Keagungan Jiwa dan Akhlak Rasulullah saw.

Rusulullah saw. adalah gudangnya sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah SWT telah membimbing dan membuatnya maksum, sampai-sampai Allah memuji beliau. “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S Al-Qalam [68]: 4)

Sifat-sifat yang sempurna inilah yang membuat jiwa orang-orang merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka mencintai beliau. Menempatkan beliau sebagai panutan dan pimpinan yang menjadi tumpuan harapan. Bahkan, orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut. Hingga akhirnya mereka masuk ke dalam agama Allah.

Sejarah mencatat, sebelum kenabian (nubuwah) beliau sudah dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya) oleh orang-orang Quraisy waktu itu, karena kejujuran dan kesantunannya, serta tidak pernah berdusta. Ummul-Mukminin Khadijah r.a, istri beliau, menggambarkan, “Beliau membawa bebannya sendiiri, menyantuni orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.” (H.R Bukhari).

Sebelum Islam yaitu pada masa jahiliah, beliau ditunjuk sebagai pengambil keputusan. Orang-orang Quraisy waktu itu sedang merenovasi Kabah. Mereka membagi sudut-sudut Kabah untuk direnovasi oleh kabilah-kabilah (kelompok suku) yang berpengaruh waktu itu. Tatkala pembangunan sudah sampai dibagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa, kabilah mana yang berhak mandapat kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ditempatnya semula. Perselisihan meruncing, bahkan menjurus kepada pertumpahan darah antar kabilah, di Tanah suci.

Abu Umayyah tampil dan menawarkan jalan keluar dari kemelut diantara mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapapun yang pertama kali lewat pintu masjid. Mereka menerima usulan ini. Allah SWT, menakdirkan sorang yang berhak tersebut adalah Muhammad, yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Tatkala mengetahui hal ini, orang-orang saling berbicara. “Inilah Al-Amin. Kami rida kepadanya. Inilah dia Muhammad.”

Setelah semua orang berkumpul, Muhammad meminta sehelai selendang. Lalu beliau meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah selendang, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang berselisih yang berselisih memegang ujung-ujung selendang. Kemudian memerintahkan mereka, secara bersama-sama mengangkatnya. Setelah mendekati tempatnya, beliau mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempat semula. Inilah peristiwa yang sangat fundamental menjelang kenabian beliau.

Selang beberapa waktu kemudian, turun perintah melaksankan dakwah dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw., mulailah tugas kenabian. Beliau langsung mendapat berbagai perintah, sebagaimana firman-Nya (Q.S Al-Mudastsir [74]:1-7). Hal-hal yang terangkum dalam ayat-ayat ini meliputi 1) tauhid, keesaan Allah, tiada Tuhan selain Allah, 2) iman kepada hari akhirat, 3) membersihkan jiwa dengan menjauhi kemungkaran dan kekejian, 4) memnyerahkan semua urusan kepada Allah, 5) semua itu dilakukan setelah beriman kepada risalah Muhammad, bernaung di bawah kepemimpinan dan bimbingan beliau yang lurus.

Oleh karena itu, Rasulullah saw., bangkit dan setelah itu selama 25 tahun beliau tidak pernah istirahat dan diam. Tidak hidup untuk diri sendiri dan keluarga beliau. Beliau bangkit dan senantiasa bangkit untuk berdakwah, memanggul beban yang sangat berat dipundaknya. Tidak mengeluh dalam melaksanakan beban amanat yang bersar di muka bumi ini, memilkul beban kehidupan manusia, beban akidah, perjuangan dan jihad di berbagai medan. Karakteristik yang paling menonjol dari diri Rasulullah saw., adalah memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau adalah orang yang paling tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur, serta tidak gentar. Ali r.a. berkata, “jika kami sedang dikepung ketakutan dan bahaya maka kami berlindung kepada rasulullah saw. tak seorangpun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”

Rasulullah adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya, dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat bahkan musuh beliau pun mengakui hali ini. Karakter lainnya dari Nabi saw. adalah orang yang paling tawadu (merendahkan diri) dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau yang paling aktif memenuhi janji, menyambung silaturahmi, paling menyanyangi, dan bersikap lembut terhadap orang lain. Paling bagus pergaulannya dan akhalknya. Tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa, tetapi memaafkan dan lapang dada. Mencintai orang miskin dan suka duduk-duduk bersama mereka, menghadiri jenazah mereka. Beliau adalah pemurah hati dan kedermawanan beliau sulit digambarkan.

Ibnu Abbas berkata. “Nabi saw. adalah orang yang paling murah hati. Terlebih pada bulan Ramadan. Beliau benar-benear lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripa angin yang berhembus.” Jabir juga berkata. “Tidak pernah beliau diminta sesuatu, lalu menjawab tidak,” (H.R Bukhari). Nabi saw. pun adalah seorang yang paling malu dan suka menundukan mata. Abu Sa’id Al-Khudry berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu dari gadis pingitan. Jika tidak menyukai sesuatu maka bisa diketahui dari raut wajahnya.” (H.R Bukhari).

Beliau selalu menahan lidahnya, kecuali untuk hal-hal yang dibutuhkan, mempersatukan para sahabat dan tidak memecah belah mereka. Beliau tidak duduk dan tidak bangkit kecualli dengan zikir. Sifat-sifat di atas hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Rasulullah saw. adalah hamba pilihan Allah, yang senantiasa dibimbing wahyu dan dimaksum, serta mendapat cahaya Rabb-Nya, sehingga akhlaknya pun Alquran.

Sumber: H. Eddy Sopandi, peserta majelis taklim di beberapa masjid, antara lain Al-Furqon UPI, Istiqomah, Viaduct, Salman ITB. /”PR”

Minum Obat dengan Susu, Efektifkah?

susu vs obat
Berita adanya sejumlah produk susu formula dan makanan bayi yang tercemari bakteri Enterobacter sakazakii, telah membuat cemas masyarakat luas terutama kaum ibu. Kecemasan kaum ibu tersebut dapat dimaklumi, karena hampir sebagian besar anak usia balita sangat menyukai susu. Bahkan beberapa anak di antaranya, ada yang tetap menginginkan minum susu pada saat ia harus minum obat karena sakit. Namun, terlepas dari masalah susu yang tercemar tersebut, akan efektifkah kerja obat yang diminum dengan susu? Tidakkah susu akan menetralkan zat-zat yang dikandung obat tersebut?

Secara umum, kandungan susu baik susu formula maupun susu cair UHT, adalah air, lemak, karbohidrat, zat-zat mineral (kalsium, kalium.dan lain sebagainya), serta protein yang tersusun olehasam-asam amino.S truktur kimia asam amino ini umumnya memiliki gugus karboksilat (COOHiC Karbon, O Oksigen, dan H Hidrogen) yang bersifat asam, dan gugus amina (NHx; N Nitrogen) yang bersifat basa.

Jika gugus yang terkandung dalam susu ini bertemu dengan unsur-unsur dalam obat yang juga memiliki sifat asam atau basa, besar kemungkinan antara susu dan obat tersebut akan terjadi reaksi pene-tralan asam basa, yang mengakibatkan berkurangnya kadar (khasiat) obat. Hal ini dapat digambarkan pada pemakaian aspirin yang diminum dengan susu.

Aspirin atau asam salisilat atau ada juga yang menyebutnya asetosal, adalah sejenis obat turunan dari salisilat, yang pemakaiannya cukup luas, memiliki, efek antikoagulan, terkadang digunakan juga dalam dosis rendah dalam tempo yang lama untuk mencegah serangan jantung. Aspirin ini sering digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit/nyeri minor), antipiretik (terhadap demam), dan antiiriflamasi (peradangan), atau beberapa kalangan menggolongkannya dalam golongan NSAID (Non Steroidal Anti Inflammatory Drug).

Obat-obatan golongan NSAID, merupakan obat pembunuh rasa sakit yang bekerja dengan cara menghambat terbentuknya prostaglandin. Prostaglandin adalah zat yang selalu ada dalam sel tubuh, bekerja sebagai zat yang menyebabkan peradangan dan rasa sakit, namun di sisi lain, juga membantu terbentuknya selaput mukosa lambung. Dengan terhambatnya prostaglandin oleh aspirin, rasa sakit dan infeksi pun akan hilang, tetapi pada saat yang bersamaan, lambung pun menjadi rentan terhadap iritasi, karena selaput mukosanya berkurang.

Oleh karena itu, umumnya obat-obatan golongan NSAID diresepkan untuk diminum sekurang-kurangnya 30 menit setelah makan. Hal ini dimaksudkan supaya yang masuk ke lambung terlebih dulu adalah makanan, untuk melindungi dinding lambung agar tidak terjadi iritasi. Dengan adanya kenyataan tersebut, beberapa kalangan berpendapat, obat-obatan golongan NSAID yang bersifat lypophylic (mudah larut dalam lemak), boleh diminum bersamaan dengan susu, dengan alasan susu tersebut akan lebih dulu melindungi dinding lambung. Padahal, tindakan tersebut memungkinkan akan timbulnya reaksi penetralan asam-basa antara susu dan aspirin.

Struktur kimia aspirin, terlihat dari sifat asam salisilatnya, memiliki gugus karboksilat. Jika aspirin diminum dengan susu, maka gugus karboksilatnya akan bereaksi degan gugus amina dalam susu, menimbulkan reaksi penetralan asam-basa, sehingga otomatis kadar aspirinnya yang aktif/bebas akan berkurang, karena terambil sebagian dalam reaksi penetralan asam-basa. Sehingga khasiatnya pun tentu saja akan berkurang.

Demikian pula halnya dengan beberapa golongan obat yang mengandung unsur logam. Jika obat ini diminum dengan susu, maka kalsium pada susu akan membentuk ikatan-ikatan kompleks yang kuat (khelat) dengan unsur logam yang terkandung dalam obat tersebut. Akibatnya unsur yang aktif/bebas dari obat tersebut hanya tersisa sebagian, sehingga khasiat obat pun akan berkurang.

Untuk beberapa obat yang tergolong antibiotik seperti antibiotik golongan tetrasik-lin dan turunannya (dokisiklin, oksitetrasiklin, minosiklin), dan beberapa golongan fluorchinolone (Ciprofloxacin dan Norfloxacin), jika diminum dengan susu, besar kemungkinan kalsium dari susu akan membentuk ikatan kalsium-tetrasiklin. Ikatan ini berupagumpalan atau endapan berwarna kuning. Ukuran gumpalan yang terbentuk ini bisa jadi cukup besar, sulit untuk melewati dinding usus. Akibatnya, antibiotik tersebut bukannya masuk ke dalam aliran darah, melainkan akkn dicerna oleh usus. Hal ini menyebabkan berkurangnya efek pengobatan oleh antibiotik tersebut, sehingga kuman ditubuh tidak mati, malah sebaliknya, akan tercipta kondisi kuman yang resistan. Namun sebenarnya tidak semua obat jika diminum dengan susu akan jadi tidak efektif. Ada beberapa golongan antibiotik dan obat-obatan tertentu yang tidak menimbulkan masalah jika diminum dengan susu.

Namun, terkadang nama dagang yang digunakan pihak produsen obat cukup membingungkan konsumen. Konsumen umumnya tidak mengerti akan perbedaan nama kimia dengan nama dagang suatu obat, sehingga mereka akan ragu menentukan mana obat-obatan yang akan tetap efektif jika diminum dengan susu.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya ketidakefektifan suatu obat, sebaiknya obat diminum dengan air putih saja. Air putih cukup efektif dalam melarutkan obat, tetapi tidak ikut bereaksi dengan obat tersebut, sehingga tidak mengganggu kadar/khasiat dari obat-obatan tersebut.----

Sumber: Y. Zakiah A., alumnus FMIPA Unpad,/"Pikiran Rakyat"