• rss

Wayang Cepak, Kesenian Warisan Sunan Gunung Djati

arsip kula|Jumat, 05 Oktober 2012|00.56
fb tweet g+
Wayang Cepak Kesenian Warisan Sunan Gunung Djati
RETNO HY / PR
Ki Dalang Atik Rasta Prawira (62) memainkan wayang pada pergelaran kesenian tradisional wayang cepak, di lapangan parkir RT 01 RW 01 Kel. Sukaraja, Kec Cicendo, Kota Badnung, Selasa (18/9) malam.*
Setelah sebelumnya arsip kula menyimpan artikel seni wayang tradisi Sunda; Wayang Golek dan Wayang Purwa, serta seni wayang tradisi Jawa; Wayang Purwa Jawa

Pada kesempatan kali ini, akan diarsipkan sebagian artikelnya Retno HY yang mengulas tentang wayang cepak, dimuat di media cetak Pikiran Rakyat (Rabu, 26 September 2012).
--oOo—

Kesenian wayang cepak merupakan warisan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati. Sekitar tahun 1500-an wayang cepak dijadikan sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam oleh Sunan Gunung Djati.

Perbedaan wayang cepak dengan wayang golek ataupun lainnya ada pada ornamen hiasan pada kepalanya (topi), cepak (rata) sejajar dengan bagian atas kepalanya. Berlainan dengan wayang golek purwa yang berkembang di Priangan. Ornamen pada kepalanya mengenakan makuta (mahkota, crown) yang berbentuk nyungcung (piramida), dan berbentuk telekung (melengkung).

Ornamen yang dikenakan sebagai penutup kepala (topi) pada wayang cepak, ada yang mengenakan destar (penutup kepala dari kain yang umumnya dikenakan ulama Islam), dan ada pula yang mengenakan bendo (penutup kepala dari kain batik yang umumnya dikenakan oleh ningrat Sunda). Karena mengenakan bendo itulah, wayang cepak dari Cirebon disebut juga wayang bendo.

Sementara itu, cerita yang dibawakan dalam pertunjukannya mengadaptasi dari hikayat sastra Arab, diantaranya cerita Amir Hamzam dan Rangganis. Itulah yang menyebabkan wayang cepak sering diebut wayang Arab. (Retno HY/PR)
--oOo—