• rss

Apa Kabar Gunung Papandayan?

arsip kula|Rabu, 22 Desember 2010|12.50
fb tweet g+
papandayan
Kami bersama teman-teman "Sandekala" telah 3 kali menginjakkan kaki di Gunung Papandayan (Kabupaten Garut). Dua kali beberapa tahun sebelum gunung itu meletus di tahun 2002, dan terakhir tahun 2006.

Sudah lama memang. Tapi sampai sekarang masih teringat perbedaan kondisi alamnya setelah bencana letusan. Misalnya di Pondok Salada (Saladah). Sebelum terjadi letusan, tempat ini sangat tepat untuk bermalam. Disamping cukup ketersediaan air, juga hamparan Eidelweis jadi bagian keindahan Gunung Papandayan.

Di bawah ini ada sedikit catatan karakteristik Gunung Papandayan , yang diambil dari beberapa sumber:

Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.640 di atas permukaan laut mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.(Wikipedia)

Gunung Papandayan gunung api tipe A, yaitu gunung api yang pernah meletus setelah tahun 1600. erupsi yang pernah terjadi di gunung Papandayan tercatat pada tahun 1772 hingga menelan 2.951 korban jiwa dan menghancurkan sekitar 40 perkampungan di sekitarnya.

Morfologi tubuh termasuk Kawah Brungbung, Kawah Manuk, Kawah Baru, dan Lembah Ruslan, dibentuk oleh aliran lava dan endapan aliran piroklstik.

Muka gunung mengarah ke timur laut mulai dari Kawah Mas hingga Kampung Cibalong dan Cibodas sebagai hasil pembentukan endapan guguran puing (debris avalance deposit). Aliran lava mengarah ke Cibeureumgede dan Ciparungpuk yang menjadi aliran menuju Sungai Cimanuk.

Karakter letusan Papandayan berupa tipe freatik. Yaitu, ketika ledakan didorong oleh uap dari tanah dingin atau air permukaan yang bersentuhan dengan batuan panas atau magma. Kegiatan freatik umumnya lemah, tetapi cukup eksplosif pada beberapa kasus. (Ririn N.F,/”PR”)

Tahun ini (2010) tepatnya di bulan November, Gunung Papandayan dikabarkan aktivitas kegempaannya di atas normal. Mudah-mudahan tidak terjadi bencana yang lebih parah, sehingga menjadi tempat yang masih diminati para pencinta alam.

(--Tulisan ini untuk mengenang sahabat kami Dadan “Kardun” Rosdiana (Alm), "RIMBAWAN UNWIM". Dari dialah kami mengenal dan menjadi lebih dekat dengan alam. Selamat Jalan Sahabat--)