Nyanyian Fatimah untuk Suto :: WS RENDRA

Kelambu ranjangku tersingkap
dibantal berenda tergolek nasibku
apabila firmanmu terucap
masuklah kalbumu ke dalam kalbuku
sedu sedan mengetuk tingkapku
dari bumi dibawah rumpun mawar
waktu lahir kau telanjang dan tak tahu
tapi hidup bukanlah tawar menawar

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Nyanyian Suto untuk Fatimah :: WS RENDRA

Dua puluh tiga matahari bangkit dari pundakmu
tubuhmu menguapkan bau tanah
dan menyelalah sukmaku.
langit bagai kain tetoron yang biru
terbentang berkilat dan berkilau
menantang jendela kalbu yang berduka cita
rohku dan rohmu bagai proton dan elektron
bergolak bergolak bergolak bergolak
dibawah dua puluh tiga matahari
dua puluh tiga matahari membakar duka cita

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Hutan Bogor :: WS RENDRA

Badai turun
didalam hutan
badai turun
didalam sajak sajakku
selalu sayang
aku terkenang kepadamu

Sudah jam empat sore
hujan jatuh di hutan kenari
semula nampak manis
kemudian mendahsyatkan
di dalam hujan, mendung dan petir
bumi pun nampak fana
Tak ada yang abadi

Buruk dan basah
jenggot pohonan
lumut lumut didahan, benalu dan
paku paku
aku berpikir
betulkah aku tidak menipumu

Didalam hujan
bumi dan sajak
terasa fana
berhadapan dengan maut
dengan malu
telanjanglah kita

Menggapailah tangan tangan kita
bagai dahan dahan pohonan
dan beriaklah suara suara
dalam perkelahian yang fana
tapi dengan dahsyat
dahan dahan tetap menggapai
yang penting
bukanlah kekalahan ataupun kemenangan
tapi bahwa tangan tangan telah di kepalkan
biarpun kecapaian

Badai turun
di dalam hutan
badai turun
di dalam sajak sajak

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api :: WS RENDRA

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya?
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan
kepastian hidup bersama?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan
kaki langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku?
Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
Ataukah ini bau limbah pencemaran?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah priangan?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku!
Apakah yang terjadi?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga.
Kini
Kami tersentak,Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan zaman
Apakah yang terjadi?
Apakah yang telah kamu lakukan?
Apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Rajawali :: WS RENDRA

Sebuah sangkar besi
tidak bisa merubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana

Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

--Rendra

Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Paman Doblang :: WS RENDRA

Paman Doblang! Paman Doblang!
Mereka masukkan kamu ke dalam sel yang gelap
Tanpa lampu tanpa lubang cahaya pengap
Ada hawa tak ada angkasa
Terkucil temanmu beratus-ratus nyamuk semata
Terkunci tak tahu kapan pintu akan terbuka
Kamu tak tahu di mana berada

Paman Doblang! Paman Doblang!
Apa katamu?

Ketika haus aku minum air dari kaleng karatan
Sambil bersila aku mengharungi waktu
lepas dari jam, hari dan bulan
Aku dipeluk oleh wibawa tidak berbentuk
tidak berupa, tidak bernama
Aku istirah di sini
Tenaga ghaib memupuk jiwaku

Paman Doblang! Paman Doblang!
Di setiap jalan mengadang mastodon dan serigala
Kamu terkurung dalam lingkaran
Para pengeran meludahi kamu dari kereta kencana
Kaki kamu dirantai ke batang karang
Kamu dikutuk dan disalahkan
Tanpa pengadilan

Paman Doblang! Paman Doblang!
Bubur di piring timah
didorong dengan kaki ke depanmu
Paman Doblang, apa katamu?

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
adalah perlaksanaan kata-kata

--Rendra
Depok, 22 April 1981


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Doa di Jakarta :: WS RENDRA

Tuhan yang Maha Esa
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai
fikiran yang dipabrikkan
dan masyarakat yang diternakkan

Malam rebah dalam udara yang kotor
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan
terpenjara, tanpa jendela

Tuhan yang Maha Faham
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang berarti empat puluh tahun gaji seorang buruh
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C
Hati manusia telah menjadi baja
Bagai dash board yang tak acuh
panser yang angkuh
traktor yang dendam

Tuhan yang Maha Rahman
ketika air mata menjadi gombal
dan kata-kata menjadi lumpur becek
aku menoleh ke utara dan ke selatan
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk uang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?

Ya, Tuhan yang Maha Hakim
harapan kosong, optimisme hampa
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata

--Rendra
Jakarta 29 Mei 1983


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Widuri untuk Joki Tobing :: WS RENDRA

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir
Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba
Orang-orang miskin menentang kemelaratan
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
kerna wajahmu muncul dalam mimpiku
Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
karena terlibat aku di dalam napasmu
Dari bis kota ke bis kota
kamu memburuku
Kita duduk bersandingan
menyaksikan hidup yang kumal
Dan perlahan tersirap darah kita
melihat sekuntum bunga telah mekar
dari puingan masa yang putus asa

--Rendra
9 Mei 1977
Nusantara Film
Jakarta


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Sajak Joki Tobing untuk Widuri :: WS RENDRA

Dengan latar belakang gubug-gubug karton
aku terkenang akan wajahmu
Di atas debu kemiskinan
aku berdiri menghadapmu
Usaplah wajahku, Widuri
Mimpi remajaku gugur
di atas padang pengangguran
Ciliwung keruh
wajah-wajah nelayan keruh
lalu muncullah rambutmu yang berkibaran

Kemiskinan dan kelaparan
membangkitkan keangkuhanku
Wajah indah dan rambutmu
menjadi pelangi di cakrawalaku

-- Rendra
9 Mei 1977
Nusantara Film
Jakarta


Sumber: Kumpulan Puisi & Sajak Bersama Rendra (kaset album 1998)

Lirik Lagu Selamat Untukmu Album Ternyata (1989) KATARA SINGERS

Katara Singers
“Selamat Untukmu” lagu yang dibawakan Katara Singers (Deddy Hasan, Rika, Nana, dan Andre Hehanussa) grup vokal asal Bandung ini, mungkin tak asing untuk menikmat musik di awal tahun sembilanpuluhan. Termasuk saya juga menyukai beberapa lagu Katara Singers di album Ternyata (1989), seperti lagu: Masa Bodo, Ternyata, Fiesta de Rio, dan Selamat Untukmu.

Untuk mengenang kembali masa muda (jiahh pemuda jadul, ternyatah … yahhh). Di bawah ini saya arsipkan lirik lagu Selamat Untukmu:

SELAMAT UNTUKMU
Cipt: Erwin Gutawa, Harry Kiss
Album: Ternyata (1989), KATARA SINGERS
Produksi: Midilab Production & Aquarius

Mentari pagi ini
berseri menyambutmu
Tak terasa hari ini
tambah satu usiamu

Tahun t'lah berganti
usiapun menyusuri
jelang waktu yang terus berlalu

Harapku kau bahagia
di hari milikmu
Dan semoga tahun ini
mengawali sinarmu

Indah...
kan seindah nirwana
nan seputih kasih
Hening...
sebening sinarmu

Kupersembahkan lagu ini
s'lamat untukmu
Semoga kau bahagia slalu...

Harapku kau bahagia
di hari milikmu
Dan semoga tahun ini
mengawali sinarmu

Indah...
kan seindah nirwana
nan seputih kasih
Hening...
sebening sinarmu

Kupersembahkan lagu ini
s'lamat untukmu
semoga kasih slalu bersamamu

Lupakan duka
gapai citamu
doaku bersamamu slalu

Sikap dewasa
menanti di jalanmu kini
bekal kehidupan nanti

Kupersembahkan lagu ini
s'lamat untukmu
semoga kasih slalu bersamamu

Lupakan duka
gapai citamu
doaku bersamamu (denganmu)

Kuucapkan s'lamat untukmu
gapai citamu
semoga kau bahagia

Bagaimana Sobat jadul masih mengingat/menikmati lagu-lagu Katara Singers grup vokal asal Bandung ini? Tempo hari saya sempat lihat di youtube ada beberapa lagu juga liriknya.

Oh iyah tak lupa buat yang hari ini (10 November) tambah satu usia. Semoga selalu diberi sehat oleh Sang Pencipta.

salam

Ganjaran Kanu sarakah :: Dongéng

Kacaturkeun di tatar pakidulan Garut, aya hiji kulawarga nu kacida masakatna. Banda nu jadi tatalang ragana mung saukur imah sacangkewok jeung balong tukangan imah sagede kobokan.

Baheula mah basa keur ngorana éta kulawarga téh éstu beurat beunghar. Di lembur téh pangjegudna. Salakina teureuh menak, ngan hanjakal loba harta lunak libuk téh teu dibarengan ku beunghar haténa. Karesepna éta salaki pamajikan téh kan curak-curak jeung ngahambur-hambur duit warisan kolotna.

Ganjaran Kanu sarakah
ilustrasi: google
Ari kangaranan harta, sakumaha lobana ogé tangtu ninggang di béak. Kitu ogé harta kulawarga, tungtungna mah ludes. Pamustungan nu bisa hirup senang, ngarumas pisan ningal kaayaan nu lieuk euweuh ragap taya téh.

Sanajan kaayaanana kitu, naon-naon nu tumiba ka maranéhkan téh tangtu waé teu bisa bérés ku humandeuar. Barang gawé mah tetep kudu, da beuteung mah angger kudu dieusian.

Sanggeus kaayaanana kitu, salakina jadi rajin barang gawé. Sasatna mah teu bauan. Daék itu daék ieu, rancagé tur rapékan. Ngan, abong adat geus kakururng ku iga, karesepna kana ngahambur-hambur mah teu leungit.

Beubeunangan hasil gawé sapoé jeput téh ludes-ludes waé, euweuh nu nyangsang hiji-hiji acan, boh kana tanah boh ingon-ingon pibekeleun pikahareupeun. Nu jadi pikiranana ngan kana eusi kadut. Kulantaran tara rikirik, hirupna angger waé teu aya menyatna.

Beuki kolot mah tanagana téh beuki suda. Atuh panghasilan tina barang gawée teu kawas baheula. Nu mercaya gawé manéhna ogé beuki ngurangan, da loba kénéh nu jagjag jeung waringas. Antukna manéhna jadi leungiteun kasab. Kiwari sapopoéna ogé ukur jadi tukang buburuh ngarit.

Hiji poé, waktu manéhna ngarit di leuweung, panggih jeung saurang pamuda nu sarua keur ngarit. Pangawakana beresih jeung gagah, saliwat mah teu mantes kudu barang gawé kasar kitu mah.

Duanana uplek ngobrol, manéhna ngébréhkeun bangbaluh ka éta pamuda, kumaha kasusah nu tumiba ka dirina. Tina paromanana mah si pamuda haateun pisan. Bérés cacarita, éta pamuda téh tuluy ngajak ka mumunggang gunung.

Manéhna teu talangké nuturkeun pamuda. Sanggeus nepi di mumunggang gunung. Si pamuda téh nuduhkeun hiji tangkal kawung nu doyong kalebah jurang. Barang disidik-sidik mah, horéng tanggal kawung téh ahéng kacida. Kawung téh buahan caruluk emas.

“Ieu téh tangkal kawung pelak karuhun kuring.” Ceuk éta pamuda bari tuluy naék kana tangkal kawung. Sanggeus nepi ka luhur, tuluy mipit sababaraha siki caruluk emas, diasupkeun kana kojana. Geus kitu mah tuluy turun deui.

Ari manéhna bati colohok, asa hémeng jeung cangcaya.

“Kang, kuring mah teu bisa marengan lila, lantaran aya pangabutuh séjén. Sok waé ngala sacukupna ulah loba teuing. Kahareupna tangtu anak incu urang saréréa bakal sarua butuh,” ceuk éta pamuda bari tuluy ngaléos.

Heuleut sawatara linana saditinggalkeun ku si pamuda, manéhna téh kacida bungaheunana ningali emas nu ting gurilap. Teu talangké tuluy ngudalkeun kabéh jukut tina karung nu geus pinuh. Laju naék, ngala caruluk emas.

Nénjo emas nu sakitu lobana, dina pikirna ngalangkang deui kahirupan manéhna mangsa keur beurat beunghar. Antukna najan inget ogé kana papatah si pamuda teu dipaliré. Caruluk emah téh kabeh dipupu, diwadahan kana karung nepi ka pinuh ku emas.

Waktu rék turun manéhna bingung pisan, karung nu rék pinuh ku emas téh hésé nurunkeunana. Rék dipuragkeun, kulantaran kawungna doyong ka jurang, tangtu waé moal bisa. Murag nagndung harti dipicen. Ari rék dipicenan sawaréh, tangtu waé lebar. Bororaah satengahna, dalah sasiki ogé lebar kacida. Antukna caruluk emas nu sakarung téh dipaksakeun dibawa turun.

Karék ogé saléngkah, awakna kaburu kabawa mantén ku karung nu eusi emas. Manéhna jeung carulukna ragrag ka jurang, emas euewuh nu kapluk. Manéhna nemahan pati saharita kénéh, lantaran katinggang pisan ku karung nu eusi emas.

Jadi hirup mah ulah sieun béakeun rijki ku batur. Masing-masing ogé geus aya bagéanana. Atuh lamun dina ayana, ulah sok aya asa aing aya, dimonyah-monyah nepi ka poho ka poé isuk jeung kabatur. Tangtu waé sipat-sipat nu sarakah mah pamustunganana téh teu weléh numbuk di sué. *** (Sumber; Taufik Rahayu/Mangle No. 2358)