Taman Maluku Bandung

Taman Maluku Bandung
Ilustrasi: Fachri/”PR”
Lokasi : Terletak di antara Jalan Ambon, Aceh, Saparua, Sulawesi, dan Seram
Tahun Pembuatan : 1919
Luas : 6.000 meter persegi
Ciri khas taman : kolam air mancur berdiamater 20 meter dan patung HC Verbraak
PATUNG di sudut Taman Maluku berwarna hitam legam, memegang buku yang sedikit terbuka, memakai jubah, lengkap dengan empat lencana yang tersemat di dada kirinya. Patung setinggi empat meter itu merupakan sesosok Belanda bernama Henricus Christianus Verbraak, Sj. Ia merupakan rohaniawan yang bertugas saat perang Aceh pada 1873. Ia dikenal sebagai partor militer yang murah hati terhadap tentara Belanda maupun pejuang Indonesia.

Patung pastor HC Verbraak dibuat pemahat Belanda, Gerhaeda Johanna Wilhelmina. Ia rela tak dibayar untuk membuat patung tersebut karena terkesan dengan reputasi baik sang pastor. Tidak lama setelah pentasbihan Gereja Katerdal Bandung, patung pastor HC Verbraak kemudian di pasang. Patung yang beberapa kali dicat ulang ini merupakan satu-satunya patung peninggalan Belanda yang ada di Kota Bandung. Patung ini selamat dari usaha tentara Jepang untuk menghancurkan semua patung buatan Belanda.

Terlepas dari kesan mistis yang timbul dari Taman Maluku, taman seluas 6.000 meter persegi ini dijadikan taman percontohan oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai ruang terbuka hijau yang baik dalam konsep penataan taman. Taman Maluku dipilih karena luasnya yang tidak terlalu besar serta dianggap memiliki nilai historis yang kental. Taman Maluku yang semula bernama Molukken Park yang dibangun tahun 1919 dengan mengedepankan suasana hutan tropis. Taman yang terletak antara Jalan Ambon, Aceh, Saparua, Sulawesi, dan Seram ini ditata sedemikian rupa oleh Pemerintah Hindia Belanda supaya warga Bandung terutama tuan dan noni Belanda betah berlama-lama menghabiskan waktu di sana.

Terdapat sebuah kolam besar berhiaskan air mancur. Ada pula berbagai jenis tanaman hias yang mempercantik rupa taman. Tak ketinggalan bunga teratai dan pohonan rimbun yang membuat udara di sekitar taman menjadi segar. Pohon yang tumbuh di sana antara lain pohon ki angsret (Spathodea campanulata) dan bungur (Lagerstroemia speciosa). Selain itu, disediakan juga beberapa bangku taman. Kesan artistik taman juga dapat terlihat dari tiang-tiang lampu dengan desain yang elegan.

Sayangnya akses masyarakat Bandung untuk mengunjungi dan menikmati keindahan Taman Maluku agak terhambat setelah pemerintah kota membangun pagar setinggi 2,5 meter yang mengelilingi taman. Terdapat tiga pintu masuknya, namun sering kali terkunci untuk umum.

Sumber: Fitrah/Periset "Pikiran Rakyat"

MUNJUNGAN, Ritual Desa di Indramayu

MUNJUNGAN, Ritual Desa di Indramayu
ilustrasi: Galura
Kebiasaan setahun sekali dalam menyambut datangnya musim hujan dan untuk memulai menggarap sawah, masyarakat Indramayu melaksanakan ritual munjungan, hajat lembur, atau sedekah bumi. Jararoh ke makam-makam luluhur (leluhur). Mendoakan para leluhur (karuhun), dan meminta ke Yang Maha Kuasa supaya hasil panen yang berlimpah (nyugemakeun).

Dalam pelaksanaan Munjungan biasanya dimeriahkan beragam hiburan dan parade (arak-arakan) warga desa. Tua muda melibatkan diri berduyun-duyun ke makam leluhur desa yang biasa disebut Mbah Buyut. Para perempuan (ibu-ibu) membawa baskom yang berisi tumpeng, telur dan bakakak ayam, teri, petek, lalab dan buah-buahan.

Di makam Mbah Buyut, tumpeng dan pernak-pernik hiasannya diserahkan ke Ki Kuncen, untuk diberi doa (parancahan). Selanjutnya tumpeng disimpan ditempat yang telah disediakan. Diluar lingkungan makam, berlangsung hiburan, seperti wayang kulit, sandiwara, wayang golek cepak, tarling, band, organ tunggal atau orkes dangdut. Hiburan ini terkadang berlangsung lebih dari dua hari dua malam.

Sebelum acara memberikan tumpeng, dari pagi sampai siang diadakan pawai (arak-arakan) yang menampilkan beragam hasil kreativitas warga. Untuk menarik minat warga, panitia menyediakan hadiah.

Dalam menggelar ritual munjungan tiap-tiap desa memiliki keunikan tersediri. Misalnya, di Desa Plumbon Kecamatan Indramayu, ada kebiasan lelang tumpeng. Tumpeng dengan ukuran besar dihiasi uang Rp 50 ribuan sampai Rp 100 ribuan. Lelang tumpeng ini harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah, dan pemenangnya akan diarak.

Di Desa Lajer Kecamatan Tukdana dalam ritual Munjungan banyak yang membawa hewan peliharaan: domba, kambing, sapi, kerbau. Hewan peliharan ini akan disembelih dan langsung diolah di area makam Mbah Buyut. Daging yang sudah diolah/dimasak, dihidangkan bagi warga yang datang ke tempat munjungan.

Warga Desa Gadingan dan warga Desa Mekargading di Kecamtan Sliyeg, dalam acara pawai (arak-arakan), tiap RT menampilkan hasil kreativitas warga bisa menghabiskan uang puluhan juta rupiah. Jumlah uang sebesar itu merupakan sumbangan dari warga untuk keperluan; membuat patung binatang, hiburan dangdut juga konsumsi.

Di Desa Larangan Kecamatan Lohbener terdapat enam makam Mbah Buyut. Dalam ritual Munjungan, pemerintah setempat (desa) mengadakan lomba buat warga di seputar makam leluhur (karuhun). Yang menjadi kriteria menilaian antara lain, ketertiban dalam pelaksanaan munjungan, kemeriahannya, keamanan, dan juga bisa tidaknya saling membahagiakan warga yang lain.

sumber: Undang Sunaryo/Galura**