• rss

Keyakinan Purajatnika Mulai Diakui Kebenarannya :: Situs Gunung Padang

archive69|Jumat, 06 Juli 2012|15 komentar
facebook twitter google+
Keyakinan Purajatnika Mulai Diakui Kebenarannya Situs Gunung Padang
Doc. Pon Purajatnika
sketsa punden berundak situs Gunung Padang
Artikel Terkait:
KETIKA Pon Purajatnika merilis sketsa punden berundak raksasa di Gunung Padang, tidak semua orang menerimanya dengan tangan terbuka. Banyak juga orang yang meragukan, bahkan mencibir karya Pon mengenai situs megalit tersebut. Namun, itu tidak sedikit pun membuatnya mundur dari keyakinannya terhadap Gunung Padang. Bahwa ribuan atau puluhan ribu tahun lalu, ada sebuah peradaban maju di Jawa Barat, yang memungkinkan manusia-manusia membuat bangunan luar biasa itu.

Sebagai seorang arsitek, sudah menjadi dorongan alamiah bagi Pon untuk mencari tahu sejarah arsitektur negerinya sendiri. terlebih, pada catatan sejarah masa pra sejarah dan megalitik di Indonesia, Jawa Barat sama sekali tidak pernah disebut-sebut. Padahal, Pon menyakini bahwa Jawa Barat pernah menjadi pusat peradaban. Buktinya sangat banyak, bahkan beberapa tidak pernah digali, hanya perlu didatangi dan diteliti.

Ketika menjabat sebagai Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat pada 2008 lalu, Pon mulai melakukan penjelajahan ke berbagai daerah di Jawa Barat. Dia mengunjungi kampung-kampung adat, lalu mendatangi situs percandian, serta berbagai peninggalan zaman megalitikum di Jawa Barat. Namun, dari semua tempat yang pernah dikunjunginya, tidak ada situs yang sebesar dan semegah punden berundak di Gunung Padang.

Pon mengaku terperangah ketika pertama kali menjejakkan kaki di Gunung Padang. Betapa tidak, di depannya terhampar sebuah bangungan batu yang luas, dengan konstruksi yang sangat kuat. Siapa pun pembuatnya telah memikirkan desain dan teknik pembangunan punden berundak itu. Mereka membuat penguat struktur tanah terlebih dahulu, lalu membuat fondasi dengan menambahkan lapisan pasir supaya bangunan tahan gempa. Metode yang digunakan memang sederhana, hanya menyusun batu. Namun Pon menegaskan bahwa itu tidak gampang. “ini by design, bukan sekadar asal. Berarti dulu ini ada arsiteknya,” ujarnya.

Terbesar di Asia Tenggara
Berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, Pon lalu menyatakan bahwa situs megalit di Gunung Padang ini yang terbesar di Asia Tenggara. Dalam berbagai forum dia mengatakan yakin kalau situs Gunung Padang tidak berdiri sendiri. dia memerlukan infrastruktur pendukung di sekitarnya. Sebagai tempat ritual, punden berundak paling tidak dilengkapi oleh rumah penunggu/pengelola, pemelihara, serta berdekatan dengan perkampungan dan pusat keramaian.

Pada 2009, Pon kemudian bekerja bersama arkeolog untuk menemukan lebih banyak fakta tentang Gunung Padang. Mereka menyurvei kawasan Gunung Padang meter demi meter. Pada November tahun lalu, Pon bersama tim yang lain membuka kawasan timur dam melakukan eskavasi. Ternyata betul saja dugaannya, ada terasering berlapis batu yang disusun manusia di sana. Penahan tanah ini terus berlanjut hingga ke sungai Cikuta.

Berdasarkan observasi yang panjang serta data kontur kawasan dan cerita masyarakat sekitar, Pon mulai menggambar sketsa perkiraan banguan awal situs megalit Gunung Padang pada Agustus 2011. Dari segala fakta dan data yang yang dikumpulkan di lapangan itu, Pon menyakini bahwa situs Gunung Padang bukan hanya punden berundak yang ada di puncak gunung saja. Menurut dia, punden berundak itu meliputi seluruh bagian gunung.

Dia menyebutnya punden berundak skala dewa. Anak tangga menuju puncak punden berundak itu sengaja tidak manusiawi, karena tidak sembarang orang dapat mencapai puncak tersebut. Diperlukan perjuangan bagi siapa pun yang ingin mencapai puncak punden berundak. Jika dibersihkan dari semak-semak yang menutupinya, Pon mengatakan bahwa punden berundak di Gunung Padang akan tampak seperti situs peninggalan suku Inca Macupicu di Peru. Bedanya, bentuk batuan yang digunakan di Gunung Padang berukuran lebih besar.

“Sketsa ini saya buat dengan sangat hati-hati, karena ini terkait dengan sejarah. Perlu waktu lama bagi saya untuk membuat sketsa ini, dengan melakukan berbagai observasi, wawancara, dan penelitian. Akhirnya saya bisa menggambar sketsa ini secara utuh pada akhir 2011,” ungkapnya.

Menurut Pon, informasi mengenai seni arsitektur zaman dahulu sangat penting diketahui oleh artisetktur masa kini, sebagai bekal ketika akan membuat bangunan. Dalam gaya arsitektur kuno ini tersimpan pelajaran-pelajaran berharga mengenai kesesuaian bangunan dengan kondisi alam. Lihat saja, situs-situs yang dibangun ribuan tahun lalu itu masih berdiri kokoh sampai sekarang.

Manusia zaman dahulu cukup pintar untuk memperhitungkan alam Jawa Barat yang bergunung-gunung, berlembah, dan memliki sungai. Ini seharusnya menjadi bahan utama untuk dikaji dalam menentukan keputusan desain, mulai dari tata ruang sampai spektrum.

Sumber: Lia Marlia/”Pikiran Rakyat”

15 komentar:

Tampilkan/Sembunyikan
kampungku corolla mengatakan...

di palih mana kang gunung ieu teh,?asa nenbe ngadangu,sanes anu di garut?

Wisata Murah mengatakan...

wow sangat menarik sekali sob. terus terang, ane sediri baru tahu nama situs gunung padang dari posting sobat ini.
walau masih harus di uji kebaradaannya, tapi penemuan ini wajib di dukung dan disyukuri. setidaknya kita masih dapat warisan budaya yang sangat membanggakan

Darmawan Saputra mengatakan...

jadi ingin melihat dengan langsung :D
terima kasih ya.

mantap

pranamoelya mengatakan...

ternyata bangsa kita benar2 kaya yah... sayang pemimpin2 kita lalai, hingga banyak aset wisata yg mestinya bisa di jadikan "ladang" bagi masyarakat setempat, tapi jatuh ke tangan pengusaha. akhirnya pribumi hanya cukup jadi tukang ojek atau supir taksi. maap oot :D

zigzoor mengatakan...

inilah besarnya negara kita,kaya dengan cagar alamnya,budayanya dan masih banyak lagi yang masih belum terkeuak lainnya.
hatur nuhuin infona kang.

Isnan Nugrah Lastiko mengatakan...

blognya keren , style templatenya bikin iri :P

salam sukses dan persahabatan :D

karyakuumy mengatakan...

Wooww keren terbesar di asia tenggara..

Yusup Laskar mengatakan...

kirain di padang,, ternyata di lemah cai kuring gening,,,,

Eva Wangi mengatakan...

Mugia enggal tiasa terkuak Kang,bih teu janten perdebatan.Salaku urang Jawa Barat,abdi ngadukung penuh sareng ngaraos bingah ku ayana punden berundak di Gunung Padang.Abdi yakin sapertos yakina Purajatnika.
Nuhun tos berbagi,wilujeng weekend.

Didin Supriatna ( Tukang Potret ) mengatakan...

blognya bagus,, tamplatenya simple.. salam kenal.. blognya saya follow#273,, jika berkenan boleh follbek,, ga jg gpp.. salam persahabatan..

Desa Cilembu mengatakan...

punten kang nembe tiasa mampir kadieu, malahan belom sempet baca tuntas, hampuranya' kang.
salam sehat wae lah.
kin iraha deui mampir deui kadiue.

Kang Asep mengatakan...

yah ternyata di daerah urang aya peradaban tinggi di zaman nya ,,, teu nyangka ,,,

wilujeng ngeblog

pepep mengatakan...

@kampungku corolla
Numunkeun wartos aya di wewengkon Cianjur, Kang.

@Wisata Murah
Bener Sobat, semoga terbukti kebenaran, jadi kebanggaan bangsa ini.

@Darmawan Saputra
hehehe.. tinggal direncanakan datang ke Gunung padang ajah Gan.

@pranamoelya
Betul Kang, mungkin itu juga jadi salah satu kekhawatiran para budayawan Sunda. Tidak memberi arti (nilai tambah) buat penduduk pribumi, yang ada malah pengrusakan alam, dan tatanan sosial

@zigzoor
Mudah2an penelitian ini sampai kelar dan bisa menjelaskan peninggalan zaman dulu ini

@Isnan Nugrah Lastiko
Salam sukses dan persahabatan juga Sobat.

@karyakuumy
Semoga sesuai dengan perkiraan awal, jadi kebanggaan kita semua.

@Yusup Laskar
Hehehe .. kalo denger dari namanya kaya aya di pentas sana ya Kang.

7 Juli 2012 20:55

@Eva Wangi
Leres pisan, abdi ge ngaraos reueus aya situs nu diperkirakeun ageung sa aria tenggara ieu.

@Didin Supriatna ( Tukang Potret )
Nuhun Kang, saya berkunjung sekalian molow balik, salam penuh rasa persahabatan juga.

@Desa Cilembu
Teu sawios-sawios Kang, simkuring ge langki OL. Wilujeng wae pami nuju sibuk mah.

@Kang Asep
Muhun Kang

terima kasih sdh pd berkunjung, Salam

karyakuumy mengatakan...

betul sekali bang,, saya stuju dngn kamu.. masyarakat jawa barat pintar.. hehe

Anonim mengatakan...

sepertinya banyak yang tida suka adapeninggalan sejarah yang luar biasa di tatar sunda kalau adanya di jateng di jatim atau bali baru banyak yang setuju dan angkat jempol apalgi ketika di jaman orba sejarah pasundan sengaja ditenggelamkan seperti candi batu jaya dikarawang yang tida pernah diungkap dan candi bojongmenje dikabupaten bandung yang sengaja diruk dijadikan lahan pabrik

Poskan Komentar