Tahun Baru 1949 Caka Sunda

Selasa, 23 Oktober 2012, merupakan tahun baru dalam Penanggalan Sunda, tanggal 1 Kartika tahun 1949 Caka, jatuh pada hari Anggara. Bulan Pertama dalam penanggalan Sunda disebut Kartika. Bulan kedua dan seterusnya: Margasira, Posya, Maga, Palguna, Sétra, Wésaka, Yésta, Asada, Srawana, Badra, dan bulan keduabelas: Asuji.

Nama-nama bulan ini berdasar pada perputaran Bulan mengitari Bumi atau Candrakala. Jumlah hari dalam tiap bulan 30 dan 29. Bulan Kartika jumlah 30 hari, bulan kedua Margasira berjumlah 29 hari. Bulan ketiga 30 hari. Begitu seterusanya berselang-selang, kecuali bulan keduabelas; Asuji, ada 29 hari juga ada yang 30 hari.

Candrakala dalam sebulannya dibedakan dengan Paro Caang (Suklapaksa) dan Paro Poék (Kresnapaksa). Paro caang, dimulai saat Bulan muncul sebelah kiri. Paro Poék, dimulai saat Bulan muncul sebelah kanan. Paro Caang dari tanggal 1 sampai tanggal 15. Memasuki Paro Poék dimulai lagi dari tanggal 1 sampai tanggal 15 atau 14.

Jumlah hari dalam seminggu tak berbeda dengan penaggalan yang lainnya, sama memiliki 7 hari: Radite (Minggu), planetnya Matahari; Soma (Senin), planetnya Bulan; Anggara (Selasa), planetnya Mars; Buda (Rabu), planetnya Merkuri; Pespati (Kamis), planetnya Jupiter, Sukra (Jumat), planetnya venus, dan Tumpek (Sabtu), planetnya Saturnus.

Penanggalan Sunda juga memiliki penanggalan yang berdasar pada Bami mengitari Matahari: Suryakala. Nama-nama bulannya: Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawalu, Kasangga, Kadasa, Hapitlemah dan Hapitkayu. Jumlah harinya 31 dan 30. Kasa: 30 hari, Karo: 30 hari, Katiga: 31 hari, berselang-selang, kecuali Hapitkayu jumlahnya 30 atau 31 hari.

Candrakala dan Suryakala kegunaannya berbeda. Candrakala untuk keperluan sehari-hari, paling tidak dipakai buat penanggalan, hitung-hitungan buat melakukan pekerjaan. Suryakala dipergunakan untuk keperluan bertani. Sebab Suryakala lebih dekat dengan keadaan Bumi yang dipengarungi Matahari. (Nanang S/Galura)

Apabila sobat ingin melihat Penanggalan Candrakala 1949, silahkan klik di sini

”Labuh” musim peralihan Pranata Mangsa Sunda

Labuh, begitu istilah dalam pranata mangsa Sunda untuk menyebut keadaan alam (musim peralihan) antara di akhir musim kemarau awal musim hujan. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) disebut pancaroba. Musim peralihan dikarenakan pergantian musim kemarau ke musim hujan.

Dalam kalender Masehi usum (musim) labuh minggu akhir bulan September sampai minggu akhir Desember. Kalau dalam kalender Sunda, mulai budan Kadasa, Hapitlemah sampai bulan Hapitkayu. Berdasarkan hitungan putaran Bumi mengelilingi Matahari atau Suryakala.

Kalender Sunda mengenal dua sistem penanggalan Suryakala dan Candrakala. Candrakala berdasar pada putaran bulan mengelilingi Bumi. Kedua sistem ini memiliki fungsi masing-masing, Suryakala sifatnya bertalian dengan alam.

Bulan Kadasa memasuki usum labuh, angin datangnya dari arah barat laut. Pepohonan yang berbuah setahun sekali, seperti rambutan, mangga mulai berkembang. Burung pipit dan manyar mulai menyiapkan sarang buat bertelur. Masa kawinnya binatang berkaki empat (domba, sapi, kerbau, dsb), ikan-ikan mulai keluar dari persembunyiannya.

Petani membuka ladang (huma) untuk ditanami padi dan palawija. Bulan Hapitlemah, angin datang dari arah selatan, pepohon banyak yang tumbang dikarenakan angin yang cukup kencang berhembus. Curah hujan lebat.

Bulan hapitkayu, angin datang dari arah barat. Frekwensi hujan mulai sering dibarengi kilat dan petir. Buah-buahan mulai matang. Petani mulai sibut mengolah sawah, kebun, lading (huma). Habis Hapitlemah mulai masuk musim hujan: bulan kasa, Karo, sampai bulan Katiga. Musim mamaréng (curah hujan mulai berkurang) atau dangdarat.

Dahulu siklus alam, usum-usuman (musim): usum halodo (kemarau), labuh (pancaroba), hujan, dan mamaréng, tetap tidak berubah. Setiap musim memiliki karakter sendiri-sendiri yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan di bumi; manusia, tumbuhan dan binatang. Tapi sekarang …..? (sumber: NS – Galura)