MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN: Menyimpan Jejak Sumedang Masa Lalu

BUKU Waruga Jagat merupakan salah satu naskah kuno yang menjadi koleksi Museum Prabu Geusan Ulun Kabupaten Sumedang. Naskah kuno tersebut dibuat oleh Mas Ngabehi Paranah warga Sumedang. Umur naskahnya diperkirakan sudah mencapai 300 tahun.

MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN: Menyimpan Jejak Sumedang Masa Lalu
Mahkota Binokasih (foto: google)
Naskah kuno tersebut, menjadi dasar pengambilan tanggal hari jadi Sumedang yang jatuh tanggal 22 April. Tanggal itu berbarengan dengan penyerahan Dinasti Kerajaan Pajajaran dengan Rajanya Ragamulya Suryakancana ke Kerajaan Sumedang Larang yang dipimpin Prabu Geusan Ulun.

Penyerahan tampuk kekuasaan dari Pajajaran ke Sumedang Larang terjadi ketika menjelang keruntuhan Kerajaan Pajajaran sehubungan Pajajaran diserang Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dan Kesultanan Cirebon.

Dari sekian banyak kerajaan-kerajaan kecil di bawah Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Sumedang Larang terpilih menjadi penerus Kerajaan Pajajaran yang berkuasa di tanah Parahyangan. Terpilihnya Kerajaan Sumedang Larang, selain karena kepercayaan dan diperkuat wangsit Raja Panjajaran, juga Sumedang Larang merupakan kerajaan yang sangat kuat yang dipimpin Prabu Geusan Ulun. Dia sosok raja yang gagah berani, bijaksana, berilmu tinggi serta masih keturanan Raja Pajajaran.

Penyerahan tampuk kekuasaan, ditandai dengan penyerahan mahkota Raja Pajajaran bernama Mahkota Binokasih sekaligus penobatan Pangeran Angkawijaya atau Pangeran kusumadinata II dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578-1601) sebagai Raja Sumedang Larang.

Mahkota Binokasih masih tersimpan di museum. Begitu pula semua atribut dan benda-benda pusaka Kerajaan Pajajaran lainnya, seperti halnya kujang dan kereta kerajaan yakni Kereta Naga Paksi. Hanya, keretanya tak utuh lagi. Yang tersimpan di museum berupa rodanya. Setiap acara tertentu replika kereta Naga Paksi selalu diarak dengan barang-barang pusakan peninggalan sejarah lainnya.

Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun merupakan kebebasan Sumedang Larang untuk menyejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon.

Prabu Geusan Ulun saat itu sudah memeluk agama Islam dari orang tuanya, yakni Pangeran Santri atau Pangeran kusumadinata I dari Kesultanan Cirebon dan ibunya Ratu Inten Dewata Pucuk Umum yang sebelumnya Raja Sumedang Larang.

Dalam naskah kuno lainnya, yakni Buku Wawacan yang dibuat RAA Martanegara yang sudah ditik ulang, tertulis cerita sejarah lainnya tentang kisah cinta Prabu Geusan Ulun dengan Putri Harisbaya dari Kerajaan Cirebon. Pernikahannya menimbulkan peperangan antara Kerajaan Sumedang Larang dengan Kerajaan Cirebon. Di masa peperangan, munculah situs Hanjuang di daerah Kutamaya yang dulunya tempat Kerajaan Sumedang Larang. Namun, saat itu Prabu Geusan Ulun mencari tempat aman bersama rakyatnya hingga kerajaan dialihkan ke Dayeuh Luhur di Kecamatan Ganeas,

“Dipuncak Dayeuh Luhur itu lah, tempat makam Raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun”, tutur Ketua Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang Rd. Achmad Wiriaatmadja.

Sumber: Adang Jukardi/*Pikiran Rakyat** Selasa, 24 Desember 2013

Museum Inggit Garnasih

Museum Inggit Garnasih
Ilustrasi parmaali/"PR"
Lokasi : Jalan Inggit Garnasih No. 8 (dulu Jln. Ciateul) Kecamatan Regol, Kota Bandung
Berdiri : 1920
Luas Bangunan : 161, 50 M2
Luas tanah : 260 M2
Pengelola : Dinas Parawisata dan Kebudayaan Jawa Barat
Koleksi Saat Ini : Dua pasang batu pipisan jenis batu andesit, foto peristiwa dan kegiatan para pejuang pelopor kemerdekaan, meja belajar Soekarno dan sofa, surat nikah dan permohonan cerai Inggit Garnasih
Fungsi : Museum koleksi Inggit Garnasih dari Soekarno, pusat studi sejarah pergerakan pejuang dan peran kaum ibu, serta wisata sejarah dan budaya
Fasilitas : Ruang kegiatan untuk Komunitas
BANGUNAN yang tadinya merupakan rumah tinggal ini menjadi saksi sejarah hubungan Presiden RI pertama Ir Soekarno dengan Inggit Garnasih. Keberaaannya seolah menegaskan pameo bahwa di balik seorang pria tangguh selalu ada wanita tangguh yang mendukungnya. Ya, Inggit Garnasih tak pernah mundur dari perjuangan mendukung suami, Soekarno, ketika sedang berusaha keras mencapai Indonesia merdeka. Wanita kelahiran 17 Februari 1888 di Desa Kamasan Banjaran, Kabupaten Bandung ini, bahkan rela ikut ke Ende dan Bengkulu demi menemani suami dalam pembuangan. Hari-hari bersama Inggit Garnasih dan anak angkatnya Ratna Djuami serta Kartika di pulau pengasingan, membesarkan jiwa Soekarno untuk terus melawan tirani penjajah.

Kala itu, pemerintah Hindia Belanda sangat giat memata-matai Soekarno di Partai Nasional Indonesia yang baru berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia pada tahun 1928. Belanda menunggu kesempatan untuk segera meringkusnya bersama-sama para pejuang kemerdekaan Indonesia yang lain. Penjara Banceuy dan lapas Sukamiskin di Bandung adalah tempat yang dipersiapkan memenjarakan diri serta pemikiran Soekarno. Namun, kegigihan Inggit dalam memberikan semangat kepada suaminya itu membuat Sang Putra Fajar itu tak melempem di tengah dinginnya dinding penjara. Selama beberapa waktu, Inggit yang berjualan bedak, lulur, serta jamu untuk membiayai kehidupannya membesuk Soekarno dan memberikan makanan juga informasi. Dengan bermacam-macam kode dan cara, inggit berhasil menyelundupkan buku-buku yang menjadi sumber penulisan pledoi Soekarno yang terkenal, Indonesia Menggugat.

Pembelaan Soekarno ini membuka mata dunia akan buruknya efek penjajahan dan bangkitnya perlawanan pribumi. Meskipun Soekarno berjuang secara pemikiran dan fisik melawan penjajah Belanda. Inggit berjuang secara domestik memastikan perjuangan lainnya berjalan. Wanita ini rela berjualan rokok yang dibungkus daun kawung dan dilintingnya sendiri dengan merek “Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan ibu Inggit Garnasih”. Upaya ini dilakukan karena Bung Karno selalu dibayangi penahanan dan pembuangan, serta hari-harinya lebih banyak tersita oleh konsolidasi perjuangan, sehingga dalam mencari nafkah lebih banyak dilakukan oleh Nyonya Soekarno.

Sejuta kenangan telah menghiasi rumah sederhana ini, yang hanya terdiri atas satu ruang tamu, satu ruang makan, dan tiga kamar tidur. Para pejuang datang dan pergi dari rumah ini setelah berdiskusi dengan Kusno, panggilan kesayangan Bung Karno dari Inggit Garnasih.

Inggit dinikahi Bung Karno pada tanggal 24 Maret 1923. Berbagai aktivitas politik yang sering digelar di rumahnya. Pada 23 Desember 2010, rumah ini telah diresmikan sebagai rumah bersejarah oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Bangunan cagar budaya ini ditingkatkan statusnya menjadi museum. Batu pipisan yang telah menemani Inggit membuat bahan kecantikan Sari Pohaci yang juga membantu membiayai perjuangan awal kemerdekaan, menjadi ikonnya. Inggit Garnasih tidak pernah tinggal di Istana, karena dalam upaya Soekarno mendapatkan keturunan, kedua pasangan ini bercerai pada 29 Januari 1943 dengan disaksikan salah satunya oleh Mohammad Hatta. Inggit Garnasih meninggal dunia pada 13 April 1984 di usianya yang ke-96 tahun dan dimakamkan di TPU Caringin (Porib) Kota Bandung.

Sumber: E. Saepulah/Periset “Pikiran Rakyat”

Sejarah Museum Prabu Geusan Ulun

museum prabu geusan ulun
Awal berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun, diawali berdirinya “Yayasan Pangeran Aria Soeria Atmadja (YAPASA)”, yayasan yang mengurus, memelihara dan mengelola barang – barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati Sumedang 1882 – 1919. Untuk melestarikan benda – benda wakaf tersebut YAPASA merencanakan untuk mendirikan Museum. Pada tahun 1973 YAPASA berubah nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan didirikan sebuah Museum yang bernama Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pada mulanya dibuka hanya untuk di lingkungan para wargi keturunan dan seketurunan Leluhur Pangeran Sumedang.

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk mengganti nama Museum YPS. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun” –YPS.

Gedung pertama yang dipakai sebagai Museum adalah Gedung Gendeng

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk memberi nama Museum YPS yang disampaikan pada forum Seminar Sejarah Jawa Barat. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun”