• rss

Menguak Kisah di Balik Topeng Jati atau Topeng Menor

archive69|Jumat, 22 Juni 2012|7 komentar
facebook twitter google+
Topeng Menor
Latar belakang keberadaan kesenian topeng tidak terlepas dari sejarah perkembangan Islam di bumi Parahyangan. Kenyataan ini berkaitan dengan fungsi pertunjukan topeng semasa Cirebon dipimpin Sunan Gunung Djati. Saat itu pertunjukan topeng dijadikan alat penyebaran agama Islam,. Nyi Mas Gandasari yang masih keluarga Sunan Gunung Djati telah berperan sebagai penari topeng untuk menaklukan Pangeran Welang dari Karawang agar masuk Islam.

Walaupun topeng Cirebon asal muasalnya dari kebudayaan Hindu Budha pada zaman Majapahit yang membawakan cerita panji, tetapi oleh para penyebar Islam (wali) ke dalam kesenian topeng ini dimasukkan nilai-nilai Islam.

Sebutan Topeng Menor ada kaitanya dengan tradisi di lingkungan para seniman Cirebon. Kebiasaan menyertakan identitas pribadi dibelakang kata topeng adalah kebiasaan yang sangat umum untuk menunjukkan profesi seseorang.

Menor adalah nama lain dari Carini (56), seorang dalang topeng berdarah Cirebon yang tinggal di Dusun Babakan Bandung, Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang. Sebutan Menor diberikan karena ia adalah satu-satunya anak perempuan dari empat bersaudara (Sunaryo, Supendi, dan Komar) buah perkawinan dari Sutawijaya dan Sani.

Keberadaan Topeng Cirebon di Cipunagara pada mulanya berasal dari dua daerah pusat penyebaran topeng, yaitu Cirebon dan Indramayu. Ditahun 1930-an Aki Resa (kakek buyutnya Carini) dipanggil untuk nopeng (menari topeng) oleh Juragan Demang.

Pangga (anaknya Aki Resa) tahun 1940-an menetap di Desa Jati, mewariskan kesenian topeng kepada keturunanya (yaitu Winda, Talim, Aminah, Sutawijaya). Di Desa Jatilah kesenian topeng berkembang hingga dinamai topeng jati dan setelah Carini yang mendapat julukan si Menor menjadi penerus, maka nama topeng Jati pun menjadi topeng Menor.

Seperti tempat asalnya (Cirebon), Topeng Jati mempunyai beberapa topeng dengan karakter masing-masing. Topeng Panji berwarna merah muda dan putih diibaratkan sebagai seorang kesatria dengan karakter yang lemah lembut, lungguh, dan alim.

Topeng Samba berwarna merah muda berambut diibaratkan sebagai kesatria yang memiliki sifat gandang.

Topeng Rumyan diibaratkan sebagai seorang kesatria yang mempunyai karakter pemberani dan gandang.

Topeng Tumenggung atau Punggawa memiliki karakter yang berani sebagai halnya prajurit kerajaan yang siap berperang. Warna topeng biasanya berwarna merah muda dan berkumis.

Topeng Kelana atau Rahwana, berkawakter garang, serakah, dan suka membuat onar. Warna topeng baisanya merah dan berkumis tebal

Topeng Buta mempunyai karakter garang, menakutkan, dan berperilaku jahat. Warna topeng biasanya merah berkumis tebal.

Sumber: Retno HY, Pikiran Rakyat.

7 komentar:

Tampilkan/Sembunyikan
Laras Mays mengatakan...

Satu lagi Seni dari Indonesia yang beragam yang mesti kita lestarikan.
Makasih sudah mengenalkan,jadi tau nieh Kang.
Nice share,happy blogging,wilujeng enjing.

kampungku corolla mengatakan...

sejarah asal muasal kesenian ciri has indonesia dari berbagai suku/ras.memang perlu kita ketahui,karna kalau bukan kita kita yg melestarikannya siapa lagi.
terima kasih infonya,info yang sangat2 bermanfaat.terima kasih kang.

happy blogging

Raihan Marie Ramadhan mengatakan...

Moal hariwang pareumeun obor tentang kesenian dan budaya tatar Sunda selagi ada si ganteng hitam manis,hehe.
Hadeuh tos kangen lami teu pependak,haha geuleuh..,pependak di udara,hehe.
Nuhun infona,wilujeng ngeblog bae,salam baktos ti Papua.

Cilembu thea mengatakan...

ilmu budaya yang patut ketahui generasi penerus nih kang.
sebagai yang terlahir di cirebon, malah ngga tahu ternyata ada topeng menor.
wilujeng sehat

Kang Asep mengatakan...

wajib kita lestarikan agar tak diakui oleh negara lain ,,,
hatur nuhun tos sharing Kang ,,,

wilujeng ngeblog

kontraktor bangunan mengatakan...

menarik tulisannya...makasih udah share ya

interior consultant mengatakan...

menarik postingannya...

Poskan Komentar