“Kangkung” Makanan Rakyat dengan Segudang Manfaat

Seperti halnya tahu dan tempe, kangkung sudah menjadi makanan yang sangat dekat dengan masyarakat kita, khususnya di Jawa Barat.
Namun siapa sangka, kangkung yang oleh sebagian kalangan diidentikan dengan makanan rakyat, ternyata punya segudang manfaat

Kangkung Makanan Rakyat dengan Segudang Manfaat
Foto: w.motivasilangsing.com
1. Sakit kepala
Kangkung bisa menghilangkan sakit kepala. Seikat daun kangkung segar direbus dengan 2 gelas air hingga 1 gelas. Kemudian air hasil rebusan tersebut diminum.

2. Mengurangi nyeri haid
Daun kangkung juga dapat mengurangi nyeri haid. Caranya, kira-kira setengah kilogram daun kangkung dicuci dan ditumbuk halus. Tuangkan air setengah gelas, kemudian saring dan tuangkan 1 sendok makan madu. Minum 1 kali sehaeri sekaliuangkan 1 sendok makan madu. Minum 1 kali sehari sekaligus.

3. Mimisan
Bagi anak-anak sering mimisan, dapat diobati dengan daun kangkung. Seikat daun kangkung yang segar dicuci dan ditumbuk halus. Tambahkan sedikit gula dan seduh dengan segelas air panas. Setelah dingin, saring, minum dua kali sehari.

4. Ambeien
Segenggam akar kangkung dicuci dan direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa setengahnya. Setelah dingin, minum setengah gelas dua kali sehari.

5. Insomnia
Jika sulit tidur atau insomnia, daun kangkung sering dikonsumsi dengan cara ditumis tanpa batang. Tumisan daun kangkung merupakan obat mujarab pada penyakit ini.

6. Sakit gigi
Segenggam akar kangkung ditambahkan setengah senduk teh cuka, kemudian direbus dengan satu gelas air. Minum air rebusannya satu kali sehari.

7. Melancarkan air seni
Juka buang air seni Anda terganggu, atasi dengan segenggam akar kangkung direbus dengan dua gelas air hingga tersisa satu gelas. Minum air rebusannya sekaligus satu kali sehari.

8. Menghilangkan ketombe
Seikat daun kangkung direndam semalam hingga airnya berwarna kebiruan. Lalu, keramas dengan air rendaman. Sebaiknya dilakukan tiap hari.

Selain itu, seperti dikutip dari Manfaat.co.id, tanaman kangkung juga memiliki manfaat lain yang tidak kalah pentingnya yakni:

1. Mencegah anemia
Kangkung mengandung zatt besi yang dapat merangsang produksi sel darah merah dalam tubuh.

2. Pencegahan diabetes
Mengomsumsi kangkung menghasilkan zat-zat yang mampu menghambat penyerapan gula pada tubuh. Jadi Anda mungkin tidak terlalu khawatir jika memakannya dengan nasi.

3. Menambah kualitas otak
Dengan kandungan vitamin B kompleks dan omega 3, membantu kinerja otak lebih baik, sehingga sayur kangkung sangat baik dihidangkan pada anak-anak yang dalam masa pertumbuhan.

4. Kesehatan jantung
Kangkung memiliki nutrisi penting dan kandungan yang cukup tinggi vitamin A dan C, serta beta-karoten, yang dapat membantu mengurangi radikal bebas di tubuh sehingga dapat membantu mencegah kolesterol yang teroksidasi. Folat yang terkandung dapat membantu untuk mengonversi bahan kimia yang berpotensi berbahaya yang disebut homosistein, yang pada tingkat tinggi dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.

5. Menjaga sistem imun
Sayuran hijau salah satu sumber sayuran yang dapat menjaga sistem imun dan meningkatkan kekebalan tubuh manusia.

6. Sangat baik untuk mata
Pada kangkung terdapat kandungan vitamin A, karotenoid, dan lutein. Ketiga kandungan vitamin dan mineral ini dapat membantu menjaga kesehatan mata. Selain itu, zat ini dapat membantu mencegah katarak

Sumber: Ahmad Yusuf/*Pikiran Rakyat** Rabu, 17 Desember 2014

Mengobati Radang dengan Sambiloto

SIAPA yang tak kenal radang? Penyakit ini dapat menyerang siapa saja tanpa mengenal status dan usia. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari luka makanik, terbakar, infeksi mikroba, dan rangsangan lainnya yang dapat mencederai tubuh.

 Mengobati Radang dengan Sambiloto
Foto: sambiloto.org
Proses radang dapat meliputi perubahan pada aliran darah atau kerusakan jaringan, yang disertai pembentukan mediator radang. Yang disebut dengan mediator radang adalah antara lain prostaglandin, asam hidroksi eikosa tetra enoat (atau disingkat HETE), dan leukotrien.

Pembentukan mediator radang ini dikatalisis oleh beberapa enzim yaitu fosfolipase, siklooksigenase, dan lipooksigenase. Gejala radang bisa diamati atau dirasakan melalui (1) adanya nyeri di tempat terjadinya radang; (2) warna kemerahan yang disebabkan oleh pembuluh kapiler terisi oleh darah lebih banyak daripada normalnya; (3) pembengkakan yang disebabkan oleh berkumpulnya cairan; (4) panas yang disebabkan oleh banyaknya darah di tempat radang terjadi.

Antiradang sintetik
Pada umumnya radang dapat diredakan dengan obat antiradang, yang biasa disebut obat AINS atau antiinflamasi non-steroid. Obat jenis AINS bekerja mengurangi radang melalui mekanisme penghambatan enzim siklooksigenase. Siklooksigenase adalah enzim yang berperan membantu dan mempercepat pengubahan asam araksidonat menjadi prostaglandin.

Prostaglandin inilah sang mediator radang. Jika prostaglandin tidak terbentuk, maka radang tidak terjadi. Atau dengan kata lain, apabila kita dapat menemukan cara untuk menekan atau menghambat bekerjanya enzim siklooksigenase, maka asam arakidonat tidak akan berubah menjadi prostaglandin, dan radang akan berkurang atau sembuh.

Di dalam tubuh kita, ada dua jenis enzim siklooksigenase. Yang pertama adalah enzim siklooksigenase normal atau bersifat konstitutif. Enzim jenis ini dinamakan COX-1. Enzim ini berada di dalam tubuh normal sehat dan berperan membentuk prostaglandin untuk melindungi dinding lambung dari sifat korosif asam lambung.

Jenis kedua adalah enzim siklooksigenase terinduksi, yang dinamakan COX-2. Enzim jenis ini hanya muncul jika ada rangsangan pencedera tubuh dan menyebabkan radang.

Salah satu contoh obat AINS, misalnya asam asetil salisilat. Obat ini sangat banyak digunakan serta mudah didapatkan di apotek bahkan toko swalayan. Asam astil salisilat yang menghambat bekerjanya kedua jenis enzim siklooksigenase di atas, mengakibatkan lambung tidak ada yang melindungi lagi.

Memang benar obat ini dapat mengurangi radang, tetapi juga menyebabkan nyeri pada lambung. Penggunaan obat ini secara berulang dapat mengakibatkan efek samping luka pada lambung.

Antiradang dari alam
Nenek moyang kita terkenal dengan ketekunannya mempelajari dan menemukan obat dari alam. Telah diketahui bahwa untuk mengobati luka bengkak karena gigitan serangga atau karena luka mekanik, nenek moyang kita menggunakan tanaman sambiloto. Biasanya daun tanaman itu direbus dengan air, lalu air rebusannya diminum. Cara lain adalah dengan menumbuk daun sambiloto dan tumbukan itu dikompreskan pada bengkak.

Sambiloto, nama latinnya Andrographis paniculata, merupakan tanaman obat dari suku Acanthaceae, yang tumbuh dengan baik di Indonesia terutama di daerah dengan ketinggian 1-700 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini, yang juga banyak tumbuh di daerah Asia, terutama di India dan Tiongkok, telah berhasil menarik minat banyak peneliti untuk menlaah khasiatnya. Banyak sekali khasiat tanaman ini, antara lain antikanker, antidiabetes, antimikroba, antiradang, dan masih banyak lagi.

Di dalam tanaman sambiloto banyak terkandung senyawa-senyawa kimia. Kandungan utama tanaman sambiloto adalah andrografolid. Andrografolid ini merupakan senyawa aktif dan komponen utama yang pertama kali diisolasi dalam bentuk murninya oleh Gorter pada tahun 1911.

Senyawa ini memiliki raa sangat pahit sehingga tanaman sambiloto sering kali dinamakan king of bitter. Selain andrografolid. Fujita peneliti dari Jepang, telah mengisolasi beberapa senyawa yang struktur kimianya menyerupai andrografolid, yaitu 14-deoksiandrografolid, 14-deoksi-11-oksioandrografolid, dan neoandrografolid dari tanaman sambiloto.

Hasil penelitian
Khasiat antiradang sambiloto telah diteliti oleh penulis (Jutti Levita), dan ternyata terbukti bahwa senyawa utama tanaman ini, yaitu andrografolid, dapat menghambat ekspresi enzim siklooksigenase COX-2 pada sel fibroblast manusia yang diinduksi dengan lipopolisakarida. Awalnya sel tersebut diberi lipopolisakarida (suatu protein penyebab demam, yang diisolasi dari bakteriE coli, kemudian sel diinkubasi dengan larutan andrografolid berbagai konsentrasi.

Keesokan harinya, jumlah prostaglandin yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukan bahwa andrografolid dapat menurunkan produksi prostaglandin, atau dengan kata lain, andrografolid menghambat sekspresi enzim COX-2 (hasil penelitian ini telah dipublikasikan di Journal of Applied Sciences, Volume 10 No.14, 2010). Jenis penghambatan oleh andrografolid ini lebih lemah daripada yang diberikan oleh asam asetil salisilat.

Penghambatan enzim siklooksigenase COX-2 oleh andrografolid dibuktikan lebih lanjut melalui simulasi komputasi. Selanjutnya, juga dityelaah perilaku andrografolid di dalam tubuh hewan mencit (hasil penelitian ini telah dipublikasikan di Majalah Formasi Indonesia, Volume 21 No.4, 2010).

Penelitian dilanjutkan pada hewan kelinci sehat normal yuang diberi air rebusan tanaman sambiloto (hasil penelitian ini telah dipublikasikan di Indonesia Journal of Pharmacy, Volume 25 No.3, 2014)

Dari data beberapa hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa tanaman sambiloto dapat digunakan untuk mengurangi radang. Ini adalah obat alternatif yang relatif aman dan murah. Sambilotonya dapat ditanam di pekarangan rumah. Hanya, masih harus diteliti lebih lanjut mengenai dosis yang tepat.***

Sumber: Jutti Levita, dosen dan peneliti Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran/*Pikiran Rakyat* Kamis, 27 November 2014

LEUNCA dan TAKOKAK: Tanaman Sejenis dengan Manfaat Serupa

SEBAGAI orang Indonesia, terlebih apabila hidup di lingkungan suku Sunda, tentu kita familier dengan tumbuhan leunca. Di rumah makan Sunda, dengan mudah dapat ditemukan buah leunca disajikan senbagai lalapan bersama daun salada, kacang panjang, mentimun, dan daun surawung.

Dirumah makan Sunda juga umumnya kita dapat memesan menu olahan leunca yang disajikan bersama ulekan cabai rawit merah, kencur, bawang putih, gula merah, dan terasi bakar yang kita sebut dengan karedok leunca. Ataupun dengan menumis leunca bersama oncom dan jadilah ulukutek leunca yang menggoda. Rasa pedas dari cabai rawit dan oncom ditambah sedikit sensasi pahit dan segar dari buah leunca tepat untuk dijadikan lauk pelengkap makan siang ataupun malam. Jadi, sebagai orang Indonesia, khususnya orang Sunda tentu kita akrab dengan nama leunca. Akan tetapi, seringkah kita mendengar tentang kembarannya, yaitu takokak?

LEUNCA dan TAKOKAK: Tanaman Sejenis dengan Manfaat Serupa
Takokak, Leunca (foto: Google)

Sepintas sulit membedakan kedua tumbuhan ini, karena leunca (Solanum nigrum L.) dan takokak (Solanum torvum Sw) memiliki kemiripan secara fisik sehingga keduanya digolongkan sebagai famili yang sama yaitu Solanaceae). Buahnya pun sekilas terlihat sama dengan bentuk bulat berwarna hijau ketika masih muda sehingga mungkin saja kita tidak mengenalinya apabila hanya terdapat satu jenis di depan kita. Namun, apabila kita membandingkannya bersamaan terdapat beberapa perbedaan.

Kulit buah takokak sedikit lebih tebal dibandingkan dengan buah leunca, begitu pula daun takokak lebih besar dibandingkan daun leunca. Batang takokak sedikit berduri sementara batang leunca tidak berduri. Apabila keduanya dimakan, barulah akan terasa perbedaan rasanya. Leunca seperti yang kita tahu memiliki rasa pahit dengan sedikit manis yang segar. Sementara itu, takokak memiliki rasa yang lebih pahit sehingga jarang ditemui sebagai masakan.

Kalau leunca umumnya ditemui sebagai pengan masyarakat Sunda, takokak mungkin tidak begitu umum dijumpai. Takokak banyak digunakan sebagai tambahan pada sayur gulai singkong di Sumatra Utara. Di daerah Sunda, pemanfaatan takokak contohnya di daerah kampung Gunung Leutik di Kacamatan Ciampea, Bogor digunakan dengan cara dimasak sebagai sayur dan dimakan langsung tanpa di olah.

Sayangnya, dari segi pemanfaatan, takokak masih kalah dibandingkan dengan leunca. Bakhan di Kampung Gunung Leutik, banyak tumbuhan takokak yang sudah ditebang dan tidak diurus dengan baik. Hal ini karena tempat tumbuhnya yang liar, lalu khasiatnya yang tidak banyak terdokumentasikan dan terpublikasikan secara empiris sehingga masyarakat menganggapnya sebagai tumbuhan pengganggu yang kurang menguntungkan. Padahal, ditinjau dari segi farmakologis keduanya memiliki kandungan kimia yang hampir sama khasiatnya.

Tanaman leunca sudah digunakan sebagai obat-obatan sejak 2000 tahun yang lalu. Tanaman leunca bisa digunakan sebagai obat untuk gatal-gatal dan luka bakar. Sejak dahulu kala, di Tiongkok leunca sudah dimanfaatkan sebagai antibakteri, diuretik, dan penurun demam. Di India, daun leunca digunakan untuk mengobati inflamasi dan penyakit kulit.

Tandon dan Rao pada tahun 1974 melaporkan bahwa buah dan jusnya dapat menyembuhkan penyakit perut dan demam sedangkan tunasnya dapat digunakan untuk penyakit kulit. Selain itu, bunga dan daunnya dapat digunakan sebagai penurun panas dan melawan efek overdosis dari alkohol. Daunnya yang dijus dapat digunakan sebagai obat cacing, nyeri pada sendi, serta sakit telinga.

Sementara itu, pada tahun 2005, Kala menyatakan bahwa takokak memiliki efek sedatif (mengantuk) dan diuretik. Daunnya digunakan sebagai penghenti pendarahan. Buahnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, melainkan juga jamu dari buah tersebut sangat efektif untuk pengobatan batuk, penyakit hati dan limpa. Buah yang matang juga dapat digunakan sebagai sediaan tonik rambut, penambah darah, juga sebagai analgesik.

Ekstrak methanol dari buah dan daunnya dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba. Arthan pada tahun 2002 menyatakan, buah takokak memilikisenyawa isoflavonoid sulfat yang memiliki aktivitas sebagai steroid. Takokak juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan kemampuan memperbaiki DNA akibat radikal bebas. Ndebia pada tahun 2007 juga menyatakan bahwa ekstrak air dari takokak terbukti memiliki efek antiinflamasi dan analgesik.

Secara empiris di Ghana, Afrika Barat, para wanita yang baru saja melahirkan umumnya diberikan buah takokak untuk membantu mengembalikan vitalitas tubuhnya. Meski tidak terdokumentasikan secara ilmiah, dapat diamati bahwa wanita-wanita tersebut mampu menunjukan perbaikan kondisi kesehatan yang menunjukkan adanya korelasi terhadap peningkatan sistem daya tahan tubuh.

Peneliltian terakhir yang dilakukan oleh Syamsudin dan Hanggoro pda tahun 2014 menunjukkan bahwa memang terdapat ektivitas imunostimulan atau efek meningkatkan sistem daya tahan tubuh dari ekstrak etanol buah takokak dan ekstrak kering buah leunca. Mungkin inilah yang menjadi alasan di balik mitos orang Sunda yang konon tubuhnya lebih sehat dan tidak mudah terkena penyakit akibat mengonsumsi lalapan terus menerus.

Para leluhur tanah Sunda telah mewariskan kearifan lokal yang luar biasa banyaknya baik dari segi sosial, budaya, hingga kesehatan. Buah leunca dan takokak yang merupakan penganan turun-temurun pun rupanya menyimpan nilai-nilai kearifat yang sangat banyak khasiatnya. Sudah selayaknya tugas kita sebagai generasi penerus untuk mempelajarinya lalu menjaga agar warisan tersebut tidak punah.

Sumber: Aldizal Mahendra, mahasiswa Program Studi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, dari berbagai sumber/*Pikiran Rakyat** Kamis, 4 September 2014

Puasa dan Detoksifikasi Alami

Puasa dan Detoksifikasi Alami
SALAH satu manfaat puasa yang kerap menjadi perhatian para ahli gizi serta kedokteran adalah terjadinya proses detoksifikasi tubuh selama puasa berlangsung. Detoksifikasi adalah proses normal tubuh mengeluarkan racun-racun melalui ginjal, paru-paru, hati, pankreas, serta kulit.

Proses detoksifikasi itu berlangsung, yaitu ketika puasa, di saat tubuh tidak mendapatkan asupan makanan dari luar, tubuh mulai merombak lemak untuk diubah menjadi energi. Pada proses ini, racun-racun yang bertumpuk di dalam lemak tubuh, mulai dieliminasi seiring organ-organ tubuh dan hormon-hormon tubuh berproses mengubah lemak menjadi energi.

Walaupun sesungguhnya tubuh kita mempunyai kemampuan untuk mengeliminasi zat-zat racun yang masuk ke dalam tubuh, namun proses tersebut akan jadi tidak efektif selama tubuh masih mendapat asupan racun lewat makanan. Saat berpuasa proses tubuh mengeliminasi racun akan berjalan lebih efektif karena organ-organ pencernaan tubuh tidak menerima tambahan asupan racun yang bisa masuk lewat makanan, selama kurang lebih 13 jam.

Organ pencernaan pun akan bersih, tidak terjadi kontak dengan racun dalam makanan yang biasanya memenuhi organ-organ ini, karena setelah bekerja 8 jam memproses makan sahur, organ-organ pencernaan istirahat. Dengan istirahatnya organ-organ pencernaan, kerja organ lain seperti hati, ginjal, pankreas, paru-paru dan kulit dalam mengeluarkan racun bisa lebih efektif.

Bahan beracun yang masuk ke tubuh kita bersama makanan bisa bersumber dari hal:
  1. Secara alami terdapat di dalam makanan itu sendiri seperti antitrypsin asam jengkolat pada jengkol, atau hermaglutinin pada kacang-kacangan mentah.
  2. Akibat reaksi-reaksi kimia dari komponen pangan yang terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan. Seperti akrilamida, zat karsinogen yang terbentuk saat bahan pangan berubah warna jadi coklat tua hingga gosong, atau mutasi dari bahan makan yang asalnya tidak berbahaya, karena salah dalam perlakuan proses memasak maka bermutasi menjadi bahan pangan berbahaya, seperti monosodium glutamat (MSG) yang akan berubah struktur menjadi senyawa karsinogen jika dipanaskan melampaui 120°C.
  3. Akibat penambahan senyawa tertentu selama proses pengolahan pangan, misalnya penggunaan bahan tambahan pangan (food additives) secara berlebihan, atau bahkan menggunakan bahan kimia bukan untuk makanan yang membahayakan kesehatan tubuh.
  4. Akibat migrasi senyawa beracun dari wadah/kemasan ke dalam makanan, seperti monomer dari plastiok atau logam-logam berat yang biasa terkandung dalam kemasan makanan-makanan tertentu.
  5. Akibat kontaminasi dari lingkungan yang tidak sehat, berupa kontaminasi senyawa kimia yang beracun atau mikroba penghasil racun.

Jika tubuh kita selama 9 bulan (di luar bulan Ramadan) terus menerus memperoleh asupan bahan makanan yang mengandung toksik, maka unsur-unsur toksik tersebut menjadi bahan berat bagi tubuh, tubuh dipaksa bekerja ekstra untuk mengeluarkan racun-racun tersebut. Akibatnya, daya tahan tubuh pun melemah, sehingga kita mudah diserang berbagai penyakit.

Lain halnya saat kita berpuasa, kerja tubuh membersihkan racun di siang hari tidak dibebani lagi oleh asupan makanan lain, sehingga proses pemecahan lemak yang mengandung racun-racun terperangkap bisa berlangsung optimum. Bahkan kandungan vitamin-vitamin yang berlebih yang terperangkap dalam lemak tubuh seperti vitamin A, D, E, dan K, juga dapat ikut terbuang.

Mekanisme proses detoksifikasi tubuh melalui puasa satu bulan ini, berlangsung terus menerus secara perlahan-lahan, sehingga menyebabkan naiknya daya tahan tubuh, yang ditandai oleh naiknya HDL (kolesterol baik) dan menurunnya LDL (kolesterol jahat), aliran darah menjadi lancar, menyebabkan proses-proses regenerasi sel dan peremajaan organ-oragan tubuh pun berlangsung lancar.

Saat berpuasa, tubuh mendapat asupan karbohidrat, sehingga proses pembakaran karbohidrat yang melibatkan oksigen pun tidak berlangsung. Ini berarti tubuh terbebas dari radikal-radikal bebas yang biasanya timbul sebagai hasil samping pada proses pembakaran karbohidrat bersama oksigen. Terbebasnya tubuh dari radikal bebas aakan membuat ringan kerja tubuh melangsungkan proses-proses detoksifikasi tubuh.

Beberapa studi medis menunjukkan, puasa juga bermanfaat untuk mengendalikan pertumbuhan jaringan yang abnormal pada tubuh, seperti tumor. Tumor menjadi kekurangan nutrisi, sehingga menjadi lemah, akan lebih mudah bagi tubuh untuk memecahnya, dan mengeluarkannya dari tubuh. Hilangnya beban toksik dan radikal-radikal bebas yang mengganggu, memungkinkan tubuh untuk memanfaatkannya sumber daya di dalam tubuh, untuk fokus pada pembangunan kembali hingga ketingkat mikroskopis seperti DNA dan RNA. Proses DNA dan RNA mentranskripsikan protein menjadi lebih cepat.

Selain mengaktifkan tubuh untuk memecah lemak, puasa pun dapat mengaktifkan hormon-hormon positif penunjang metabolisme tubuh menjadi lebih berperan secara optimal.

Sumber: Y Zakiah A, alumnus FMIPA Unpad /*Pikiran Rakyat**, Kamis 26 Juni 2014

Berpikir Positif, Turunkan Berat Badan

Memiliki berat badan ideal, hampir menjadi impian semua orang, terutama kaum hawa. Diet yang ketat dan olah raga secara teratur menjadi alternatif dalam usaha pencapaian berat badan yang ideal. Walaupun kedua hal tersebut memiliki bukti yang cukup signifikan, tahukah anda bahwa pikiran yang positif juga bisa membantu menurutkan berat badan? aspek-aspek di pikiran seperti cara berpikir, juga bertindak, dapat menimbulkan emosi yang ternyata dapat memengaruhi tubuh.

Berpikir Positif, Turunkan Berat Badan
SECARA psikologi, elemen vital dalam upaya menurunkan berat badan adalah mengenali dan kompromi dengan pikiran adna. Sebelum mulai menurutkan berat badan, ubahlah dulu pola pikir (mindset) Anda. Anda harus memiliki motivasi dan optimisme dan harus memiliki pikiran yang positif terhadap tubuh Anda. Berpikir positif membuat kita fokus pada hyal-hal positif sehingga emosi kita akan tenang, perasaan kita pun akan bahagia. Saat keadaan emosi kita tenang dan bahagia, tubuh akan mengeluarkan hormon leptin.

Hormon leptin adalah protein yang ada di dalam sel lemak yang kemudian disirkulasi melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan otak. Hormon ini adalah sinyal dari sel lemak kepada otak yang menyatakan mereka siap bekerja. Saat otak menerima sinyal bahwa sel lemak sudah siap dibakar menjadi sumber energi, bagi tubuh, hal tersebut diartikan sebagai waktunya melakukan proses metabolisme.

Dalam keadaan normal, leptin akan membuat tubuh memproduksi energi sesuai kebutuhan tubuh, yaitu lewat asupan makanan sesuai kebutuhan. Saat perut sudah cukup terisi makanan yang dibutuhkan, leptin akan mengirimkan sinyal ke otak untuk menghentikan proses makan. Otomatis badan kita proporsional karena makan sesuai kebutuhan.

Namun, dalam kondisi tidak normal (kondisi khusus), otak justru tidak bisa membaca sinyal apa-apa ketika kadar leptin sudah berlebihan. Situasi ini dinamakan resistensi leptin.

Kondisi resistensi leptin ternyata ditemukan pada bebera orang dengan status obesitas. Jumlah leptinnya banyak, tetapi otak tidak dapat membacanya sebagai tanda berhenti makan. Akibatnya, otak mereka tidak dapat mengendalikan nafsu makan sehingga menimbulkan terjadinya obesitas.

Agar sistem hormonal tubuh kita dapat berjalan sebagaimana mestinya, diperlukan tindakan-tindakan preventif. Karena, tidak ada pil ajaib yang bisa menggantikan kerja alami tubuh. Untuk itu, diperlukan perubahan pola pikir(mindset) untuk selalu berpikir positif agar terlahir kebiasaan-kebiasaan (gaya hidup) yang positif. Seperti, berpikir logika bahwa insulin kita tidak naik, diperlukan tindakan menjauhi/mengatur asupan makanan atau minuman berkadar gula tinggi.

Menjaga agar trigliserida dalam darah tetap normal (hal ini bisa dikonsultasikan pada doktor ahli), sebab trigliserida yang tinggi akan mengacaukan distribusi leptin sampai ke otak. Tindakan positif juga bisa berupa banyak mengomsumsi makanan berserat tinggi, sebab serat adalah bahan baku utama bagi metabolisme tubuh untuk mengirimkan sinyal pada otak bahwa meraka bekerja dalam status cukup energi. Mengatur waktu tidur agar manfaat istirahat bisa diperoleh secara optimal oleh tubuh.

Dengan berpikir dan bertindak positif, bukan hanya hormon leptin yang akan terjaga, hormon-hormon lain pun yang berperan dalam metabolisme tubuh akan terjaga. Dengan demikian, tubuh langsing proporsional otomatis akan kita dapatkan.

Lain halnya jika kita tidak bisa mengendalikan pikiran kita sehingga acapkali berpikir neganif, emosi dan perasaan kita akan tertekan (stres). Saat kondisi stres, tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol.

Semakin kita berpikir negatif, semakin stres pikiran dan perasaan kita, semakin meningkat pula kadar hormon kortisol dalamtubuh kita. Dengan kadar kortisol yang tinggi, kita akan sulit berkonsentrasi terhadap sesuatu hal, daya ingat kita menurun. Akibatnya, kita jadi kita sering berbuat salah.

Kortisol juga menghambat upaya npemeliharaan dan perbaikan tubuh sehingga secara tidak langsung kortisol mempercepat proses penuaan (penuaan dini). Kekebalan tubuh pun ikut dipengaruhi, kita jadi mudah terinfeksi. Dan yang paling mengganggu program pelangsingan tubuh yaitu potensi dari kortisol yang mampu menggiring lemak ke daerah perut, pundak dan wajah, serta mempengaruhi proses pembentukan otot.

Itulah sebabnya, mengapa orang-orang gemuk yang rajin berolahraga tetapi tetap “memelihara” pikiran-pikiran negatif, tetap berpenampilan buncit. Hal ini disebabakan olahragayang dilakukan tidak bisa mengubah lemak menjadi otot-otot karena adanya pengaruh kortisol yang menggangu proses-proses pembentukan otot. Ketika banyak kortisol diproduksi, jaringan otot Anda akan rusak, sebab asam amino dari protein otot anda sedang dikonversi menjadi glukosa untuk energi.

Kebiasaan hormon kortisol pun lain dengan hormon pada umumnya, sedangkan hormon yang lain julmahnya akan menururt seiring pertambahan usia, hormon kortisol justru jumlahnya akan naik seiring dengan pertambahan usia. Jadi, betul-betul diperlukan tindakan-tindakan menyiasati timbulnya hormon kortisol secara berlebihan. Siata-siasat ini bisa lahir dari pemikiran-pemikiran yang postif.

Sumber: Y Zakiah A, alumnus FMIPA Unpad/*Pikiran Rakyat* Kamis, 10 April 2014