Keberagaman Busana Pengantin di daerah Jawa Barat

Keberagaman Busana Pengantin di daerah Jawa Barat
Foto: Pikiran Rakyat
Budayawan Elis Suryani menyebutkan bahwa kekhasan daerah itu tampak dari busana pengantin yang digunakan. Dari busana yang dikenakan itu terlihat adanya percampuran budaya yang tumbuh di wilayah tersebut.

Di dalam buku Pesona Busana Pengantin dan Batik di Jawa Barat yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat digambarkan perbedaan pernikahan adat di Jawa barat.

Pengaruh Betawi dan Melayu tampak dalam busana pengantin di Bogor dan Bekasi . Pengantin lelaki Bogor biasanya mengenakan kopiah putih, sedangkan pengantin perempuannya mengenakan gaun berwarna merah. Gaun ini menandakan adanya pengaruh Eropa terhadap budaya di wilayah Bogor. Tatanan rambutnya dihiasi deretan kembang goyang khas Betawi. Untaian bunga sedap malam yang selalu ada dalam pernikahan adat sunda pun turut terpasang. Uniknya kedua pasangan mengenakan kacamata hitam selama upacara dilangsungkan.

Di Karawang, meskipun busananya tampak dipengaruhi oleh adat Melayu dan Betawi, masyarakat setempat menyebutnya sebagai pakaian pernikahan khas pesisir. Menururt Kepala Dinas pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karawang Acep Jamhuri, yang khas dari mempelai perempuan adalah hiasan di kepala yang sering disebut kembang gede. Hiasan di kepala itu terbuat dari perak dan disususn dalam tiga undakan. Seperti Bekasi dan Bogor, kedua mempelai juga mengenakan kacamata hitam selama upacara pernikahan.

Sementara itu, di wilayah Priangan, seperti Bandung, Garut, Ciamis, Tasikmalaya, dan Sumedang, pakaian pernikahan mengikuti gaya berbusana bangsawan. Contohnya Sumedang dengan busana pernikahan mengadopsi busana yang dikenakan oleh Prabu Sumedanglarang. Sementara busana pengantin Bandung dipenuhi oleh aksesori dibagian sanggul yang dikenakan mempelai wanita. Mempelai pria mengenakan beskap yang dihiasi tempelan dasi kupu-kupu serta bendo. Kedua mempelai juga menggunakan selop tertutup.

Wilayah yang bersisian dengan Jawa Tengah yaitu Cirebon dan Indramayu, busana pengantinya dipengaruhi oleh wilayah tetangganya tersebut. Busana pengantin Cirebon dikenal sebagai busana kepangeranan dan busana pengantin kebesaran. Busana kepangeran ditandai dengan pemakaian rompi tanpa tanpa lengat dan berkancing tiga. Pemakaian dipadukan dengan selop tertutup. Sementara untuk busana kebesaran, pengaruh dari Jawa tengah sangat terlihat yakni dengan mengenakan bawahan dodot kesatria.

Sumber: Lia Marlia – Weyatini/*Pikiran Rakyat***

Berbalas Parikan Sejak Lamaran (Pernikahan Adat Cirebon-Indramayu)

Prosesi panjang dalam pernikahan, bagi masyarakat pantai utara Cirebon-Indramayu, penuh dengan sastra lisan. Mulai dari lamaran hingga selamatan pernikahan, sastra lisan – semacam pribahasa, parikan, dan wangsalan – ikut menjadi bumbu penyedap. Sastra lisan menjadi tata krama yang dianggap memiliki budi pekerti (etika) dan keindahan berbahasa (estetika). Di situ, terdapat nilai keagungan sekaligus keakraban, terdapat pula nilai kewibawaan sekaligus guyonan.

Bahkan, bagi para perempuan, saat menginjak usia gadis pun, nasihat berupa pribahasa, sudah banyak dilontarkan orang tua, seperti “Aja ndodok ning lawang, kane ane wong nari balik maning (Jangan duduk di tengah pintu, nanti kalau ada orang melamar, bisa balik lagi)”. Dalam memilih calon, hendaknya melihat bibit, bebet, bobot (keturunan, watak, mutu). Akan tetapi dalam memilih juga jangan terlalu selektif, jangan terlalu banyak pertimbangan karena – bisa-bisa – palang-pilih boleng (terlalu selektif memilih, tetapi yang terpilih justru yang jelek).

Prosesi panjang menuju pernikahan biasanya dimulai dari lamaran. Di beberapa desa, hingga kini, sastra lisan masih digunakan untuk menyampaikan maksud dan jawaban dari lamaran. Pihak keluarga perempuan biasanya akan bertanya kepada tamunya dengan wangsalan seperti. “Janur gunung wohe ning aren”. Maksudnya adalah kadingaren (tumben) dating ke sini. Pihak keluarga laki-laki, sebagai tamu yang bertandang ke rumah keluarga perempuan akan menjawab dengan kalimat wangsala seperti ini, “Pring apus tinejet miring”. Secara makna, mengandung arti keutus (terutus, utusan) untuk melamar.

Tanya-jawab, sahut-menyahut, bahkan humor senantiasa mengiringi. Misalnya, karena sudah diutus untuk menuju rumah perempuan,biarpun jauh, tetap griya alit pesolatan, yang artinya tek jujug (saya dating). Hal itu juga berkaitan dengan si lelaki yang mersa sudah kayu malang seneba margi atau krentege ning ati (berdesir dalam Hati) akan kecocokan. Oleh karena itu, utusan tersebut meminta kepada si perempuan supaya dengdeng gedang yang diartikan waleh (jawaban) saja lamaran tersebut.

Secara psikologis, biasanya perempuan tidak bisa secara lugas menjawab. Oleh karena itu, utusan akan mengulang dengan kalimat, “Udud cendek pambuangan”, maksudnya teges (tegas) saja dengan jawaban. Akhirnya, prempuan pun malu-malu menjawab melalui mulut orang lain, “Klabang bunder seneba pager”, atau mangga (silahkan). Keluarga perempuan pun meneruskan dengan, “Gagak abang lurik guleune” atau ulungaken (kami serahkan) anak kami kepada keluaraga laki-laki.

Prosesi lamaran pun agaknya sudah mencapai sasaran. Tak pelak, penentuan tanggal pernikahan segera dilakukan dengan prinsip seperti parikan, “Aja kakehan randang-runding, waktu kari sending (Jangan terlalu banyak berunding sebab waktu tinggal sedikit)”. Biasanya, wantu yang banyak dicari adalah seusai paenn padi sebaba biaya dan waktu akan mudah tersedia.

Kesepakatan tersebut diakhiri dengan tetali (pengikat) berupa uang atau barang tertentu. Ikatan inilah yang kemudian menuju proses berikutnya, yakni pernikahan. Ada juga yang berupa srasrahan lebih lengkap. Bagi masyarakat pantura Cirebon-Indramayu, tampaknya kekentalan adat keraton tidak begitu melekat sehingga tak tampak adanya prosesi semacam midodareni atapun perempuan yang dipingit menjelang hari pernikahan.

Hajat pernikahan sering dihangatkan acara hiburan berupa tarling atau tontonan lainya. Namun, lebih banyak yang memilih tanpa hiburan. Selama hari-hari menuju hari pernikahan, calon pengantin biasanya banyak mendapat wejangan dari orang tua ataupun sesepuh dengan kekhasan sastra lisan, seperti wangsalan “Duren dawa, geledug muni ketiga (ari wis dadi laki minangka dadi guru kula)”, maksudanya bahwa meski bukan berasal dari sanak-saudara, ketika sudah menjadi suami dianggap sebagai “guru” bagi seorang istri.

Perihal kehidupan bermasyarakat, nasihat berupa pribasa seperti ini, “Dikethok dlawa, disambung cindhek (dipototng menjadi panjang disambung menjadi pendek)”. Artinya, jika sering bersedekah (harta dipotong) justru rezeki akan mengalir (menjadi panjang). Akan tetapi, jika pelit (harta tidak dipotong), justru akan sebaliknya (pendek). Nasihat lain seperti, “Tan ucul tali wandha (Jangan lepas dari adat, aturan, dan agama).

Selamatan pernikahan yang dihadiri teman dan handai tolan tampaknya bukan lagi ajang silaturahmi antar keluarga sekaligus “pengumuman” menikahnya dua insan manusia. Adat perkawinan menjadi rangkaian sistem kapitalisme, dengan adanya sistem buwungan (arisan). Undangnan hasurs memabwa “a,mplop” dan identitas “amplop” itu akan ditulis dalam buku besar. Kelak, besaran di dalam “amplop” itu wajib dikembalikan ketika di pemberi menikah(kan). Di desa-desa tertentu di Indramayu, “amplop” itu bukan sekadar uang Rp 20.000 atau Rp 100.000 melainkan sudah berwujud beras atau padi dalam jumlah berton-ton.

“Amplop” pada ritus hajatan adalah mitos baru yang kemudian takut untuk dihindari meskipun tak logis. Seakan-akan memasuki post-mod-ernism yang kembali abai terhadap mitos dan metafisika yang selama zaman modern selalu dihindari. Hajatan juga menjadi ajang mendapatkan modal (capital) yang kelak hasil dari buwuhan itu bisa untuk membayar biaya hajatan, hiburan, serta modal untuk usaha membeli sawah atau perahu. Tragisnya, tak semua orang bisa mengelola modal ini. Ketika musim hajatan tiba, dia benar-benar repot untuk membayar utang buwuhan.

Agaknya, pengantin pun tak peduli, seperti kata Abdul Adjib di dalam salah satu lagunya, Penganten baru, pda setuju/pengaten baru, turu sampe seminggu…

Sumber: Supali Kasim, penulis, pemerhati budaya Pantura/*Pikiran Rakyat**

Pernikahan Adat Bekasi, Dipengaruhi oleh Adat Betawi

Bekasi Selatan mengunakan budaya Sunda, Utara menggunakan Budaya Betawi, sedangkan di Tengah Netral.

Tahap Pertikahan Adat Betawi
- Nedelengin:
Adat ini sudah tidak lazim dilakukan.
Dulu, di daerah tertentu ada kebiaasn menggantungkan sepasang ikan bandeng di depan rumah seorang gadis yang ditaksir. Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh mak comblang atas permintaan orang tua pemuda. Setelah itu mak comblang mengunjungi rumah si gadis, dan setelah melalui obrolan dengan orang tua si gadis, mak comblang kemudian memberikan uang sembe kepada di gadis. Setelah ada kecocokan, mak comblang lalu menjadi juru bicara penentuan waktu dan barang yang akan dibawa untuk melamar.

- Ngelamar:
Pihak orang tua pria menyatakan permintaan resmi pada pihak wanita, yang ditindaklanjuti dengan pemberian jawaban langsung dari pihak wanita. Acara ini biasa dilakukan pada hari Rabu.
Salah satu prasyarat untuk menikah di antaranya calon pengantin wanita harus sudah tamat membaca Alquran.
Bahan-bahan yang dipersiapkan: Sirih lamaran, Pisang raja, Roti tawar, Hadiah pelengkah.
Utusan yang melamar terdiri atar: mak cmblang, dua orang wakil keluarga ibu, dan dua orang wakil keluarga bapak.

- Bawa tanda putus:
Acara yang melambangkan jika calon wanita sudah terikat dan tidak boleh diganggu oleh pihak lain. Dilaksanakan pada hari Rabu seminggu setelah acara ngelamar.
Pada acara ini juga dibicarakan hal-hal seperti mahar yang diminta, uang yang diperlukan untuk resepsi, perangkat pakaian, pelangkah, dan berbagai hal lainnya.

- Pra-akan nikah,
Terdiri atas: masa dipiare/dipelihara oleh tukang rias, siraman, tangas tau mandi uap rempah-rempah, ngerik dan memereahkan kaukau kaki dan tangan dengan pacar.

- Akad nikah:
Mempelai pria dan keluarga mendatangi rumah mempelai wanita menggunakan andong atau delman hias. Setelah seserahan dan akad nikah selesai, pengantin pria membuka cadar pengantin wanita dan acara kebesaran dimulai. Tarian kembang lalu dipersebahkan untuk menghibur kedua pengantin.

Barang bawaan: sirih nanas lamaran, Sirih nanas hiasan, Mas kawin, Miniatur masjid yang berisi uang belanja, Sepayang roti buaya (untuk menghormati sepasang buaya putih penunggu sungai – kehadirannya kental dalam tradisi masyarakat Melayu Betawi), Kotak berornamen tempat sayur dan telur asin, Jung atau perahu Cina (melambangkan bahtera rumah tangga), Hadiah pelengkap, Kue pengantin, Kekudang/kudanghan atau barang favorit yang disukai calon penganitn wanita dari kecil hingga dewasa (kudangan juga bisa beruda suatu barang yang dijanjikan oleh orang tua wanita saat ia masih kecil, jika kelak ia mendapatkan jodoh).

Pakaian:
Penantin Wanita: Baju kurung dengan selendang sarung songket. Kepala mempelaai wanita dihiasi sanggul Sawi, kemang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepsang burung hong.
Pengantin pria: jas rebet, kain sarung plakat, hem jas, serta kopiah. Saat resepsi pengantin pria mengenakan jubah arab/baju gamis.

- Acara negor:
Setelah akad nikah, pengantin pria nginap di rumah pengantin wanita selama beberapa hari, namun belum diperkenalkan berhubungan suami-istri.
Pengantin wanita akan bersikap jual mahal dan pengantin pria akan merayu dengan mengucapkan kata-kata indah dan memberikan uang tegor (diselipkan di bawah taplak meja atau tatakan gelas)

- Pulang tige ari:
Setelah bermalam beberapa hari di rumah pengantin wanita, orang tua pengan pria gembira anaknya mendapatkan istri yang dapat menjaga kesuciaanya. Kelaurga pihak pria lalu mengrimkan bahan-bahan pembaut lakes penganten kepada keluarga wanita.

Sumber: Pikiran Rakyat

Pernikahan Adat Tangerang

Pernikahan Adat Tangerang yang Dipengaruhi Budaya Banten

- Ngolotkeun
Mengirim utusan dari calon pengantin wanita ke pengantin pria.
Berbeda dengan adat lainnya, yang menentukan calon menantu adalah dari pihak wanita.

- Seserahan
Kedua keluarga pengantin memberikan makan dan pakaian sebagai bekal pengantin dalam kehidupan berkeluarga. Biasanya acara dilaskanakan pada malam hari setelah akad nikah.
Barang yang diberikan: pakaian, tebu wulung, seikat padi, sirih dan pinang dengan tangkainya.
Pengantin wanita menjemput pengantin pria dirumahnya dengan membawa seserahan, kemudian diiringi rombongan kedua pengantin kembali ke rumah pengantin wanita.

- Buka pintu
Upacara buka pintu yang melambangkan penerimaan pihak pengantin wanita terhadap pengantin pria.
Pengantin wanita masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, sementara keluarga pria mendendangkan lagu terlebih dahulu, baisanya terdri atas kolum, bayti, raubi, dan sebagainya.

- Huap lingkung
Pengantin disuapi oleh sesepuh dengan nasi punar
Upacara dilaksanakan di depan rumah dan kedua pengantin duduk menggunakan alas tikar.

- Ngeroncong
Kedua pengantin menerima uang receh yang diberikan oleh seluruh keluarga dan undangan.
Kedua pengantin duduk di kursi yang dialasi oleh kain batik baru. Seluruh keluarga bergantian menyalami pengantin dan memberikan uang receh ke tempat yang disediakan.

Sumber: Pikiran Rakyat

Pernikahan Adat Cirebonan/Pantura

Tahap Pernikahan Adat Cirebon

- Njegog atau tetail (meminang)
Utusan pria datang ke rumah orang tua wanita untuk menyampaikan niatnya meminang anak mereka.

- Seserahan
Orang tua wanita menerima kedatangan utusan pihak pria yang disertai rombongan pembawa seserahan.
Seserahan yang diberikan buah-buahan, umbi-umbian, sayur-sayuran, mas kawin berupa perhiasan dan uang tunai.

- Siram tawandari
Orang tua dan sesepuh calon pengantin bergantian menyirami kedua calon. Bila calon pengantin merupakan keturunan dari keraton kecirebonan, sebelum pernikahan mereka akan melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur raja Cirebon untuk meminta restu.

Colon mengantin menggunakan sarung batik khas cirebon bernama kain wadasan berwarna hiaju (melambangkan keseburan).
Bendrong sirat: air bekas siraman pengantin dipercikkan pda anak gadis atau jejaka yang hadir di cara ini.

- Parasan
Juru rias membuang rambut halus (ngerik). Acara ini disaksikan oleh orang tua dan kerabat.
Diiringi musik karawitan moblong yang artinya murub mencur bagaikan bulan purnama.

- Tenteng pengantin
Pihak pengantin wanita mengirimkan utusan untuk menjemput pengantin pria, lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Orang tua pengantin pria dilarang menyaksikan prosesi akad nikah.
Pada waktu ijab Kabul calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu penganitn wanita, menandakan pria tersebut menjadi menantunya.

- Salam temon
Prosesi injak telur. Bila penganitn berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng, atau membawa upeti berupa barang/harta yang cukup lengkap.

Kulit telur melambangkan wadah/tempat. Putih adalah suci atau pengabdian seorang istri. Kuning adalang lambing keagungan.

- Sawer
Penaburan uang receh yang dicampur dengan beras kuning (tanda agar kedua pengantin diberikan limpahan rezeki)

- Pugpugan Tawur
Kepala pengantin ditaburi oleh pugpugan yang terbuat dari welit (ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk.
Simbol agar pernikahan berjalan awet bagaikan welit yang terikat sampai lapuk.

- Adep-adep sekul
Makan nasi ketan kuning yang berbentuk bulatan kecil sebanyak 13 butir. Masing-masing orang tua pengantin menyuapi sebanyak 4 butir. Pengantin saling menyuapi senyak 4 butir, dan satu butir lagi diperebutkan.
Melambangkan kerukunan dalam rumah tangga, terhadap pasangannya, orang tua, serta mertua.

- Sungkem pada orang tua
Kedua pengantin melakukan sungkem dengan posisi berjongkok.
Ceriman rasa hormat dan kasih sayang terhadap orang tua. Setelahnya didengdangkan Kidung Kinanti sebagai harapa pengantin dapat sela, sekata, sehidup, semati.

- Pemberian restu, upacan selamat atau hiburan
Ada acara hiburan berupa tari-tarian seperti tari topeng, tari bedoyo, dan tari tayub.

Sumber: Pikiran Rakyat