Prabu Geusan Ulun, Tahun 1578-1601 M

Pangeran Angkawijaya dinobatkan menjadi Raja Sumedanglarang pada pertengahan abad ke-15, atau pada tanggal 22 April 1578, dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Pada tahun 1579 beliau memproklamirkan diri bahwa Kerajaan Sumedang Larang adalah kerajaan yang berdaulat, menandakan telah melepaskan diri dari kekuasaan Pajajaran yang telah runtuh akibat diserbu tentara Surasowan Banten. Negeri-negeri bawahan Pajajaran mendirikan pemerintahan sendiri-sendiri.

Di awal kekuasaannya, Prabu Geusan Ulun mengadakan perluasan wilayah kekuasaan ke wilayah barat kali Citarum. Sehingga daerah Candrabaga (Bekasi), Karawang, Pamanukan dan Indramayu berada dalam kekuasaan Sumedang Larang. Daerah-daerah bekas Pajajaran kecuali Banten dan Cirebon.

Pada saat sedang menata kekuasaan, beliau mendapat undangan dari Panembahan Girilaya Cirebon untuk menghadiri pertemuan raja-raja Islam dalam rangka menyatukan visi dan misi perjuangan umat Islam di dalam mengembangkan kehidupan. Oleh karena pada saat itu, Pakungwati Cirebon merupakan pusat kegiatan-kegiatan perjuangan umat Islam.

Di tengah-tengah berlangsungnya kegiatan keagamaan, Prabu Geusan Ulun terkejut bertemu dengan Ratu Harisbaya yang sudah menjadi permaisuri Susuhan Cirebon. Pertemuan tersebut seakan mengusik pertemuan di waktu silam. Kasih sayang yang pernah terputus seakan terjalin kembali, walau bertemu dalam keadaan yang sudah berbeda.

Sejak itulah Ratu Harisbaya sering berkunjung ke tempat peristirahatan raja Sumedang, terutama pada malam hari disaat suasana sepi. Pertemuan tersebut menimbulkan kecurigaan Prabu Jayaperkasa yang ditugaskan Ratu Pucuk Umun mengawal putranya. Akan tetapi tidak berbuat banyak karena memahami persoalan yang sesungguhnya.

Menyadari bahwa pertemuan yang terjadi itu mengembalikan cinta dan kasih sayang masa lalu, dengan harapan tumbuh segar merekah tersiram sentuhan rasa indah yang tak terkirakan, walau belum tentu termiliki. Maka Jayaperkasa mendesak agar Prabu Geusan Ulun menentukan sikap, tapi tak semudah apa yang diinginkan, karena Ratu Harisbaya secara terang-terangan tak mau lagi kehilangan sosok raja yang bijaksana.
Beban yang dihadapi adalah bagaimana menghadapi Panembahan Girilaya yang memiliki darah keturunan dengan Sumedanglarang, apakah harus terputus oleh persoalan antara pribadi yang kelak melibatkan rakyat banyak, kemungkinan akan menimbulkan peperangan, pertimbangan itulah yang tersirat dalam alam pikiran Nalendra Prabu.

Tetapi pandangan Ratu Harisbaya berbeda, pikirannya sudah siap menelan akibat yang akan terjadi. Oleh karena perkawinan dengan Panembahan Girilaya diselimuti muatan politis yang diperankan oleh Hadiwijaya di dalam upaya menguasai Kesultanan Mataram, pilar kekuatan bersandar kepada ketangguhan Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Pajang Madura. Politik yang disusupkan ke dalam perkawinan seakan-akan telah merampas hak dan perasaan agung yang selama ini diukir dalam lubuk hati yang paling dalam. Ratu Harisbaya berusaha mencari jawab dalam rentang sejarah perjalanan hidupnya, sekalipun dicerca para petinggi Kesultanan, tak ada pilihan lain kecuali bersedia diboyong ke Keraton Kutamaya.

Jayaperkasa cenderung mendukung pendapat Putri Pajang setelah mengetahui unsur politik yang disusupkan kedalam perkawinan, akan tetapi Dipati Wirajaya turut mengawal Nalendra Prabu selama di Pakungwati Cirebon berbeda pendapat, bahkan menyarankan agar menghindari keinginan Ratu Harisbaya karena itu Prabu Geusan Ulun memutuskan untu kembali ke Keraton Kutamaya sebelum kegiatan keagamaan berakhir.

Malam hari rombongan Sumedanglarang meninggalkan Pakungwati untuk menghindari kecurigaan Panembahan Girilaya. Kepergian Prabu Geusan Ulun dengan cepatnya diketahui Ratu Harisbaya, maka saat itu juga ia meloloskan diri dari Pakungwati.

Nyi Mas Ratu Pucuk Umun, Tahun 1530-1578 M

Pusat Kerajaan Sumedanglarang ditetapkan di Kutamaya yang terletak di kawasan Sumedanglarang. Istana Kerajaan dibangun dari bahan baku serba kayu, menggunakan arsitek model Sunda dengan menghadap ke alun-alun Mayadatar. Simbol cita-cita Ratu Pucuk Umun dinukilkan dalam monument Kuta yang dibuat dari tanah dalam bentuk bulat dan membujur ke arah langit.

Kehadiran Pangeran Santri menjadi pendamping Ratu Pucuk Umun mendorong terhadap perkembangan kerajaan. Sentuhan-sentuhan Islam mulai berdenyut bahkan secara bertahap Islam berkembang dikalangan keluarga raja. Kemudian Pangeran Santri yang memusatkan perhatian kepada gerakan syiar Islam mendirikan sarana ibadah di lingkungan keraton. Secara berangsur-angsur dapat memperkuat keyakinan agama dikalangan keluarga raja.

Selain itu pengaruh Pangeran Santri mendorong terhadap hubungan Sumedanglarang dengan Cirebon baik dalam segi hubungan keagamaan, sosial politik dan ekonomi, termasuk hubungan seni budaya. Pendekatan seni budaya telah menunjukkan munculnya kegiatan seni yang bernafaskan Islam.seperti seni rebana, terebang yang dikenal oleh masyarakat pada saat itu seni sholawat. Demikian juga dalam upacara-upacara ritual tak lepas dari nuansa keislaman bahkan tradisi upacara pengantin diwarnai oleh khataman, yaitu seni membaca Al-Qur’an dilakukan secara bergantian dan serempak, disajikan setelah peresmian pernikahan.

Sentuhan seni budaya Cirebon tampak dalam arsitek sarana ibadah, lukisan dinding, bentuk kendaraan tradisional termasuk bangunan-bangunan pesantren. Sejak itu pulalah rakyat Sumedang mulai mengenal kain batik Cirebon. Perkembangan baca tulis turut memacu perkembangan sosial kemasyarakatan, sehingga babon-babon jenis wawacan sastra lisan disalin kedalam huruf Arab gundul. Perkembangan tersebut membawa Kerajaan Sumedanglarang kedalam percaturan yang lebih luas, sehingga dikenal oleh kalangan raja-raja di pulau Jawa.

Batas wilayah kekuasaan Sumedanglarang meliputi batas barat deretan pegunungan Manglayang yang memisahkan Sumedang Larang dengan Sukapura (Bandung dahulu), batas utara daerah Ujungjaya, batas timur kali Cilutung dan batas selatan deretan Pegunungan Tjakrabuana meliputi daerah Limbangan Garut.
Nyi Mas Ratu Inten Dewata mempunyai putra : (1) Pangeran Angkawijaya, (2) Demang Rangga, (3) Demang Watang, (4) Santoan Tjikeruh. Dari sejak kecil diajari ilmu kepemimpinan dan ajaran Islam. Setelah Pangeran Angkawijaya dewasa, ada tanda-tanda Ratu Pucuk Umun menyerahkan tahta kekuasaannya kepada dia, akan tetapi belum cukup usia.

Menjelang tahun 1578, tersiar berita dari para juru telik sandi yang mengkabarkan bahwa Keraton Pajajaran diserbu pasukan Surasowan Banten yang didukung oleh tentara Islam Cirebon. Tahta Nobat Sriwacana diboyong ke Surasowan Banten. Prabu Siliwangi Ragamulya atau Prabu Suryakencana berada dalam kejaran Pangalima Perang Surasowan bernama Ki Jungju, kemudian bersembunyi di hutan Pulo Sari. Sedangkan Keraton Pajajaran dibakar habis.

Di ujung tahun tersebut, Ratu Pucuk Umun kedatangan empat Kandaga Lante Pajajaran (Umbul), bernama : (1) Prabu Jayaperkasa (Sanghyang Hawu, (2) Dipati Wirajaya, (3) Prabu Pancarbuana, (4) Sanghiyang Kondang Hapa. Ke-empat Kandaga Lante sengaja datang atas perintah Prabu Siliwangi Ragamulya untuk menyampaikan Mahkota Binokasih yang terbuat dari emas murni sebagai lambang kebesaran raja-raja Pajajaran. Penyerahan Mahkota tersebut sebagai tanda bahwa Sumedanglarang adalah penerus Kerajaan Pajajaran. Setelah itu keempat Kandaga Lante menyatakan diri untuk mengabdi (geusan ulun kumawula) kepada Sumedang Larang. Mengangkat Prabu Jayaperkasa sebagai Patih Agung Sumedanglarang, ketiga Kandaga Lante lainnya ditetapkan sebagai pembantu tugas-tugas Jayaperkasa, dengan pangkat Senopati atau Panglima Perang.

Semula Ratu Pucuk Umun ragu-ragu menerima Mahkota itu, oleh karena yang berhak melanjutkan Kerajaan Sumedanglarang adalah Pangeran Angkawijaya, yang saat itu usianya kurang lebih 20 tahun, artinya belum cukup usia untuk diangkat menjadi raja. Aturan kerajaan adalah usia 22 tahun baru memenuhi syarat jadi raja. Untuk mencukupi usia tersebut harus menunggu dua tahun lagi. Selama itu Ratu Pucuk Umun memerintahkan agar Pangeran Angkawijaya berguru ilmu kepemimpinan dan ilmu Islam ke negeri Demak.

Pangeran Angkawijaya yang dikenal taat kepada perintah, meninggalkan Keraton Kutamaya dengan mendapat pengawalan Prabu Jayaperkasa. Perjalanan melintasi jalur selatan pulau Jawa, akhirnya tiba di negeri Demak. Disitulah Pangeran Angkawijaya mendapat bimbingan kepemimpinan dan keulamaan. Disitu pulalah terjadinya pertemuan dengan Ratu Harisbaya, salah satu putrid cantik jelita keturunan Pajang Madura yang sama-sama berguru atau pesantren. Pertemuan pertama melarutkan perasaan yang sedemikian dalam. Sentuhan hati menjalin kasih sayang kedua insan adam itu terhapuskan oleh waktu dan keadaan. Oleh karena Ratu Harisbaya dipanggil ke Madura untuk dinikahkan dengan Panembahan Girilaya Cirebon, yang usianya jauh lebih tua. Mau tidak mau Pangeran Angkawijaya menerima kekcewaan yang demikian berat. Kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya.

Setibanya di Kutamaya, sikap Pangeran Angkawijaya mengusik perasaan ibunya, rupanya ia peka menyimak gelagat yang terjadi pada Pangeran Angkawijaya. Persoalan Harisbaya yang membuat putra mahkota banyak berdiam diri. Kebekuan cinta dan kasih sayang mulai mencair setelah Ratu Inten Dewata sudah menyediakan calon permaisuri putranya, tidak lain adalah Nyi Mas Gedeng Waru. Perkawinan dilaksanakan dan dimeriahkan oleh upacara adapt pengantin Kasumedangan, kedua mempelai di arak diatas Kereta Nagapaksi dan disemarakkan oleh Kesenian Rebana

Sunan Ulun

Beliau adalah putra bungsu Prabu Tadjimalela, ada juga yang menyebut Sunan Geusan Ulun. Beliau tidak menjadi Raja Sumedanglarang, akan tetapi menjadi sosok Penatagama yang mengajarkan Agama Kasanghiangan (agama tauhid) di kawasan Limbangan. Kemudian menetap dan mendirikan sarana-sarana ibadah.

Sunan Ulun mempersunting Putri Limbangan dan mempunyai putra: (1) Pangeran Jayakusumah I dengan gelar Sunan Rumenggong, (2) Prabu Dunutur Kertabumi I.

Pangeran Jayakusumah I apuputra Pangeran Jayakusumah II, apuputra Sunan Selalango, apuputra Sunan Sukakerta, apuputra Sunan Kuduwarsa yang menikah dengan Nyi Mas Tanduran Manik dan berputra Dalem Wangsadinata (Bupati Limbangan tahun 1726 – 1740). Kemudian menikah dengan Nyi Mas Rajaningrat Dalem Istri Limbangan putri Adipati Tanumaja Bupati Sumedang dan mempunyai putra : (1) Dalem Surianagara I (Bupati Sumedang), (2) Dalem Ranggawangsadireja (Dalem Panengah), (3) Dalem Adipati Suriadipraja, (4) Aom Sagara, (5) Nyi Mas Nata Karaton, (6) Nyi Mas Natanagara Dalem Penghulu Wangsanagara, (7) Nyi Mas Jayakaraton.

Dalem Surianagara I, apuputra Dalem Surianagara II, apuputra Dalem Adipati Kusumadinata atau Pangeran Kornel yang menurunkan para bupati di Sumedang.

Prabu Kertabumi I menikah dengan Nyi Mas Tanduran Agung dan mempunyai putra Prabu Kertabumi II yang menjadi petinggi di Galuh, apuputra Dipati Singaprabangsa I, diangkat menjadi bupati pertama Kabupaten Karawang, apuputra Adipati Singaprabangsa II (Bupati Karawang ke-20, yang dituduh memihak kompeni, kemudian diserang oleh pasukan Wirasaba dan Natamanggala, lalu ditangkap dan dipenggal kepalanya. Adipati Singaprabangsa apuputra Dipati Pantayuda yang menurunkan para menak, para kyai dan anak cucu di Brebes.

Prabu Gajah Agung, Tahun 982-1000 M

Prabu Gajah Agung dinobatkan jadi raja pada saat terang bulan tahun Saka (982 – 1000 M), dengan batas wilayah kekuasaan yang diakui pada saat ayahnya berkuasa. Di awal pemerintahannya, beliau memindahkan Keraton dari Leuwihideung ke Ciguling Desa Pasanggrahan Sumedang Selatan (nama sekarang). Pemindahan keraton tersebut memiliki alasan geopolitis, kemungkinan tempat tersebut sangat strategis untuk mengembangkan kekuasaan. Status Kerajaan Sumedanglarang berada dalam atap kekuasaan Kerajaan Sunda yang berpusat di Kawali (Ciamis). Setelah memindahkan Keraton, Prabu Gajah Agung bergelar Prabu Pagulingan, kemudian mempersunting Putri Sunda Galuh, mempunyai putri yang lebih dulu lahir ke dunia yaitu Ratu Istri Rajamantri, putra bungsunya bernama Sunan Guling.

Nyi Ratu Istri Rajamantri disunting oleh Prabu Siliwangi Munding Wangi yang bergelar Ratu Dewata, apuputra Prabu Layangkusumah, apuputra Limasenjayakusumah, apuputra Sunan Cipancar yang menyebarkan agama Islam di kawasan Sumedanag Larang, apuputra Sunan Cipicung, apuputra Sunan Demang Ariajiwanata atau Bupati Limbangan. Beliau menurunkan para kyai dan para menak di kawasan Limbangan dan Malangbong Garut.

Setelah Prabu Gajah Agung turun tahta, kekuasaan diserahkan kepada Prabu Sunan Guling. Kemudian menikah dengan Putri Pakuan Pajajaran dan mempunyai putra Sunan Tuakan. Sunan Tuakan dinobatkan jadi Raja pada tahun 1000 – 2000 Masehi, apuputra Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan dipersunting oleh Sunan Corenda putra Sunan Parung Guru Gantangan. Kemudian dinobatkan jadi Ratu Sumedanglarang (1200 – 1450 M). Dari perkawinan tersebut melahirkan putri cantik jelita bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata. Ia dipersunting oleh seorang ulama Cirebon bernama Pangeran Santri atau cucu Syarif Hidayatullah Cirebon (Waliyulloh).

Ratu Inten Dewata diangkat jadi Ratu Sumedanglarang (tahun 1450 – 1530 M). pada awal kekuasaanya memindahkan Keraton dari Ciguling ke Kutamaya yang terletak di kawasan Gending (nama sekarang).
Sejak menikah dengan Pangeran Santri, Ratu Inten Dewata yang bergelar Ratu Pucuk Umun masuk Islam. Mempunyai putra : (1) Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun), (2) Demang Rangga, (3) Demang Watang, (4) Santoan Tjikeruh.

Prabu Lembu Agung, Tahun 980-982 M

Prabu Lembu Agung dinobatkan menjadi Raja Sumedanglarang pada saat bulan gelap tahun Saka. Namun beliau tidak lama memangku tahta kaprabon, tahta kekuasaan diserahkan kepada adik kembarnya atau Prabu Gajah Agung, kemudian beliau menjadi Resi (ngaresi) yang mempunyai kewajiban menata agama.

Selama menata agama, telah baerhasil membangun sarana-sarana ibadah di kawasan Gunung Sanghiyang (Cibugel), pegunungan Penuh, Mandalasakti, Gunung Simpay. Kemudian mendirikan perkampungan di daerah Bagala Asih Panyipuhan dengan membuka hutan angker yang disebut Negara Keling (Negara Hitam) tempat bersemayamnya makhluk jin. Setelah menjadi pemukiman diganti namanya menjadi Karang Kawitan (Karang = tempat, Kawitan = yang pertama). Tempat tersebut dijadikan tempat pertemuan para resi dan keluarga raja atau petinggi kerajaan.

Selain itu beliau sebagai pengembang ilmu Kadarmarajaan, suatu ilmu yang memberi petunjuk terhadap kemulyaan hidup, melalui penjabaran yang nyata. Landasan panca kaki merupakan landasan untuk saling mengenal, saling memahami dan saling pengertian diantara sesame manusia.

Beliau mempersunting Putri Galuh, dari perkawinan tersebut melahirkan para pemuka agama di Bumi Sumedang. Diantaranya Prabu Adji Putih, apuputra Kyai Nanganan, apuputra Santoan Awiluar, apuputra Dalem Paniis, apuputra Santoan Cadasngampar, apuputra Dalem Santapura yang menurunkan para ulama dan para menak di kawasan Darmaraja. Dalem Santapura apuputra Dalem Jagatsatru yang pernah mengabdi kepada Pangeran Panembahan. Dalem Jagatsatru gugur dalam peristiwa Mesjid Tegalkalong akibat diserang oleh wadya balad Banten.

Makam Prabu Lembu Agung ditemukan di Gunung Sanghiyang, kemudian dipindahkan ke Astana Gede yang terletak di Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja.