.

Léléngkah halu (Budak) diajar leumpang, saléngkah-saléngkah.

Léngkah kapiceun Indit-inditan bari aya nu dimaksud tapi teu hasil, henteu beubeunangan.

Léntah darat Jelema nu sok nginjeumkeun duit maké rénten gedé.

Lésang kuras henteu bisa nyekel duit, sok béak baé.

Létah leuwih seukeut manan pedang Raheut haté ku omongan leuwih peurih karasana tibatan raheut biasa.

Legok tapak genténg kadék Loba kanyaho, loba luang pangalamanana.

Leleyep asu Acan saré enya.

Lembur matuh panglayungan, banjar karang pamidangan, nagara ancik-ancikan Lembur tempat matuh atawa cicing.

Lembur singkur, mandala singkah Tempat anu nyumput sarta jauh.

Lengkéh légé Jelema buheukeu, euweuh cangkéngan bawaning ku lintuh.

Leubeut buah héjo daun Keur meujeuhna lubak-libuk, euweuh kakurangan.

Leuleus awak Gampang dititah.

Leuleus jeujeur liat tali Gedé timbangan, sabar darana, henteu getas harupateun.

Leuleus kéjo poéna Mimitina bengis, tapi beuki lila beuki hadé.

Leumpang sakaparan-paran Teu puguh nu dijugjug.

Leumpeuh yuni Babari kapangaruhan, tara (teu) kuat nahan gogoda.

Leunggeuh cau beuleum Méméh hiji pagawéan anggeus, geus gap deui kana pagawéan séjén.

Leungit tanpa lebih, ilang tanpa karana Leungit euweuh urutna jeung teu puguh sababna, teu matak kaharti.

Leutik burih Borangan.

Leutik pucus Euweuh kawani.

Leutik ringkang gedé bugang Sipat jalma, upamana maot loba uruseunana, sumawonna mun nepi ka ajal di panyabaan.

Leuitk-leutik cabé rawit Leutik waruga tapi wanian, loba kabisa.

Leuweung gonggong simagonggong, leuweung sisumenem jati Leuweung geueuman pikakeueungeun.

Leuwi jero beunang diteuleuman, haté jelema najan déét teu kakobét Pikiran jelema mah hésé dikira kirana, boh hadéna, boh goréngna.

Lieuk euweuh ragap taya Teu boga naon-naon, malarat, taya kaboga.

Lindeuk japati Siga lindeuk tapi lingas (babandingan lindeuk piteuk).

Lindeuk piteuk Siga lindeuk tapi lingas (babandingan lindeuk japati).

Lir cai jeung minyak Teu bisa ngahiji.

Lir macan teu nangan Leumpang nu ngalénghoy atawa ngalanggéor (awéwé).

Lir nu ngababad pacing Tumerap ka nu ngéléhkeun pirang-pirang musuh ku pedang.

Loba catur tanpa bukur Kalah ka omong, buktina euweuh.

Loba teuing jaksa Loba teuing nu méré tinimbangan atawa naséhat.

Lodong kosong ngelentrung Jelema bodo nu loba omong, boga laga nurutan nu pinter.

Lolondokan Bisa nyaluyukeun diri jeung kaayaan lingkungan atawa jeung kahayang jaman.

Luhur kokopan Gumedé.

Luhur kuta gedé dunya Beunghar sarta gedé pangaruh.

Luhur pamakanan (kokopan) Gumedé.

luhur tincak Kalakuanana sok nurutan nu luhur (pangkatna) atawa nu beunghar.

Luncat mulang Omonganana teu puguh dicekel, teu bisa dipercaya.

Lungguh tutut bodo kéong, sawah sakotak kaider kabéh Siga lungguh katénjona, padahal bangor.


Sumber: PEPERENIAN URANG SUNDA; (Rachmat Taufiq Hidayat, Drs. Dingding Haérudin, M.Pd., Drs. Teddy A.N. Muhtadin Darpan, S.Pd., Ali Sastramidjaja); KIBLAT 2000-2005