Kebersahajaan di Kampung Religius (Kampung Adat Mahmud)

MEMASUKI Kampung Adat Mahmud, napas religius tampak terasa. Meski sejumlah bangunan telah tersentuh arsitektur modern, selebihnya rumah-rumah masih bersahaja. Nuansa keislaman terasa dari jajaran penjual busana dan aksesori di dekat masjid. Tampak jongko kopiah, baju koko, dan gamis, mukena, hingga tasbih. Ada juga yang menjajakan Alquran dan buku-buku agama Islam lainnya.

Kebersahajaan di Kampung Religius (Kampung Adat Mahmud)
USEP USMAN NASRULLOH/*PR*
MAKOM Eyang Mahmud di Kampung Adat Mahmud, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, Kabuapten Bandung. Kampung Mahmud dibangun sekitar abad ke 15 masehi. Merka menempati daerah seluas 4 hektar yang dihuni oleh sekitar 200 keluarga oleh Eyang Abdul Manaf.
Secara administratif. Kampung Adat Mahmud berada di wilayah Desa Mekarrahayu, Kecamatan Margaasih, kabuapten badnung. Lokasi Kampung Mahmud berada di RW 04. Di sana hanya ada dua RT, yaitu RT 01 dan RT 02. Akses menuju Kampung Adat Mahmud dari Kota Bandung juga kian mudah dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Kampung Mahmud dibangun sekitar abad ke-15 masehi. Mereka menempati daerah seluas 4 hektar yang dihuni oleh sekitar 200 keluarga. Sementara mayoritas mata pencaharian penduduknya bekerja sebagai petani.

Pendiri Kampung Mahmud adalah Eyang Abdul Manaf. Berdasarkan beberapa sumber, Eyang Abdul Manaf adalah salah seorang leluhur yang merupakan keturunan dari Sultan Mataram. Salah seorang putra Sultan Mataram adalah Syahid Abdurrahman yang memiliki putra yang bernama Pangeran Atasangin. Pangeran ini kemudian memiliki putra, yaitu Dipatiukur Agung yang kemudian berputrakan Pangeran Wangsanata.

Dalem Nayasari yang menyebarkan Islam di Tarogong Garut, merupajan putra Pangeran Wangsanata. Dalem Nayasari kemudian memiliki putra bernama Pangeran Nagadirdja dan kemudian berputrakan Eyang H Abdul Manaf.

Eyang Abdul Manaf meninggalkan kampung halamannya menuju ke tanah Suci Mekah. Pada suatu waktu, ia memutuskan untuk kembali ke tanah air. Sebelum kepulangannya ke tanah air, di dekat Masjidil Haram ia memanjatkan doa kepada yang mahakuasa. Dalam doanya, ia meminta suatu kampung yang bebas dari penjajah. Sekembalinya ke tanah air, tepatnya di tatar Sunda, ia mencari lahan untuk tempat perkampungan. Pencarian berakhir setelah ditemukan lahan rwa yang terdapat di pinggiran Sungai Citarum. Satu demi satu rumah penduduk bermunculan di sana, hingga akhirnya membentuk suatu kampung. Kampung itu kemudian diberi nama Mahmud.

Hingga kini, Eyang Abdul Manaf mempunyai tujuh generasi penerus. Keberadaan meraka masih eksis hingga kini. Sebagai masyarakat yang masih menajga tradisi leluhurnya, warga Kampung mahmud sangat mencintai dan menghormati leluhurnya. Sebagai bukti kecintaan, penghargaan, dan penghormatan terhadap para leluhur, mereka memelihara makamnya dengan baik.

Terus berkembang
Awalnya keberadaan Kampung mahmud seperti terpencil. Namun, sejak dibangunnya sebuah jembatan besar hingga dapat menembus kampung tersebut, jembatan inilah seolah memutus keterasingan waraga Mahmud dengan dunia luar.

Rumah asli penduduk Kampung Adat Mahmud adalah rumah bersahaja, sederhana dengan dinding bilik bambu, tidak bertembok, tidak berkaca, serta berbentuk panggung. Selain merupakan aturan adat, warga sangat menjunjung kesederhanaan dan tak saling menonjolkan diri.

Pilihan membangun rumah panggung sebenarnya didasarkan atas fakta bahwa tanah di perkampungan Mahmud sangatlah labil karena berdiri di atas tanah bekas rawa di pinggiran Sungai Citarum.

Sayangnya, pemandangan dulu lain dengan sekarang sebagai bentuk gerusan zaman. Kini, di sssssana sini kini mulai terlihat rumah-rumah beton bertembok dan menggunakan kaca. Setiap sudut rumah yang berjajar, terparkir motor.

Pada awal terbentuknya Kampung Mahmud ini, Eyang Abdul Manaf melarang penduduk membuat lubang sumur, tembok, dan kaca. Eyang Abdul manaf juga melarang penduduknya untuk memeliahra angsa dan kambing sebagai ternak, serta dilarang memiliki beduk dan gong untuk menghindarkan masyarakat dari ancaman penjajah. Wajar saja, akrena kampung itu dulunya merupakan tempat persembunyian para pejuang.

Selain terdapat makam Eyang Abdul manaf, di Kampung Mahmud terdapat sejumlah makam lainnya. Makam-makam ini sering didtangi para peziarah. Tak sedikit pula para peziarah yang sengaja menginap di sana hingga berhari-hari. Kebanyakan peziarah datang pada bulan Mulud.

Jika ingin menuju ke Kampung Mahmud, ada sejulmah alternatif rute yang dapat ditempuh menuju Kampung Mahmud. Terdapat angkutan kota (angkot) yang langsung menuju ke sana, yaitu jurusan Tegallega-Mahmud. Angkot lainnya yang melintas adalah jurusan Cipatik. Sayang, kini jalan-jalan menuju ke Kampung Adat Mahmud rusak berat. Padahal, kampung itu merupakan salah satu aset wisata religi di Kabupaten Bandung.

Sumber: Ahmad Yusuf/*Pikiran Rakyat*, Senin 8 Juli 2013

Pabrik Kina (Bandoengsche Kinine Fabriek)

DAHULU, saat bangunan belum berdiri megah dan Batavia masih berupa rawa-rawa, nyamuk sempat jadi musuh utama penjajah Belanda. Bahkan selama 53 tahun, antara 1714-1767, tercatat 72.816 penduduk eropa yang tinggal di Batavia meninggal karena penyakit malaria. Karena penyakit inilah kota Batavia sempat dijuluki “Het graf van het Oosten” atau kuburannya negeri timur.

Pabrik Kina (Bandoengsche Kinine Fabriek)
Parmaali /*PR*
Lokasi: Jalan Pajajaran No. 29-30, Kota Bandung
Bediri: 1896
Arsitek: Gneling Mijling AW dengan gaya arsitektur art deco
Bangunan: Pabrik kina terdiri atas beberapa kompleks pabrik. Pabrik di Jalan Cicendo berfungsi sebagai gudang kulit kina, sementara kompleks bangunan di sudut Jalan Pajajaran-Cihampelas berfungsi sebagai tempat sarana kebutuhan pabrik.
Kedua kompleks pabrik dihubungkan dengan sebuah lorong kecil berbentuk terowongan yang melintas dibawah Jalan Pajajaran dan berada sekitar 2,5 meter di bawahnya.
Lebar terowongan sekitar satu meter dengan panjang yang sama dengan lebar Jalan Pajajaran, sekitar sepuluh meter. Hingga saat ini terowongan masih aktif digunakan untuk lalu lintas para pegawai untuk menuju kompleks utama pabrik.
Perkembangan sejarah: 1896: Didirikan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama Bandoengsche Kinine Fabriek.
1942: Pada zaman pendudukan Jepang namanya berubah menjadi Rikugun Kinine Saisohjo.
1945: Belanda kembali masuk ke Indonesia dan kepemilikan diambil lagi oleh Bandoengsche Kinine Fabriek.
1958: Dinasionalisasi dan namanya berganti jadi PN Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kina.
1961: Berubah jadi Bhineka Kina Farma.
1971: Dengan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971 berubah menjadi PT (Persero) Kimia Farma.
Melihat hal tersebut, Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda, Ch F Pahud, pada 1851 mengusulkan pada PW Junghuhn untuk melakukan pembudidayaan kina di tanah Jawa. Pada tahun yang sama, Prof de Vriese mendapatkan biji kina dari spesies yang paling baik yang telah disemaikan pada rumah kaca di Prancis. Melalui tangan dingin Dr Teijsmann, kurator Kebun Raya Bogor, bibit yang sempat layu itu lalu dicangkok dan dirawat sepenuh hati. Hasilnya cangkokan tersebut mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Dari pohon kina yang satu itulah kemudian berpuluh batang kina dibiakkan.

Untuk mengolah kulit kina menjadi garam kina, Pemerintah Hindia Belanda kemudian mendirikan pabrik kina di Bandung pada 1896. Pada masa-masa itu perkebunan kina di Indonesia bisa menghasilkan hingga rata-rata 11.000 ton kulit kering/tahun, atau setara dengan 33.000 kulit basah/tahun. Dari jumlah tersebut, 4.000 ton diolah di dalam pabrik kina di Bandung dan 7.000 ton diekspor dalam bentuk kulit kina. Dengan jumlah tersebut, saat itu Indonesia bisa mengisi hampir 90 persen pangsa pasar kina dunia.

Berdiri di atas kebun karet sebelah utara, atau Jalan Pajajaran sekarang, pabrik kina telah menjadi simbol kota Bandung selama puluhan tahun. Pada tahun 1980an, masyarakat Bandung akrab dengan asap hitam yang membubung dari cerobong asap pabrik kina, hasil pembakaran mesin ketel uap manual Babcox & Wilcox. Begitu pula dengan suara sirine yang berbunyi sempat kali sehari, penanda waktu karyawan masuk kerja (7.00 WIB), beristirahat (11.30 WIB), kembali masuk kerja (12.00 WIB), dan saat karyawan pulang kerja (15.30 WIB).

Karyawan pabrik sering menyebut sirine tersebut dengan nama si heong. Sejak 1896 hingga saat ini, si heong belum pernah absen mengeluarkan suaranya. Bahkan, peluit yang menjadi sumber suara belum pernah diganti sejak awal pabrik kina berdiri hingga sekarang. Namun, tidak demikian dengan mesin uapnya. Sejak 1995, mesin uap Babcox & Wilcox sudah dipensiunkan dan diganti dengan ketel uap otomatis buatan Surabaya. Pasalnya, asap hitam yang jadi simbol pabrik kina tersebut dianggap telah mencemari udara. Ketelnya perlu diganti dengan yang lebih ramah lingkungan.

Selain mengurangi pencemaran, penggantian ketel uap juga mampu meringankan pekerjaan di pabrik dan mengurangi pemakaian bahan bakar. Mesin Babcox & Wilcox menghabiskan bahan bakar residu antara 3.000-4.000 liter perhari atau sama dengan 120.000 liter residu perbulan, sementara mesin yang baru hanya membutuhkan 33-36 ton solar per bulannya.

Sumber: Vetriciawizach/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu, 14 Oktober 2012

Pusaka-pusaka di Bumi Alit Kabuyutan Disucikan

Tepat pada 12 Rabiul Awal yang kerap disebut Maulid atau Sura menjadi momentum bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah maupun Jawa Barat untuk melaksanakan tradisi mencuci benda-benda pusaka. Tak terkecuali di Situs Bumi Alit Kabuyutan, Desa Lebakwangi, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, yang mengadakan acara serupa, Selasa (14/1/2014).

Cagar budaya yang luasnya sekitar 600 meter persegi penuh sesak oleh manusia. Apalagi, saat digelar upacara pencucian benda-benda pusaka peninggalan zaman perunggu.

Acara diawali dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Menurut sesepuh Bumi Alit Kabuyutan, Tatang Tarmana, acara yang digelar setiap 12 Rabiul Awal (Maulid) tersebut juga dipergunakan ajang silaturahmi keluarga besar Kabuyutan maupun masyarakat Kecamatan Arjasari. “Anggota keluarga yang terikat tali silsilah Kabuyutan pasti akan datang meskipun mereka tinggal di luar Kabupaten Bandung, bahkan yang berada di luar Pulau Jawa,” kata Tatang.

Silaturahmi antarwarga, kata Tatang, juga ditandai dengan makan bersama (botram) dengan warga. Mereka membuka bekal makanan masing-masing.

“Rasa kekeluargaan maupun persaudaraan terus kami jaga. Bentuknya bisa sederhana seperti makan bersama di areal Situs Bumi Alit Kabuyutan,” kata Tatang

**

Pusaka-pusaka di Bumi Alit Kabuyutan Disucikan
Foto: bumialitkabuyutan.blogspot.com
Puncak acara yang dinanti-nanti ratusan warga yang hadir adalah dengan pencucian (ngarumat) benda-benda pusaka milik Bumi Alit Kabuyutan. Ratusan warga berebut air sisa pencucian benda-benda pusaka yang dianggapnya bisa mendatangkan manfaat dan berkah untuk kehidupannya.

Pusaka yang dicuci diantaranya seperangkat gamelan goong renteng Embah Bandong, kujang, buli-buli (tempat menyimpan wewangian), tombak, dan sumbul.

“Khusus sumbul ditutup kain putih dan tidak boleh dibuka sama sekali oleh siapa pun. Lapisan penutup luar boleh dibuka ketika sudah rusak dan diganti dengan yang baru. Namun, tetap saja tidak boleh melihat wujud asli sumbul,” tuturnya.

Menurut Tatang, keturunan Kabuyutan Lebakwangi boleh membuka sumbul asalkan sudah bisa membuka rahasia yang ada pada dirinya. “Makna ini sebagai upaya pembelajaran agar kita melakukan introspeksi diri sebelum mengoreksi orang lain,” tutur Tatang.

Sementara itu, Rucita yang kerap dipanggil Deden Sego mengatakan tradisi pencucian barang-barang pusaka milik Bumi Alit Kabuyutan sudah terjadi sejak lama. “Air dari cucian ditampung lalu diperebutkan ratusan warga yang hadir. Hanya, air itu disarankan sebatas mencuci muka dan tidak boleh diminum karena ada unsur karat dari besi benda pusaka,” katanya.

Apalagi, mutu air untuk mencuci benda pusaka juga saat ini juga kurang baik karena sebagian tercemar limbah rumah. “Kalau dulu air di Desa Lebakwangi masih bagus karena lingkungan alamnya masih terjaga,” kata Rucita.

Sumber: Sarnapi/*Pikiran Rakyat** Rabu, 15 Januari 2014

Bangkitnya Topeng Losari “Nur Anani Pentasnya Sangat Maksimal”

Mata terpejam, tangan gemulai mengikuti irama, badan sesekali didorongkan ke kiri ke kanan, kadang melenggak ke belakang (galeyong). Kaki diangkat setengah badan dan kaki satunya lagi berjinjit di lantai (gantung sikil). Begitulan kalau Nur Anani membawakan “Klana Bandopati”. Salah satu tarian dalam khazanah tari topeng losari.

Pentas keliling “Tari Topeng Babakan Losari” digelar di Gedung Sunan Ambu, STSI, Jln. Buahbatu, Sabtu (17/11/2012). Pentas keliling ini merupakan pentas terakhir setelah tampil di Yogyakarta dan Jakarta.

Sebagai penari generasi penerus Mak Dewi (maestro tari topeng losari) dan Sawitri (maestro tari topeng cirebon), Nur Anani bersama Sanggar Purwa Kencana ingin membuktikan bahwa tari topeng losari bisa bangkit kembali setelah terpuruk bahkan sempat menjual gamelannya demi menyambung hidup.

Topeng losari berbeda dengan topeng lain yang selama ini dikenal masyarakat Jawa Barat. Jika dibandingkan dengan tari topeng dari wilayah barat Cirebon, tari topeng losari yang mewakili Cirebon bagian timur, memiliki kekhasan yang unik.

Bangkitnya Topeng Losari Nur Anani Pentasnya Sangat Maksimal
ANDRI GURNITA/PR
Tari pamindo yang menceritakan tetang tokoh kesatria mengawali pentas Keliling Tari Topeng Babakan Losari Sanggar Purwa kencana di Gedung Sunan Ambu STSI, Jln Buahbatu, Sabtu (17/11/2012)
Menurut maestro tari topeng Irawati Durban Ardjo, lokasi Losari yang berbatasan dengan Brebes, Jawa Tengah, membuat topeng losari banyak dipengaruhi gaya Jawa Tengah. Gaya itu tampak pada gerakan-gerakannya yang tidak dijumpai dalam tari topeng wilayah barat, misalnya topeng palimanan, topeng slangit, topeng gegesik, topeng susukan, atau topeng tambi di wilayah Indramayu. Namun, antara mereka tetap berhubungan satu sama lain.

Gerakan topeng losari lebih pada gerakan geometrik dan luwes, sedangkan pada tari topeng wilayah Cirebon barat hanya geometrik. “Ini yang menarik, malah dalam topeng losari ada gerakan gantung sikil (gantung kaki) yang dilakukan cukup lama, tetapi tidak ditemui dalam gerakan tari topeng yang lain”, demikian Irawati.

Hal senada disampaikan Pembantu Ketua I Bidang Penddidikan STSI Bandung yang juga penari Dr Een Herdiani. Banyak perbedaan yang menjadi ciri khas topeng losari. Perbedaan itu tampak pada musik (gamelan) pengiring, gerakan tari, ataupun pakaian tari.

“Contohnya pada baju lokcan. Pada topeng biasa, berupa baju kutung saja, tapi pada topeng losari lebih panjang samapai menutuipi tubuh”, katanya menerangkan.

Topeng losari dikembangkan oleh Ibu Dewi (Mak Dewi) dan Ibu Sawitri. Aktivitas seni ini sebenarnya sudah ada sejak buyut Dalang Topeng Bapak Sumitra melalui pentas dari panggung ke panggung ataupun dalam bentuk “bebarang”.

Tradisi topeng losari dilanjutkan oleh Ibu Dewi. Namun, karena Mak Dewi meninggal, pamornya tidak lama dan digantikan oleh Ibu Sawitri. Selesa Ibu Sawitri tiada, tradisi topeng losari dilanjutkan oleh Nur Anani cucu dari Ibu sawitri.

Berbeda dengan penari topeng lain yang lebih banyak ditempa oleh latihan dan alam, Nur Anani justru menyeimbangkannya dengan studi di Jurusan Tari STSI Bandung. Ia dengan tekad kuat akan mmempertahankan tradisi topeng losari walaupun harus tertatih-tatih. “Kami mohon maaf bila penampilan kami kurang memuaskan, maklum kami apa adanya. Ongkos untuk bisa tampil di sini juga sangat mahal,” tutur Nur Anani.

Sanggar Purwa Kencana yang menjadi tempat Nur Anani melanjutkan estafet budaya dari para tetuanya, memang mendapat fasilitas dari Yayasan Kelola. Sebuah yayasan finansial agar sebuah kesenian dapat dilestarikan.

“Walaupun bantuan itu tidak besar, kami sangat berbangga hati karena dengan begitu topeng losari bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Tanpa terpengaruh keprihatinan itu, pentas malam itu menjadi bukti kerja keras dan keteguhan Nur Anani beserta sanggarnya dalam mempertahankan topeng losari.

Sebelumnya, panggung dibuka dengan suguhan tari pamindo yang lembut gemulai, disusul dua tarian dari Luh Saraswati dan dua anak didik Nur Anani. Dilanjutkan “Bodoran Topeng Losari” yang menjadi jeda di sela-sela babak. Bodoran ini berkaitan dengan beberapa babakan cerita dalam topeng losari. Ada sembilan pembabakan dalam topeng losari. Namun, karena terbatas waktu, pentas tidak menyuguhkan utuh babakan tersebut.

Walaupun demikian, suguhan Klana Bandopati yang menjadi penutup pertunjukan menjadi tarian paling tidak terlupakan. Nur Anani membawakan dengan sangat maksimal. Sebuah pentas yang mengundang penonton melemparan “saweran” tanpa henti.

Sumber: Eriyanti/*Pikiran Rakyat* Senin, 19 November 2012

Sasakala Batu nu Bisa Ceurik :: Dongéng

Kacaturkeun jaman baheula, di hiji désa atawa lembur di sisi gunung nu aya di wewengkon Kalimantan, aya hiji awéwé randa nu hirup babarengan jeung saurang anakna, awéwé, nu umurna geus mangkat rumaja atawa sawawa. Éta budak awéwé téh kacida geulisna! Da cacak lamun cicingna di kota mah tinangtu geus jadi pamajikan sudagar kaya atawa kaum bangsawan. Sok sanajan geulis rupana, éta budak awéwé téh ngabogaan sipat anu goréng, adigung, jeung kacida pisan ngedulna!

Sasakala Batu nu Bisa Ceurik :: Dongéng
ilustrasi: Mangle
Biasana lamun indungna indit ka kota rék ngiangkeun hasil tatanén jeung suluh, anakna téh tara diajak, sok sina cicing wé nungguan imah. Tapi dina hiji poé mah anakna téh diajak, ngarah apal kayaan kota sarta ngarah nyaho kawas kumaha ripuhna nu jadi indung dina sual pangabutuh sapopoé. Puguh wé anakna ngarasa bungah naker diakan ka kota téh, da puguh arang langka nyaba. Manéhna tuluy dangdan sateker kebek, ngarah katingal leuwih geulis! Pasusubuh arindit ti imahna téh, laleumpang. Inditna ngakeup suluh bari angkaribung ngajingjing sarta nyunyuhun karanjang nu dieusian ku hasil tatanén jualeun ka pasar. Ari anakna mah leumpang ti heula, ngagandeuang teu barangbawa nanaon pisan! Dangdananana ginding, maké papakéanana nu wareuteuh. Sabalikna ari indungna mah maké papakéanana téh estuning basajan pisan, maké papakéan nu biasa dipaké gawé sapopoéna!

Di jalan di pasampangan, unggal panggih jeung jelema teu weleh waé maruji kana kageulisan budak awéwé téa bari puk-pok naranyakeun ka indungna:

“Leuh, aya ku geulis éta Si Nyai! Tuang putra éta téh, Bu? Ceuk nu nanya. Saméméh pok indungna ngajawab kaburu dipiheulaan ku anakna dijawab kieu:

“Oh, sanés, abdi mah sanés putrana, tapi dununganana! Ieu téh pakacar abdi!” ceuk budakna téh bari nuduhkeun indungna.

Kitu jeung kitu wé, unggal aya nu nanyakeun ngeunaan indungna, si budak awéwé téh sok ngajawab yén anu ditukangeun manéhna téh pakacarna atawa babuna, lain indungna!

“Aya ku teungteuingan Nyai, ka indung ngakukeun babu! Ieuh, najan hadé-goréng ogé apanan Ema téh indung hidep! Ceuk indungna.

“Da éra atuh, Ema! Moal enya ari kuring sakieu gindingna, ku batur pada nyarebut geulis, sedengkeun ari indung sorangan meuni sakitu rudinna! Éra atuda ngakukeunana gé!” tembal anakna bari kuraweud, jamotrot.

Di satengahing jalan indung jeung anak paréaréa omong, pacental-cental! Ahirna bakating ku nyeri haté dihina ku anakna, pok wé indungna téh nyarita kieu:

“Nya enggeus atuh Nyai, ari sakirana manéh bedegong sarta gurat batu mah, embung ngakukeun yén Ema indung manéh, ti semet ayeuna kénéh manéh mah bakal jadi batu …! Ceuk indungna. Réngsé indungna nyarita kitu, dadak sakala langit ujug-ujug angkeub! Gelap pating beledag! Si budak awéwé anu doraka ti indungna kabentar ku gelap! Awakna tutung, sarta harita kénéh robah jadi batu!

Éta batu téh ngaluarkeun cai, nu dipercaya cenah éta téh cipanon budak awéwé téa anu keur ceurik lantaran ngarasa kaduhung! Nepi ka kiwari éta batu téh nelah disarebut “batu menangis.*** (ku Agus B. Irawan/Mangle No. 2303)

“Guna Ompoy”, Kuliner dalam Naskah Sunda Kuno

Guna Ompoy, Kuliner dalam Naskah Sunda Kuno

Oleh: ATEP KURNIA; peneliti literasi, bergiat di Pusat Studi Sunda (PSS)
Ada dua rekaman mengenai berbagai jenis kuliner dalam naskah Sunda. Keduanya, naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630) dan Sanghyang Swawarcinta (Kropak 626). Dalam Sanghyang Siksakandang Karesian yang diteliti Salah Danasasmita, dkk. dan diterbitkan Sundanologi (1987), itu mengenalkan kita kepada beberapa klasifikasi kuliner yang umum diolah dan dihidangkan pada masa Sunda kuno.
Sarwa Iwiraning olahan ma; nyupar-nyapir, raramandi, nyocobék, nyopong konéng, nyanglarkeun, nyaréngséng, nyeuseungit, nyayang ku pedes, beubeuleman, panggangan, kakasian, hahanyangan, rarameusan, diruruum, amis-amis; singsawatek kaolahan, hareup catra tanya (Segala maccam masakan, seperti: nyupa-nyupir, raramandi, nyocobék, nyopong konéng, nyanglarkeun, nyeuseungit, nyayang ku pedas, beubeuleuman, papanggangan, kakasian, hahanyangan, raramesan, diruum diamis-amis; segala masam masakan, tanyalah hareup catra).”

Namun, yang lebih kaya diteliti Tien Wartini, dkk. (2011) serta diterbitkan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan Pusat Studi Sunda (PSS) ini menyatakan cara memasak atau pélag olah-olah (keterampilan kuliner) berbahan ikan air tawar, ayam, juga jenis sate.

Untuk jenis masakan ikan, naskah itu menyatakan. “Teher pélag olah-olah, na paray dikembang lopang: hurang ta dikembang dadap, na hitu dipais tutung, lendi ta dipais bari, na lélé disososabék, na deleg dipanjel-panjel, na hikeu dileuleunjeur, na kancra dilaksa-laksa, sisitna diraramandi, tulangna dibatcu rangu, pantingna dirokotoy (Kemudian terampil memasak: ikan paray dikembang lopang, udang dimasak kembang dadap, ikan hitu dipepes gosong, ikan lendi dipepes bari, ikan lele dibumbu cobek, ikan gabus dipanjel-panjel, ikan hikeu dileuleunjeur, ikan kancra dilaksa-laksa, sisiknya dibuat raramandi, tulangnya dibatu rangu, siripnya dirokotoy).”

Kuliner berbahan daging ayam, ada yang disebut, “Hayam bodas ta dipadamara, hayam beureum disarengseng, hayam cangkes diketrik, hayam hurik dipais bari, hayam danten dipepecel, hayam bikang dipapanggang, hayam kurung dikudupung hayam kencaran disaratén, hayam kambeuri ta dikasi (Ayam putih dipadamara, ayam merah disarengseng, ayam cengkes diketrik, ayam burik dipepes bari, ayam dara dibumbui pecel, ayam betina dipanggang, ayam kurung dikudupung, ayam liar disaraten, ayam kebiri dikasi).”

Sementara jenis sate, naskah itu menyebutkan, “Nyasaté raraka hudan, sasaté usap-usap lambe, sasaté pawarang luntang, sasaté ugang-aging (Membuat sate untuk raraka hudan, membaut sate usap-usap lambe, membuat sate pawarang lunta).”

Bila kita bandingkan pasase-pasase dua naskah itu kita tentu berdecak kagum kepada keahlian karuhun Sunda dalam hal mengolah kuliner. Kedua pasase itu saling melengkapi informasi. Kutipan dari Sanghyang Siksakandang Karesian mengetengahkan 14 cara mengolah bahan, yakni dengan jalan nyupar-nyapir raramandi, nyocobék, nyopong konéng, nyanglarkeun, nyarengseng, nyeuseungit, nyayang ku pedes, beubeuleuman, panggangan, kakasian, hahanyangan, rarameusan, dan diruruum. Sebagai tambahan satu jenis kuliner, yakni amis-amis.

Sementara dalam pasase naskah kedua kita menemukan bahan sekaligus cara mengolahnya. Bahan-bahan kuliner yang dimaksud adalah ikan dan ayam. Jenis ikan yang menjadi bahan kuliner disebutkan ada hurang, hitu, lendi, lélé, na deleg, hikeu, kancra. Demikian pula ayam berjenis-jenis, ada hayam bodas, hayam beureum, hayam cangkes, hayam hurik, hayam danten, hayam bikang, hayam kurung, hayam kencaran, dan hayam kambeuri yang bergantung pada warna, jenis bulu, kelamin, dan cara memelihara.

Dari pasase naskah kedua kita dapat melengkapi cara mengolah bahan kuliner dalam naskah pertama. Karena dari Sanghyang Swawarcinta kita mendapatkan 16 cara, yaitu: dikembang lwapang, dikembang dadap, dipais tutung, dipais bari, dipanjel-panjel, dileuleunjeur, dilaksa-laksa, dibatcu, dirokotoy, dipadamara, dipapanggang, dikudupung, dan disaratén.

Dengan demikian, dari kutipan-kutipan dua naskah kuno tersebut kita mendapatkan 30 cara memperlakukan bahan kuliner. Ya betapa kaya waktu itu. dan kini kita hanya tahu beberapa diantaranya, yaitu: nyocobék, beubeuleuman, panggangan, dipais, dipepecel, dan di saratén atau sate.

Selain itu, bila merujuk kepada siapa yang mengolahnya, kedua naskah tersebut berbeda. Pada Sanghyang Siksakandang Karesian mengolah masakan itu kemampuan oleh seorang hareup catra atau juru masak. Di situ tidak disebutkan apakah juru masak tersebut laki-laki atau perempuan.

Mungkin naskah Sanghyang Swawarcinta bisa lebih menjelaskan, ada kutipan “kacigeung tuang caroge” atau kesukaan suami. Hal ini jelas menegaskan, keahlian kuliner tersebut menampilkan guna ompoy atau kepandaian yang harus dimiliki perempuan agar suaminya betah di rumah.

Dengan demikian, bisa jadi hareup catra yang dimaksud dalam Sanghyang Siksakandang Karesian yang ditulis pada 1518, yakni pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (1482-1521), itu adalah perempuan. Meskipun memang tidak menutup kemungkinan ada juga laki-laki yang pandai memasak.

Selain itu, dengan disebutnya jenis ikan air tawar pada Sanghyang Swawarcinta, kita bisa menafsirkan, jenis-jenis masakan berbahan ikan air tawar tersebut berasal dari pedalaman tatar Sunda yang berbukit-bukit, gunung, dan sungai, jelas tidak mengindikasikan tidak mewakili tradisi memasak di daerah pantai Sunda, yang di masa Kerajaan Sundd, sebagaimana tuturan pelaut Portugis Tome Pires (Summa Oriental, 1512-1515), memiliki enam pelabuhan, yaitu: Calapa (Kalapa), Chiamo (Cimanuk), Tangaram (Tangerang), Cheguide (Cigede), Pontang dan Bintam (Banten).

Di situ pula timbul penafsiran selanjutnya. Dengan tidak menyebutkan ikan-ikan laut. Kita dapat menafsirkan bahwa naskah Sanghyang Swawarcinta berasal wilayah pedalaman tatar Sunda. Bukan dari wilayah pantai. Jika demikan, kita bisa menduga, tradisi menulis naskah Sunda kuno terjadi dipedalaman tatar Sunda, yakni di kabuyutan-kabuyutan atau lemah dewasasana yang berkhidmat kepada percampuran kepercayaan antara Hindu, Budha, dan Sunda.

Sumber: Khazanah; *Pikiran Rakyat; Minggu, 9 Desember 2012

Gua Belanda

BANDUNG adalah salah satu kota saksi sejarah yang mewarnai perjuangan bangsa Indonesia. Banyak peninggalan-peninggalan Belanda yang masih diabadiakan dan dirawat oleh pemerintah Kota Bandung, salah satunya bangunan tua yang berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ir H. Djuanda, Bandung. Semula kawasan Tahura adalah bentangan pegunungan dari barat sampai ke timur yang merupakan tangki air raksasa alamiah untuk cadangan musim kemarau. Pada masa pendudukan Belanda tahun 1918, dibangun Pembangkit Listrik Tenaga air (PLTA) Bengkok di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung yang berada di Tahura. PLTA sepanjang 114 meter dengan lebar 1,8 meter itu merupakan PLTA pertama di Indonesia, dimana terdapat satu terowongan yang melewati perbukitan batu pasir.

Gua Belanda
Illistrasi: Jony/*PR*
Lokasi : Kompleks Tahura Ir H. Djuanda No. 99 Dago Pakar, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung
Pengelola : Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat
Luas gua: 547 meter
Tahun berdiri: 1918 sebagai PLTA Bengkok
1941 sebagai Gua Belanda
Menjelang Perang Dunia kedua awal 1941, kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan itu kemudian dibangun jaringan gua sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk setinggi 3,2 meter. Peralatan yang dipakai gua seluas 0,6 hektare dan luas seluruh gua berikut lorongnya adalah 547 meter persegi. Saluran atau terowongan berupa jaringan gua di dalam perbukitan itu kini dinamakan Gua Belanda.

Selain 15 lorong yang ada di dalam gua, ada pula beberapa ruangan lainnya seperti ruang kamar yang dahulunya digunakan untuk tempat istirahat atau tidur para tentara Belanda. Lalu, ada ruang tahanan atau penajra, ruang interogasi untuk para tahanan, serta lorong ventilasi sepanjang 126 meter dan lebar 2 meter. Jika melihat atap gua ini, terlihat seperti ada bekas penerangan lampu. Akan tetapi, penerangan lampu itu kini tidak bisa dipakai karena sering kali mati.

Ada pula memandangan menarik lainnya, yakni bekas rel troli semacam untuk pengangkutan barang atau sejenisnya yang memanjang di sepanjang lorong Gua Belanda serta ruangan bekas stasiun radio telekomunikasi militer Hindia-Belanda. Pada saat Perang Dunia kedua. Bangunan Gua Belanda ini memang pernah digunakan menjadi pusat stasiun radio telekomunikasi Hindia-Belanda meski belum sempat terpakai secara optimal.

Pada masa kemerdekaan, Gua Belanda ini pernah dipakai atau dimanfaatkan sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu oleh tentara Indonesia. Namun sayang, beberapa dinding gua yang telah mengalami renovasi ini sekarang tak terpelihara dengan baik, coretan tangan-tangan jahil mengotori dinding-dinding bersejarah itu. Kini, banyak wisatawan domestik dan asing yang datang ke Gua Belanda untuk melihat langsung isi gua tersebut sekaligus mendengarkan sejarahnya dari pemandu wisata yang siap mengantar ke dalam gua.

Sumber: Mayang Ayu Lestari/Periset *Pikiran Rakyat* Minggu, 13 Januari 2013