Entri Terbaru

Alun-alun Kota Bandung

Alun-alun Kota Bandung yang sekarang terlihat lebih banyak berfungsi sebagai halaman masjid Raya saja, meskipun fungsi ruang terbuka bagi masyarakat masih dipertahankan. Akan tetapi, nyaris tak ada yang dengan sengaja datang berekreasi ke lapangan di pusat kota itu. salah satu penyebabnya adalah jarang sekali ada kegiatan dan acara yang dapat membuat warga Bandung berbondong-bondong mengunjungi alun-alun. Kebanyakan orang yang datang hanya memanfaatkan alun-alun sebagai tempat melepas lelah dengan duduk-duduk di kursi batu yang tersebar di setiap sudut. Padahal, Alun-alun Kota Bandung tempo dulu merupakan pusat keramaian tempat berbagai perhelatan diadakan.

Alun-alun Kota Bandung
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi : Diapit Jalan Asia Afrika, Jalan Dalem Kaum, dan jalan Alun-alun Timur
Dibangun : Tahun 1811
Luas: 22.700 m
Tahun 1925, pertandingan memanah yang diikuti peserta dari berbagai daerah mampu menyedot warga Bandung datang ke sana. Mereka berdesak-desak hingga meluber ke badan Jalan Groteposweg (sekarang Jalan Asia Afrika). Setiap malam, Alun-alun Bandung layaknya pasar dadakan. Ronggeng dan pemutaran film menjadi hiburan favorit warga kota sambil menyantap kacang goreng dan serabi yang banyak dijajakan di sana. Belum lagi pertandingan sepak bola yang kerap digelar pada rentang tahun 1900-1905 dan 1914-1921. Penontonnya pun tak sedikit hingga mengitari lapangan yang dibatasi pagar dari kayu setinggi pinggang.

Ketika kuda masih menjadi alat transportasi utama. Alun-alun Kota Bandung sempat menjadi terminal tempat delman-delman pengantar surat parkir di pinggir lapangan dekat Gedung Pos Besar Bandung. Ada pula Order de Boom atau tukang cukur yang setiap harinya berpraktik di sana. Pada 1 Mei 1909, di lapangan alun-alun ditanam pohon betepatan dengan kelahiran Putri Juliana, anak dari Ratu Wilhelmina. Pohon itu pun diberi nama Juliana Boom. Sayang pohon itu sekarang sudah tidak ada. Pohonnya tumbang tahun 1942. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Alun-alun Bandung yang juga seusia dengan kotanya dirancang layaknya pusat kota tradisional di Pulau Jawa. Kompleksnya terdiri atas masjid raya di sebelah barat, pendopo, serta penjara yang ada di Jalan Banceuy. Ketiga bangunan tersebut tidak kebetulan dibangun di sekitar alun-alun, tetapi mencerminkan tiga kekuasaan atau asas trias politika di suatu negara. Pendopo mencerminkan eksekutif, penjara melambangkan kekuatan yudikatif, dan mesjid disebut juga sebagai representasi dari legislatif tempat masyarakat bermusyawarah. Pada masa lalu, Alun-alun Bandung juga dipakai warga untuk menyampaikan protes damai. Mereke biasanya mengenakan pakaian putih dan duduk bersama anak istrinya untuk menarik perhatian para pemimpin.

Penataan Alun-alun Bandung sudah sejak dulu dilakukan. Dekade 1950 hingga 1960-an misalnya, berbagai jenis bunga ditanam di sana. Fungsi alun-alun mulai memudar ketika tahun 1980-an lapangan alun-alun sedikit demi sedikit dibuat menjadi halaman mesjid hingga ruas jalan yang memisahkan mesjid dengan lapangan alun-alun menjadi tak ada. Penataan kala itu juga bersamaan dengan pembangunan jembatan beton yang menghubungan sisi barat alun-alun dengan mesjid raya. Pemugaran tahun 2003 lalu semakin mengukuhkan alun-alun sebagai beranda mesjid ditambah pembangunan basement parkir. Kini, lapangan Alun-alun Bandung dihiasi tanaman rindang, pagar setinggi dua meter, tempat duduk, dan kolam air mancur yang jarang menyala.

Sumber: Fitrah/Periset. *Pikiran Rakyat** Minggu, 29 Desember 2013

Puasa dan Detoksifikasi Alami

Puasa dan Detoksifikasi Alami
SALAH satu manfaat puasa yang kerap menjadi perhatian para ahli gizi serta kedokteran adalah terjadinya proses detoksifikasi tubuh selama puasa berlangsung. Detoksifikasi adalah proses normal tubuh mengeluarkan racun-racun melalui ginjal, paru-paru, hati, pankreas, serta kulit.

Proses detoksifikasi itu berlangsung, yaitu ketika puasa, di saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dari luar, tubuh mulai merombak lemak untuk diubah menjadi energi. Pada proses ini, racun-racun yang bertumpuk di dalam lemak tubuh, mulai dieliminasi seiring organ-organ tubuh dan hormon-hormon tubuh berproses mengubah lemak menjadi energi.

Walaupun sesungguhnya tubuh kita mempunyai kemampuan untuk mengeliminasi zat-zat racun yang masuk ke dalam tubuh, namun proses tersebut akan jadi tidak efektif selama tubuh masih mendapat asupan racun lewat makanan. Saat berpuasa proses tubuh mengeliminasi racun akan berjalan lebih efektif karena organ-organ pencernaan tubuh tidak menerima tambahan asupan racun yang bisa masuk lewat makanan, selama kurang lebih 13 jam.

Organ pencernaan pun akan bersih, tidak terjadi kontak dengan racun dalam makanan yang biasanya memenuhi organ-organ ini, karena setelah bekerja 8 jam memproses makan sahur, organ-organ pencernaan istirahat. Dengan istirahatnya organ-organ pencernaan, kerja organ lain seperti hati, ginjal, pankreas, paru-paru dan kulit dalam mengeluarkan racun bisa lebih efektif.

Bahan beracun yang masuk ke tubuh kita bersama makanan bisa bersumber dari hal:
  1. Secara alami terdapat di dalam makanan itu sendiri seperti antitrypsin asam jengkolat pada jengkol, atau hermaglutinin pada kacang-kacangan mentah.
  2. Akibat reaksi-reaksi kimia dari komponen pangan yang terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan. Seperti akrilamida, zat karsinogen yang terbentuk saat bahan pangan berubah warna jadi coklat tua hingga gosong, atau mutasi dari bahan makan yang asalnya tidak berbahaya, karena salah dalam perlakuan proses memasak maka bermutasi menjadi bahan pangan berbahaya, seperti monosodium glutamat (MSG) yang akan berubah struktur menjadi senyawa karsinogen jika dipanaskan melampaui 120°C.
  3. Akibat penambahan senyawa tertentu selama proses pengolahan pangan, misalnya penggunaan bahan tambahan pangan (food additives) secara berlebihan, atau bahkan menggunakan bahan kimia bukan untuk makanan yang membahayakan kesehatan tubuh.
  4. Akibat migrasi senyawa beracun dari wadah/kemasan ke dalam makanan, seperti monomer dari plastiok atau logam-logam berat yang biasa terkandung dalam kemasan makanan-makanan tertentu.
  5. Akibat kontaminasi dari lingkungan yang tidak sehat, berupa kontaminasi senyawa kimia yang beracun atau mikroba penghasil racun.

Jika tubuh kita selama 9 bulan (di luar bulan Ramadan) terus menerus memperoleh asupan bahan makanan yang mengandung toksik, maka unsur-unsur toksik tersebut menjadi bahan berat bagi tubuh, tubuh dipaksa bekerja ekstra untuk mengeluarkan racun-racun tersebut. Akibatnya, daya tahan tubuh pun melemah, sehingga kita mudah diserang berbagai penyakit.

Lain halnya saat kita berpuasa, kerja tubuh membersihkan racun di siang hari tidak dibebani lagi oleh asupan makanan lain, sehingga proses pemecahan lemak yang mengandung racun-racun terperangkap bisa berlangsung optimum. Bahkan kandungan vitamin-vitamin yang berlebih yang terperangkap dalam lemak tubuh seperti vitamin A, D, E, dan K, juga dapat ikut terbuang.

Mekanisme proses detoksifikasi tubuh melalui puasa satu bulan ini, berlangsung terus menerus secara perlahan-lahan, sehingga menyebabkan naiknya daya tahan tubuh, yang ditandai oleh naiknya HDL (kolesterol baik) dan menurunnya LDL (kolesterol jahat), aliran darah menjadi lancar, menyebabkan proses-proses regenerasi sel dan peremajaan organ-oragan tubuh pun berlangsung lancar.

Saat berpuasa, tubuh mendapat asupan karbohidrat, sehingga proses pembakaran karbohidrat yang melibatkan oksigen pun tidak berlangsung. Ini berarti tubuh terbebas dari radikal-radikal bebas yang biasanya timbul sebagai hasil samping pada proses pembakaran karbohidrat bersama oksigen. Terbebasnya tubuh dari radikal bebas aakan membuat ringan kerja tubuh melangsungkan proses-proses detoksifikasi tubuh.

Beberapa studi medis menunjukkan, puasa juga bermanfaat untuk mengendalikan pertumbuhan jaringan yang abnormal pada tubuh, seperti tumor. Tumor menjadi kekurangan nutrisi, sehingga menjadi lemah, akan lebih mudah bagi tubuh untuk memecahnya, dan mengeluarkannya dari tubuh. Hilangnya beban toksik dan radikal-radikal bebas yang mengganggu, memungkinkan tubuh untuk memanfaatkannya sumber daya di dalam tubuh, untuk fokus pada pembangunan kembali hingga ketingkat mikroskopis seperti DNA dan RNA. Proses DNA dan RNA mentranskripsikan protein menjadi lebih cepat.

Selain mengaktifkan tubuh untuk memecah lemak, puasa pun dapat mengaktifkan hormon-hormon positif penunjang metabolisme tubuh menjadi lebih berperan secara optimal.

Sumber: Y Zakiah A, alumnus FMIPA Unpad /*Pikiran Rakyat**, Kamis 26 Juni 2014