Sejarah Museum Prabu Geusan Ulun

museum prabu geusan ulun
Awal berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun, diawali berdirinya “Yayasan Pangeran Aria Soeria Atmadja (YAPASA)”, yayasan yang mengurus, memelihara dan mengelola barang – barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati Sumedang 1882 – 1919. Untuk melestarikan benda – benda wakaf tersebut YAPASA merencanakan untuk mendirikan Museum. Pada tahun 1973 YAPASA berubah nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan didirikan sebuah Museum yang bernama Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pada mulanya dibuka hanya untuk di lingkungan para wargi keturunan dan seketurunan Leluhur Pangeran Sumedang.

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk mengganti nama Museum YPS. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun” –YPS.

Gedung pertama yang dipakai sebagai Museum adalah Gedung Gendeng

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk memberi nama Museum YPS yang disampaikan pada forum Seminar Sejarah Jawa Barat. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun”

Dextromethorphan (DMP)

dextro
Deskripsi:
Dextronethorphan (DMP) adalah bahan aktif dalam obat batuk “over the counyer” (OYC), atau dapat dibeli secara bebas tanpa resep di toko obat. Penggunaan obat batuk jenis ini telah disetujui pada 1958. dalam obat batuk, DMP biasanya merupakan kombinasi dengan jenis obat lainnya seperti parasetamol (antinyeri, antidemam), CTM (antihistamin), psuedoefedrin/fenillipropanolamin (dekongestan), atau guafenesin (eskipektoran).

Bahan lain (Dextrophan)
Dextrometorfan mengalami metabolisme di hepar oleh enzim sitokrom P-450 dan diubah menjadi dextrophan yang mempunyai derivate lebih aktif dan poten sebagai antagonis NMDA.

Bentuk kimia
3 methoxy 17 methyl morpinan monohydrate.
Dextromethophan merupakan d-isomer dari levophenol, analog dari kodein dan analgesic opiolid.
Struktur kimia dari Dextromethoephan adalah C18H25NO.HBr.H2) dengan berat molekul: 370,3

Manfaat menekan batuk (antitusif) dan penurun demam. Dextromethorphan bekerja dengan cara menaikan ambang batas rangsang batuk. Hal ini berarti Dextromethorphan bekerja pada otak dan bukan pada saluran pernapasan seperti beberapa jenis obat batuk lainnya.

Bentuk
Dalam bentuk murninya dextromethorphan tidak berbau dan berbentuk serbuk kristal dengan warna putih kekuning-kuningan. Namun dalam bentuk kemasan dapat berupa tablet, kapsul, powder, atau sirup.

Dosis yang dianjurkan sebagai obat batuk:
15mg – 30mg yang diminum 3 kali sehari.

Efek overdosis
Komsumsi 100-200mg : stimulasi ringan ringan
komsumsi 200-400mg : euphoria dan halusinasi
Komsumsi 300-600mg : gangguan penglihatan dan hilangnya koordinasi gerak tubuh.
Komsumsi 500-1500mg : sedasi sisosiatif (perasaan bahwa jiwa dan raga berpisah)

Efek overdosis pada tubuh
Bicara kacau, gangguan berjalan, gampang tersinggung, berkeringat, dan bola mata berputar-putar (ristagmus). Komplikasi yang timbul dapat berupa peningkatan takanan darah karena keracunan pseudoefedrin, kerusakan hati karena keracunan peasetamol, gangguan saraf dan sistem kardiovaskuler akibat keracuanan CTM, alkohol atau narkotika lain yang telah bersama DMP dapat meningkatkan efek karacunan dan bahkan menimbulkan kematian. (Sumber: PIKIRAN RAKYAT)

Perkembangan Alat Komunikasi (Sejarah Komunikasi Indonesia)

telegraf
Surat
Berdasarkan prasasti dan dokumen yang ditemukan, surat-menyurat di Indonesia sudah ada sejak zaman Kerajaan Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, Mataram Kuno, Purnawarman, dan Majapahit. Masuknya agama Budha dan Hindu memicu budaya menulis dan surat menyurat. Namun, biasanya hanya dilakukan antara bangsawan dan biarawan. Bentuknya sederhana, mengunakan batu, kayu, kulit kayu, bambu atau lontar, dan menggunakan bahasa sansakerta.
Ketika VOC berkuasa (sekitar abad 17 dan 18), surat menyurat dilakukan antara Pulau Jawa dan daratan Eropa. Saat itu surat hanya boleh ditujukan kepada para pejabat resmi dan isinya tidak boleh menceritakan kegiatan VOC di Indonesia. Pengirimannya melalui kapal yang berlayar dari Belanda ke Indonesia atau sebaliknya. Tak berapa lama jasa pengiriman pos pun muncul melalaui kantor pos. Pengiriman surat pun semakin lancer saat Jalan Raya Pos (de Grote Posweg) dari Anyer ke Panarukan (1.000 km) mulai dibangun. Waktu yang dibutuhkan untuk mengirim surat dari Jawa Barat ke Jawa Timur semakin singkat.

Merpati Pos
Merupakan alat komunikasi dengan menggunakan burung merpati sebagai mengantar surat atau pesan, Merpati dipilih karena burung ini pintar, memiliki daya ingat kuat, kemampuan navigasi dan naluri alamiah untuk kembali ke sarang, metode ini berasal dari orang-orang Persia yang melatih burung-burung merpati. Pertama kali digunakan oleh Sultan Bagdad, Nuruddin (1416) untuk mengirimkan pesan sekitar kerajaannya. Orang Romawi menggunakan merpati pos untuk mengirim pesan kepada pasukan militernya. Orang Yunani memberitahukan pemenang olimpiade melalui merpati pos. pada masa perang dunia pertama (1914-1918) pun pasukan Amerika menggunakan permati pos untuk komunikasi.

Telegraf
Telegraf merupakan alat untuk mengirim dan menerima pesan dari jarak jauh. Alat ini ditemukan oleh seorang warga Amerika, Samuel F.B. Morse bersama asistennya Alexander Bain pada tahun 1837. pesan pertamanya dikirim pada 6 Januari 1838. pesan yang dikirimkan oleh operator menggunakan kode morse. Pesan ini sering dinamakan pesan kabel atau kawat. Media ini sangat efektif dan dulu menjadi primadona meskipun yang bisa mengirim dam menerima hanyalah orang yang paham kode Morse. Untuk keperluaan peperangan, media ini sangat diperlukan agar pesan rahasia tetap terjaga. Pesan ini pun diistimewakan karena umumnya pesan tersebut adalah pesan penting. Perkembangan selanjutkan, media ini melahirkan media baru seperti teleprinting dan faksimile. Di Indonesia pemanfaatan telegraf dimulai sejak saluran telegraf pertama dibuka 23 Oktober 1855, oleh Pemerintah Hidia Belanda. Telegraf pun dapat dirasakan masyarakat di 28 kantor telegraf. Tidak hanya menghubungkan Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor), telegraf pun bisa menghubungkan Jakarta dan Singapura, Jawa dan Australia.

Telefon
Penemuan telepon dipicu oleh permintaan penggunaan telegraf yang semakin berkembang dan meningkat. Telefon pun ditemukan pada sekitar tahun 1876 oleh Alexander Graham Bell. Di Indonesia telefon lokal pertama digunakan sejak 16 Oktober 1882 yang diselenggarakan pihak swasta. Jaringan telefon pertama ini menghubungkan Gambir dan Tanjung Priok (Batavia). Selanjutnya jaringan telefon dibuat di kota-kota besar lainnya. Tahun 1906, perusahaan jaringan telefon diambil alih dan dikelola Pemerintah Hindia Belanda. Melalui PTT (Post, Telegraf, Tetefon) Dienst. Seiring perkembangan, kebutuhan telekomunikasi meningkat jaringan telekomunikasi pun diperluas. Tahun 1967 PT Indosat (Indonesia Satelite Corporation) mulai membangun jaringan telefon gelombang mikro. Dimulai dengan jaringan Trans Sumatra dan Indonesia Timur. Selanjutnya, tahun 1976, satelit Palapa A-1 diluncurkan sehingga mengungkinkan jaringan telefon Indonesia meluas hingga mencapai luar negara.

Telegram
Telegram baru dipopulerkan pada tahun 1920-an. telegram barisi kombinasi kode yang ditransmisikan oleh telegraf. Telegram ini tarif mengirimannya lebih murah dari telefon, meskipun tarifnya dihitung berdasarkan jumlah karakter termasuk tanda baca. Namun waktu yang dibutuhkan pun sangat singkat, kurang dari satu hari, tidak seperti surat. Di Indonesia, telegram dipopulerkan oleh perusahaan Telkom. Ada dua jenis telegram, telegram biasa dan Indah. Tetegram biasa berwarna biru muda, sedangkan telegram indag biasa dikirmkan pada hari-hari khusus seperti hari raya atau tahun baru.

Pager
Pager atau radia panggil merupakan alat telekomunikasi untuk menyampaikan dan menerima pesan pendek. Sekarang mungkin sudah jarang ditemukan, tetapi alat ini masih sering dipakai untuk orang-orang yang bergerak dibidang jasa seperti jasa informasi dari kesehatan. Pager ditemukan tahun 1956 oleh Multitone Electronic di Rumah Sakit St. Thomas London oleh dokter-dokter yang sedang bertugas dalam kondisi darurat. Sejak itu pager semakin berkembang. Sebelum telefon seluler berkembang, pager digunakan sebagai pengganti untuk layanan telefon lokal dan internasional. Di Indonesia pager muncul sebelum tahun 1997. pelanggannya mencapai 800.000. namun karena harga perangkat yang terus menerus melambung pelangan pun perlahan menurun. Apalagi telah munculnya teknologi telefon seluler.

Surat Elektronik (E-mail)
Merupakan sarana mengirim surat melalui jaringan komputer, misalnya internet. Surat elektronik mulai dipakai pada tahun 1960-an. Saat itu internet belum terbentuk, tetapi surat terkirim melalui jaringan yang berbentuk dari kumpulan “mainframe”. Mulai tahun 1980-an mulai bisa dipakai oleh umum.

Internet
Rangkaian yang membentuk internet (kependekan dari interconnected-networking) diawali pada tahun 1969 sebagai ARPANET. Rangkaian ini dibangun oleh ARPA (United States Department of Defense Advanced Research Projects Agency). Tahun 1983. ARPANET menukar protokol rangkaian pusatnya dari NCP ke TCP/IP, yang merupakan awal dari internet yang kita kenal. Di Indonesia, sejarah internet dimulai pada awal tahun 1990-an. Tahun 1992 hingga 1994, beberapa nama muncul diawal pembangunan internet salah satu diantaranya Onno W. Purbo. Tahun 1994 IndoNet menjadi ISP (Internet Serveci Provider) komersial pertama di Indonesia. Saat ini pihak Pos dan Telekomunikasi belum melihat celah bisnis internet. Mulai 1995 mucul jasa akses Telnet ke luar negeri, sehingga pemakai internet di Indonesia bisa mengakses internet (HTTP).

Telepon Genggam
Penemuan telefon genggam tak terlepas dari perkembangan radio. Berawal pada tahun 1921, Departemen Kepolisian Detroit Michigan mulai menggunakan telefon mobil satu arah. Kemudian tahun 1940, Galvin Manucfatory Corporation (sekarang Motorola) mengembangkan Handle-talllkle SCR536 untuk keperluan komunikasi di medan perang saat perang Dunia II. Namun, penemuan telefon genggam yang sebenarnya terjadi pada tahun 1973 oleh Martin Cooper dari Matorola Corp. telefon ini kemudian dikenal sebagai telefon genggam generasi pertama atau 1G. dari model inilah kemudian muncul telefon genggam berikutnya. Tahun 1990-an generasi kedua atau 2G muncul dengan teknologi GSM dan CDMA. Teknologi ini dilengkapi dengan pesan suara, panggilan tunggu dan sms (short message service). Ukuran dan berat yang lebih kecil menjadi unggulan teknologi ini. Kini, teknologi telefon genggam sudah mencapai generasi ketiga (3G) dan keempat (4G). teknologi ini memberikan jangkauan yang lebih luas lagi termasuk internet. Fitur telefon seluler pun bahkan mendekati fungsi PC. Bahkan untuk teknologi 4G memiliki heterogenitas jaringan hingga memungkinkan pengguna menggunakan beragam system kapan saja dan dimana saja. di Indonesia, teknologi telefon genggam pertama kali hadir pada tahun 1984 dengan bberbasis teknologi Nordic Mobile Telephone (NMT). Telefon genggam pun mulai beredar tahun 1985-1992, tetapi dengan bentuk yang masih besar dan berat. Tahun1993, PT Telkom memulai proyek percontohan seluler digital GSM (Global System for Mobile) yang dimulai di dua pulau, Batam dan Bintan. Setahun kemudian (1994) operator GSM pertama di Indonesia beroerasi melalui PT Satelindo. Selanjutnya mulai bermunculan operator GSM lainnya.

Pesan Instan (Instan Messaging)
Merupakan sebuah teknologi internet di mana para pengguna jaringan internet dapat mengirimkan pesan-pesan singkat pada saat yang bersamaan (real time). Istilah pesan instan ini mengacu pada teknologi yang dipopulerkan oleh America Online (AOL), kemudian diikuti Yahoo! (Yahoo Massenger), Google dan Microsoft (Windows Live Messenger). Bermula ketika orang-orang marak menggunakan teknologi secara online awal tahun 1990. para pengembang peranti lunak menciptakan software chat room, yakni suatu grup atau perseorangan bisa mengirimkan pesan kepada setiap orang di ‘room’ tersebut. Tahun 1996, pesan instan ini meledak saat diperkenalkan ICQ, sebuah pesan gratis. Namun AOL, menjadi pionir dalam kemunitas online pada tahun 1997, karena AOL bisa memberikan kemampuan pengguna berkomunikasi dalam waktu yang sama. Dari sinilah semakin berkembang perusahaan-perusahaan lainnya yang menciptakan mesin pesan instan.

Blackberry
Blackberry menjadi perangkat telefon genggam yang popular dan fenomenal beberapa tahun terakhir. Blackberry menjadi sangat fenomenal karena memiliki teknologi yang mampu menyampaikan informasi melalui jaringan data nirkabel dari layanan perusahaan telefon genggam. Produk andalam blackberry dan digemari pengguna adalah fitur email cepat (push e-mail). Blackberry juga memiliki kemampuan untun chatting melalui Balcberry Messenger (BBM). Blackberry hadir pada tahun 1997 oleh perusaaan Canada, Research in Motion (RIM). Sementara di Indonesia pertama kali hadir pada pertengahan Desember 2004.

Sumber: Kania D.N./Periset, Pikiran Rakyat

Nasi "Tutug Opak" Opaknya Asli Produk Conggeang

Nasi Tutug Opak Opaknya Asli Produk Conggeang
Makan dengan nasi tutug opak kebiasaan saya semasa kecil. Hehehehe... Sekarang pun saya tak pernah bosan menyantap tutug opak. Apalagi opak yang dibakarnya sedikit gosong (opak tutung). Seperti gambar di samping (tapi itu juga tergantung selera). Yang pasti tutug opak kaya akan kandungan karbohidrat.

Cara membuatnya sangat sederhana, nasi digalo/dicampur opak yang sudah ditumbuk menjadi bagian-bagian kecil atau dirames, tambahan sedikit garam. setelah selesai mengolahnya akan terasa nikmat langsung dimakan, opaknya masih terasa renyah.

Opak adalah penganan bakar berbahan baku beras ketan. Dahulu opak merupakan hidangan pada acara hajatan atau perayaan hari-hari besar. Tapi sekarang opak diproduksi terus menerus dan dipasarkan secara luas. Mudah didapat. Jadinya tutug opak bukan hanya menu makan urang lembur (kampung). Yang tinggal diperkotaan pun bisa membuat tutug opak ini.

Kampung kami (Conggeang) merupakan sentranya perajin opak di Kabupaten Sumedang. Salah satunya opak ketan bakar asli produk Conggeang, berlabel OPAK NIA.

salam

Ronggeng Kesenian Daerah Ciamis

ronggeng
Putra Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, Raden Anggalarang jatuh cinta kepada putri ke-38 Prabu Siliwangi, Dewi Siti Samboja. Cinta mereka pun kemudian disatukan dalam ikatan perkawinan. Raden Anggalarang memimpikan membangun kehidupan cinta mereka dalam sebuah kerajaan di Pananjung yang sekarang lebih dikenal Pangandaran, Kabupaten Ciamis.

Dalam perjalanan ke Pananjung Raden Anggalarang tewas dibunuh kawanan perampok (bajo). Dewi Siti Samboja yang kehilangan cintanya sejatinya, sembunyi di kaki Gunung dan menyamar (berganti nama menjadi Dewi Rengganis) menjadi seorang penari ronggeng. Penyamarannya untuk menjebak para perampok yang telah merenggut nyawa suaminya. Ronggeng gunung pun menjadi tarian berbau maut dan berbalutkan balas dendam. Begitulah Sepenggal kisah asal mula kesenian ronggeng yang berkembang di Daerah Ciamas.

Ronggeng gunung tidak berbeda dengan ronggeng pada umumnya, yaitu kesenian tradisonal yang menampilkan seorang penari atau lebih yang diiringi lagu dari suara juru kawih atau sinden. Yang paling khas dari kesenian ronggeng adalah karembong (selendang) untuk dikalungkan di leher penonton sebagai ajakan untuk menari.

Seni ronggeng terbagi menjadi tiga jenis, berdasarkan asal penarinya: Ronggeng gunung, penarinya berwasal kari kawasan pengunungan. Ronggeng kaler penarinya berasal dari wilayah utara. Ronggeng kidul, menarinya berasal dari wilayah bagian selatan.

Ronggeng gunung sangat sederhana. Seorang penari yang memiliki peran ganda sebagai juru kawih atau sinden dan hanya diiringi tiga orang nayaga.

Ronggeng kaler dan ronggeng kidul, tidak ada perbedaan yang mencolok. Penari tidak berperan ganda menjadi sinden. Biasanya terdapat 4 – 6 ronggeng yang diiringi sekitar empat belas nayaga dengan alat musik yang cukup lengkap ditambah seorang juru kawih atau sinden. Ronggeng kaler hampir sama dengan Tayub. Ronggeng kaler hadir sebagai tarian untuk melayani Dalem (kerajaan). (Sumber: Pikiran Rakyat)

salam

Menelusuri Tari Angguk Bersama ASPeMusik

tari angguk
Ini adalah posting pertama archive69 yang bertalian dengan seni budaya yang ada di tanah air selain dari Tatar Pasundan. Kesenian rakyat yang akan diarsipkannya yaitu seni tari angguk yang berasal dari Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DI Yogyakarta. Untuk lebih melengkapi tulisan tentang tari angguk, saya mencoba mencari beberapa sumber yang membahas tentang tari angguk.

Tari Angguk adalah tarian tradisional yang menceritakan kisah Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono dalam Serat Ambiyo. Tarian ini dimainkan secara berkelompok oleh 15 penari wanita yang berkostum menyerupai serdadu Belanda dan dihiasi gombyok barang emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaos kaki warna merah atau kuning dan mengenakan kacamata hitam. Tarian ini dimainkan selama 3 hingga 7 jam. (Sumber: Wikipedia)

Lirik lagu pada musik angguk ini adalah budaya campuran antara jawa arabian. dalam pantun yang kental dengan pendidikan mental kesenian angguk tersebut. lirik lagu dari kitab tlodo yang berhuruf arab pegon, tapi dinyanyikan dengan notasi jawa.(sumber: Tips Wisata Murah)

Sumber terakhir yang ditelusuri dari artikelnya ASPeMusik. Dalam artikel tersebut, lebih menitik beratkan ke warna musik yang mengiringi tari Angguk. Apabila sobat-sobat ingin mengetahui gambaran dan daya tarik dari warna musik tari angguk. Silahkan kunjungi dan simak artikelnya yang berjudul "Angguk" Mettal Jawa.

Sumber Gambar: http://aspemusikrecording.blogspot.com/2010/03/angguk-mettal-jawa.html

salam....(LESTARI BUDAYAKU)

Mengenal Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu

Bila suatu ketika kita berkunjung ke daerah Indramayu, tidak jauh dari Pantai Eretan Wetan, di sepanjang lajur sebelah kanan by pass dari arah Jakarta ke Cirebon (jalur Pantura), terdapat sebuah jalan kecil yang bila ditelusuri menuju ke lokasi pemukiman sebuah komunitas yang menamakan dirinya Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Orang luar sering juga menyebutnya dengan istilah “Dayak Losarang”, atau "Dayak Indramayu”. Komunitas ini tepatnya bermukim di Kampung Segandu. Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Kabupaten Indramayu.

Mengenal Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu
foto: wiralodra.com
“Suku Dayak Indramayu” mulai mencuat ke permukaan sejak pernyataan mareka untuk menjadi “Golongan Putih” (golput= tidak memilih salah satu partai) pada Pemilu tahun 2004.

“Suku Dayak Indramayu” hidup di tengah-tengah masyarakat sekitarnya, akan tetapi dalam beberapa hal, mereka mengisolasikan diri dari lingkungan masyarakatnya. Misalnya untuk tempat tinggal dan tempat peribadatan (ritual) mereka, dibentengi dengan dinding yang cukup tinggi dan diberi ornament lukisan-lukisan. Di dalam benteng ini terdapat beberapa bangunan yang terdiri atas: rumah pemimpin suku, pendopo, pesarean, pesanggaran, dan sebuah bangunan rumah tinggal salah satu pemimpin suku.

Benteng yang mengelilingi padepokan
Beberapa bangunan, yaitu rumah pemimpin suku dan pesarean sudah merupakan bangunan permanent, berdinding tembok, berlantai keramik, dan beratap genteng. Gedung pendopo berdinding semi permanent, yaitu dinding bagian bawah berupa tembok dan duduk jendela/setengah badan ke atas menggunakan papan yang dilapis bilik, berlantai keramik, dan beratap genteng. Sementara itu, bangunan pesanggaran adalah bangunan non-permanen, berlantai tanah, beratap sirap dan dindingnya dibuat dari papan dan bilik.

Lingkungan alam di sekitarnya adalah lingkungan pertanian sawah dan palawija. Oleh sebab itu, mereka dalam kesehariannya bermata pencaharian sebagai buruh tani. Data tentang deskripsi kehidupan mereka diperoleh melalui wawancara dengan ketua Suku Dayak Hindu Budha.

Asal Usul Nama Suku Dayak Bumi Segandu
Komunitas ini menamakan dirinya dengan sebutan “Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu”. Menurut penjelasan warga komunitas ini, penamaan Suku Dayak ini mengandung makna sebagai berikut: Kata “Suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing.

Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak” yang artinya memilih atau nyaring. Makna kata “Dayak” disini adalah menyaring, memilah dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang Ibu (perempuan).

Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.

Selanjutnya adalah kata “Bumi Segandu Indramayu”. “Bumi mengandung makna wujud, sedangkan “Segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung makna filosofi sebagai kekuatan hidup.

Adapun “Indramayu”, mengandung pengertian “In” maknanya adalah “inti”, “Darma” artinya orang tua, dan kata “ayu” maknanya perempuan.

Makna filosofinya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.

Jadi penyebutan kata “suku” pada komunitas ini bukan dalam konteks terminology suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari makna kata-kata dalam bahasa daerah (jawa).

Demikian juga dengan kata “Dayak”, bukan dalam pengertian sukubangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan, yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju. Serta mengenakan asesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).

Lebih jauh, pemimpin komunitas ini menjelaskan tentang pemakaian kata “Hindu-Budha” pada sebutan komunitas ini. Kendatipun kominitas ini menggunakan kata “Hindu-Budha”, bukan berarti bahwa mereka adalah penganut agama Hindu ataupun Budha. Penggunaan kata “Hindu”, karena komunitas ini meneladani peri kehidupan kelima tokoh Pandawa, yang terdiri atas: Yudistira, Bima(Wirekudara), Arjuna(Permadi), Nakula dan Sadewa, serta tokoh Semar, yang dipandang sebagai seorang mahaguru yang sangat bijaksana. Adapun penyebutan kata “Budha” karena mereka mengambil inti ajaran “aji rasa” (tepuk seliro) dan kesahajaan yang merupakan inti ajaran agama Budha.

Konsep-konsep Ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa.
Ajaran dari kelompok “Dayak Indramayu” dinamakan dengan sebutan “Sejarah Alam Ngaji Rasa”. Menururt penjelasan salah seorang pengikut senior dari Pak Takmad, “Sejarah” adalah perjalanan hidup (awal, tengah, dan akhir) berdasarkan ucapan dan kenyataan. Sementara itu, “alam” adalah ruang lingkup kehidupan atau sebagai wadah kehidupan.

Adapun “Ngaji rasa” adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari dengan adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar, dan dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan agar bisa menghasilkan sari atau nilai-nilai rasa manusiawi, tanpa memandang ciri hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, pandangan benar belum tentu benarnya. “Oleh karena itu, kami sedang belajar ngaji rasa dangan prinsip-prinsip jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya, dengan proses ujian mengabdikan diri kepada anak dan istri”, ungkapnya.

Konsep-konsep ajaran ini tidak didasarkan pada kitab suci, aliran kepercayaan, agam maupun akar budaya tertentu. Mereka berusaha mencari pemurnian dari dengan mengambil teladan sikap dan perilaku tikoh pewayangan Semar dan Pandawa Lima yang dianggapnya sangat bertanggungjawab terhadap kelaurga.

Proses menuju pemurnian diri, menurut Takmad, melalui beberapa tahap yang harus dijalin dengan menjauhkan diri dari keramaian dunia yang mengejar kesengan duniawi.
Tahap-tapah tersebut adalah: wedi-sabar-ngadirasa (ngajirasa)-memahami benar-salah.

Pada awalnya, setiap manusia wedi-wedian (takut, penakut) baik terhdap alam maupun lingkungan masyarakatnya. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan perasaan sabar dan sumerah diri dalam arti berusaha selaras dengan alam tanpa merusak alam. Prinsipnya adalah jangan merusak alam apabila tidak ingin terkena murka alam. Itulah yang disebut ngaji rasa atau ngadirasa. Setelah bersatu dan selaras dengan alam, dalam arti mengenal sifat-sifat alam sehingga bisa hidup dengan tenteram dan tenang karena mendapat lindungan dari Nur Alam (pencipta alam), manusia akan memahami benar-salam dan selanjutnya dengan mudah akan mecapai permurnian diri; manusia tidak lagi memiliki kehendak duniawi. Cerminan dari manusia yang telah memahami benar-salah, tampak dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia yang telah mencapai tahap tersebut, akan selalu jujur dan bertanggungjawab.

Ngajisara, ajaran yang diakui sebagai jalan menuju pemurnian diri, mendidik setiap pengikutnya untuk mengendalikan diri dari “TIGA TA (harta, tahta dan wanita).

Bagi para pengikut yang telah menikah, suami harus sepenuhnya mengabdikan diri pada keluarga. Suami tidak boleh menghardik, memarahi, atau berlaku kasar terhadap anak dan istrinya. Oleh karena itu, perceraian merupakan sesuatu yang dianggap pantang terjadi. Demikian juga, hubungan di,luar pernikahan sangat ditentang. “Jangan coba-coba berzinah apabila tidak ingin terkena kutuk sang guru,” demikian salah seorang pengikut Pak Talmad mengungkapkan.

Ngaji rasa juga mengajarkan untuk saling mengasihi kepada sesama umat manusia. Misalnya, menolong orang yang sedang kesulitan walaupun berbeda kepercayaan, tidak menagih utang kepada orang yang diberi pinjaman. Yang terbaik adalah membiarkan orang yang berutang tersebut untuk membayar atas kesadarannya sendiri. Demikian juga dalam hal mendidik anak, sebaiknya tidak terlalu banyak ngatur karena yang bisa mengubah sikap dan perilaku adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Jalan menuju pemurnian diri juga ditunjukan dengan hidup yang sederhana, menjauhi keinginan mengejar kesenangan duniawi, menghilangkan perasaan dendam, penasaran dan iri kepaada orang laina.

Konsepsi tentang alam tampak dari keyakjian bahwa dunia berasal dari bumi segandu (bumi yang masih bulat) bernama Indramayu. Bumi segandu, kemudian menimbulkan lahar menjadi daratan, kekayon, dan air. Setelah itu muncul alam gaib, yangmengendlaikan semua itu adalah Nur Alam.

Ritual
Ritual yang dijalankan oleh anggota Suku Dayak Hindu-Budha Segandu Indramayu, dilakukan pada setiap malam Jum’at kliwon, bertempat di pendopo Nyi Ratu kembang. Beberapa puluh orang laki-laki bertelanjang dada dan bercelana putih hitam, duduk mengelilingi sebuah kolam kecil di dalam pendopo. Sementara itu,kaum perempuan duduk berselonjor diluar pendopo.

Ritual diawali dengan melantunkan Kidung Alas Turi dan Pujian Alam secara bersama-sama. Salah satu baik dari Pujian Alam, berbunyi sebagai berikut: ana kita ana sira, wijile kita cukule sira, jumlae hana pira, hana lima, ana ne ning awake sira. Rohbana ya rohbana 2x, robahna batin kita. Ning dunya sabarana, benerana, jujurana, nerimana, uripana, warasana, sukulana, penanan, bagusana [ada (pada) saya ada (pada) kamu, lahirnya aku tumbuhnya kamu, jumlahnya ada berapa, jumlahnya ada lima. Adanya di badan kita, Rohbana ya rohbana 2x, rubahnya bathin kita. Di dunia sabar, benar, jujur, nerima, hidup, sembuh (sadar), tumbuh, dirawat, (supaya) bagus].

Selesai melantunkan Kidung dan Pujian Alam, pemimpin kelompok, Takmad Diningrat, membeberkan cerita pewayangan tentang kisah Pandawa Lima dan guru spiritual mereka, Semar. Usai paparan wayang, Pak Takmad memberikan petuah-petuah kepada para pengikutnya. Paparan wayang dan petuah ini berlangsung hingga tengah malam. Usai itu, para lelaki menuju ke sungai yang terletak di belakang benteng padepokan. Di sungai dangkal itu mereka berendam dalam posisi telantang, yang muncul hanya bagian mukanya saja. Mereka berendam hingga matahari terbit. Ritual beremdam ini disebut kungkum.

Siang harinya, di saat sinar matahari sedang terik, mereka berjemur diri, yang berlangsung mulai sekitar jam 9 hingga tengah hari. Ritual ini disebut pepe.

Medar (menceritakan) cerita pewayangan, kungkum (berendam), pepe (berjemur) dan melantunkan Kidung dan Pujian Alam, adalah kegiatan ritual mereka yang dilakukan setiap anggota ini sehari-hari. Kegiatan secara massal hanya dilakukan pada setiap malam jum’at kliwon.

Ritual-ritual ini pada dasarnya adalah sebagai upaya menyatukan diri dengan alam, serta cara mereka melatih kesabaran. Semua ini dilakukan tanpa ada paksaan. “Bagi yang mampu silahkan melakukannya, tapi bagi yang tidak mampu, tidak perlu melakukan, atau lakukan semampunya saja,” ungkapnya.

Sumber: Drs. Toto Sucipto, dkk/* Tabloid BeJa (Berita Jawa Barat) Vol. III Tahun 2011

Basa (bahasa) Wewengkon dan Basa (bahasa) Lulugu di Tatar Sunda

Dalam bahasa Sunda mengenal istilah basa (bahasa) wewengkon dan basa (bahasa) lulugu. Keanekaragaman basa (bahasa) wewengkon sangat berperan dalam menambah kekayaan khazanah bahasa Sunda.

Saya coba arsipkan kembali pelajaran yang didapat waktu duduk dibangku sekolah dasar beberapa puluh tahun yang lalu, tentang pengertian dan contoh basa (bahasa) wewengkon dan basa (bahasa) lulugu:

Basa (bahasa) wewengkon adalah bahasa yang biasa dipakai oleh anggota masyarakat di satu daerah (wewengkon), yang berbeda dengan bahasa-bahasa yang dipergunakan di daerah-daerah lainnya (mandiri).[Wangunan basa anu biasa dipake ku jalma-jalma atawa anggota masyarakat dihiji wewengkon anu tangtu, anu beda jeung basa-basa biasa anu dipake ku jalma-jalma di wewengkon sejenna. Kecap wewengkon (basa wewengkon) sok nambahan kabengharan basa lulugu.]

Basa (bahasa) lulugu adalah bahasa yang diterima dan dipergunakan oleh masyarakat Sunda secara keseluruhan [Basa anu ditarima sarta dijadikeun basa anu dipake ku masyarakat sunda sagemlemngna. Bsa lulugu biasana dipake sakur panyatur basa Sunda nyaho tur ngarti.]

Basa WewengkonBasa Lulugu
Ciamis
AmringBe’ak (habis)
MantangBoled (ubi)
SanaonSabaraha (berapa)
TipagutTitajong (tersandung)
NyanehManeh (kamu, anda)
BalaburUsum Hujan (musih hujan)
SungeSumur
KusiKungsi (pernah)
Kuningan
MungkalBatu
MenitRieut (pusing, sakit kepala)
KaguguHayang Seuri (ingin tertawa)
EndiMana
DageOncom
teu rajeunTeu keyeng (tidak semangat, malas)
Cirebon
NengkolMengkol (belok)
MuharaMuara
KacapeuSampeu (ketela)
JejengkokJojodog (tempat duduk)
GandelaJandela (jendela)
Banten
AbongSedih
AlusLeutik (kecil)
Aran Ngaran (nama)
CaweneParawan (Perawan)
Kabubun Labuh (jatuh)

Tentunya masih banyak contoh-contoh basa (bahasa) wewengkon, yang saya tulis ini hanya sebagian kecil saja. Di bagian contoh paling atas, ada beberapa bahasa yang biasa dipergunakan di Ciamis, tempat kelahiran kang Er’end/Cinta Deras (Hatur lumayan. manawi tiasa ngalubarkeun rasa kasono ka lembur matuh, dayeuh maneuh banjar karang pamidangan). Mudah-mudahan saya tidak salah dalam penulisannya.

salam

Komentar Diidentifikasi Sebagai Spam

spam
Ada dua komentar yang masuk ke archive69 diidentifikasi blogger sebagai spam.

Menurut kabar berita ada beberapa kriteria dianggap spam, yaitu: penyalahgunaan, berita yang datang bertubi-tubi dan menimbulkan ketidaknyamanan, SARA, mencantumkan 'link promosi', memuat 'link mengarah ke situs dewasa, dan sebagainya.

Setelah mendapat acuan tentang spam, saya coba telaah kembali komentar yang diidentifikasi sebagai spam tadi. Untuk sementara saya menyimpulkan. Secara keseluruhan komentar yang masuk tersebut tidak memuat kriteria sebagai mana yang tertulis di atas.

Untuk memastikan dan tidak membuat keragu-raguan yang bertalian dengan spam. Dalam benak saya timbul pertanyaan, sebagai berikut:
- Apakah komentar yang masuk dalam tempo yang berdekatan dari pengirim yang sama, tetapi berkomentar di posting berbeda. Itu termasuk datangnya secara bertubi-tubi dan bisa dianggap spam?
- Apakah jenis spam di komentar blog sama dengan spam email (bisa menyebarkan virus)?
- Apakah karena berkomentar dalam bahasa daerah, bisa dianggap spam?
- Yang terakhir apabila komentar yang diidentisikasi blogger sebagai spam, tetapi menurut kita bukan spam. Bisa kita publikasikan lagi? Apakah ada efek buruk apabila kita tetap mempublikasikannya?

Saya berharap banyak saran dan masukkan sobat-sobat. Ucapan maaf pula apabila komentar saya di blog sobat-sobat dianggap spam oleh blogger atau google. Tak ada niatan sedikitpun ke arah itu.

salam

Seni (Adu) Ketangkasan Domba di Tips Wisata Murah

Seni (Adu) Ketangkasan Domba di Tips Wisata Murah
Ngadu domba yang dulunya hanya merupakan kebiasaan budak angon (penggembala). Berkembang menjadi ajang yang cukup bergengsi di tatar Pasundan. Penggemar domba Garut bukan hanya didominasi oleh golongan orang tua. Kaum mudanya pun sangat menggemari domba Garut (domba tangkas) ini. Jadinya tradisi ini akan tetap terjaga keberadaannya.

Pemilik domba Garut zaman dahulu disebut Juragan. Sebutan Juragan tentu sangat identik dengan orang yang sangat terpandang. Untuk zaman sekarang pun sebutan Juragan masih pantas bagi pemilik domba Garut (domba tangkas). Berdasar pada harga domba yang sangat pantastis.

Domba Garut yang dikonteskan terbagi dalam beberapa kelompok berdasarkan berat domba (kg). Misalnya gambar di samping atas ini. Domba dengan nama “Bangsawan” dari Pakalungan SJR milik H. Nun Al Shaqab yang berdomisili di Conggeang-Sumedang. Domba ini termasuk kelompok A dengan berat antara 60-80 kg.

Banyak artilek yang membahas tentang kontes seni ketangkasan domba. Diantaranya artikel Wisata Adu Domba milik Tips Wisata Murah. Tentunya sobat yang satu ini cara pemaparannya dari sudut perspektif wisata.

salam

Ada Cinta Deras di (lirik) Sumedang

Sobat sebahasa, sebangsa dan setanah air yang sekarang tinggal jauh di ujung timur negeri ini. Kang Er'end empunya Cinta Deras. Dalam komentarnya, mengingatkan akan tembang "Sumedang" karya Doel Sumbang musisi asal Bandung.

Tembang yang Liriknya bahasa Sunda ini, sudah cukup lama beredar. Tembang "Sumedang" melukiskan keindahan alam dan sedikit mengisahkan kehidupan remaja (jajaka sareng nyi mojang) di kota Sumedang.

Berikut liriknya:

Sumedang

Kota leutik camperenik
Najan leutik tapi resik
Ngaliwat Cadas Pangeran
Mmmh, kota Sumedang

Dipapaes ku Cipeles
Tampomas nu matak waas
Cimalaka pamandian
Ngagenyas caina herang

Jajaka sareng nyi mojang
Indit mawa sari asih
Nyacapkeun rasa katineung
Cimalaka jadi jugjugan

Caang bulan opat welas
Caang mabray cahayana
Nambah endah katinggalna
Kota Sumedang


SALAM

Uniknya, Pengantin Naik Kuda Renggong

Uniknya, Pengantin Naik Kuda Renggong
Kuda Renggong merupakan kesenian daerah yang berasal dari Sumedang. Secara umum pertunjukkan seni Kuda Renggong dilaksanakan pada hajatan khitanan.

Tapi ada tradisi yang unik yang sudah lama dilakukan oleh sebagian warga di Buahdua (Sumedang), Kuda Renggong diacara pernikahan. Kedua mempelai diarak naik Kuda Renggong. Dari rumah mempelai wanita menuju mesjid untuk melangsungkan akad. Setelah akad, di arak kembali dengan Kuda Renggong menuju tempat resepsi pernikahan.

Kuda yang dirias seperti halnya dalam acara khitanan, dengan musik pengiringan yang komplit pula.

Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur keluarga pengantin. Dan juga mengabarkan rasa suka cita kepada saudara dan tetangga.

Sekalipun tradisi ini sudah cukup lama keberadaannya, namun acara ini tetap menjadi nontonan yang menarik bagi penduduk yang tempatnya dilalui arak-arakan Kuda Renggong

Grebeg Syawal Keraton Kanoman Cirebon

Kesultanan Keraton Kanoman Cirebon menggelar tradisi Grebeg Syawal yang digelar dipasarean (Makam) Sunan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Ritual ini dilaksanakan pagi hari, diawali dengan kedatangan Sultan Kanoman. Selanjutnya, Sultan dan rombongan memasuki makam Gunung Jati. Dalam perjalanan menuju makam rombongan melewati beberapa pintu (9 pintu) yang di buka pada hari-hari tertentu saja seperti ritual Grebeg Syawal ini, pintu-pintu yang dilewati di antaranya Pintu Pasujudan, Pintu Kandok, Pintu Pandan, Pintu Soko, Pintu Kaca, Pintu Bacem, dan Pintu Gusti.

Tahlil, dzikir dan doa lainnya dilafalkan dibeberapa makam. Dimulai dari makam Sunan Gunung Jati yang berdampingan dengan makam ibunya Ratu Mas Rarasantang serta makam para leluhur terkenal di Cirebon, seperti makam Pangeran Cakrabuana (kakak dari ibu Sunan), Fatahillah (menantu Sunan), Pangeran Pasarean (Putra Mahkota Sunan), Pangeran Kejaksan (Syayid Syarifudin), dan Putri Ong Tien nio (istri Sunan).

Secara urutan ritus, sebenarnya membagikan “nasi jimat" dan koin merupakan rangkai Grebeg Syawal. Grebeg yang bisa diartikan sebagai serbuan atau keserempakan mereka yang meyakini keberkahan Allah SWT melalui makam Sunan Gunung Jati, sejatinya merupakan rangkaian prosesi doa untuk Sunan Gunung Jati dan para raja pendahulu keraton saat hari ke tujuh bulan Syawal.

Tradisi Grebeg Syawal sudah berlangsung ratusan tahun sejak zaman Sunan Gunung Jati masih jumeneng, karena pada saat itu pun sudah ada makam para sesepuh Cirebon. (dari berbagai sumber)

Pranata Mangsa Petani Zaman Baheula

Pranata Mangsa atau aturan musim, biasanya digunakan oleh para petani pedesaan pada zaman dahulu (baheula).

Pranata Mangsa berasal dari dua kata, yaitu Pranata (aturan), dan Mangsa (musim atau waktu). Jadi Pranata Mangsa adalah aturan waktu yang digunakan petani sebagai penentuan/pijakan mengolah lahan pertaniannya, dalam kurun waktu satu tahun. Dengan urut-urutan sebagai berikut :

Kasa (kahiji). Musim kahiji mulai tanggal 21 Juni sampai 31 Juli. Lamanya 41 hari. Perlambang/ibaratnya: lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).Ditandai: Angin datang dari arah utara timur (timur laut), daun-daun berjatuhan dari pohonnya, telur bitangan kecil (seperti jangkrik) mulai menetas, siang hari terasa panas sekali malam harinya teresa dingin, kondisi tanah panas Bintang Wuluku mucul di sebelah timur, kalangkang/bayangan ke arah selatan. Musim ini musim kemarau bukan waktu yang tepat buat bertani.

Karo (kadua), Musim kadua mulai tanggal 1 Agustus sampai tanggal 23 Agustus, lamanya 23 hari. Perlambang/ibaratnya: beutule rengko (tanah retak). Ditandai: angin datang dari arah selatan dan utara berhembus ke arah barat, siang hari masih terasa panas dan malam hari terasa dingin, tanah kering dan ratak, selokan, sungai, dan sumur airnya mulai berkurang, daun muda (pucuk) pepohonan mulai keluar, seperti pohon karet, atau jeruk, di pagi hari bintang wukulu muncul di sebelah timur, tumbuhan buah-buahan mulai berbunga. Petani menanam palawija yang umurnya pendek.

Katiga (katilu). Musim katilu mulai tanggal 24 Agustus sampai tanggal 16 September, lamanya 24 hari. Perlembang/ibaratnya: akar-akar keluar. Ditandai: Angin datang dari arah utara, udara dingin tapi terasa segar, waktunya panen palawija, sebagian petani membuat petak pembinihan padi (tebar) di sawah. Waktunya pemupukan tanaman yng umurnya panjang saperti kalapa, durian, rambutan , dsb

Kapat (kaopat). Musim kaopat mulai tanggal 17 September sampai tanggal 11 Oktober, Lamanya 25 hari. Perlambang/ibaratnya: Gumading resi (gembira). Ditandai: angin datang dari arah barat berputar-putar menyebabkan turun hujan, musim kawin binatang kaki empat, pohon kapuk mulai berbuah, patani sibuk panen palawija dan menggarap sawah.

Kalima. Musim kalima mulai tanggal 12 Oktober sampai tanggal 7 Nopember, Lamanya 27 hari. Perlambang/ibaratnya: pancuran sumawur ing jagat (musim hujan). Ditandai: angin berhembus kencak datangnya dari arah barat dan utara (barat laut)bersamaan dengan hujan, hujan turun pada sore hari dan pagi hari, pepohonan banyak yang tumbang, pohon asem mulai tumbuh daun, penati mulai menanam padi (trandur) di sawah. Bintang Wuluku terlihat sore hari,

Kanem (kagenep). Musim kagenep mulai  tanggal 8 Nopember sampai tanggal 20 Desember, Lamanya 43 hari. Perlambang/ibaratnya: Ni’mating roso (merasakan kenikmatan). Ditandai: angin berhembus kencang datangnya dari arah barat, curah hujan banyak, memasuki musim panen buah-buahan (rambutan durian, manggis, dukuh, dsb). Sawah yang cukup air diangkat atau dibersihkan rumput-rumputnya (dirambet). Bintang Wuluku terlihat sore hari, Binatang kecil yang hidup disawah mulai bertelur.

Kapitu (katujuh). Musim katujuh mulai tanggal 21 Desember sampai tangga 1 Februari, Lamanya 42 hari. Perlambang/ibaratnya: Guci pecah ing lautan (ghuci retak dilautan). Ditandai: curah hujan tinggi kadang menimbulkan banjir, sawah yang ada di daearah pegunungan bisa ditanami padi (tandur), angin datang dari arah barat yang tak menentu, udara dingin, air di sawah seperti mendidih menandakan tanah masih panas, bintang Wuluku terlihat sore hari,. binatang kecil yang hidup di sawah mulai menetas, jagung dan kacang di huma cukup untuk dipanen

Kawolu (kadalapan). Musim kadalapan mulai tanggal 2 Februari sampai tanggal 28 Februari. Lamanya 27 hari. Perlambangna/ibaratnya: puspo anjrah (jroning kayung seungi sakeroning hate). Ditandai: angin datang dari arah utara barat berputar, hujan mulai berkurang, musin ini waktunya bertanam yang umurnya panjang. Padi di huma mulai mekar.

Kasongo (kasalapan). Musim kasalapan mulai tanggal 1 Maret sampai tanggal 25 Maret, Lamanya 25 hari. Perlambang/ibaratnya: wedaling wasono (timbul babasaan). Ditandai: angin datang dari arah selatan, kadang-kadang merusak padi yang sedang mekar. Hujan mulai berkurang, suara binatang sawah mulai terdengar, padi di mupa mulai menguning ada sebagian yang dipanen, sama halnya dengan padi disawah sudah ada yang dipanen.

Kasada (kasapuluh). Musim kasapuluh mulai tanggal 26 Maret sampai tsanggal 17 April, Lamanya 23 hari. Perlambang/ibaratnya: gedong ukeb jeroning kalbu (bangunan di hati). Ditandai; angin datang dari arah timur selatan (tenggara), banyak binatang hamil, dan sejenis burung terdengar kicauannya, dipegunungan padi siap dipanen dan sebagian sudah dipanen, sawah yang subur air mulai digarap lagi, membuatan pembinihan padi (tebar).

Desta (kasawelas). Musim kasawelas mulai tanggal 18 April sampai tanggal 10 Mei, Lamanya 23 hari. Perlambang/ibaratnya: pamungkas sinorowedi (patani sibuk panen). Ditandai: angin datang dari arah timur selatan (tenggara), udara dan tanah terasa panas, hama kungkang mulai merusak tanaman di sawah dan di huma, pepohonan daun mulai berjatuhan, musih ini masih waktunya menanam palawija umur pendek, disawah sibuk menanam padi (tandur), ada juga yang menenam palawija

Sada (kaduawelas). Musim kaduaerla mulai tanggal 11 Mei sampai tanggal 21 Juni, Lamanya 41 hari. Perlambang/ibaratnya: Tirta syaksing saseno (air meninggalkan tempatnya). Ditandai: angin datang dari arah timur, siang hari terasa panas malam hari dingin, tidak berkeringat. Dedauan layu tak tahan menahan panas datangnya hama padi. musim ini waktunya tebar nyadon atau palawija.

Menurut sumber lain. Dahulunya Pranata Mangsa ini diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan hasil pertanian. Apakah dengan kondisi yang tidak menentu seperti sekarang ini, Pranata Mangsa masih bisa dijadikan acuan untuk bertani dan membuat hasil pertanian yang berlimpah?

salam

Kupat (ngaku lepat) Lebaran

Kupat (ngaku lepat) Lebaran
Kupat (ketupat) merupakan makanan khas di Asia Tenggara, terutama Malaysia, Brunai Darusalam, dan Singapura. Jadi bukan hanya ada di Negara kita. Bedanya di Indonesia (umat Islam), ketupat makanan yang tak bisa dilepaskan dengan lebaran (Idul Fitri).

Menurut sakaol yang memperkenalkan kupat (ketupat) adalah Sunan Kalijaga. Kupat asal kata dari ngaku lepat (dalam bahasa Jawa dan Sunda). Kupat (ketupat) simbol dari mengakui kesalahan yang ada pada diri kita. Di Jawa setelah puasa syawal (nyawalan), ada lagi lebaran yaitu ketupat lebaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Paku Buwono IV. Saling kirim kuah bersantan dan kupat.

Kupat (ketupat) menganduung arti yang sangat dalam. Bungkusnya terbuat dari anyaman daun kelapa muda (janur). Menurut masyarakat jawa janur singkatan dari sejatine nur. Orang yang melaksanakann puasa dengan dibarengi amal kebaikan termasuk kesesama dengan ikhlas, dirinya akan terlihat bercahaya.

Bentuknya jajaran genjang persegi empat, melambangkan empat hawa nafsu: amarah (emosi), aluamah (nafsu menghilangkan lapar), supiah (nafsu, memiliki hal-hal yang berkaitan dengan keduniawian), dan mutmainah (nafsu memaksakan diri untuk memperoleh keinginannya, termasuk jabatan). Dengan puasa ke empat nsfsu itu dibelenggu. (sumber: Nanang S., Galura)

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H / 2011 M

Mohon Maaf Lahir Batin

Menyorong Rembulan (Emha Ainun Nadjib dan Mini Kiai Kanjeng)

Menyorong Rembulan
Album Menyorong Rembulan dikeluarkan setelah album Jaman Wis Akhir. Album ini masih menyoroti keandaan bangsa yang waktu itu masih dalam proses perubahan. Perenungan dan pengharapan seorang Cak Nun, dituangkannya dalam Album ini.

Seperti biasanya, saya coba menulis ulang sebagian tulisan yang ada di dalam sampul Menyorong Rembulan

PRODUSER: Akhlis Suryapati. PRODUSER EKSKUTIF: H. Wawan Yuwardi, Dicky Sundri. DISTRIBUTOR: Indomusik. Studio: Ariesta. OPERATORPMIXING: Ferry, Jupri. DESAIN GRAFIS-VIDEO KLIP: Kreativa Entertainmen

Vokal: Emha Ainun Nadjib, Haddad Alwi, Ki Sudrun. Pemusik: Mini Kiai Kanjeng; Novi Budianto (keyboard, rebana, koor, aransemen). Bobit (keyboard, rebana, programmer, arransemen). Yoyok Prasetyo (bas gitar, rebana, koor), Bayu Kuncoro(rebana, koor), Djoko Kamto (rebana, koor). Koor: Kelompok Hamas—Himpunan Masyarakat Shalawat; Fatimah HA, Haydar Yahya, Effendy, Habib Husein, Ali Alical, Abinsa, Chepy, Ridho, Ali Alatas, Salim AF, Husein A, Hasan A, Dolah, Hilman Farkhi, Evey Supriyanto.

Kepemimpinan Blimbing
Hikmah Sunan Ampel

Bangsa Indonesia butuh keluar dari jurang. Butuh mengerti jurang apa yang menyerembabkannya dalam krisis yang sangat berkepanjangan. Butuh mengerti bagaimana cara merangkak naik dari kedalaman jurang. Butuh kesangguhan untuk membebaskan dari jurang secara bersama-sama, bukan sendiri-sendiri atau segolongan-segolongan.

Bangsa Indonesia perlu hijrah, berpindah dari kegelapan menuju cahaya. Bangsa Indonesia perlu memahami bukan hanya cara berhijrah, tapi juga terutama kemana akan berhijrah. Kedua-duanya “cara” dan “kemana” adalah pertanyaan tetang system nilai yang di sisitem nilai yang jelas pilih secara jelas. Perombakan system nilai yang tak jelas itu akan menyebabkan bangsa Indonesia belum mampu menyelenggarakan penyembuhan nasional secara tertata, belum mampu sanggup mengindentifikasi masalah-masalah secara tepat dan adil.

Dari khazanah Sunan Ampel, melalui konsep Ilir-Ilir, ada tawaran Kepemimpinan Blimbing. Negeri yang amat kaya raya namun dimanage secara buruk… Bocah angon (penggembala kebangaaan, pemimpin nasioanl, bukan pemuka gerombolan atau tokoh golongan) yang harus memanjat pohon selicin apapun untuk memperoleh blimbing yang bergigir lima… Sari blimbing itu dipakai untuk mencuci pakaian nasional yang robek (krisis moral yang melahirkan krisis politik.. Mungpung jembar kalangane, mungpung padhang rembulane… sepanjang masih sangat mungkin krisis diatasi..

Mudah-mudahan lantunan Ilir-Ilir dan sejumlah shalawat (agar kita melindungi diri dari tradisi dusta nasional) serta orasi sekitar seperempat jam ini bisa turut menjadi air blimbing untuk proses pencucian dan penyembuhan nasioanal.
Emha Ainun Nadjib
(Ta’zim pada Sunan Ampel, Cinta pada Guru Zaini, Martapura)

Fragmen-fragmen dari Renungan Emha:
“…. Bisakah luka yang teramat dalam ini memenuhi angkasa tanah air nanti akan sembuh, bisakah kekecewaan, bahkan keputusaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini akan pada akhirnya nanti akan kikis
Adakah kemungkinan kita akan bisa merangkak naik ke bumi, dari jurang yang teramat curam dan dalam
Akankah api akan berkobar-kobar lagi
Apakah asap akan membungbung lagi dan memenuhi angkasa tanah air
Akankah kita semua akan bertabrakan lagi satu sama lain,
Jarah menjarah satu sama lain dengan mengorbankan yang tidak akan terkirakan
Adakah kemungkinan kita tahu apa yang sebenarnya kita jalani
Bersediakah sebenarnya kita untuk tahu persis apa yang kita cari
Cakrawala yang manakah yang menjadi tujuan sebenarnya dari langkah-langkah kita
Pernahkan kita bertanya bagaimana cara melangkah yang benar
Pernahkan kita memcoba menyesali hal-hal yang barangkali memang perlu kita sesali dari perilaku-perilaku kita kemarin
Bisakah kita menumbuhkan kerendahan di balik kebanggaan-keganggaan
Masih tersediakah ruang di dada kita dan di akal kepala kita
Untuk sesekali bertanya kepada diri sendiri, bahwa yang bersalah
Bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa
Bukan hanya ia, tapi juga kita…”

“…. Terserah apa tafsirmu tentang blimling bergigir lima
Tapi selicin apapun pohon reformasi itu harus didaki, agar kita
Peroleh air sari blingbing untuk mencuci pakaian nasional kita
Dan yang memanjat harus “bocah angon”
Tentu saja ia boleh seorang doktor, boleh juga seorang seniman, boleh juga seorang kiai, jenderal, atau siapapun saja
Namun memiliki daya angon
Kesanggupan untuk menggembalakan
Karakter untuk merangkul dan memesrai semua pihak
Determinasi yang menciptakan garis resultan kedamaian bersama
Pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima oleh semua warna, semua golongan, semua kecenderungan
Bocah angon adalah seorang pemimpin naasioanl, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan….”

“…… ilir-ilir, kita sudah ngilir, kita sudah bangun, sudah bangkit, bahkan kaki kita sudah berlari kesana kemari, namun akal pikiran belum hati nurani belum
Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk dimulut, namun kita biarkan ajara-ajarannya terus hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita
Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik
Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian kenapa bukan kita yang maling
Kita mencari penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya
Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan yakni
Melarangnya untuk insaf dan bertobat
Kita memperjuangkan gerakan anti pengusuran dengan cara balik menggusurnya
Kita menolak pemusnahan dengan merencanakan pemusnahan
Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana
iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri
siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mareka mendekat ke pintu neraka? …”

“…. Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri menindas
Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak
Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menhancurkan
Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan
Yang kita bangun bukan niknatnya kemesraan, tapi menggelaknya kecurigaan
Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah
Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rancangan-rancangan panjang untuk menyelenggarakan perang saudara…”

SIDE A
Ilir-ilir & Shalawat Badar
Renungan Ilir-ilir
Astaghfirullah

SIDE B
Nurul Musthofa
Penyembuhan Bangsa
Thoa’al Badru
Menyorong Rembulan
Shalawat Berdiri.

Sekali pun album ini sudah cukup lama dikeluarkan, tapi isinya tak kan usang di telan jaman. Jadi masih layak di dengar dan direnungkan.

Kesederhanaan Hidup Seorang Pemimpin

(Oleh A. HAJAR SANUSI. M. Ag., Pikiran Rakyat)

Bashrah adalah sebuah kota yang dalam perkembangan sejarah Islam menjadi terkenal lantaran di wilayah itu tumbuh dan berkembang gerakan tasawuf mazhab Khasyyah (takut). Hidup zuhud, untuk tidak dikatakan menolak kehidupan duniawi, merupakan bagian penting ajaran tasawuf mazhab ini. Oleh karena itu, tak heran ada suatu peristiwa berlangsung di kota itu.

Ketika itu yang menjadi Amirul Mukminin adalah Ali bin Abi Thalib. Sekalipun kesibukan menderanya setiap waktu, ia tidak pernah melupakan sahabat-sahabatnya. Bahkan, sesekali ia bertandang ke rumah mereka, sebagai upaya menjalin silaturahmi.

Salah seorang yang beruntung karena rumahnya dikunjungi, adalah al-‘Ala’ bin Ziyad al-Haritsi. Rumah al-‘Ala’ terbilang besar, dengan pekarangan yang luas. Maka tak heran kalau kemudian Imam Ali menegur gaya hidup sahabat yang satu ini.

Setelah bertegur sapa dan saling bertanya tentang kesehatan masing-masing. Imam Ali berkata kepadanya, "Apa sesungguhnya yang Anda kehendaki dengan rumah seluas ini di dunia, wahai sahabatku? Bukankah Anda lebih membutuhkan rumah seperti ini di akhirat nanti?"

Belum juga tuan rumah sempat menjawab, Imam Ali sudah melanjutkan dengan nasihat, "Namun, baiklah! Jika Anda ingin memperoleh kebahagiaan akhirat dengan rumah ini, hendaklah Anda lakukan tiga hal: Tuqri fiha al-dhayf {Menghormati dan menjamu tamu yang masuk rumah ini); Wa tashilu fiha al-rahim (Berbuat baik di dalamnya terhadap karib kerabat); Wa tuthli u minha al-huquq mathali’ aha (Anda menampakkan kebenaran yang harus ditampakkan)! Jika demikian halnya, Anda telah menjadikan rumah ini sebagai sarana meraih kebahagiaan akhirat!"

Al- ‘Ala’ bin Zirad al-Haritsi menyimak nasihat itu hamper kata demi kata. Ia tidak berusaha menyela sedikit pun. Yang demikian itu boleh jadi terhalang oleh rasa hormat terhadap Imam Ali, seorang pemimpin besar tetapi hidup dalam kesederhanaan.

Setelah Imam Ali selesai menyampaikan nasihatnya, baru kemudian al-‘Ala' berkata, " Wahai Amirul Mukminin! Aku ingin mengadukan saudaraku, 'Ashim bin Ziyad kepada Anda.". "Memangnya kenapa? Apa yang telah dilakukan saudaramu itu?" tanya Imam Ali.

Al- ‘Ala’ lalu menjelaskan, "Saudaraku itu sekarang mengenakan pakaian aba 'ah (sejenis mantel terbuat dari bahan kasar, lazim dikenakan oleh penduduk dusun). Ia betul-betul telah meninggalkan kenikmatan hidup duniawi, ya Amirul Mukminin!" "Panggillah saudaramu itu kemari!" titah Imam Ali

Sebentar saja, ‘Ashim telah berada di hadapannya. Penjelasan al- ‘Ala’ tentang saudaranya itu benar juga. ‘Ashim tampil dengan pakaian yang dapat dikatakan nyaris compang-camping.
Kepadanya Imam Ali berkata, “Wahai musuh kecil dirinya sendiri! Sungguh engkau telah disesatkan oleh si jahat (setan). Tidakkah engkau menyayangi istri dan anak-anakmu? Apakah menurut sangkaanmu. Allah SWT telah menghalalkan segala sesuatu bagimu yang baik, lalu Dia tidak menyukaimu untuk menikmatinya?

‘Ashim, yang sejak kedatangannya diam, mulai angkat bicara. Ia mengedepankan alasan mengapa dirinya menjalani cara hidup demikian. Ya Amirul Mukminin! Hadza anta fi khusyunah malbasik wa jasyubah ma’kulik (Wahai Amirul Mukminin! Bukankah Tuan ini mengenakan busana kasar dan mengonsumsi roti yang kering (kurang halus) pula" demikian kilahnya. Tampak jelas, ‘Ashim ingin meniru pola hidup sederhana yang dipraktikkan Imam Ali.

Namun, dalam pandangan Imam Ali, cara berpikir ‘Ashim itu kurang tepat. Oleh karena itu. Imam Ali meluruskannya. "Ketahuilah Wahai ‘Ashim! Inni lastu kaannak (Sesungguhnya aku tidak seperti Anda. Dengan kata lain, aku adalah seorang pemimpin). Innallaha faradha ‘ala a’imnah al- ‘adl an yuqaddiru anfusahum bi dha afah al-nas. Kayla yatabayyagha bi al-faqir faqruh (Allah telah mewajibkan atas para pemimpin adil, agar mengukur diri mereka dengan keadaan hidup rakyatnya yang lemah sehingga orang-orang miskin tidak merasa risau dengan kefakirannya).

Demikian percakapan antara Imam Ali sebagai Amirul Mukminin dan sahabatnya. Keterangan itu mengantarkan kita sampai pada beberapa kesimpulan. Pertama, Islam tidak melarang seseorang mempunyai rumah megah, asal diperoleh dengan cara halal.

Namun, jika dengan rumah itu dirinya ingin mendapatkan pahala akhirat, pemiliknya dituntut menunaikan hak-hak rumah itu. Kedua, seorang anggota masyarakat biasa tidak terlarang menampakkan anugerah Allah dalam bentuk gaya hidup dengan selera masing-masing. Sepanjang itu tidak berlebih-lebihan dan tidak berseberangan dengan norma yang berlaku.

Ketiga, kesederhanaan adalah pola hidup yang niscaya bagi seorang pemimpin. Terlebih ketika kesejahteraan masyarakat belum terwujud secara merata. Atau, manakala sebagian besar rakyat masih belum lepas dari deraan kesulitan hidup. Namun, jika dalam kondisi seperti itu, pola hidup seorang pemimpin justru menunjukkan berseberangan, sejatinya yang bersangkutan sudah tidak layak menyandang sebutan pemimpin.

Mungkin gelar penguasa, untuk tak menyebut tiran lebih patut dilekatkan. Adalah hak siapa pun untuk percaya atau tidak, tetapi fakta sejarah mengatakan, pemerintahan yang dibangun atas dasar ketidakadilan, pelan tapi pasti, pasti runtuh.

Untuk itu, pendapat Ibn Taimiyah agaknya relevan untuk dikedepankan. Dalam salah satu karya intelektualnya, al-Amr bi al-Ma ‘rufwa al-Nahy ‘an al-Munkar, pakar keislaman yang dianggap Bebagai pelopor gerakan muhyi atsar al-salaf ini mengatakan, Innallaha yuqim al-dawlah al- ‘adilan wa in kanat kafirah. Wa Ia yuqim al-zhalimah wa in kanat muslimah (Sesungguhnya Allah akan mempertahankan tegaknya suatu pemerintahan adil meskipun ia kafir. Dan Allah SWT tidak akan membiarkan pemerintahan zalim terus berdiri, meskipun berada di tangan kaum Muslim)

Oleh karena itu. waspadalah wahai para pemimpin! jangan sampai turun kedudukan tanpa penghormatan, apalagi disusul sumpah serapah rakyat. Bersikap adil dalam memimpin, adalah solusinya.

Proses Pembuatan Tahu Sumedang

Proses Pembuatan Tahu Sumedang
Postingan ini bukan hal baru. Sebelumnya sudah banyak yang memuat. Bahkan sudah ada yang membukukannya. Saya hanya berharap semakin banyak artikel tentang tahu Sumedang. Akan semakin banyak orang mengetahui keberadaan tahu Sumedang.

Saya pun disini akan coba mengupas secara ringkas proses pembuatan tahu Sumedang. Hasil menelusuran ke tempat pembuatannya.
[Jadinya ingat Tips Wisata Murah. Rupanya salah satu sobat terbaikku ini, hapal betul gurihnya makanan khas Sumedang ini. Maaf sobat saya belum sempat ngirim tahunya ... he-he-he].

Alat yang dipakai antara lain:
- Mesin giling.
- kuali besar.
- Tahang, tempat menyimpan hasil saringan.
- Tangok, alat yang digunakan sebagai alas untuk kain saringan.
- Cetakan terbuat dari kayu.
- Ancak, bentuknya persegiempat, bagian bawahnya dari anyaman
bambu yang sisinya dari bahan kayu.
- Kain saringan.
- Batu balok.
- Dan lain-lain

Bahan baku kacang kedelai ditambah cuka dan garam.

Proses pembuatan:
- Kacang kedelai yang sudah dimasukan ke dalam karung-karung kecil, direndam selama 3-5 jam.
- Kedelai hasil rendaman dicuci sampai bersih.
- Kemudian digiling sambil dikasih air, sehingga menghasilkan aci/bubur.
- Aci kedelai direbus/digodog dalam kuali di atas tungku dengan suhu yang sangat tinggi, kurang lebih 15 menit (selama penggodogan, buih-buih yang ada dibagian atas di buang).
- Hasil rebusan/godogan, disaring ke dalam tahang dengan menggunakan tangok dan kain saringan. Dengan tambahan air pana, untuk dipisahkan ampasnya.
- Hasil saringan di kasih air cuka (cuka bibit) dan didiamkan sampai olahan tahu mengendap. Air sisa rendaman yang ada di bagian atas tahang diangkat/dibuang.
- Olahan tahu diangkat dan dimasukkan ke dalam cetakan yang sudah dipasang kain kasa (ditutup/dibungkus), bagian atasnya dikasih beban (batu balok). Untuk mengurangi kadar air, kurang lebih 5 menit.
- Tahu yang sudah dicetak dipindahkan ke ancak, selanjutnya di potong menjadi bagian-bagian kecil.
- Tahu siap digoreng, setelah direndam air garam selama 3-5 menit.

Sekian dulu sobat (maklum bukan master chef, mengurainya rada-rada blepotan, maaf!!). Apabila sobat-sobat melintas ke Sumedang jangan lupa tahu Sumedangnya.

salam

Tak Jadi Berhaji demi Perut Tetangga

(Oleh: H. USEP ROMLI. H.M., Pikiran Rakyat)

Seusai musim haji. Abdullah bin Mubarrak, seorang ulama termasyhur abad ke-12 (118 M/797 H) tertidur dekat Multazam. Ia seolah-olah mendengar dua malaikat bercakap-cakap, “Ada enam ratus ribu jemaah haji tahun ini, Namun, tidak seorang pun yang mabrur, yang hajinya diterima,” kata malaikat yang satu.

“Ada, seorang. Walau pun tidak datang ke sini, tetapi Allah SWT berkenan memberinya ganjaran haji mabrur,” kata malaikat yang satunya lagi.

“Siapa dia?”

“Ali al Muwaffaq, tukang sepatu miskin di Damaskus.”

Abdulah bin Mubarrak terkejut. Begitu bangun, segera bersuci. Segera melaksanakan tawaf wada, dan segera berangkat ke Damaskus, ingin bertemu Ali al Muwaffaq. Ingin tahu, amal apa yang ia lakukan sehingga mendapat ganjaran haji mabrur tanpa datang ke Mekah. Padahal enam ratus ribu orang yang melakukan wukuf di Arafah, jumrah di Mina, dan rukun serta wajib haji lain, malah mardud. Tertolak hajinya.

Setelah Abdullah bersusah payang menempuh perjalanan Mekah-Damaskus, juga berkeliling ke seluruh pelosok kota bekas pusat Dinasti Umayyah (610-750 M) itu, akhirnya Ali al Muwaffaq dapat dijumpai. Sehabis mengucapkan salam dan istirahat sebentar, Abdullah memohon agar Ali al muwaffaq mengisahkan amal perbuatan yang menyebabkannya mendapat ganjaran haji mabrur tanpa mengikuti ritus haji di Mekah pada saatnya.

Semula Ali bungkam membisu. Namun, setelah terus didesak, akhirnya dia mau juga berbicara:

“Tiga puluh tahun aku menabung untuk mengumpulkan biaya perjalanan haji. Sangat susah payah mengingat penghasilanku sebagai pembuat sepatu, amat minim. Tahun ini tabunganku genap 350 dirham. Cukup untuk sekadar bekal dengan cara menghemat dan sederhana. Nah, semalam sebelum keberangkatan, istriku yang sedang mengidam, mencium harum masakan dari rumah tetangga sebelah. Ia merengek-rengek agar aku memintanya sedikit saja dari hidangan yang menggiurkan itu.”

“Maka kudatangi rumah tetanggaku. Seorang janda miskin dengan tiga anak kecil-kecil. Kuketuk pintu, dan kuucapkan salam, sambil menerangkan maksud kedatanganku membawa keinginan dari istri yang sedang mengidam. Ia tampak terkejut, lalu berkata pelan.

“Saudara Ali, memang aku sedang memasak daging unta. Akan tetapi, itu hanya halal bagiku dan anak-anak. Bagimu dan istrimu haram.”

“Mengapa?” aku tak kalah terkejut.

“Kami sudah tiga hari tidak makan. Hampir mati kelaparan. Tadi pagi anakku menemukan bangkai unta tergeletak di bawah rumpun. Kami kerat daging pahanya, dan kami masak, sekedar menghilangkan rasa lapar,” jawabnya.

“Mendengar itu, aku berlari pulang, kuambil uang 350 dirham untuk bekal haji. Kuberikan pada tetangga yang terpaksa memakan daging bangkai unta. Aku ingat sabda Rasulullah saw. yang mengatakan, tidak akan masuk surga orang yang tidur dengan perut kekenyangan sedangkan tetangganya kelaparan. Biarlah aku tak jadi berhaji tahun ini, asal tetanggaku tertolong.” Ali al Muwaffaq mengkahiri kisahnya.

Abdullah bin Mubarrak menetesklan air mata, dan berguman. “Malaikat-malaikat itu telah berkata benar dalam mimpiku, dan Penguasa Alam Semesta benar-benar Mahaadil pertimbangan-Nya.

Sumber: “Kitab Tadzkiratul Aulia” Fariduddin attar (1110- 1220 M)

Pemimpin Besar Tidur di Atas Tikar

(Oleh: A. HAJAR SANUSI. M. Ag., Pikiran Rakyat)

Dalam salah satu syairnya, Muhammad Iqbal menggambarkan kepribadian Rasulullah saw. sebagai berikut: Sungguh hati Muslim dipatri cinta Nabi / Dialah pangkal mulia Sumber bangga kita di dunia / Dia tidur di atas tikar kasar / Sedangkan umatnya mengguncang takhta Kisra / Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga / Sementara umatnya tidur di ranjang raja-raja.

Bait-bait di atas melukiskan zuhud Rasulullah saw. kebersahajaan dalam kehidupan duniawi memang merupakan atribut Rasulullah saw. yang sangat mengemuka. Namun, istilah zuhud kerap disalahpahami. Tidak jarang orang memahaminya sebagai pola hidup yang menolak secara total pelbagai hal yang berkaitan dengan dunia. Tengok misalnya sebagian pengamal tasawuf. Ada diantara mereka yang mengasingkan diri, hidup dalam ribat-ribat di daerah terpencil, jauh dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Mereka tidak hirau lagi dengan masalah keduniawian. Sebab, menurut mereka, dunia tidak sekadar bernilai rendah dan kotor, tetapi juga dianggap sebagai penghambat jalan spiritual menuju keridaan Allah SWT.

Padahal, hidup zuhud tidak mesti begitu, bahkan, yang demikian itu sudah pasti tidak dibenarkan Islam. Bukankah agama yang satu ini mengajarkan kesimbangan (ekuilibrium) antara dunia profan dan sakral? Bukankah Alquran –sebagai sumber utama ajaran Islam— menitahkan manusia untuk berdoa agar memperoleh kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat?

Jika demikian halnya, apa sejatinya hidup zuhud itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, elok jika kita simak pendapat Ali bin Abi Thalib karramallaahu wajhah. Menurut sahabat yang satu ini, “Keseluruhan sifat zuhud terletak diantara dua kalimat dalam Alquran, yaitu QS. Al-hadid/57:23), yang berbunyi. Likaylaa ta’saw’alaa maa faatakum wa laa tafrahuu bimaa aataakum…(Agar kamu tidak berdukacita atas apa yang luput darimu dan tidak bersukaria atas sesuatu yang diberikan-Nya kepadamu). barang siapa yang tidak berdukacita atas sesuatu yang telah pergi dan tidak bersukaria karena sesuatu yang datang, maka sesungguhnya dia telah mencakup sifat zuhud dalam arti yang sebenarnya.

Dalam kesempatan lain, Ali bin Ali Thalib mendefinisikan zuhud dengan kalimat, Anta tamliku-d dunyaa wa laa tamlikuka (engkau memiliki dunia, tetapi dunia tidak pernah menguasaimu). Dalam pengertian inilah kita pahami sifat zuhud Rasulullah saw.

Tiga orang empu Hadis, Bukhari, Ahmad, Ibn Majah meriwayatkan bahwa pada suatu hari Umar bin Khattab bertamu ke rumah Rasulullah saw. sahabat sekaligus mertua itu mendapatkan beliau sedang duduk di atas tikar kasar dan tua. Mata Umar lantas mengamati isi ruangan, tempat ia bertemu dengan manusia agung itu. Umar tidak menemukan sesuatu apa pun, kecuali yang disaksikannya, yakni tas kulit yang tergantung di dinding (untuk menympan beberapa genggam gandum) dan sehelai tikar yang hampir koyak itu. Saat itu, Umar tak kuasa menahan tangis. Melihat Umar menangis, Rasulullah saw. bertanya, “Limaadzaa tabki, ya Ibnu-l khaththaab (Mengapa engkau menangis wahai putra Khattab)?” Sambil terisak, Umar menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, ya Rasulullah! Bukankah tikar tempat duduk Anda ini sudah begitu tua. Lagi pula, Anda tidak menyimpan sesuatu pun, kecuali yang aku saksikan saat ini. Sementara di negeri sana, Kaisar (Raja Romawi) dan Kisra (penguasa Persia) –sambil bersemayam di atas singgasana—mereka menghadapi hidangan serta buah-buahan yang lezat, lengkap dengan perangkat hidup serba mewah. Padahal bukankah anda ini, ya Rasulullah, seorang utusan dan kekasih-Nya?” Rasulullah saw. menenangkan Umar dengan berkata, “Afiya syakkun, anta ya Ibnu-l khaththaab? Ulaaika qawmun ‘ujjilay lahum thayyibatahum fi-l hayaata-d dunya (Apakah engkau masih ragu tentang diriku, wahai putra Khathab? Mereka itu adalah orang-orang yang disegerakan balasan atas kebajikannya dalam kehidupan di dunia ini)”.

Demikian pola hidup Rasulullah saw. Jika mau, Gunung Uhud pernah ditawarkan kepadanya untuk diubah jadi bongkahan emas, tetapi ditolaknya. Dengan kata lain, meskipun kunci kekayaan berada di tangan, Rasulullah saw. tetap hidup bersahaja. Inilah dia: Pemimpin besar yang tidur di atas kasar. Sebuah model par excellence.

Santap Sahur dengan Tahu (panas) Sumedang

Santap Sahur dengan Tahu (panas) Sumedang
Apa kabar sobat-sobat yang sedang menjalankan ibadah puasa, semoga dengan tulisan ini tidak mengurangi kadar puasa kita. Menu santap sahur saya sangat sederhana. Nasi plus tahu panas (mungkin lebih mantap dicocol ke sambal saos). Tapi berhubung lidahnya lidah orang kampung (he.. he..) jadi cukup dicocol pakai sambel goang (gerusan cengeng/cabe rawit sama uyah/garam).

Tapi perlu diingat, menurut ahli kesehatan, kita harus menghindari makanan pedas. Supaya terhindar dari penyakit sariawan. Jadi santap sahur hanya dengan tahu, tetap masih mantap rasanya.

Saya akan ulas sedikit asal usul tahu Sumedang. Orang yang pertama kali membuat tahu di Sumedang, warga keturanan Tionghoa. Nama tahu berasal dari kata Tou Fu (dari bahasa Tionghoa yang berarti sama). Lambat laun Tou Fu menjadi tahu disebutnya, mungkin karena terlalu sulit menyebut kata aslinya.

Ada satu lagi yang perlu sobat-sobat ketahui, yang menyebabkan tahu Sumedang rasanya begitu gurih, itu karena air yang ada di Sumedang. Kalau dibuat di luar Sumedang rasanya akan berbeda, walau pun pembuatnya orang Sumedang.

Selamat menunaikan ibadah puasa. Salam

Antara Memberi dan Menerima

(Oleh: Hj. NUNUNG KARWATI, Pikiran Rakyat)

Hakim bin Hizam adalah seorang musyrik yang mendapat jaminan keselamatan dari Rasulullah saw. pada penaklukan Kota Mekah. Meskipun ia kemenakan Khadijah binti Khuwaylid, istri Rasul, keislamannya baru dia raih dua puluh tahun kemudian saat Rasulullah menaklukan Kota Mekah.

Hakim lantas bertekad untuk menebus segala dosa yang pernah dia perbuat semasa hari-hari jahiliahnya serta apa pun yang pernah dia lakukan untuk menentang Rasulullah. Dia ingin menebusnya demi kemuliaan Islam.

Salah satu yang dilakukannya adalah menjual bangunan bersejarah di Mekah bernama Barun-Nadwah. Di tempat itu, biasanya para pemuka Quraisy berkumpul dan berdiskusi tentang banyak hal. Mereka pun banyak membuat rencana jahat terhadap Nabi Muhammad saw. di sana.

Hakim memutuskan untuk menjual bangunan ini untuk menghapus kenangan kelam masa lalu. Dijualnya bangunan tersebut seharga 100.000 dirham dan dia mendermakan hasilnya kepada fakir miskin.

Pada suatu musim haji. Hakim menggiring seratus ekor unta dan menyembelihnya sebagai kurban. Tahun berikutnya, ia membawa dan membebaskan seratus hamba sahaya yang masing-masing dibekali perhiasan perak. Tahun berikutnya, ia membawa 100.000 ekor kambing yang disembelih di Mina dan membagi-bagikan dagingnya pada fakir miskin.

Hakim memang amat dermawan, tetapi juga selalu ingin mendapatkan lebih. Seusai Perang Hunain, dia meminta sejumlah pampasan perang kepada Rasul dan permintaanya dipenuhi. Beberapa hari kemudian dia meminta lagi, dan Rasul kembali memberikannya. Untuk ketiga kalinya, hakim datang meminta bagian, Rasul pun kembali memenuhinya sehingga Hakim mendapat papmasan perang dalam jumlah cukup banyak.

Namun ketika memberikan pampasan perang, kali ini Rasul memberikan nasihat yang sangat berkesan dihatinya, ‘Wahai Hakim! Segala harta benda ini amatlah menarik. Barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang lapang, ia akan diberkahi. Dan barang siapa mengambilnya dengan jiwa yang sempit. Dia akan seperti orang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan di atas lebih baik dari tangan dibawah’.

Petuah Rasul itu sangat membekas di hatinya. Dia merasa tersentuh dan berjanji kepada Rasul untuk menjaga harga diri dari harta orang lain. Bahkan ia berjanji untuk menjaga kehormatannya dari meminta sesuatu kepada siapa pun. Ia pun berkata kepada Rasul, “Ya utusan Allah, aku tidak akan meminta kepada siapa pun sepeninggal Engkau dan tidak akan mengambil sesuatu pun dari siapa pun”.

Sejarah mencatat. Hakim benar-benar menepati ucapannya. Sehabat Rasul ini tidak pernah meminta apa pun kepada orang lain hingga dia meninggal dunia. Bahkan ketika cambuknya jatuh sementara ia berada di atas punggung kudanya, ia turun untuk mengambilnya, meski ia bisa menyuruh pegawai untuk mengambilnya.

Andaikan petuah Rasulullah kepada Hakim itu dicamkan baik-baik, maka di negeri ini tidak akan pernah ada korupsi. Sebab, hakikatnya, korupsi adalah mengambil harta dengan jiwa yang sempit sehingga tidak akan ada keberkahan dalam hartanya. Alih-alih diberkahi, justru pelakunya harus mendekam dipenjara. Itu adalah azab dunia. Audzubillah.

Sebungkus Makanan untuk Orang Lapar

(Oleh: H.USEP ROMLI. H.M., Pikiran Rakyat)

Tersebutlah kisah seorang ahli ibadah. Selama tujuh puluh tahun, ia tak pernah meninggalkan tempatnya rukuk dan sujud. Ia sanantiasa berzikir dan menyepi memuji Allah SWT. Karena ketekunannya itu, orang-orang menganggapnya sebagai ahli surga.

Namun, pada suatu saat, ia terjebak ke dalam perbuatan maksiat. Semua bermula dari rasa waswas dan jenuh. Sebagai manusia, memang ia tidak luput dari kehhilafan. Alinsaanu mahallu-lkhatha’wannisyaan (manusia merupakan tempatnya salah dan lupa). Tujuh hari sudah ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai ibadahnya selama tujuh puluh tahun tersebut.

Ketika muncul kesadaran, segera ia bertobaat. Tempat beribadah semala tujuh puluh tahun itu ia tinggalkan. Sang ahli ibadah berjalan ke mana saja, sambil menyesali semua perbuatan dosa yang ia kerjakan selama tujuh hari itu. Di tengah perjalan, ia kehabisan bekal. Berhari-hari ia puasa. Untuk berbuka, ia hanya mengandalkan air minum di pinggir jalan yang ia lalaui.

Syahdan, tibalah ia di suatu tempat saat seorang dermawan menyumbangkan makanan kepada fakir miskin. Ia mendapat bagian. Sebuingkus makanan terakhir. Tiba-tiba datanglah seorang tua yang tengah kelaparan. Namun tempat pembagian sudah tutup. Semburan kesedihan tertampak jelas diwajah si orang tua. Tampaknya juga rasa penyesalan karena ia datang terlambat. Bagaimana dapat berjalan cepat jika tubuh lesu lunglai?

Menyaksikan keadaan demikian, sang ahli ibadah yang sedang bertobat itu menyerahkan bungkusan milinya kepeda orang uta kelaparan itu. Ia berkata. “Ini makanan rezeki Anda, wahai Pak Tua. Makanlah agar Anda kembali bertenaga”.

Beberapa waktu kemudian, sang ahli ibadah itu wafat. Di akhirat, ternyata timbangan amal ibadahnya selama tujuh puluh tahun itu kalah berat dibandingkan dengan dosa kemaksiatan yang ia lakukan meskipun hanya selama tujuh hari. Namun, pahala memberikan sebungkus makanan kepada orang tua yang kelaparan, ternyata lebih berat lagi. Pahala itu mampu menghapus dosa maksiat tujuh hari yang menodai tujuh puluh tahun ibadahnya.

Orang-orang menyangka. Ia sebagai ahli surga berkat ketekunan ibadah selama tujuh puluh tahun. Tak ada yang menyangka bahwa ia menjadi ahli surga lantaran kemurahannya membebaskan si orang tua dari kelaparan meskipun hanya dengan sebungkus makanan. (Dari kitab Sifatu-shshufwah karya Imam Abdurrahman Ibn Aljauzi)

Penulis, guru mengaji di perdesaan Cibiuk, Garut, pembimbing ibadah Haji & Umrah BPHU Megacitra/KBIH Mega Arafah Kota Bandung

Mengenal Fungsi dan Bentuk Kujang

kujang
Kujang identik dengan identitas dan eksistensi kebudayaan masyarakat Sunda. Orang Sunda tak bisa dipisahkan dengan kujang.
Menurut Anis Djati Sunda, berdasarkan Pantun Bogor, kujang mempunyai beberapa fungsi dan bentuk.

Kujang berdasarkan Fungsinya antara lain:
- Kujang Pusaka = kujang yang melambangkan keagungan
- Kujang Pakarang = kujang dipakai sebagai alat perang
- Kujang Pangarak = kujang yang dipergunakan dalam kegiatan upacara adat
- Kujang Pamangkas = kujang yang dipergunakan untuk keperluan bertani

Kujang berdasarkan bentuknya:
- Kujang Jago = kujang yang menyerupai ayam jantan (jago)
- Kujang Ciung = kujang seperti burung/manuk ciung
- Kujang kuntul = kujang yang hampir menyerupai burung bangau (kuntul)
- Kujang Badak = kujang yang bentuknya seprti badak
- Kujang Naga = kujang yang bentuknya menyerupai mitologi naga
- Kujang Bangkong = kujang bentuknya seperti katak

Ada juga bentuk kujang seperti wayang kulit yang menggambarkan sosok wanita. Bentuk dari kujang ini adalah simbol kesuburan.

Menurut beberapa sumber, kujang berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang). Ada lagi yang menyebut kujang berasal dari kata Kudi yang ditukil dari bahasa sunda heubeul, yang mengandung arti pakakas (senjata) yang mempunyai kekuatan gaib, sakti, pusaka atau jimat, yang fungsinya untuk berjaga-jaga supaya terhindar dari segala macam mara bahaya.

Sumber lain menyebutkan kujang berasal dari kata Ku-Jang-Ji. Janji akan meneruskan yang dikerjakan oleh leluhur (karuhun) kita. Yang diteruskan bukan pekerjaan secara fisik, tetapi lebih mengarah kepada lima cara-ciri manusia Sunda: welas asih, anggah-ungguh, budi daya, budi basa, dan nyaliksik diri.

Kujang bukan sekedar alat yang dipakai untuk membersihkan semak belukar, dan dipakai melihat bintang jadi patokan bertani. Tetapi juga penuh dengan ajaran-ajaran tentang kemanusiaan. *** (NMD, Galura)

Pejabat Berpuasa Agar Hirau Derita Rakyat

(Oleh: A. HAJAR SANUSI, M. Ag., Pikiran Rakyat)

Kisah Nabi Yusuf a.s. dipaparkan Alquran dalam satu surah yang sarat dengan pelajaran berharga. Misalnya, Yusuf bukan tipe manusia pendendam. Pada usia dini  Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya yang sebapak, karena rasa dengki. Dengan demikian, mereka berharap agar perhatian dan kasih sayang  Yaqub a.s. tidak tercurah kepada Yusuf sendiri.

Akan tetapi, ketika puluhan tahun kemudian Yusuf jadi pejabat tinggi, dia tidak menolak saudara-saudaranya itu datang meminta bantuan. Bakhan, ketika akhirnya mereka mengetahui pejabat tinggi negeri Mesir ini adalah Yusuf sehingga kemudian minta maaf kepadanya. Yusuf pun segera memaafkannya.

Ucapan Yusuf saat itu diabadikan dalam Alquran Surah Yusuf/12:92, “La tatsriba ‘alaikum al-yaum yaghfirullah lakum huwa arham al-rahimin.” “Tidak ada cercaan terhadap kamu pada hari ini. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

Keutamaan berikutnya adalah Yusuf mempunyai kesadaran dan keyakinan tentang Kemahahadiran Allah dalam kehidupan. Dengan demikian, ia akan dijauhkan dari sifat khianat.

Simak saja, ketika dirayu oleh wanita cantik, kaya, dan berkedudukan tinggi untuk melakaukan pengkhianatan terhdapa istrinya, Yususf secara tegas menolaknya ia berkata, “Ma’adzallah, innahu rabbi ahsana matswaya, innahu la yuflih al-zhalimun.” “Perlindungan Allah. Sesungguhnya dia --suamaimu-- adalah majikanku. Dia telah memperlakukan aku dengan dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang dianiaya tiada beruntung’ (QS Yusuf/12:23). Oleh karena itu, Yusuf dipenjarakan.

Selang beberapa tahun, sang raja berkenan mengeluarkannya dari penjara, karena sang raja memerlukan kontribusi Ysusf untuk memaslahatan negeri Mesir. Namun, Yususf tidak mau keluar, sebelum namanya direhabilitasi.< Raja lalu mengumpulkan kaum wanita yang dulu mengiris-iris tangan, karena taktub menyaksikan penampilan Yusuf. Kepada mereka sang raja bertanya perihal dirinya. Para wanita itu dengan jujur mengatakan, “Hasya lillah, ma ‘alimma ‘alaihi min su.” “Maha suci Allah. Kami tidak mengetahui sedikitpun keburukan padanya’ (QS. Yususf/12:51). Setelah mereka memberikan kesaksian, giliran istri al-aziz (wanita penggoda itu) berkata, “Al-an, hashasha al-haqq. Ana rawadtuhu ‘an nafsih wa innahu la min al-shadiqin.” “Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah yang menggodanya untuk menundukan dirinya, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” (QS Yusuf/12;51).

Setelah jelas siapa yang salah, akhirnya Yusuf mau keluar dari penajra dan kemudian oleh raja diangkat menjadi pejabat Negara. Kini Yusuf sudah berkedudukan tinggi setingkat menteri, al-aziz.

Meskipun demikian menurut Dr. Abdullah Syahatah dalam karyanya Ramadhan al-Mu ‘adhadham, Yususf kerap menahan lapar dan dahaga pada siang hari, alisan suka melaksanakan puasa. Terang saja yang demikian itu menimbulkan tanda Tanya bagi para pembantu dekatnya. Yusuf lantas menjawab, “Inni akhafu idza syabi’tu an ansa ju’a al-faqir” (Sesungguhnya aku merasa khawatir, seandainya perutku ini selalau kenyang, jangan-jangan kelak aku melupakan perasaan lapar yang mendera perut fakir miskin).

Jadi, Yususf berpuasa karena ingin memelihara kepedulian terhadap orang-orang kecil. Yang menjadi pertanyaan adalah, adakah di negeri ini pejabat seperti dia, yang kerapa menahan lapar dan dahaga lantaran peduli terhadap derita rakyat? Semoga.

Waspadai Penyakit-penyakit di Bulan Puasa

Bulan Puasa merupakan kesempatan emas dalam mendulang pahala. Tak hanya ibadah yang besar, bahkan tidur orang yang berpuasa konon merupakan ibadah yang akan diberi pahala oleh Allah SWT. Tapi tentu saja, puasa yang dijalani harus sesuai dengan syariat yang berlaku.

Dalam menjalankan puasa, tubuh kita sering kali mendapatkan banyak gangguan dan halangan. Gangguan dan halangan ini kadang kala mengurangi kekhusyukan kita dalam menjalani ibadah yang dijalankan sebulan dalam setahun. Apa sajakah gangguan yang sering menimpa tubuh kita pada saat puasa?

Sariawan
Sariawan biasanya timbul akibat kulit dalam rongga mulut yang tergigit, mengonsumsi makanan atau minuman panas dan pedas, kekurangan vitamin C, kekurangan zat besi, kebersihan mulut yang tidak terjaga, hingga adanya kelainan saluran pencernaan. Namun pada saat kita puasa, sariawan terjadi biasanya karena tubuh kekurangan vitamin C. Untuk itulah, mengonsumsi vitamin C yang cukup saat berbuka dan sahur merupakan cara yang paling efektif dalam mencegah dan mengobati sariawan. Caranya bisa dengan mengonsumsi suplemen vitamin C secara langsung ataupun dengan makan buah-buahan yang kaya akan vitamin C seperti jambu batu dan jeruk.

Mag
Sakit mag adalah gangguan yang juga sering hadir mengisi waktu puasa. Penyakit yang satu ini tak hanya menghinggapi orang yang terbiasa dengan penyakit ini. Bahkan, orang yang sebelumnya tak pernah mempunyai gejala sakit mag, bisa terjangkiti. Penyebabnya sederhana, yaitu karena lambung kaget dan belum terbiasa dengan pola makan yang berubah drastis. Alhasil, perut perih melilit dan juga kembung.

Untuk menyikapi penyakit yang satu ini, ada banyak cara yang bisa dilakukan. Misalnya saja mengonsumsi makanan yang aman yang tidak bersifat memancing pengeluaran asam lambung yang berlebih, seperti makanan asam dan pedas, serta kopi dan soda. Tak hanya itu, mengonsumsi obat mag sesudah berbuka dan sesudah sahur juga mampu mengurangi risiko munculnya penyakit mag.

Tekanan darah rendah dan kurang darah (anemia)
Tekanan darah rendah dan kurang darah (anemia) sering kali muncul saat kita berpuasa. Hal ini tentu saja karena tubuh kekurangan banyak zat selama berpuasa. Gejala yang muncul biasanya adalah keringat yang berlebihan, tubuh lemas, letih, lesu, tidak bertenaga, pucat, serta pusing saat bangun dari posisi duduk.

Untuk menyikapi kondisi tekanan darah rendah dan juga kurang darah (anemia) saat berpuasa, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Misalnya saja adalah mengonsumsi cairan isotonik ketika berbuka dan sahur dalam jumlah yang lebih banyak; mengonsumsi makanan penambah tekanan darah seperti sayur-sayuran hijau dan hati; serta jika diperlukan, konsumsilah suplemen penambah darah saat berbuka atau sahur.

Sakit kepala
Sakit kepala juga sering menyerang saat kita berpuasa. Penyebabnya bisa macam-macam, misalnya saja karena merokok dan minum kopi di siang hari; pekerjaan yang menuntut banyak tenaga; serta menahan rasa kantuk dan juga kurang tidur. Sakit kepala ini bisa semakin parah jika dibarengi dengan penyakit tekanan darah rendah.
Untuk gangguan sakit kepala saat puasa, berhentilah mengonsumsi kopi dan rokok selama puasa. Tak hanya itu, pengaturan pola tidur juga akan sangat membantu.

Gula darah rendah
Saat berpuasa, kadar gula dalam darah kita akan rendah. Pada saat itu biasanya muncul gejala lesu, pusing, lelah, susah berkonsentrasi, berkeringat, dan sakit kepala. Ini tentu terkait dengan adanya hormon, adrenalin yang segera bekerja mengubah glukosa darah (gula darah) menjadi glikogen (gula otot).

Untuk mengantisipasi naik-turunnya kadar gula darah yang drastis saat berpuasa dan berbuka, dianjurkan untuk menyantap makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks saat berbuka dan sahur. Hal ini tentu saja karera karbohidrat kompleks tidak akan langsung dicerna tubuh menjadi gula. Untuk yang diabetes sebaiknya dilakukan konsultasi dengan dokter yang berwenang.

Kejang otot (kram otot)
Pada saat puasa, otot kita sering kali terasa kaku. Hal ini terjadi karena tubuh kita kurang beberapa mineral yang terlibat dalam kelenturan otot. Mineral-mineral tersebut adalah kalsium. magnesium, dan juga kalium.

Untuk mengantisipasi kejang dan kaku otot saat puasa, konsumsilah makanan yang kaya akan mineral-mineral, misalnya seperti produk-produk susu, produk-produk daging, buah-buahan, serta sayur-sayuran.

Batu ginjal
Jika tidak mendapat asupan air yang cukup, apalagi jika ditambah dengan konsumsi makanan berkalsium tinggi, bukan tidak mungkin, di saluran kencing bisa terbentuk batu ginjal. Dan ini tentu sangat berbahaya.

Untuk mengantisipasinya, minumlah air yang banyak saat berbuka dan sahur. Delapan gelas sehari bisa tetap menjadi patokan. Misalnya saja 5 gelas saat berbuka dan 3 gelas saat sahur.

Konstipasi (sembelit) dan diare
Susah buang air besar jika dibiarkan! bisa menyebabkan penyakit lain. Ya. penyakit itu adalah ambeien (haemorroids) dengan gejala rasa nyeri dan panas di lubang dubur. Adapun diare biasanya muncul jika saat berbuka atau sahur kita mengonsumsi makanan yang pedas, asam, dingin, atau yang lainnya.

Cara yang bisa dilakukan untuk sembelit adalah dengan memperbanyak konsumsi makanan berserat tinggi, nasi beras merah, sayur-sayuran, agar-agar, dan juga buah-buahan.

Sumber: Nia Haryanto, penulis lepas, alumnus Dept. Biologi ITB. (Pikiran Rakyat)

Menyedekahkan yang Dicintai

(Oleh: Hj. NUNUNG KARWATI, Pikiran Rakyat)

Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak harta kebun kurmanya. Dari sekian banyak kebun kurma yang dimilikinya, kebun yang paling dicintainya adalah Bairuha, yang terletak di depan masjid yang selalu Nabi datangi dan masuki. Nabi kerap minum air yang di kebun itu.

Namun, suatu hari, turun Surah Ali Imran ayat 92 yang artinya berbunyi, “Kalian tidak akan memperoleh kebaikan (yang sempurna) hingga kalian menginfakkan sesuatu yang kalian cintai”

Mendengar ayat tersebut, Abu Thalhah bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha, harta itu aku sedekahkan di jalan Allah, aku harapkan kebaikan dan pahalanya di sisi Allah”.

Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam kemudian bersabda, “itu harta yang baik, aku telah mendengar apa yang kamu katakana. Menurutku engkau berikan harta itu kepada kerabat-kerabatmu.”

Mendengar anjuran Rasulullah, Abu Thalhah berkata, “Aku akan melakukannya wahai Rasulullah”. Dia pun bergegas membagikan harta itu kepada kerabat-kerabatnya dan anak-anak pamannya (Hadis Tiwayat Bukhari)

Merujuk pada hadis tersebut, kita bisa melihat bahwa para sahabat lebih mengutamakan cintanya pada Allah dan Rasulnya. Mereka tidak segan-segan untuk menyedekahkan pokok hartanya hanya untuk bisa menjalankan perintah Allah. Dan itu hampir dilakukan oleh semua sahabat Nabi.

Apakah mereka tidak mencintai hartanya? Tidak seperti itu. Manusia diciptakan dengan kecenderungan mencintai harta benda. Semua manusia memliki kecenderungan ini. Allah berfirman, “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebih ,” (Al-Fajr: 20). Dengan demikian, tidak ada manusia yang tidak mencintai hartanya. Oran-orang beriman yang rajin bersedekah pun, bukan orang-orang yang tidak mencintai hartanya. Orang-orang yang rajin bersedekah adalah orang yang mampu menekan kecintaan itu sehingga tidak melebihi batasnya.