Elang Jawa, Burung Terlangka di Dunia

Elang Jawa, Burung Terlangka di Dunia
Foto; DAUS ANDRIAN
Penelitian secara ilmiah elang jawa mulai dilakukan sekitar tahun 1820-an oleh Johan Coenraad van Haesselt dan Henrich Kuhl. Pada tahun 1855-1860, Heinrich A Bernstein meneruskan penelitian itu dan kemudian dilanjutkan Ernst Prillwitz pada 1889. namun baru diketahui kemudian bahwa ternyata spesimen yang mereka teliti ternyata adalah elang brontok (Spizaetus cirrhatus limnatus) bukan elang jawa.

Pada 30 April 1907, Max Edward Gottlieb Bartels, seorang pencinta satwa yang bekerja di perkebunan Sukabumi memperoleh seekor elang berjambul yang di tangkap oleh penduduk di perkebunan Gunung Melati (Cikondang), Jawa Barat. Elang tersebut kemudian diawetkan dan dibawa ke Jerman untuk diidentifikasi. Ternyata, bururng elang tersebut diketahui merupakan suatu jenis sendiri yang lain dari elang brontok, tetapi lebih mirip dengan jenis elang yang ada di Sri Langka.

Usaha mengidentifikasi elang tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 1924 oleh Prof Dr Ernst stresemann, seorang pakar burung dari Jerman. Ernst kemudian mempublikasikan jenis ini sebagai jenis baru. Sebagai perhormatan kepada Max Gottlieb yang dianggap pertama kali menemukan jenis ini, elang jawa diberi nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi.

Pada 1953, hasil penelitian dan publikasi yang dilakukan oleh Dean Amadon menyebutkan bahwa jenis ini salah jenis berbeda. Semenjak itulah, elang jawa diberi nama ilmiah Spizaetus bartelsi. Seiring dengan perkembagnan ilmu pengetahuan, terutama ilmu taksonomi hewan, penamaan ilmiah jenis ini menjadi Nisasetus bartelsi.

Sejak penemuannya pada tahun 1907, belum ada penelitian lebih lanjut dan intensif mengenai jenis ini di Indonesia. Catatan histories terakhir dari keluarga Bartels adalah pada tahun 1975 oleh Hans Bartels, putra bungsu dari MEG Bartels di Meru Betiri, Jawa Timur. Sampai tahun 1980-an, para peneliti memperkirakan bahwa jenis ini merupakan burung pemangsa yang paling langka di dunia.

Bahan penelitian
Penelitian elang jawa lebih intensif dilakukan sejak awal tahun 1990-an walaupun dilakukan perseorangan dan terbatas pada lokasi-lokasi tertentu saja. Tercatat beberapa peneliti yang melakukan kegiatan di awal tahun tersebut di antaranya Sabastian van Balen, Resit Sözer, dan Vincent Nijman. Toru Yamazaki dari Jepang dan timnya kemudian melakukan penelitian untuk komparasi antara elang jawa dengan jenis Spizaetus yang ada di Jepang. Peneliti lain, Nils Rov dan Jan Ove Gjersahugh, juga kemudian melakukan studi ekologi elang jawa ini di Gunung Salak.

Data dan informasi dari penelitian sebelumnya menjadi bahan dari pembuatan rencana pemulihan elang jawa pada tahun 1997. pada tahun itu pula, dibentuk Kelompok Kerja Pelestarian Elang Jawa (KKEJ) yang terdiri atas beberapa lembaga dan perseorangan yang peduli akan keberadaan dan kelestarian elang jawa,. KKEJ melakukan kegiatan-kegiatan dalam upaya penelitian dan konservasi jenis ini. Kelompok ini pula yang menjadi cikal bakal terbentuknya jaringan yang lebih luas lagi dalam upaya penelitian dan konservasi raptor (burung pemangsa) di Indonesia yaitu Raptor Indonesia (Rain) yang diinisasi pada 2011.

Sejak itu dan sampai sekarang, aspek penelitian menganai elang jawa terus berkembang dan dilakukan hampir di seluruh Pulau jawa. Berbagai macam kajian dilakukan, mulai dari aspek biokologi, konservasi (meliputi kerusakan habitat), perburuan dan perdagangan, serta kajian beruapa upaya pelibatan masyarakat dalam pelestarian burung ini.

Semakin Jarang
Elang jawa adalah jenis burung endemik, artinya jenis ini hidup dan berkembang hanya di Pulau Jawa. Dalam beberapa tahun terakhir, daerah sebarannya sudah terfragmentasi sehingga saat ini diperkirakan hanya tersisa kira-kira 10 persen dari luas sebaran sebelumnya. Elang jawa hidup di habitat hutan hujan tropis mulai dari ketinggian 0 meter sampai dengan 3.000 meter di atas permukaan laut (dpl). Meskipun demikian, keberadaannya lebih terkonsentrasi pada ketinggian 500 meter samapi 2.000 meter dpl.

Bila rentang ketinggian tempat dikelompokkan per 500 meter, catatan pertemuan paling sering pada ketinggian antara 500-1.000 meter dpl. Hal ini berkaitan dengan sedikitnya hutan dataran rendah yang tersisa. Kondisi ini sangatlah riskan untuk kelangsungan hidup dan perkembangan elang jawa karena keberadaan pakan/mangsanya di dataran tinggi sangat terbatas.

Keberhasilan perkembangbiakan elang jawa sangat dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Keberadaan mangsa atau pakan untuk mencukupi kebutuhan pasangan dan anaknya selama masa perkembangbiakan adalah faktor utama. Selama musim berbiak, pasangan elang jawa tidak selalu berhasil berkembang biak. Tak jarang, mereka harus mengulang kembali pada musim berbiak berikutnya. Padahal, elang jawa dewasa akan mulai bereproduksi pada usia 3-4 tahun dan elang jawa betina hanya bertelur sebutir dalam kurun waktu 2-3 tahun.

Di sisi lain, tingkat ancaman terhadap elang jawa cukup tinggi. Data lapangan mengindikasikan bahwa dalam kurun waktu antara 2004-210 (lima tahun) sebanyak 110 pasang elang jawa (220 ekor) menghilang atau diambil dari alam. Ini artinya, sebanyak 22 pasang (44 ekor) hilang setiap tahunya. Jumlah itu tidak berbanding dengan laju perkembangbiakan elang jawa di alam. Sebuah ironi yang sangat nyata terhadap satwa yang dijadikan lambang Negara ini.

Sumber: Zaini Rakhman/pemerhati elang, penulis buku “Garuda, Mitos dan Faktanya di Indonesia”/*Pikiran rakyat**

Semut tak Akan Lupa Bau Musuhnya

semut
Untuk menandai musuhnya koloni semut membentuk “memori bersama” dari bau musuh mereka. Semut menyimpan bau ketika bertarung dengan musuh dari koloni lain. Bau itu lalu dibagi dengan semut lain sekoloni.

Demikian temuan para peneliti University of Melbourne Australia. Kepala peneliti, Mark Elgar, menjelaskan seluruh semut di koloni dapat merasakan pangalaman sesamanya.

Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Naturwissenschaften itu menyebutkan zat kimia merupakan kunci dari kawanan semut. Semut mengidentifikasi kawanan satu sarangnya dengasn “tanda kimia” yang melapisi tubuh setiap anggota dan membedakan bau dari penyusup yang mungkin akan menyerang.

Elgar mengatakan kemampuan tersebut sebagai “kebajikan organisasi”. “(Seperti) Anda memperingatkan rekan terhadap seseorang dan rekan yang mendengar hali itu menceritakan ke rekan lain yang tidak tahu sebelumnya,” ujar Elgar.

Para peneliti mempelajari semut tropis (Oecophylla smaragdinan) yang membangun sarang di pepohonan. Satu sarang menampung hingga 500 ribu pekerja. (BBC/Sri/**PR)

Fungsi Ekologi Kelelawar

kelelawar
Kelelawar dapat dijumpai mulai ukuran kecil hingga yang terbesar. Kelelawar terkecil di dunia dapat dijumpai di Thailand. Kelelawar dengan nama Crasoenyteris tholongial ini memiliki ukuran sebesar ibu jari. Kalong atau yang dinamakan flying fox merupakan kelelawar terbesar di dunia. Kelelawar dengan panjang rentang sayap lebih dari 1,5 meter ini dapat dijumpai di seluruh Indonesia.

Berdasarkan perannya, kelelawar terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kelelawar sebagai agen menyerbuk, menyebar biji, dan pengendali hama. Namun berdasarkan tipe makanannya, kelelawar dapat dibagi menjadi kelelawar buah (fruit bats) dan kelelawar pemakan serangga (insect bats).

Kelelawar pemakan buah termasuk diantaranya adalah kelelawar yang membantu penyebaran biji dan penyerbukan berbunga. Kelelawar biasanya hanya menguyang-nguyang daging buahnya untuk diambil cairannya, sedangkan bagian serabut daging buah disepah dan bijinya dibuang. Akibatnya, biji menjadi bersih dari daging buah. Biji tersebut disebarkan kelelawar diluar habitat tumbuhnya sehingga kelelawar dikenal pula sebagai agen penyebar biji yang merangsang regenerasi hutan. Kelelawar makan buah tidak pada pohon buah itu, tetapi dibawa ke pohon lain (Suyanto, 2001), dengan demikian besar kesempatan biji unutk berkecambah dan tumbuh hingga besar.

Kelelawar penyerbuk yang juga termausk kelelawar buah biasanya mencari makan di malam hari, memiliki mata besar, daya pencium yang tajam, dan biasa terbang disekitar bunga yang diserbukinya. Jenis fauna ini juga memiliki metabolisme yang tinggi, ukuran tubuh yang lebih besar dibanding dengan agen jenis ponator lainnya (Faegri and van der Pijl, 1979). Kelelawar penyerbuk biasanya memasukkan lidahnya ke dalam bunga untuk mengecap nectar, polen akan memenuhi tubuh dan wajahnya, lalu polen ini akan dimakannya secara sengaja atau tidak sengaja ketika membersihkan diri selesai makan.

Kelelawar penyerbuk sebagai agen pollinator ternyata membutuhkan protein (Faegri and van der Pijl, 1979; Courts, 1998) terutama nitrogen yang terkandung dalam polen atau biasa disebut dengan nama serbuk sari merupakan serbuk yang diproduksi tumbuhan berbunga dan mengandung sel reproduksi jantan yang dibawa oleh agen polinator seperti kelelawar, mamalia kecil, air, maupun angin yang menyerbukannya ke bunga lain.

Fungsi kelelawar yang lainnya lagi, sebagai agen pengendali serangga hama. Berdasarkan penelitian di Thailand, kelelawar pemakan serangga jenis Tadarida plicata sangat berpotensi sebagai agen pengendali hama biologis. Hasil analisis guano atau feses predator utama serangga nocturnal ini mengindikasikan tingginya keberadaan serangga hama yang biasa dijumpai di daerah persawahan (Leelapaibul, et al, 2005). Studi tentang Tadarida brasiliensis yang biasa bermigrasi di kawasan Amaerika Utara, juga kembali menekankan pentingnya keberadaan mamalia terbang ini secara ekonomis. Secara ekonomis, keberadaan kelelawar memakan serangga ternyata sangat bernilai untuk meningkatkan produksi kapas dan jagung di delapan area studi Negara bagian Texas (Cleveland, et al, 2006).

Tiga peran penting kelelawar si mamalia terbang secara ekologis adalah membantu penyebaran biji, penyerbukan, dan mengendalikan serangga hama. Ketiganya sangat vital dalam dinamika ekosistem di sekitar kita. (Felicia Lasmana, naturalis tinggal di Bandung, /”PR”)

Bencana dan Perilaku Abnormal Hewan

Berbagai fenomena dan fakta tentang perilaku hewan sebelum terjadinya gempa, tertulis dalam artikel David Jay Brown yang berjudul Etho-Geologi Forecasting. Disebutkan bahwa seorang ahli geologi dari California mengklaim dapat memprediksi gempa dengan tingkat akurasi 75% melalui penghitungan jumlah hewan peliharaan yang hilang, penghitungan ini telah dilakukan selama bertahun-tahun.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa angka hilangnya hewan peliharaan (anjing dan Kucing) akan naik secara signifikan selama dua minggu sebelum gempa. Kesimpulan ini terbukti ketika memprediksi gempa di Loma Prieta, Norther Calofornia. Jepang merupakan negara yang sangat akrab dengan gempa. Sekitar 80% gempa di Jepang terjadi di tengah lautan. Hal ini menyebabkan perilaku abnormal pada ikan. Spesies ikan yang biasa hidup dilautan dingin yang dalam, dapat ditangkap nelayan di perairan dangkal dan hangat beberapa saat sebelum terjadinya gempa.

Ikan memilki sensitivitas tinggi terhadap variasi medan elektrik yang terjadi sebelum gempa. Sensitivitas seperti ini memungkinkan beberapa hewan untuk dapat mendeteksi gas radon yang dikeluarkan dari tanah sebelum gempa. George Carayanis dalam artikelnya menulis bahwa penelitian penggunaan perilaku hewan sebagai metode untuk memprediksi gempa.

Para peneliti telah sukses memprediksi gempa di kota Haicheng pada bulan Februari 1975 melalui pengamatan perilaku hewan yang abnormal. Ular keluar dari lubangnya di musim dingin dan terlihat pula kemunculan sejumlah besar tikus yang berlari tanpa arah.

Kejadian ini diakhiri beberapa gempa pada akhir Desember 1974. pada bulan Januari 1975, laporan mengenai perilaku hewan yang abnormal telah diterima di berbagai tempat di kota Haicheng. Aktivitas ini semakin intensif pada tiga hari pertama bulan Januari dan telah dilaporkan lupa bahwa hewan ternak seperti sapi, babi, kuda dan ajning telah memperlihatkan tingkah laku yang abnormal.

Setelah itu, pada tanggal 4 Februari 1975 sebuah gempa pun menghancurkan kota Haicheng di Provinsi Liaoning Cina. Namun, melalui pengamatan perilaku hewan ini, sekitar 90.000 nyawa dapat diselamatkan. Setahun kemudian, seorang peternak kuda di sekitar Kota Tangshan, Cina, melaporkan bahwa kuda dan keledai mereka tidak mau makan, tetapi ternak tersebut malah melompat dan menendang hingga keluar kandang.

Setelah diketahui bahwa hewan dapat memprediksi terjadinya bencana alam, beberapa peneliti Cina telah melakukan survai mengenai variasi perilaku hewan sebelum terjadinya gempa. Kelompok peneliti yang terdiri atas ahli biologi, geofisika, kimia, meteorologi,dan biofisika ini melakukan survai. Survai itu dilakukan di Kota Tangshan dan sejumlah daerah di sekitarnya yang telah dilanda gempa pada tahun 1976. setelah mengunjungi dan melakukan wawancara dengan penduduk lokal, peneliti ini memperoleh dua ribu kasus tentang perilaku abnormal hewan yang terjadi sebelum gempa.

Tsunami besar melanda Aceh, Sri Langka, India, dan Thailand pada akir 2004 lalu juga didahului perilaku tak lazin dari hewan-hewan. Kantor Berita Reuters melaporkan Taman Nasional Yala di Sri Langka telah dipenuhi mayat manusia, tetapi tidak satu pun ditemukan bangkai-bangkai hewan. Taman Nasional Yala merupakan rumah bagi dua ratus ekor gajah asia, macam, rusa, dan hewan liar lainnya.

Gelombang tsunami yang menerjang Sri Langka sama sekali tidak membunuh hewan-hewan yang terdapat di daerah tersebut. Seorang staf di Taman Nasional Yala mengatakan, tidak ada gajah yang mati, bahkan tidak ditemukan bangkai hewan kecil seperti kelinci sekalipun. Hewan memiliki indera keenam dan dapat merasakan gejala suatu bencana.

Di Pantai Khao Lak, Thailand, gajah-gajah tunggang yang sedang dinaiki turis terlihat gelisah dan berlarian ke arah bukit. Beberapa saat sebelum datangnya gelombang, gajah ini terus-menerus bersuara dan gelisah (agitated). Mereka ini kembali tenang dan tidak bersuara setelah berada di bukit. Setelah itu, muncul gelombang tsunami yang menghantam pantai sejauh satu km. gajah-gajah yang ditunggangi turis itu pun selamat dan tidak tersentuh gelombang. Gajah ini telah menyelematkan sejumlah turis asing dari gelombang tsunami.

Sebelum gempa bumi yang melanda Cianjur, Tasikmalaya, Garut, dan Sukabumi pada tahun lalu, situs berita dalam negeri memberitahukan, hewan-hewan di Taman Safari Indonesia (TSI), Bogor menunjukkan perilaku aneh. Perilaku aneh itu terlihat sepuluh menit sebelum gempa bumi terjadi. Dilaporkan, empat puluh ekor ajah tampak histeris, ditunjukan dengan lengkingan suara keras dari belalainya. Kawanan rusa di TSI juga berlarian sebelum gempa terjadi. Hal yang sama ditunjukan oleh hewan lain, seperti monyet. Burung-burung juga berterbangan sbelum gempa terjadi.

Beberap hari sebelum Gunung Merapi meletus pada selasa (29/10), sejumlah media massa melansir laporan adanya hewan yang menunjukkan perilaku tak lazm. Kantor Berita Antara melaporkan sekumpulan burung elang jawa (bido) terbang meninggalkan kawasan hutan setempat ketika terjadi peningkatan aktivitas Merapi. (M. Ikhsan Shiddieqy, alumnus Fapet Unpad, /”PR”)

Gagak, Burung yang Cerdas

gagak
Suatu saat di masa lampau, nenek moyang manusia belajar dari burung gagak, yaitu ketika putra Adam, Qabil, membunuh saudaranya, Habil. Ini terekam dalam Alquran surat Al Maidah ayat 31: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di Bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil, ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”.

Akan tetapi, apakah gagak termasuk binatang yang cerdas? Burung biasanya dianggap bukan binatang cerdas, bahkan ada istilah “otak burung” yang berarti “bodoh”. Selama ini yang sering terdengar sebagai binatang cerdas adalah anjing, simpanse, atau lumba-lumba.

Namun, perilaku gagak menarik perhatian para ilmuwan untuk meneliti burung ini. Melalui serangkaian penelitian, para ilmuwan mengungkapkan bahwa burung gagak yang dalam banyak budaya dianggap sebagai pertanda nasib buruk, dan kematian-masuk dalam binatang cerdas.

Hasil penelitian ahli zoologi, Bernd Heinrich dari Universitas Vermont Kanada dan Thomas Bugnyar dari Universitas St. Andrew Skotlandia menunjukan bahwa gagak memiliki kemampuan mental yang luar biasa. Dalam penelitian tersebut, burung gagak mampu menyelesaikan tugas-tugas kompleks yang belum pernah ditemui sebelumnya. Burung gagak juga tidak terprogram untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut secara alami. Burung ini mampu menemukan solusi yang kreatif dan logis untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dihadapinya. Yang lebih mengejutkan, mereka bisa mengerjakannya pada kali pertama tanpa proses trial and error.

Dalam salah satu eksperimen, burung gagak di sebuah tenggeran sementara sepotong daging tergantung pada seutas tali. Untuk mendapatkan daging tersebut, si gagak menarik bagian demi bagian dan memegang gulungan tali dengan cakarnya hingga daging tersebut dapat diraih. Beberapa binatang bisa dilatih bagaimana memperoleh makanan dengan cara seperti itu, tetapi gagak dapat mengerjakan aksi tersebut secara langsung padahal burung tersebut sebelumnya belum pernah melihat tali atau menghadapi daging yang tergantung pada tali.

Bagaimana gagak memiliki kemampuan untuk belajar terekam dalam kamera CCTV di Jepang. Pertama, mereka belajar memecahkan kacang berkulit keras dengan cara menjatuhkan kacang tersebut dari pohon yang tinggi ke jalanan. Lalu, burung gagak tersebut mengembangkan metodenya dengan menjatuhkan kacang pada jalur kendaraan yang melaju cepat sehingga kacang tersebut pecah lebih cepat. Dan untuk menghindari resiko tergilas kendaraan, burung gagak tersebut memperbaiki tekniknya dengan mempelajari lampu lalu lintas. Ketika lampu lalu lintas merah, burung gagak tersebut menukik turun untuk menyambar kacang.

Pengamatan Revven Yosef dari International Birding and Research Center di Israel menunjukan kemampuan gagak untuk bekerja sama dalam perburuan mangsa seperti kadal. Burung gagak menunggu hingga kadal keluar dari liangnya, kemudian dua burung gagak memblok jalan masuk liang sehingga kadal tak memiliki jalan untuk kabur. Burung-burung gagak yang lain kemudian menyerang kadal tersebut hingga mati. Hanya setelah kadal tersebut benar-benar mati, dua burung gagak penjaga liang akan bergabung dengan kawanannya untuk menikmati buruannya. Cara berburu seperti ini mengharuskan burung-burung gagak saling mengetahui pikiran satu sama lain dan pikiran kadal.

Tanda lain dari intelegensi gagak yang tinggi adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri ketika mereka bercermin. Mereka juga mampu beradaptasi di berbagai daerah mulai dari padang pasir hingga pegunungan.
Burung gagak juga bisa memanfaatkan binatang lain untuk memperoleh makanan yang tak bisa didapatkan oleh mereka sendiri. Misalnya, mereka akan memanggil serigala dan coyote untuk memburu mangsa potensial sehingga mereka bisa menikmati bangkai mangsa tersebut. Atau dengan menunggu jenis burung lain menangkap mangsa lalu dengan cerdik merebut mangsa tersebut untuk mereka sendiri.

Banyak binatang memiliki kemampuan untuk melakukan aksi-aksi rumit, misalnya membangun sarang. Namun, kemampuan ini biasanya telah terprogram secara genetis dan hanya melibatkan seditik intelegensi. Namun gagak berbeda, mereka adalah mahluk yang mampu membuat keputusan rumit yang menunjukan kemampuan menggunakan logika. (Akhmad Taufik, alumnus Universitas Padjadjaran/”PR”)

Gunung Tampomas Thn. 2003

elang
Judul: (Kabar dari yang Tersisa…. Owa Jawa (Hylobates Moloch) dan Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) di Kawasan Utara TWA Gunung Tampomas)

Sumber:
Penulis: Ipan Juanda
Majalah Habitat Edisi 2003

Kawasan utara Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tampomas Sumedang Jawa Barat, tepatnya di Gunung Bunter, Pasir Rawean, Lebak Cangkores dan sekitarnya merupakan hutan alam yang masih tersisa dengan tipe vegetasi hutan hujan pegunungan bawah (sub montane fores). Sedangkan kawasan selatan, timur barat hampir keseluruhan vegetasi merupakan jenis tanaman Tusam (Pinus merkusil) sebagai salah satu jenis tanaman produksi, ditambah dengan aktivitas perladangan dan pertambangan pasir disisi timur dan selatan TWA G. Tampomas. Oleh sebab itu kawasan utara TWA G. Tampomas merupakan oase dan tempat teraman bagi satwa liar, khususnya owa jawa dan elang jawa, yang dipastikan masih tersisa dikawasan utara TWA G. Tampomas.

Kesemuanya itu tergantung dengan kondisi alam sebagai tempat hidup populasinya yang kini terancam secara keseluruhan, indikasi-indikasi tersebut diperoleh dari hasil pengamatan yang saya lakukan selama beberapa hari pada bulan Juni 2003 di sekitar kawasan TWA G. Tampomas.

OWA JAWA (Hylobates Moloch)
Kelompoknya terdapat di sekitar lebak Cangkores dan hutan Cilangkap jumlahnya diperkirakan hanya tinggal 9 ekor saja, ini diketahui dari kebiasaannya dimana pada jam 05.00 pagi sampai jam 06.00 pagi dari tiap kelompok berkumpul memakan buah koang (sebutan setempat) yang terdapat di lebak Cangkoras dimana aktifitas hariannya. owa jawa hidup di pohon (arboreal), dan jarang turun ke tanah. Pergerakan dari pohon yang satu ke poohon yang lain dengan bergelayunan (brankiasi) dimana owa jawa aktif dari pagi hingga sore hari (diumal) siang harinya kebanyakan digunakan untuk istirahat. Primata endemik ini di kawasan utara TWA G. Tampomas semakin hari semakin terancam oleh tekanan perburuan owa jawa sebagai hewan peliharaan atau untuk diperjual-belikan sehingga menjadi ancaman serius bagi keberadaanya di kasawasan TWA G. Tampomas.

ELANG JAWA (Spizaetus bartelsi)
“ku akang ge kantos bade dibedil ta heulang teh”, itu sebagian kutipan dari jawaban salah seorang penduduk saat saya mencoba bertanya keberadaan ejang jawa/garuda atau heulang madu, penduduk setempat menyebutnya, di kawasan TWA G. Tampomas. Itu merupakan bukti bahwa penangkapan satwa ini oleh masyarakat memang terjadi. Anak bangsa dari Falconiformes suku Accipridae dan marga Spizaetus ini kondisinya mengkhawatirkan dan terancam di kawasan TWA G. Tampomas. Populasinya sekarang ini tidak lebih dari 2 ekor, dimana satu ekor terlihat pada tanggal 14 Juni sekitar lebak Sintok.

Data dari yang saya dapatkan, keseluruhan konfigurasi lapangan kawasan utara TWA G. Tampomas mempunyai topografi bergunung dan curam dilengkapi dengan beberapa titik sumber air dan merupakan tempat yang masih resentatif bagi owa jawa dan elang jawa yang jumlahnya tinggal beberapa ekor saja akibat dari perburuan dan perambahan hutan yang semakin melebar dari tepi timur ke utara atau dari tepi yang lain.

Semua masalah tersebut merupakan sebuah tantangan dimana sebuah intitusi atau pribadi yang berkepentingan terhadap hutan harus lebih bisa bijaksana dalam mengelola, memelihara, memanfaatkan dan melestarikan hutan beserta segenap kekayaan alam yang ada, khususnya kelestarian satwa liar yang semakin hari semakin mengkhawatirkan jumlahnya. Mari kita mencoba bijaksana dan mulai berpikir bahwa satwa liar tersebut merupakan potensi suber daya alam yang pokok dalam sebuah kawasan hutan, dan mempunyai fungsi sebagai objek interpretasi yang semakin langka.

Masihkah ada Kukang (Nycticebus Coucang) di Sumedang?

Kukang (Nycticebus Coucang)
Kukang merupakan satwa primata nocturnal yang dilindungi pemerintah sejak tahun 1931 hingga yang terbaru yaitu Peraturan Pemerintah no.7 tahun 1999. status konservasinya sejak tahun 1996 dikategorikan oleh IUCN (Internasional Union for Conservsition of Nature and Natural Resources) sebagai Vulnerable (rentan) yang berarti satwa ini memiliki kemungkinan punah sedikitnya 10% dalam setahun dan kategori Appendix II oleh CITES (Convention on Internastional Trade in Endangered Species) yang berarti dapat diperdagangkan dengan dibatasi oleh jatah tangkap (kuota).

Keluarga kukang atau sering disebut-sebut malu-malu, terdiri dari 8 marga (genus) dan terbagi lagi dalam 14 jenis. Penyebarannya cukup luas, mulai dari Afrika sebelah selatan Gurun Sahara, India, Srilanka, Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara. Dari 8 Marga yang ada, di Indonesia hanya ditemui 1 marga, yaitu Nycticebus.

Dari 4 jenis hanya ada 2 jenis yang ada dan hidup di Indonesia, yaitu: Nycticebus coucang yang tersebar di Semenanjung Malaya, Sumatera dan Kalimantan serta kepulauan sekitarnya, Nycticebus javanicus hanya tersebar di Jawa. Meliputi Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan ciri bulu tubuhnya berwarna coklat muda sampai coklat tua, bermata besar menonjol keluar, panjang kepala dan badannya 33 cm dengan bobot badan berkisar antara 300-1500 g. Pada bagian kepala hingga punggungnya terdapat garis coklat tua yang menjadi salah satu cirinya. Tangannya berfungsi sebagai pemegang yang telah berkembang baik.

Kukang terkenal dengan kehidupan malamnya (nocturnal) dan memakan beberapa buah-buahan dan sayuran, juga beberapa insecta, mamalia kecil dan bahkan burung. Umumnya mereka meraih makanan dengan salah satu tangan lalu memasukkannya ke dalam mulut. Berbeda halnya dengan minum, cara yang dilakukan pun cukup unik. Mereka tidak minum langsung dari sumbernya tetapi mereka membasahi tangannya dan menjilatinya.

Populasi kukang di alam saat ini diperkirakan cenderung menurun yang disebabkan oleh perusakan habitat dan penangkapan yang terus berlangsung tanpa memperdulikan usia dan jenis kelamin kukang.