Entri Terbaru

Penyakit-penyakit Aneh di Dunia

BANYAK penyakit langka terjadi di dunia ini. Berbagai pengobatan dilakukan, tapi hasilnya tak seketika menyembuhkan penyakit itu. akibat panyakit langka itu, si penderita mesti rela jadi bulan-bulanan cemoohan orang-orang di sekitarnya. Berikut beberapa penyakit langka yang ada di Dunia.

"Progeria"
progeria
foto: google
Penyakit ini ditandai dengan tanda-tanda penuaan pada tahun-tahun awal seseorang. Anak-anak yang mengidap penyakit ini akan tampak seperti orangtua karena penuaan yang 8-10 kali lebih cepat daripada biasanya. Dengan kondisi fisik, penderita progeria cenderung menjalani kehidupan sangat singkat, umumnya hanya 13 tahun. Namun, ada kasus ketika penderita masih bertahan hidup hingga 20 tahun, bahkan 40 tahun.

Penyakit ini pertama kali dipaparkan oleh Jonathan Hutchinson dan Hastings Gilford. Hingga saat ini, baru ada sekitar 100 kasus yang terindentifikasi. Sampai sekarang penyebab penyakit ini masih belum jelas. Namun, beberapa peneliti menyakini progeria terjadi akibat mutasi gen lamin A yang bertanggungjawab terhadap pembentukan protein lamin A dan C.

Ketidakstabilan protein yang kemudian bermutasi yang menyebabkan penuaan dini pada anak-anak penderita progeria. Progeria bukalah penyakit keturunan. Umumnya, anak-anak yang menderita progeria terlihat sangat niormal ketika dilahirkan, namun terjadi tanda-tanda penuaan setelah 12 bulan.

Pada penderita progeria terdapat beberapa tanda khas, seperti gigi busuk, rambut rontok, pembuluh darah di bagian kepala tampak jelas, jaringan lemak dibagian bawah kulit berkurang, bahkan menghilang sehingga kulit terjadi keriput, kuku tak tumbuh sempurna, tapi tumbuh melengkung serta rapuh, bahkan pengeroposan pada tulang.

“Parasitic twin”
Ini adala penyakit tak biasa dari kasus kembar siam. Dalam hal ini, satu janin menjadi sangat kuat, sedangkan lainnya tetap tergantung sepenuhnya pada yang lain. Yang lemah tetap hidup dalam tubuh si kembar yang sehat sepanjang waktu.. hal ini dianggap parasit.

“Agryria syndrome”
Argyria adalah kelainan kulit berwarna biru dan salah satu penyakit yang paling jarang ditemukan pada manusia. Ini adalah kelainan genetik yang menyebabkan kulit berwarna biru, nila, atau bangkan ungu.

Penyakit ini tidak berakibat fatal bagi kesehatan. Usia penderita terbilang panjang. Kebanyakan penderita sindrom ini, bahkan tetap bertahan hidup hingga usia 80 tahun. Kendati demikian, penyakit ini belum ada obatnya.

“Walking corpse syndrome”
Penyakit ini mirip dengan gangguan bipolar dan skizofrenia. Penderita sindrom ini selalu berpikir bahwa ia sudah mati. Tidak ada bayangan lain, selain bahwa dia tyelah tiada.

Pada kondisi yang paling parah, penderita bahkan berpikir telah kehilangan bagian tubuhnya yang vital. Kondisi keijwaannya semakin rapuh. Ia merasa ada bagian jiwanya yang hilang.

“Wendigo psychosis”
Penyakit ini mungkin mirip dengan kondisi yang dialami zombie dalam film-film. Penderitanya selalu merasa ingin memakan daging manusia. Namun, Anda mungkin tidak perlu khawatir karena penyakit ini ternyata hanya diderita oleh suku asli di Amerika dan Kanada di bagian utara Amerika.

Nama Wendigo berasal dari nama monster atau roh jahat yang dipercaya oleh suku-suku di sana. Wendigo yang dikenal dengan nama lain windigo, windago, witiko, dan lainnya merupakan roh jahat yang haus darah dan selalu memakan daging manusia. Wendigo dikenal sebagai moster tamak yang tak pernah berhenti memakan daging manusia.

Manusia yang terkena wendigo psychosis dipercaya telah kerasukan roh jahat Wndigo yang membuat mereka menjadi haus darah dan ingin memakan daging manusia. Biasanya mereka yang dirasuki Wendigo adalah orang orang yang pernah terpaksa memakan daging manusia atau orang normal yang dirasuki lewat mimpi.

Orang yang terkena wendigo psychosis akan mulai berperilaklu kasar, brutal, dan dan dengan rakusnya makan dading manusia, persis seperti moster. Biasanya orang yang terkena Wendigo diobati oleh penyembuh tradisional atau dukun. Namun, terkadang mereka juga memanggil dokter untuk menyembuhkannya.

“Cutis verticis gyrata”
Ini adalah penyakit yang membuat kulit kepala tampak seperti permukaan otak. Menurut studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, kondisi tersebut belum diketahui penyebabnya.

Penyakit langka ini membuat rambut pasien menipis di atas lipatan besar dan menebal di lipatan kecil. Cutis veriticis gyrata sebagaian besar terjadi pada pria.

Sumber: Dewiyatini/*Pikiran Rakyat* Minggu, 22 Desember 2013

“SISINGAAN” Bentuk Perlawanan Rakyat Subang

SISINGAAN merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Kabupaten Subang. Kesenian ini ternyata memiliki sejarah cukup panjang, terkait dengan perlawanan warga Subang, ketika daerah mereka masih dijajah.

Subang pada waktu itu, sebagaimana digambarkan oleh Broersma dalam bukunya De Pamanoekan and Thiasem Landen tahun 1912. sebagian besar lahan pertaniannya dikuasai oleh perkebunan orang-orang Belanda dan Inggris. Perusahaan yang besar di daerah Pamanukan yaitu P&T Land.

Perkebunan tersebut telah menguasai hajat masyarakat Subang. Mereka mengalami tekanan cukup berat. Makanya saat ini mulai muncul perlawanan dari masyarakat Subang.

Perlawanan yang dilakukan warga Subang saat itu dalam beberapa bentuk. Ada juga dalam bentuk perlawanan fisik. Tetapi bentuk lain, yaitu lewat kesenian.

SISINGAAN Bentuk Perlawanan Rakyat Subang
foto: diah-nurfatimah.blogspot.com
“Kesenian sisingaan, sebagai salah satu bentuk perlawanan warga Subang dalam bentuk lain. Makanya, kesenian sisingaan memiliki sejarah yang tak bisa lepas dengan masyarakat Subang,” kata Nina Lubis, sejarawan asal Universitas Padjadjaran, kepada ”PR”.

Perlawanan lewat sisingaan merupakan perlawanan secara simbolis. Warga Subang berusaha mengekspresikan kekecewaan mereka terhadap penjajah waktu itu dengan sisingaan.

Simbol yang ditampilkan berupa sepasang singa menunjukkan bahwa itu adalah lambang dua kekuatan yang menjajah secara politis yaitu Belanda dan secara ekonomis Inggris. Dua kekuatan itu berada di atas, sementara rakyat Subang di bawah yang tertekan.

Tetapi, ada semangat untuk bangkit dengan disimbolkan musik yang mengiringi kesenian itu. musik dimainkan nayaga untuk memberikan semangat bangkit atau semangat ke generasi muda untuk mengusir penjajah.

Anak muda disimbolkan yaitu anak yang naik sisingaan. Kelak anak tersebut harus bebas, harus mandiri menentukan nasibnya. Tanpa ditindas oleh kaum penjajah.

“Kesenian ini memiliki nilai-nilai yang cukup kuat untuk warga Subang pada waktu itu. makanya, sisingaan sampai sekarang tertanam dan berkembang di Subang,” kata Nina Lubis.

Catatan “PR”, secara garis besar sisingaan memang terdiri dari 4 pengusung sisingaan. Sepasang patung sisingaan, penunggang sisingaan, waditra nayaga, dan sinden atau juru kawih. Secara filosofi 4 pengusung sisingaan melambangkan masyarakat pribumi/terjajah/tertindas, sepasang patung sisingan melambangkan kedua penjajah.

Sementara penunggang sisingaan simbol generasi muda yang harus bangkit. Nayaga melambangkan masyarakat yang bergembira atau masyarakat yang berjuang dan memberi motivasi kepada anak-anak muda harus bisa mengusir penjajah dari Subang.

Dalam perkembangannya, sisingaan juga tak statis. Bentuk patung, busana, dan lainnya ada perubahan.

Para seniman sisingaan tanggal 5 Januari 1988, menyelenggarakan seminar kesenian sisingaan. Hasil seminar tersebut memutuskan untuk pembakuan dan penyeragaman dalam penyebutan sisingaan. Juga adanya keputusan bahwa sepasang sisingaan adalah melambangkan dua penjajah, dan melambangkan kekuatan, kekuasaan, kebodohan, serta kemiskinan.

Menurut pemerhati kesenian Dedi Mulyadi, sisingaan tak hanya memiliki nilai sejarah. Tetapi, lebih dari itu sisingaan simbol kebersamaan rakyat Subang. “Cermin gotong royong, cermin dai sisi kehidupan warga Subang yang bersatu padu dalam menyelesaikan masalah atau dalam tatanan keseharian mereka,” ujar Bupati Purwakarta yang asal kelahirannya dari Subang.

Sudah lama budaya tersebut tertanam di tengah warga Subang. “Nilai hidup manusia yang disimbolkan oleh 4 orang yang sedang menggotong sisingaan. Sebenarnya keempat orang ini adalah 4 pilar kebudayaan, yakni persenyawaan manusia dengan airnya, udara, tanah dan matahari. Sehingga menghidupkan sisingaan di atasnya, yaitu roh manusia yang harus seimbang antara keempat persenyawaan itu,” katanya mengartikan simbol lain dari sisingaan.

Sumber: Udang Sudrajat/*Pikiran Rakyat*, Senin 27 Januari 2014