Entri Terbaru

Balai Perguruan Putri

Van Deventerschool, itulah nama awal dari Balai Perguruan Putri. Sebuah sekolah guru putri atau meisjenormaalschool yang dibangun untuk mengenang jasa Mr. Conrad Theodore van Deventer. Ia adalah orang Belanda, ahli hukum yang memprakarsai politik etis atau politik balas budi Belanda kepada pribumi. Kemunculan politik tersebut memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan di Hindia Belanda dalam wujud berdirinya sekolah-sekolah untuk pribumi. Di Bandung keluarga Van Deventer mendirikan Van Deventerschool, beberapa tahun kemudian van Deventer meninggal. Sekolah itu diresmikan pada 24 Juli 1919 oleh istri Gubernur Jenderal Ny. Gravin van Limburg Stirum Sminia. Saat itu, sekolah guru sangat dibutuhkan. Apalagi, sebelumnya sudah ada Sekolah Keutamaan Istri yang didirikan Raden Dewi Sartika pada 1904 meski dengan sedikit tenaga pengajar.

Balai Perguruan Putri
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi: Jalan Van Deventer No. 14, Kota Bandung
Fungsi: Sekolah (SMK, SMP, TK), Wisma
Pengelola: Yayasan Balai Perguruan Putri
Luas: 1,6 hektare
Lebih dari 20 tahun, Van Deventerschool atau dahulu dikenal pula Van Deventer Vereeniging Vor West Java telah mencetak guru-guru putri. Calon guru putri sekolah itu berasal dari berbagai daerah, karena Van Deventerschool tak ada di semua wilayah Hindia Belanda. Murid-muridnya pun tak terbatas pada kalangan bangsawan saja. Sayangnya, keadaan itu harus berubah saat pendudukan Jepang pada tahun 1942. Van Deventerschool Bandung harus dibubarkan. Sekolah itu lalu dijadikan markas tentara, sedangkan murid-muridnya terpaksa diungsikan ke Sekolah Guru Putri Yogyakarta. Van Deventerschool harus pindah ke Belanda. Lepas dari cengkeraman Jepang, bangunan sekolah ini sempat digunakan ITB (Institut Teknologi Bandung) dan STO (Sekolah Tinggi Olahraga). Namun, pada 1952, perwakilan dari Belanda menyerahkan Van Deventerschool, termasuk semua kekayaan, bangunan sekolah dan tanahnya kepada sejumlah alumni dan tokoh pendidikan di Jawa Barat. Atas keputusan bersama, nama sekolah ikut berganti pada 1953, yakni menjadi Balai Perguruan Putri (BPP).

Seiring perkembangannya, tak banyak perubahan yang terjadi pada Balai Perguruan Putri. Bangunan itu masih berfungsi sebagai sekolah hingga sekarang. Hanya saja, terdapat tiga tingkatan pendidikan yang menempati kompleks tersebut, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Taman Kanak-kanak (TK). Siswa sekolah ini awalnya hanya menerima siswa putri menjadi terbuka untuk siswa putra, karena dahulu sempat hanya memiliki sedikit murid. Namun, yang tak mengalami perubahan adalah pemeliharaan kultur Sunda yang selalu diwariskan kepada siswanya.

Bangunan sekolah itu sebagian besar masih menggunakan bangunan lama peninggalan Belanda. Namun, ada beberapa bangunan baru dan bangunan lama direnovasi. Khusus untuk bangunan lama, tak ada sedikit pun yang diubah secara drastis. Termasuk dalam kompleks tersebut terdapat wisma yang sekarang diberi nama Wisma Van Deventer. Wisma ini terbilang baru meskipun bangunannya menggunakan bangunan lama. Wisma ini diresmikan 11 Desember 2006 oleh istri Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat saat itu. Wisma berkapasitas 150 tamu itu disewakan kepada masyarakat, lalu hasil sewanya digunakan untuk menunjang operasional sekolah

Sumber: Kania DN/Periset *Pikiran Rakyat** Minggu, 29 Juli 2013

Poyok Ungkal di Karnaval Conggeang Tujuhbelasan


“Budaya ini unik. Orang, terutama di luar warga Ungkal, tidak bisa langsung mengerti Poyok Ungkal, diperlukan daya nalar tinggi atau pembiasaan yang cukup lama untuk bisa mengetahui atau mengerti adanya Poyok Ungkal dalam suatu percakapan. Jadi, tidak seperti Heureuy Bandung atau Sisindiran yang bisa lebih mudah dimengerti oleh lawan bicara,“ --Drs Dede Kosasih, Msi.-- (Yeni Endah Pertiwi/*Pikiran Rakyat**)