Kantor Pusat Bala Keselamatan

KANTOR Pusat Teritorial Bala Keselamatan berpindah dari Semarang ke Bandung seiring dengan rencana perpindahan ibu kota Pemerintah Hindia Belanda ke Bandung, pada awal 1900-an. Pandangan strategis ini diambil Letnan Kolonel JW de Groot sebagai Komandan Teritorial Bala Keselamatan di Hindia Belanda agar komunikasi dengan instansi pemerintah berjalan lebih baik, demi peningkatan pelayanan sosial.

Kantor Pusat Bala Keselamatan
Illistrasi: Fachri/*PR*
Arsitek : FW Brinkman en Voorhoeve (Belanda)
Tahun berdiri : 1917
Gaya bangunan : art deco geometrik
Alamat : Jalan Jawa No. 20 Kota Bandung
Bala Keselamatan (Inggris: Salvation Army) yang dikenal sebagai pelayanan sosial Gereja Protestan ini didirikan oleh William Booth dan berpusat di London. Untuk mengenang jasanya, saat itu Letnan Kolonel de Groot mengusahakan membuat bangunan di atas sebidang tanah kepada pemerintah di sudut Jalan Sumatera dan Jalan Jawa. Tanggal 24 Agustus 1915, tanah yang merupakan lapangan sepak bola tersebut resmi diberikan pemerintah kepada Bala Keselamatan. Sebagai wujud penghargaan terhadap Milliam Booth, maka di atas tanah itu berdirilah gedung kantor pusat teritorial Bala Keselamatan dan panti asuhan, dengan nama William Booth.

Pada upacara peletakan batu pertamanya, dihadiri oleh Wali Kota Bandung Tuan Coops dan putrinya yang juga meletakkan batu pertama gedung panti asuhan. Dalam buku berjudul “Sejarah Gereja Bala Keselamatan di Indonesia” karangan Letnan Kolonel Melatte M Brouwer, disebutkan bahwa “Pada acara ini ikut dibenamkan bersama batu penjuru sebuah kotak alumunium berisi buku doktrin Bala Keselematan, perintah dan aturan bagi prajurit Bala Keselamatan, undang-undang peperangan, serta strijdkreet dan penderita peperangan.

Pada 24 September 1917, akhirnya peresmian gedung dilaksanakan, tanpa kehadiran Letnan Kolonel JW de Groot yang sudah pindah ke teritori Jepang pada tahun 1916. Gedung ini diresmikan oleh Gubernur Jendral Count John Paul van Linburg Stirum yang membuka pintu kantor pusat teritorial dan istrinya yang membuka pintu panti asuhan anak-anak yang terletak di samping kantor pusat. Pembangunan gedung megah bergaya arsitektur modern fungsional (art deco geometrik) itu menelan dana sebesar 117.022 gulden. Biaya pembangunan berasal dari sumbangan perorangan dan perusahaan seperti Kantor Pusan Bala Keselamatan Internasional, serta para simpatisan di Belanda.

Keadaan berubah saat tentara Jepangt tiba di di Pulau Jawa dan mengambil alih kantor pusat pada 13 Maret 1942 dan memduduki bangunan ini sebagai salah satu markas. Ketegangan berlangsung tidak saja di seluruh Bala Keselamatan daerah-daerah di Indonesia. Akhirnya, setelah kemerdekaan Indonesia pada September 1945, Kantor Pusat Bala Keselamatan kembali dalam keadaan porak poranda. Dua tahun kemudian, proses pemulihan bangunan ini rampung. Pada 31 Mei 1947, kantor pusat teritorial dan panti asuhan berfungsi seperti semula.

Tahun 1999-2000 kantor ini direnovasi dengan menambah bangunan sayap antara kantor pusat dengan panti asuhan di bawah persetujuan Pemerintah Kota Bandung. Kini, gedung pusaka yang berada di kawasan militer tersebut membawahi korps yang tersebar di 20 provinsi dan terus berkominten dalam memberikan pelayanan sosial gereja di seluruh lapisan umat di dunia.

Sumber: Putri Khaira Ansuri/Periset, *Pikiran Rakyat** Minggu, 23 Juni 2013

Balai Perguruan Putri

Van Deventerschool, itulah nama awal dari Balai Perguruan Putri. Sebuah sekolah guru putri atau meisjenormaalschool yang dibangun untuk mengenang jasa Mr. Conrad Theodore van Deventer. Ia adalah orang Belanda, ahli hukum yang memprakarsai politik etis atau politik balas budi Belanda kepada pribumi. Kemunculan politik tersebut memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan di Hindia Belanda dalam wujud berdirinya sekolah-sekolah untuk pribumi. Di Bandung keluarga Van Deventer mendirikan Van Deventerschool, beberapa tahun kemudian van Deventer meninggal. Sekolah itu diresmikan pada 24 Juli 1919 oleh istri Gubernur Jenderal Ny. Gravin van Limburg Stirum Sminia. Saat itu, sekolah guru sangat dibutuhkan. Apalagi, sebelumnya sudah ada Sekolah Keutamaan Istri yang didirikan Raden Dewi Sartika pada 1904 meski dengan sedikit tenaga pengajar.

Balai Perguruan Putri
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi: Jalan Van Deventer No. 14, Kota Bandung
Fungsi: Sekolah (SMK, SMP, TK), Wisma
Pengelola: Yayasan Balai Perguruan Putri
Luas: 1,6 hektare
Lebih dari 20 tahun, Van Deventerschool atau dahulu dikenal pula Van Deventer Vereeniging Vor West Java telah mencetak guru-guru putri. Calon guru putri sekolah itu berasal dari berbagai daerah, karena Van Deventerschool tak ada di semua wilayah Hindia Belanda. Murid-muridnya pun tak terbatas pada kalangan bangsawan saja. Sayangnya, keadaan itu harus berubah saat pendudukan Jepang pada tahun 1942. Van Deventerschool Bandung harus dibubarkan. Sekolah itu lalu dijadikan markas tentara, sedangkan murid-muridnya terpaksa diungsikan ke Sekolah Guru Putri Yogyakarta. Van Deventerschool harus pindah ke Belanda. Lepas dari cengkeraman Jepang, bangunan sekolah ini sempat digunakan ITB (Institut Teknologi Bandung) dan STO (Sekolah Tinggi Olahraga). Namun, pada 1952, perwakilan dari Belanda menyerahkan Van Deventerschool, termasuk semua kekayaan, bangunan sekolah dan tanahnya kepada sejumlah alumni dan tokoh pendidikan di Jawa Barat. Atas keputusan bersama, nama sekolah ikut berganti pada 1953, yakni menjadi Balai Perguruan Putri (BPP).

Seiring perkembangannya, tak banyak perubahan yang terjadi pada Balai Perguruan Putri. Bangunan itu masih berfungsi sebagai sekolah hingga sekarang. Hanya saja, terdapat tiga tingkatan pendidikan yang menempati kompleks tersebut, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Taman Kanak-kanak (TK). Siswa sekolah ini awalnya hanya menerima siswa putri menjadi terbuka untuk siswa putra, karena dahulu sempat hanya memiliki sedikit murid. Namun, yang tak mengalami perubahan adalah pemeliharaan kultur Sunda yang selalu diwariskan kepada siswanya.

Bangunan sekolah itu sebagian besar masih menggunakan bangunan lama peninggalan Belanda. Namun, ada beberapa bangunan baru dan bangunan lama direnovasi. Khusus untuk bangunan lama, tak ada sedikit pun yang diubah secara drastis. Termasuk dalam kompleks tersebut terdapat wisma yang sekarang diberi nama Wisma Van Deventer. Wisma ini terbilang baru meskipun bangunannya menggunakan bangunan lama. Wisma ini diresmikan 11 Desember 2006 oleh istri Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat saat itu. Wisma berkapasitas 150 tamu itu disewakan kepada masyarakat, lalu hasil sewanya digunakan untuk menunjang operasional sekolah

Sumber: Kania DN/Periset *Pikiran Rakyat** Minggu, 29 Juli 2013

Alun-alun Kota Bandung

Alun-alun Kota Bandung yang sekarang terlihat lebih banyak berfungsi sebagai halaman masjid Raya saja, meskipun fungsi ruang terbuka bagi masyarakat masih dipertahankan. Akan tetapi, nyaris tak ada yang dengan sengaja datang berekreasi ke lapangan di pusat kota itu. salah satu penyebabnya adalah jarang sekali ada kegiatan dan acara yang dapat membuat warga Bandung berbondong-bondong mengunjungi alun-alun. Kebanyakan orang yang datang hanya memanfaatkan alun-alun sebagai tempat melepas lelah dengan duduk-duduk di kursi batu yang tersebar di setiap sudut. Padahal, Alun-alun Kota Bandung tempo dulu merupakan pusat keramaian tempat berbagai perhelatan diadakan.

Alun-alun Kota Bandung
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi : Diapit Jalan Asia Afrika, Jalan Dalem Kaum, dan jalan Alun-alun Timur
Dibangun : Tahun 1811
Luas: 22.700 m
Tahun 1925, pertandingan memanah yang diikuti peserta dari berbagai daerah mampu menyedot warga Bandung datang ke sana. Mereka berdesak-desak hingga meluber ke badan Jalan Groteposweg (sekarang Jalan Asia Afrika). Setiap malam, Alun-alun Bandung layaknya pasar dadakan. Ronggeng dan pemutaran film menjadi hiburan favorit warga kota sambil menyantap kacang goreng dan serabi yang banyak dijajakan di sana. Belum lagi pertandingan sepak bola yang kerap digelar pada rentang tahun 1900-1905 dan 1914-1921. Penontonnya pun tak sedikit hingga mengitari lapangan yang dibatasi pagar dari kayu setinggi pinggang.

Ketika kuda masih menjadi alat transportasi utama. Alun-alun Kota Bandung sempat menjadi terminal tempat delman-delman pengantar surat parkir di pinggir lapangan dekat Gedung Pos Besar Bandung. Ada pula Order de Boom atau tukang cukur yang setiap harinya berpraktik di sana. Pada 1 Mei 1909, di lapangan alun-alun ditanam pohon betepatan dengan kelahiran Putri Juliana, anak dari Ratu Wilhelmina. Pohon itu pun diberi nama Juliana Boom. Sayang pohon itu sekarang sudah tidak ada. Pohonnya tumbang tahun 1942. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Alun-alun Bandung yang juga seusia dengan kotanya dirancang layaknya pusat kota tradisional di Pulau Jawa. Kompleksnya terdiri atas masjid raya di sebelah barat, pendopo, serta penjara yang ada di Jalan Banceuy. Ketiga bangunan tersebut tidak kebetulan dibangun di sekitar alun-alun, tetapi mencerminkan tiga kekuasaan atau asas trias politika di suatu negara. Pendopo mencerminkan eksekutif, penjara melambangkan kekuatan yudikatif, dan mesjid disebut juga sebagai representasi dari legislatif tempat masyarakat bermusyawarah. Pada masa lalu, Alun-alun Bandung juga dipakai warga untuk menyampaikan protes damai. Mereke biasanya mengenakan pakaian putih dan duduk bersama anak istrinya untuk menarik perhatian para pemimpin.

Penataan Alun-alun Bandung sudah sejak dulu dilakukan. Dekade 1950 hingga 1960-an misalnya, berbagai jenis bunga ditanam di sana. Fungsi alun-alun mulai memudar ketika tahun 1980-an lapangan alun-alun sedikit demi sedikit dibuat menjadi halaman mesjid hingga ruas jalan yang memisahkan mesjid dengan lapangan alun-alun menjadi tak ada. Penataan kala itu juga bersamaan dengan pembangunan jembatan beton yang menghubungan sisi barat alun-alun dengan mesjid raya. Pemugaran tahun 2003 lalu semakin mengukuhkan alun-alun sebagai beranda mesjid ditambah pembangunan basement parkir. Kini, lapangan Alun-alun Bandung dihiasi tanaman rindang, pagar setinggi dua meter, tempat duduk, dan kolam air mancur yang jarang menyala.

Sumber: Fitrah/Periset. *Pikiran Rakyat** Minggu, 29 Desember 2013

Situ Cileunca – Pangalengan (Bandung)

PADA masa Pemerintahan Hindia Belanda, Situ Cileunca menjadi salah satu sumber listrik bagi Kota Bandung. Air dari Situ Cileunca dialirkan ke sungai buatan untuk menjadi penggerak turbin tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) utama di Pangalengan. Listrik dari PLTA tersebut disebut-sebut merupakan listrik pertama yang dapat dinikmati oleh penduduk di wilayah ini, termasuk dimanfaatkan para preanger planter (pengusaha perkebunan). Sebelum menjadi situ atau danau buatan, kawasan ini merupakan area hutan belantara milik seorang Belanda bernama Kuhlan. Tahun 1918, area hutan tersebut direncanakan untuk dibangun situ dengan tujuan awal untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga setempat. Pemerintah Hindia Belanda pun kemudian membangun situ tersebut pada tahun berikutnya, yakni tahun 1919.

Situ Cileunca – Pangalengan (Bandung)
Illistrasi: Fian Afandi/*PR*
Lokasi : Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung (45 km sebelah Kota Bandung
Ketinggian : 1.550 mdpi
Luas: 180 hektare
Kedalaman: 17 meter
Suhu: 15-25° Celsius
Sumber Air: Situ Cipanunjang, Sungai Cilaki Beet, dan Sungai Cibuni Ayu
Untuk membangun situ, aliran sungai yang ada di sekitar situ dibendung. Konon, pembangunan situ tersebut tidak menggunakan cangkul melainkan alu atau halu dalam bahasa Sunda. Tak sedikit orang yang dikerahkan untuk mengerjakan pembuatan situ tersebut. Atas perintah Hindia Belanda, proyek ini pun dikomandoi dua orang terpercaya, yaitu juragan Arya dan Mahesti. Hingga tujuh tahun lamanya, tepatnya pada tahun 1926, Situ Cileunca baru benar-benar rampung. Situ yang terletak diantara Desa Warnasari dan Desa Pulosari ini pun membentuk bendungan hingga akhirnya diberi nama Dam Pulo.

Tahun 1930, pemerintah mendirikan bangunan pengontrol ketinggian air di Situ Cileunca. Air dari bangunan pengontrol ini kemudian mengalir ke sungai buatan Palayangan, lalu menjadi salah satu sumber air yang digunakan untuk menggerakkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Plengan, Lamajan, dan Cikondang. Dari ke tiga PLTA ini dihasilkan daya listrik sekitar 5,5 MW. Tak hanya menjadi sumber listrik, kapasitas situ yang mencapai 9,89 juta meter kubik pun menjadi cadangan sumber air bersih bagi Kota Bandung.

Dari segi panorama, Situ Cileunca memiliki keindahan yang tak kalah menarik untuk dijadikan objek wisata.hamparan perkebunan teh dan pegunungan yang memanjakan mata menjadai latar belakang Situ Cileunca. Situ Cileunca dikelilingi dua perkebunan teh Malabar dan tiga gunung yang berdiri kokoh, yaitu Gunung Windu, Gunung Malabar, dan Gunung Wayang. Untuk lebih menikmati pemandangan Situ Cileunca, pengunjung dapat menyewa perahu mengelilingi situ. Pengunjung pun dapat menyambangi kebun stroberi dan arbei yang berada di seberang Situ Cileunca. Bagi menyuka wisata menantang, tersedia olahraga arung jeram yang mengarungi Sungai Palayangan sepanjang 7 kilometer atau permainan ekstrem lainnya seperti flying fox. jika hanya ingin bersantai, area berkemah dekat danau pun dapat menjadi pilihan pengunjung.

Sumber: Kania DN/*Pikiran Rakyat** Minggu, 2 Desember 2012

Gedung Paguyuban Pasundan

PERAN Paguyuban Pasundan dalam sejarah Bandung dan Jawa Barat tak bisa dipisahkan. Saat dunia mengalami krisis ekonomi, atau melaise, pada periode 1930-1940, kota Bandung mampu melakukan pembangunan besar-besaran. Mulai dari sekolah, pasar, bank, hingga gerakan kaum perempuan mampu didirikan di kota ini dengan bantuan Paguyuban Pasundan yang saat itu dipimpin oleh Oto Iskandar Di Nata.

Menjadi organisasi yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat, Paguyuban Pasundan dibentuk di Jakarta (ketika itu Batavia) pada 1913. Siswa-siswa STOVIA yang berasal dari etnis Sunda sering berkumpul setiap Sabtu malam dan bercakap-cakap dalam bahasa Sunda. Lewat pertemuan itu meraka merasakan perlunya ada persatuan di antara orang-orang Sunda dan adanya satu wadah pergerakan di bidang Sosial-budaya. Saat Volksraad (Dewan Parlemen) berdiri, Paguyuban Pasundan kemudian memperlebar gerakannya di ranah politik.

Gedung Paguyuban Pasundan
Illistrasi: Parmaali/*PR*
Lokasi : Jalan Sumatera No. 41, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung
Berdiri : 1905 – 1915
Luas tanah: 1.630 M2
Luas banguan: 460 M2
Perkembangan sejarah: Didirikan sebagai rumah tinggal militer lalu pada 1939 dijadikan kantor pusat Paguyuban Pasundan
Selama 25 tahun semenjak Paguyuban Pasundan berdiri, masih berkantor di Batavia. Namun pada 1939, pada masa kepemimpinan Oto Iskandar Di nata, semua aktivitas pengurus pusat lalu dipindahkan ke Bandung, tepatnya ke Jalan Sumatera No. 41. Di Bandung, Paguyuban Pasundan lalu menempati sebuah gedung yang pada awal abad ke-19 didirikan sebagai rumah tinggal militer. Pada era tersebut, Bandung memang tengah dipersiapkan sebagai pusat militer Pemerintah Hindia-belanda. Banyak daerah yang dibangun untuk dijadikan kawasan militer, termasuk di antaranya area Archipelwijk atau area yang nama-nama jalanya menggunakan nama pulau-pulau di Nusantara.

Gaya arsitektur yang lazim dipilih untuk gedung-gedung militer itu adalah gaya neo-klasik. Dengan simetri, garis-garis bersih, dan penampilan rapi (uncluttered), Pemerintah Hindia-Belanda seakan ingin menunjukkan kedisiplinan dan kekokohan militernya melalui rancang bangunan. Karena itu, tak heran jika Gedung Paguyuban Pasundan pun ikut menggunakan gaya arsitektur ini. Namun, di gedung Paguyuban Pasundan gaya neo-klasikal tersebut dipadukan juga dengan gaya klasik-romantik. Hal ini terlihat dari ornamen atap jendela yang berbentuk melengkung, yang jadi ciri khas gaya klasik-romantik. Kedua desain ini dapat ditemui di bangunan-bangunan yang didirikan pada awal abad ke-19 seperti Kantor Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi di Jalan Kalimantan Kota Bandung. Hampir berusia 100 tahun, saat ini gedung masih berdiri tegak bak saksi seluruh aktivitas Paguyuban Pasundan, yang usianya juga sudah mencapai satu abad.

Sumber: Vetriciawizach/Periset *Pikiran Rakyat** Minggu, 9 Desember 2012