• rss

Pakaian, Membungkus Makna

arsip kula|Selasa, 14 September 2010|09.42
fb tweet g+
Membicarakan pakaian masyarakat adat, agaknya tak bisa dilepaskan dari penguruh budaya asing. Jika menengok keseharian dewasa ini, jins dan kaos akan begitu mudah ditemui.begitu juga dengan gamis untuk perempuannya. Tentunya hal itu berbeda dengan leluhur mereka yang belum mengenal pakaian-pakaian tersebut pada masanya.

Namun peneliti Kampung Adat Ade Makmur menilai pengaruh tersebut belum sampai mencapai akar indentitas adat karena tidak melampui fungsi penggunaannya. Terlebih untuk upacara adat, dari awal mula hingga sekarang boleh dibilang tak ada perubahan.

Terutama untuk laki-laki sebagai pemimpin adat, atasan-bawahan putih-hitam ataupun hitam-hitam dan ikat kepala (iket) masih dipegang teguh sehingga identitas adat masih begitu kuat. Meski sebenarnya tak semua masyarakat adat mengerti benar makna filosofi di balik warna pakaian dan iket itu.

Makna-makna yang luas dan dalam akan diperoleh jika ditelisik lebih jauh. Ade Makmur mengatakan pakaian adat yang sama dan dipakai oleh semua tanpa terkecuali bermakna tak berlaku pembadaan strata sosial. Lapisan sosial menjadi tidak berarti ketika mereka dihadapkan dengan kewajiban-kewajiban adat yang lebih mementingkan kepatuhan bersama.

Bisa jadi seperti itu, karena rupanya sulit membedakan warga yang kaya dan biasa saja serta warga “sipil” dan “pejabat” di setiap kampung adat. Dalam pakaian mereka sama dan tak mengandung unsur misalkan manik-manik atau corak-corak tertentu sebagai pembeda.

Pemaknaan lainnya juga diungkapkan oleh juru bicara Kasepuhan Ciptagelar, Yoyoyogaswara. Sarjana lulusan IKP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia) itu mengurainya berdasarkan ilmu seni rupa yang didalamya.
Pakaian adat di Ciptagelar adalah serba hitam untuk acara seremonial seperti seren taun dan serba putih saat menghadiri acara spiritual misalnya Muludan (memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.) hitam, menurut dia, sejatinya merupakan campuran dari semua warna. “Semua warna jika disatukan, hasil akhirnya adalah hitam,” katanya.

Sementara setiap warna, juga mengandung arti seperti yang dimaknai masyarakat. Merah misalnya menunjukan semangat atau kemarahan, biru menyimbolkan ketenangan,dan kuning menyiratkan keceriaan.
“Artinya, hitam menunjukan kami sudah memiliki begitu banyak pengalaman, baik itu senang, sedih, marah, sehingga diharapkan menjadi arif dalam menghadapi sesuatu,” ujarnya.

Sementara warna putih pemaknaannya tak berbeda dengan pemaknaan awam , yaitu suci, Yoyo mengatakan, jika semua warna dicampur lalu diputar, akan muncul aura putih.
Aura putih yang berati suci lantas pemaknaannya dikaitkan erat dengan spiritualitas masyarakat adat. “Itulah mengapa pakaian seraba putih lebih sering dipakai saat acara spiritual,” tuturnya.

Lalu, yang menjadikan masyarakat adat begitu berbeda dari masyarakat kebanyakan adalah iket-nya, iket (dengan berbagai bentuk) merupakan simbol masyarakat agamis. Secara psikologis, iket mengingatkan penggunanya bahwa mereka terikat oleh suatu kesamaan dengan pengguna yang lainnya. Meski dalam keseharian pola pemakaian iket berbeda setiap orangnya. Hal itu menurut dia tak mengartikan perbedaan mendasar. “Itu hanya gaya dan kebiasaannya saja yang berbeda,” ujarnya.
Iket udeng merupakan cara mengikat yang paling sederhana. Selembar kain batik dibentuk menjadi segitiga, dilipat beberapa kali, lalu diikatkan. Sementara iket parekos/paroos lebih menutup semua bagian kepala.variasi gayanya berbeda untuk tipe ini.

Namun, semua gaya itu terikat oleh makna-makna mendasar. Selembar kain batik iket yang merupakan segiempat, menyimbolkan dasar-dasar kehidupan yang harus dipahami yang di Sunda dikenal dengan Konsep opat ka lima pancer.
“Ini selembar kain di depan kita. Bagain depan artinya masa depan, bagain belakang merupakan masa lalu, dan di tengan ini ada kotak yang disebut mokang sebagai masa kini. Kemudian sebalah kanan berati kebaikan dan sebelah kiri artinya keburukan. Itu harus kita ketahui agar hidup kita baik,” katanya.
Lalu ketika segiempat dilipat menjadi segitiga, hal ini menyimbolkan konsep tritangtu. Dalam tulisan Jakob Sumarjo, diakronik sejarah masyarakat sudah pada awalnya mengenal tritangtu yang dalam pengertian sosio-budayanya terdiri atas kesatuan tiga utama Baduy yaitu Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo yang berlaku sebagai indung, sulung dan bungsu.

Secara luas, tritangtu kemudian diartikan sebagai sistem kepemimpinan yang terdiri dari tiga tonggak yaitu Pendiri kampung/pemimpin masyarakat (rama), ulama atau pendeta (resi), dan raja pemegang kekuasaan (Prabu)
“Yang seperti itu sudah dipikirkanoleh mereka (leluhur). Jadi bisa dibilang pakaian adat merupakan simbol pemikiran leluhur yang adiluhung,” kata Yoyo. (Amaliya/”PR”)