Lalu, Abu Nawas Menjadi Sufi

(Oleh: H. Usep Romli HM, Pikiran Rakyat)

SEPERTI biasa, Abu Nawas alias Abu Hani Muhammad bin Nakami (735-810) keluyuran setiap malam. Ia mabuk-mabukan. Tak peduli saat Ramadan tiba, tatkala ayat-ayat suci bergema dari masjid-masjid di Bagdad yang meriah, di bawah pemerintahan Harun Arrasyid Al’abbasiy.

Bahkan, Abu Nawas meninggikan suara. Membacakan syair-syair secara spontan. Kalimat-kalimat puitis penuh leucon senda-gurau (mujuniyyah), gairah cinta kepada wanita (ghazl), sanjungan bagi seseorang (madh), sindiran halus tetapi tajam (hijaa’), dan puja-puji bagi alkohol (khumrayaat) meluncur dari mulutnya yang bau minuman keras.

Sial, malam itu, Abu Nawas berjalan sempoyongan hingga ke pinggir sungai Efrat, lalu terjerembap jatuh dan tenggelam. Ia tak berdaya disedot oleh pusaran air. Untunglah, seseorang tiba-tiba muncul, lalu menarik badan Abu Nawas dan membaringkannya di bantaran. Ia berkata, “Ya Abaa Hani, idzaa lam takun milhan tushlih, fa laa takun zubaabatan tufsid (Wahai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan (hidangan), janganlah engkau menjadi lalat yang merusak (hidangan itu)”.

Abu Nawas langsung tersadar, merasa dirinya sebagai lalat, bahkan lebih hina dina. Bertahun-tahun mengarungi kehidupan, tidak membawa manfaat, sebagaimana garam memberi rasa sedap. Justru, ia terus menerus merusak, merusak, dan merusak. Padahal merusak dilarang keras oleh Allah swt. “Laa tufsiduu fi-lardhi. Inna-llaaha laa yuhibbu-lmufsidiin (Alqashash: 77)

Teringat pula ia bahwa malam itu bertepatan dengan Lailatulkadar. Malam seribu bulan. Tatkala malaikat turun ke bumi, menabur dan menebar salam keselamatan dan kesejahteraan hingga fajar datang menjelang.

Malam itu juga, Abu Nawas langsung bertobat. Mengganti syair-syair dengan zikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar, atau pub, ke masjid. Ia tidak ingin lagi menjadi lalat. Biarlah tak menjadi apa-apa asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang lain.
**

BEBERAPA kawan satu “geng’ mendatangi Abu Nawas yang sedang iktikaf di sebuah masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan. “Apa yang keluar dari bibirmu sekarang?” kata kawan-kawannya dengan nada mengejek.

‘Ayat-ayat Alquran,” jawab Abu Nawas, kalem.

“Yang kau pikirkan di kepalamu?”

“Kemahagungan Allah yang sudah mengubah manusia buruk seperti kalian menjadi manusia yang baik seperti aku sekarang”

“Kau habiskan malam-malammu dengan apa?”

“Dengan mendekatkan diriku yang hina dina kepada zat Mahamulia, yaitu Allah swt”.

“Lalu, siang-siangmu keluyuran ke mana?”

“Ke gurun dan samudra petunjuk-Nya yang penuh rahmat dan ampunan. Aku tak akan tersesat di situ karena firman-firman-Nya amat jelas,” kata Abu Nawas. Ia pun mengutip hadis Nabi Muhammad saw, “Afdhalu ‘ibaadati ummatii tilaawatu-lqur (sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran)

Abu Nawas menjadi sufi sejak itu. Ia banyak mengeluarkan syair tasawuf. Salah satunya yang masyur adalah:

Ilaahii, lastu li-lfirdausi ahlan/Wa laa aqwaa ‘ala-maari-ljahiimi/Fa hablii raubatan wa-ghfir dzanuubii (Yuhanku, sunggung aku bukan ahli surga/Aku pun tak kuat (menghadapi) siksa api neraka/Maka terimalah tobat dan ampuni dosaku/Sesungguhnya Engkaulah Sang Maha Pengampun atas segala dosa). (dinukil dari Abu Nawas, Hayaatuhuu wa Sya’iruhuu karya Mustafa Abdurrazzaq)

Perempuan Miskin yang Dermawan

(Oleh: Yuliash, tutor di Pendidikan Anak Usia Dini [PAUD] Huwaida, Sarijadi, Kota Bandung. /”Pikiran Rakyat”)

SUATU ketika, dalam perjalanan dari Syam ke Hijaz, Abdullah bin Abbas ra dan rombongan singgah di suatu temapt. Ternyata mereka kehabisan bekal makanan. “pergilah ke dusun terdekat dari sini. Mudah-mudahan kau berjumpa dengan seorang penggembala atau orang yang mempunyai susu atau makanan.” Kata Ibnu Abbas kepada seorang anggota rombongan.

Bersama beberapa pelayan, orang itu pun pergi. Di dusun terdekat, mereka berjumpa dengan seorang perempuan tua. Mereka bertanya, “Apakah Anda mempunyai makanan yang dapat kami beli?”
“Makanan untuk dijual tidak ada. Aku mempunyai makanan sekadar untuk keperluan aku dan anak-anakku”.

Mereka bertanya lagi, “Mana anak-anakmu?”

“Di tempat penggembalaan dan sekarang sudah waktunya mereka pulang.”

“Apa yang Anda sediakan?”

“Roti bakar”

“Selain itu”

“Tidak ada,” kata perempuan itu.

Utusan Ibnu Abbas berkata, “Berilah kami sebagian”.

“Kalau sebagian tidak ada. Kalau mau, semunya, ambillah!” jawaban yang tentu saja mengejutkan. “Memberi sebagain adalah suatu kekurangan, sedangkan memberi semua itu adalah kesempurnaan dan keutamaan. Aku tidak suka kepada yang merendahkanku, tetapi Aku akan memberikan apa yang akan mengangkatku.”
**

PERCAKAPAN dengan perempuan itu dilaporkan kepada Ibnu Abbas. Ia merasa heran sekaligus penasaran. “Coba ajak perempuan tua itu kemari,” ia memerintah utusan tadi.

Di rumah perempuan tua itu, dialog kembali terjadi. “Mari ikut dengan kami menemui majikan kami karena beliau ingin berjumpa dengan Anda”.

“Siapa majikan kalian?”

“Abdullah bin Abbas.”

“Aku tidak mengenal nama ini, siap Abaas itu?”

“Paman Rasulullah saw.”

“Kalau begitu, ia adalah seorang yang mulia dan mempunyai kedudukan tinggi. Apa perlunya dengan saya?”

“Untuk membalas budi Anda.”

Singkat cerita, perempuan itu akhirnya mau menemui Ibnu Abbas.

“Anda dari kabilah mana?” tanya Ibnu Abbas.

“Dari kabilah Bani Kalb.”

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi.

“Jika malam tiba, aku bertahan untuk tidak tidur. Aku melihat segalanya menyenangkan dan dunia ini tidak ada artinya, kecuali seperti yang aku peroleh.”

Ibnu Abbas bertanya, “Apa yang Anda simpan untuk anak-anak Anda jika mereka datang nanti?”

“Aku simpan untuk mereka apa yang telah dikatakan oleh Hatim Aththay’i, ‘Ada kalanya aku tidur kelaparan berkepanjangan sehingga aku dapatkan makanan-makanan yang baik-baik.”

Ibnu Abbas kagum akan jawaban perempuan itu, “Jika anak-anak Anda datang dalam keadaan lapar, apa yang akan Anda lakukan?”

“Hai Fulan, rupanya Tuan telah membesar-besarkan roti itu sehingga Tuan banyak bicara dan memikirkannya. Hilangkanlah sebab itu dapat merusak jiwa dan menyeret ke arah kehinaan.”

Ibnu Abbas memerintah anggota rombongan uintuk mengundang anak-anak perempuan tua itu. Setelah mereka tiba, Ibnu Abbas berkata, “Aku bermaksud akan memberikan sesuatu yang dapat kalian pergunakan untuk memperbaiki keadaan.”

Mereka menjawab, “Hal ini jarang terjadi. Kecuali karena diminta atau karena membalas budi.”

“Hai Fulan, kami hidup dalam berkecukupan. Oleh karena itu, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya. Namun, jika Tuan mau memberinya juga tanpa diminta, kebaikan itu akan kami terima dan kami syukuri”.

“Itulah yang aku maksudkan.” Ibnu Abbas pun memberikan uang 10.000 dirham dan 20 ekor unta. ***

Muslimah Pertama yang Mati Syahid

(Oleh: Nugraha Ramdhani, Pikiran Rakyat)

KISAH ini berawal ketika Sumayyah binti Khayyat dan suaminya Yasir, masuk Isalam. Sumayyah memutuskan memluk agama Islam setelah mendengar dakwah putranya sendiri. Ammar bin Yasir. Bahkan, mereka mengumumkan keislaman kepada banyak orang.

Sumayyah merupakan orang ketujuh yang memeluk Islam. Sebenarnya, ia hanyalah seorang hamba sahaya (budak) Abu Hudzaifah bin Mughirah. Sementara itu, Yasir merupakan seorang pendatang. Di kota Mekah, ia menetap dan berlindung kepada Bani Makhzum.

Singkat cerita, kabar soal Sumayyah dan suami yang memeluk agama Islam tersebar luas dan sampai ke telinga Bani Makhzum. Sumayyah dan Yasir pun ditangkap lalu didera berbagai siksaan. Orang-orang dari Bani Makhzum punya satu tujuan, memaksa Sumayyah dan Yasir keluar dari Islam.

Puncaknya, tubuh mereka diseret ke padang pasir tatkala cuaca sangat panas dan menyengat. Tubuh Sumayyah dibuang ke sebuah tempat lalu ditimbun dengan pasir yang sangat panas pula. Tak cukup sampai di situ, orang-orang Bani Makhzum meletakkan sebongkah batu besar di atas dada Sumayyah.

Meskipun demikian, tak sepatah kata pun rintihan, ratapan, apalagi penyesalan terucap dari bibir Sumayyah. Perempuan itu hanya mengucapkan satu kata yang terus diulang, “AhadAhad! (Esa…Esa).”
**

SUATU ketika, Rasulullah saw menyaksikan keluarga Muslim tersebut yang tengah menjalani siksaan secara kejam itu. Ia pun menadahkan tangan sambil menengadahkan wajah ke langit, lalu berseru, “Bersabarlah keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Rupanya, ucapan itu didengar oleh Sumayyah. Seperti mendapat suntikan semangat, bertambah tegarlah ia. Bertambah kuat pula keyakinan dan kewibawaan imannya. Lalu, dengan mantap, Sumayyah berujar, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar,” Kalimat itu diikuti Yasir. Tak hanya sekali mereka berucap, tetapi berkali-kali.

Ketegaran itulah yang membuat para penyiksa dari Bani Makhzum – termasuk abuk Jahal – putus asa. Abu Jahal naik pitam. Untuk melampiaskan kemarahan, ia menusukkan sangkur ke tubuh Sumayyah. Perempuan itu wafat. Ya Sumayyah binti Khayyat merupakan Muslimah pertama yang mati syahid pada zaman rasulullah saw. (dinukil dari buku “Mengenal Shabiah Nabi saw” terjemahan Abu Umar Abdullah Asy Syarif)

Kisah Tsumamah yang Hendak Membunuh Rasul

(Oleh: Hj. NUNUNG KARWATI, ustazah./”Pikiran Rakyat”)

TSUMAMAH bin Itsal merupakan musyrikin dari Kabilah alyamamah di Mekkah. Dia sombong dan ingin selalu dipuji karena keberaniaanya. Suatu ahri, dia sitantang oleh kaumnya. “Wahai Tsumamah, bila engkau memang pemberani, mengapa tidak pergi saja ke Madinah dan membunuh Muhammad?”

Tsumamah terpancing emosi. Karena tak ingin kehilangan muka, ia pun segera mengemasi perlengkapan dan senjatanya untuk pergi ke Madinah.

Tiba di Madinah, tsumamah kembali menunjukkan kesombongannya. Ia berteriak-teriak mencari majils nabi (tempat nabi berkumpul atau duduk-pen).teriakan tak sopan itu didengar oleh Umar bin Khaththab. Sang Asadullah pun segera menemui Tsumamah lalu bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah?”

“Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”

Tanpa banyak cakap, Umar segera membekuk orang musyrik itu. Setelah merampas senjata dan menelikungnya, Umar menggelandang Tsumamah ke masjid. Tsumamah tak mampu melawan. Sesampainya di masjid, tubuh Tsumamah diikatkan di salah satu tiang masjid. Setelah itu, Umar melapor kepada rasulullah.

Rasulullah segera menemui Tsumamah, mengamati wajahnya, lalu berkata kepada para sahabat, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”

Rasulullah mengucapkan kalimat itu dengan lemah lembut. Para sahabat tentu saja kaget, trutama Umar. Padahal, sejak tadi, ia menunggu perintah Rasul untuk membunuh Tsumamah. “Makanan apa yang anda maksud, wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh anda, bukan ingin masuk Islam,” kata Umar.

Namun, Rasulullah tak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku dan buka tali pengikat orang itu”, sebagai sahabat yang patuh, Umar menuruti perintah Rasulullah.

Setelah memberi minum Tsumamah, dengan sopan Rasulullah memintanya mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illa-llaah. Namun Tsumamah menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

Rasulullah membujuk lagi, tetapi Tsumamah tetap pada pendiriaannya. Para sahabat yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram. Meskipun demikian, lagi-lagi, Rasulullah membuat keputusan janggal. Beliau malah membebaskan tsumamah lalu menyuruhnya pergi.

Tsumamah bangkit dan segera berlalu. Akan tetapi, belumlah jauh melangkah, Tsumamah kembali menemui Rasulullah dengan wajah ramah berseri-seri. Ia berkata, “YA Rasulullah, Aku bersaksi tiada ilah, kecuali Allah, dan Muhammad Rasul Allah”.

Rasulullah tersenyum lalu bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahmu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menggangap akan masuk Islam karena takut kepadamu. Namun, setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridaan Allah.”

Sebelum pulang, Tsumamah berkata, “Ketika memasuki Madinah, tiada yang lebih ku benci dari Muhammad. Akan tetapi, setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang kucintai, kecuali Muhammad Rasulullah. (dinulik dari “Mukhtashar Hayatu-Shshahaabat”)**

Kisah Zaid bin Tsabit, Sekretaris Rasulullah

(Oleh: Nugraha Ramdhani, Pikiran Rakyat)

SYAHDAN, ketika sedang memeriksa pasukan yang bersiap menghadapi Perang Badar, Rasulullah dihampiri oleh seorang bocah berusia tiga belas tahun. Sambil menggenggam pedang, bocah itu berkata dengan tegas, “Aku siap berkorban untuk diri Anda, ya Rusulullah. Izinkan aku ikut berjihad dan bawah komando Anda.”

Rasulullah memandangi bocah itu. Diam-diam, ia pun merasa kagum bercampur gembira. Diraihnya bahu bocah itu, lalu ditepuk dengan penuh kasih sayang. Dengan klaimat menghibur, Rasulullah mengingatkan sang bocah bahwa ia harus dikembalikan kepada kedua orangtua karena masih terlalu muda. Dengan wajah murung, sang bocah membalikkan tubuh, lalu pulang sambil menyeret pedang.

Rupanya, peristiwa itu disaksikan oleh ibu sang bocah. Nuwar binti Malik. Perempuan itu memang sengaja mengikuti anaknya untuk menghadap Rasulullah. Ia ingin sekali melihat putranya menggantikan kedudukan ayahnya yang telah tiada. Akan tetapi, mendengar jawaban Rasulullah. Nuwar pun bersedih hati. Sang anak telah gagal menjadi mujahid bersama Rasulullah.

Bocah pemberani itu adalah Zaid bin Tsabit
**

GAGAL, mendapingi Rasulullah berperang ternyata tak membuat Zaid bin Tsabit patah semangat. Zaid cilik akhirnya menemukan cara agar bisa mendekatkan diri dengan Rasulullah, yakni melalui jalan ilmu dan hafalan Alquran. Niat itu diutarakan kepada ibunya. Nuwar binti Malik pun merasa gembira. Bahkan, dia bertekad membantu sepenuhnya agar cita-cita putrnya tercapai.

Beberapa waktu kemudian, Nuwar binti Malik menyampaikan hasrat Zaid bin Tsabit kepada tokoh-tokoh kaumnya. Mereka kemudian menghadap rasulullah seraya berkata, “Wahai Nabiyullah… putra kamiZAid bin Tsabit, hafal surat ini dan surat itu dari kitabullah. Dia mamapu membacanya dengan fasih sebagaimaana waktu diturunkan ke dalam kalbu Anda. Di samping itu, dia juga pintar membaca dan menulis. Dia ingin mendekatkan diri kepada anda melalui jalan ini. Bolehlah anda uji dia kalau berkenan.”

Rasulullah pun mendengarkan bacaan Zaid bin Tsabit tentang sebagian ayat yang dia hafal. Ternyata, memang benar. Bacaan anak itu teepat sekali. Mantiq-nya 9kaidah bahasanya0 jelas. Di lidah Zaid, kalimatullah tampak gemerlap, sejelas pantulan bintang-bintang di permukaan telaga.

Rasulullah amat gembira, apalagi setelah membuktikan kecekatan Zaid dalam menulis. Beliau berkata, “Ya Zaid, belajarlah bahasa Ibrani karena aku tak percaya pada apa-apa yang dituliskan oleh orang-orang Yahudi itu.”

“Baik, ya Rasulullah,” Zaid menjawab.

Dia langsung belajar bahasa “Abriyah (Ibrani) dan menguasainya dalam waktu singkat. Selain itu, atas perintah Rasulullah juga, Zaid belajar bahasa Suryniyah. Sejak itulah Zaid diangkat menjadi sekretariisRasulullah dan menuliskan surat-surat untuk kaum Yahudi. Zaid pula yang membacakan surat-surat yang diterima rasulullah dari kaum Yahudi. (dinukil dari “Sosok Para Sahabat Nabi” karya Dr Abdurrahman Ra’fat albasya)