• rss

LEUNCA dan TAKOKAK: Tanaman Sejenis dengan Manfaat Serupa

arsip kula|Senin, 06 Oktober 2014|16.06
fb tweet g+
SEBAGAI orang Indonesia, terlebih apabila hidup di lingkungan suku Sunda, tentu kita familier dengan tumbuhan leunca. Di rumah makan Sunda, dengan mudah dapat ditemukan buah leunca disajikan senbagai lalapan bersama daun salada, kacang panjang, mentimun, dan daun surawung.

Dirumah makan Sunda juga umumnya kita dapat memesan menu olahan leunca yang disajikan bersama ulekan cabai rawit merah, kencur, bawang putih, gula merah, dan terasi bakar yang kita sebut dengan karedok leunca. Ataupun dengan menumis leunca bersama oncom dan jadilah ulukutek leunca yang menggoda. Rasa pedas dari cabai rawit dan oncom ditambah sedikit sensasi pahit dan segar dari buah leunca tepat untuk dijadikan lauk pelengkap makan siang ataupun malam. Jadi, sebagai orang Indonesia, khususnya orang Sunda tentu kita akrab dengan nama leunca. Akan tetapi, seringkah kita mendengar tentang kembarannya, yaitu takokak?

LEUNCA dan TAKOKAK: Tanaman Sejenis dengan Manfaat Serupa
Takokak, Leunca (foto: Google)

Sepintas sulit membedakan kedua tumbuhan ini, karena leunca (Solanum nigrum L.) dan takokak (Solanum torvum Sw) memiliki kemiripan secara fisik sehingga keduanya digolongkan sebagai famili yang sama yaitu Solanaceae). Buahnya pun sekilas terlihat sama dengan bentuk bulat berwarna hijau ketika masih muda sehingga mungkin saja kita tidak mengenalinya apabila hanya terdapat satu jenis di depan kita. Namun, apabila kita membandingkannya bersamaan terdapat beberapa perbedaan.

Kulit buah takokak sedikit lebih tebal dibandingkan dengan buah leunca, begitu pula daun takokak lebih besar dibandingkan daun leunca. Batang takokak sedikit berduri sementara batang leunca tidak berduri. Apabila keduanya dimakan, barulah akan terasa perbedaan rasanya. Leunca seperti yang kita tahu memiliki rasa pahit dengan sedikit manis yang segar. Sementara itu, takokak memiliki rasa yang lebih pahit sehingga jarang ditemui sebagai masakan.

Kalau leunca umumnya ditemui sebagai pengan masyarakat Sunda, takokak mungkin tidak begitu umum dijumpai. Takokak banyak digunakan sebagai tambahan pada sayur gulai singkong di Sumatra Utara. Di daerah Sunda, pemanfaatan takokak contohnya di daerah kampung Gunung Leutik di Kacamatan Ciampea, Bogor digunakan dengan cara dimasak sebagai sayur dan dimakan langsung tanpa di olah.

Sayangnya, dari segi pemanfaatan, takokak masih kalah dibandingkan dengan leunca. Bakhan di Kampung Gunung Leutik, banyak tumbuhan takokak yang sudah ditebang dan tidak diurus dengan baik. Hal ini karena tempat tumbuhnya yang liar, lalu khasiatnya yang tidak banyak terdokumentasikan dan terpublikasikan secara empiris sehingga masyarakat menganggapnya sebagai tumbuhan pengganggu yang kurang menguntungkan. Padahal, ditinjau dari segi farmakologis keduanya memiliki kandungan kimia yang hampir sama khasiatnya.

Tanaman leunca sudah digunakan sebagai obat-obatan sejak 2000 tahun yang lalu. Tanaman leunca bisa digunakan sebagai obat untuk gatal-gatal dan luka bakar. Sejak dahulu kala, di Tiongkok leunca sudah dimanfaatkan sebagai antibakteri, diuretik, dan penurun demam. Di India, daun leunca digunakan untuk mengobati inflamasi dan penyakit kulit.

Tandon dan Rao pada tahun 1974 melaporkan bahwa buah dan jusnya dapat menyembuhkan penyakit perut dan demam sedangkan tunasnya dapat digunakan untuk penyakit kulit. Selain itu, bunga dan daunnya dapat digunakan sebagai penurun panas dan melawan efek overdosis dari alkohol. Daunnya yang dijus dapat digunakan sebagai obat cacing, nyeri pada sendi, serta sakit telinga.

Sementara itu, pada tahun 2005, Kala menyatakan bahwa takokak memiliki efek sedatif (mengantuk) dan diuretik. Daunnya digunakan sebagai penghenti pendarahan. Buahnya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, melainkan juga jamu dari buah tersebut sangat efektif untuk pengobatan batuk, penyakit hati dan limpa. Buah yang matang juga dapat digunakan sebagai sediaan tonik rambut, penambah darah, juga sebagai analgesik.

Ekstrak methanol dari buah dan daunnya dilaporkan memiliki aktivitas antimikroba. Arthan pada tahun 2002 menyatakan, buah takokak memilikisenyawa isoflavonoid sulfat yang memiliki aktivitas sebagai steroid. Takokak juga menunjukkan aktivitas antioksidan dan kemampuan memperbaiki DNA akibat radikal bebas. Ndebia pada tahun 2007 juga menyatakan bahwa ekstrak air dari takokak terbukti memiliki efek antiinflamasi dan analgesik.

Secara empiris di Ghana, Afrika Barat, para wanita yang baru saja melahirkan umumnya diberikan buah takokak untuk membantu mengembalikan vitalitas tubuhnya. Meski tidak terdokumentasikan secara ilmiah, dapat diamati bahwa wanita-wanita tersebut mampu menunjukan perbaikan kondisi kesehatan yang menunjukkan adanya korelasi terhadap peningkatan sistem daya tahan tubuh.

Peneliltian terakhir yang dilakukan oleh Syamsudin dan Hanggoro pda tahun 2014 menunjukkan bahwa memang terdapat ektivitas imunostimulan atau efek meningkatkan sistem daya tahan tubuh dari ekstrak etanol buah takokak dan ekstrak kering buah leunca. Mungkin inilah yang menjadi alasan di balik mitos orang Sunda yang konon tubuhnya lebih sehat dan tidak mudah terkena penyakit akibat mengonsumsi lalapan terus menerus.

Para leluhur tanah Sunda telah mewariskan kearifan lokal yang luar biasa banyaknya baik dari segi sosial, budaya, hingga kesehatan. Buah leunca dan takokak yang merupakan penganan turun-temurun pun rupanya menyimpan nilai-nilai kearifat yang sangat banyak khasiatnya. Sudah selayaknya tugas kita sebagai generasi penerus untuk mempelajarinya lalu menjaga agar warisan tersebut tidak punah.

Sumber: Aldizal Mahendra, mahasiswa Program Studi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, dari berbagai sumber/*Pikiran Rakyat** Kamis, 4 September 2014