Yakin, Sadar, Sabar (Karinding)

Yakin, Sadar, Sabar (Karinding)
(foto: Pikiran Rakyat)
Oleh: Iman Rahman A.K, personal Karinding Attack

KARINDING sebagai alat musik tradisional, memiliki begitu banyak kekayaan intelektualitas di balik bentuknya yang sederhana, cara memainkan, juga kisah-kisah seputar upaya revitalisasinya. Dari bentuknya, karinding terbagi menjadi tiga bagian, pancepengan, yaitu bagian yang harus dipegang dengan mantap, cecet ucing di mana buluh bambu karinding yang dibuat kecil dan tipis akan bergetar dan menghasilkan bunyi ketika bagian ke tiga, paneunggeulan, ditabuh.

Bagian pertama dari karinding, pancepengan, merupakan bagian dimana pemain karinding harus memegangnya dengan baik. Tak usah erat, yang penting pas dan mantap. Pancepengan serta cara sang pemain karinding memegannya mengandung nilai filosofi yakin, bahwa ia harus yakin dengan apa yang di pegang sebelum kemudian ia mainkan akan berguna bagi banyak orang.

Yakin kepada diri sendiri akan meniupkan ruh positif bagi individu sehingga ia akan terus berkata, “Aku akan memupuk semangat dalam kreaktivitas dan dengan demikian, kita sebenarnya sedang membuka sumbat yang menutupi potensi diri kita, membimbing mencapai tujuan yang kita yakini. Energi ini membantu kita dalam mencari referensi, bertanya, mengurus pekerjaan, menyusun berbagai langkah ikhlas dan tawakal, membina kita agar senantiasa berada dalam kerendahan hati ketika berpikir, berucap, dan bertindak.

Setelah dengan yakin bahwa ia menggenggam karinding, maka pemain karinding bisa mulai menabuh karinding dengan sabar, tidak tergesa-gesa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan, namun pas di tengah-tengah. Orang-orang bijak selalu berkata bahwa sebaik-baik urusan adalah yang berada di tengah-tengah, dan kesabaran yang pas seperti ini pula yang diperlukan dalam menabuh karinding agar suara yang dikeluarkan bisa semantap keyakinan yang ia pegang.

Sabar adalah kata kerja, berkonotasi ketekunan sehingga akan memberikan penerangan bagi orang-orang yang meyakininya. Sebagai sebuah ketekunan, sabar mengacu pada disiplin dari dan bagaimana kita bisa mengatur waktu serta komitmen untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan. Sadar juga berhubungan erat dengan upaya terus menerus untuk mencapai yang terbaik, pantang menyerah dan kreatif dalam menyusun langkah-langkah yang diyakini benar. Sabar meningkatkan kekuatan orang-orang yang yakin, baik kekuatan fisik, mental, maupun spiritual.

Saat sudah dipegang dengan yakin dan ditabuh dengan sabar, makan rapatkan karinding ke rongga mulut sampai mengeluarkan bunyi. Ketika akhirnya bunyi itu hadir dalam ritme elok yang kita atur, maka hendaknya kita sadar bahwa bunyi itu bukanlah bunyi kita sendiri, bukan milik kita, melainkan milik Dia Sang Pencipta Bunyi. Yang sedang kita lakukan dalam bermain karinding bukanlah menghasilkan bunyi, melainkan memainkan bunyi yang telah ada, untuk sebaik-baiknya menajdi karya yang bisa diapresiasi secara positif oleh khalayak.

Kesadaran ini mengandung makna keikhlasan dan kerja. Ikhlas bahwa apa pun yang kita sangka milik kita, ternyata bukan seperti yang kita kira, sehingga yang harus kita lakukan adalah memelihara sebaik mungkin untuk kita kembalikan kepada-Nya dalam kondisi sebaik-baiknya. Untuk menjaga agar tetap utuh dan baik tentu diperlukan kerja. Dan kerja tidak bisa dilakukan sekali dua kali, melainkan terus menerus dalam pola yang terencana dengan hasil bukan untuk meraih sesuatu – namun melampaui apa yang dalam pikiran kta ingin raih.

Betapa indah filosofi “Yakin Sabar Sadar” yang terkandung dalam karinding. Tiga hal ini jika sudah bisa disatukan dalam harmoni maka akan sangat berguna dalam membentuk kepribadian manusia yang unggul dalam sisi-sisi kehidupannya. Manusia yang sederhana, arif, harmonis, dan memiliki ketenangan jiwa. Semoga ***

Sumber: Pikiran Rakyat

MAIYAH, Tanah Air (Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng Sepuh)

maiyah
Apa Itu maiyah?
Pertengahan September 2001 ketika album ini direkam, sudah kali ke 24 Rombongan Kiai Kanjeng sepuh dan Emha Ainun Nadjib ber-maiyah keliling berbagai tempat, sejak 21 Juli 2001.

Maiyah itu pemusik dan pelantun lagu tidak berada di panggung, melainkan melingkar ditengah ruangan, indoor ataupun outdoor. Tidak ada penonton, karena semua yang hadir, kadang ratusan, kadang ribuan, beberapa kali puluhan ribu tidak menjadi penonton, melainkan berpartisipsi menjadi pelantun lagu-lagu.

Jadi tidak ada grup yang ditonton dan penonton yang menonton. Semua orang, pemusik, juga alat-alat musik, bersama-sama menghadap kepada Allah.

Dari bentuk kebersamaan seperti itu ditumbuhkan maiyah-maiyah dalam konteks yang meluas. Maiyah berarti kebersamaan. Pertama, melakukan apa saja bersama Allah. Kedua, bersama siapa saja yang mau bersama. Maiyah bisa berarti komitmen nasionalisme, kedewasaan hetertogenisme, kearifan pluralisme, tidak adanya kesenjangan ekonomi sebab kalau yang sini terlalu miskin dan yang sana terlalu kaya, itu namanya bukan hidup bersama. Bukan maiyah

Di dalam maiyah tidak ada kebencian. Maiyah tidak punya ilmu tentang perang, tidak punya pengetahuan tentang pertengkaran. Maiyah hanya punya mata cinta.

Emha Ainun Nadjib

Prakata di atas, adalah uraian tentang maiyah yang ada di dalam sampul album rekaman Cak Nun “MAIYAH Tanah Air yang direkam oleh Geese Studio dan MIX Studio, dan diedarkan PT. MUSICA tahun 2002. Materi album ini sama seperti album Cak Nun sebelumnya. Berisi Wirid, Shalawat, dan dipadu dengan penuturan berupa puisi oleh Cak Nun.

Seperti biasa, saya coba tulis ulang sebagian isi dari MAIYAH Tanah Air ini.

Allohumma dholamuuna fahfadhna warhamna wasnshuma warzuqna. Kita ini satu bangsa kita berdekatan satu sama lain, namun terkeping-keping. Kita saling tidak percaya, saling curiga, saling mengincar untuk jegal menjegal. Maka inilah maiyah kami kepada bangsa yang malang ini. Kita satu bangsa, tangan kita bergandengan namun hati kita terpecah belah, tidak ada kerelaan bersama yang kita hidupi adalah ketidakrelaan satu sama lain. Maka ini lah maiyah kami kepada bangsa yang terpuruk ini.

Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa. Seolah-olah kita bersatu padu tetapi hati kita terkeping-keping. Tidak ada hari depan yang kita bangun kecuali dialektika penghancuran kebersamaan untuk curang dan memang sendiri, maka inilah maiyah inilah maiyah kami kepada bangsa yang terlalu lama sengsara….

Selain kaset, disertakan juga bonus berupa buku Maiyah (Penulis Khath; Islamianto & Mahfud, desain; Zaituna) berisi Wirid Kanjeng sepuh, Shalawat Kanjeng Sepuh, Puisi Emha Ainun Nadjib

Puisi-puisi Emha Ainun Nadjib (Maiyah)

Maiyah Lingkaran
Agar supaya kita saling menjamin
bahwa di dalam lingkaran kita tidak ada kotoran-kotoran batin,
kepalsuan niat, kecurangan fikiran, atau apapun
yang membuat Muhammad menitikan airmata
dan membuat Allah mengurangi
atau bahkan membatalkan kasih sayangnya kepada kita

Maiyah Lingkaran
Agar supaya perjalanan hijrah demi hijrah kita
Tidak disesatkan oleh arus masyarakat, oleh Allah atau oleh diri kita sendiri
Agar supaya perjalanan jihad kita tidak disertai oleh dendam dan ketakaburan
Agar supaya perjalanan ijtihad kita tidak dilalimi oleh makhluk apapun
Serta tidak melalimi diri sendiri
Agar perjalan mujahadah kita dianugrahkan bekal iman dan istiqamah
Bekal kekuatan dan muthmainnah, bekal penghidupan yang barokah
Pintu rejeki yang membuka dirinya lebar-lebar atas perjuangan kita
Pintu kegembiraan, keasyikan uluhiyah, serta perlindungan dari
Quwwatihi wa hauilih

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul melingkar menghadapMu dan memunggungi dunia
Kami berkumpul melingkar menumpahkan cinta kepadaMu
karena telah dilukai hati kami oleh cinta dunia, negara serta golongan-golongan manusia
Kami berkumpul melingkar menyanyikan lalagu-lagu untuk
kekasihMu karena ummat manusia lebih menyukai kepalsuan

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul menciptakan lingkaran kebersamaan antara
hamba-hamba yang dilemahkan oleh pelaku-pelaku kekuasaan dan keuangan
Kami berkumpul merapatkan lingkaran kebersamaan antara
hamba-hamba yang dilalimi oleh kebohongan dan kemunafikan kaum mutakabbirun
Kami berkumpul memadatkan kesatuan antara hamba-hamba
yang diremehkan dan kini mengerti bahwa diremehkan,
antara hamba-hamba yang ditindas dan kini mengerti bahwa ditindas,
antara hamba-hamba yang direndahkan dan kini mengerti bahwa direndahkan,
antara hamba-hamba yang dibuang dan kini mngerti bahwa dibuang

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul menghidupi kesadaran, kepahaman dan kemengertian akan dusta dan kebohongan dunia
Kami berkumpul membangkitkan pengetahuan dan ilmu bahwa
kami dibodohkan, difitnah, dimusnahkan dan dibunuh sebelum kematian
Kami berkumpul menebar jaringan lingkaran para pecintaMU
para pecinta kekasihMu, para pecinta sejatian, para pecinta
kebenaran yang sungguh-sungguh kebenaran, para pecinta
yang benar-benar cinta.

Maiyah Lingkaran
Kami berkumpul melingkar bershalawat bersamaMU serta
bersama para MalaikatMu, untuk manusia agung pilihanMu,
Muhammad saw
Kami berkumpul merangkai lingkaran ma’iyyatul hubbi, ma’iyyatul haqqi, fii ma’iyyatillahi ‘jalla jalalah -----

Maiyah Masyaallah
Masyaallah, orang tidak menyaksikan kok memperkatakan
Masyaallah, orang tidak memahami kok menghakimi
Masyaallah, orang tidak mengerti kok mentuhani
Masyaallah, orang tidak bertanya kok merasa lebih mengerti
Masyaallah, orang membutakan dari sambil memprasangkai
Masyaallah, orang mentulikan diri sambil memfitnah kanan kiri
Masyaallah, orang berbuat dhalim masih bisa merasa muslim
Masyaallah, orang menutup hati masih bisa merasa kiai
Masyaallah, pengetahuannya ditutupi masih bisa merasa santri
Masyaallah, akalnya sendiri dibikin buta masalah bisa merasa ulama
Masyaallah, ilmunya berpaling masih bisa merasa pemimpin
Masyaallah, tidak memelihara silaturahmi masih minta dihormati
Masyaallah, mentalnya fir’aun masih minta dijunjung
Masyaallah, kalau kepalanya hanya berisi curiga
Apa Tuhan menerima sujudnya
Masyaallah, kalu dadanya hanya dipenuhi prasangka
Apa para malaikat masih mengakui kekiaiannya
Masyaallah, kalau hukum baginya ada kepentingan sendiri
Apa arti shalat, sajadah, serban dan peci
Masyaallah, kalau otaknya jumud oleh kepentingan golongan
Apa gunanya pengajian dan wiridan
Masyaallah, kalau kebiasaanmu menghakimi berdasarkan kebodohan
Berhentilah memimpin kemenangan
Masyaallah, kalau masih butuh Dewa atau manusia yang didewakan
Baliklah ke zaman sebelum Islam
Masyaallah, kalau manusia biasa dianggap tidak mungkin bisa salah
Organisasimu adalah Partai Jahiliyah
Masyaallah, mestinya merasa malu kok malah bangga
Masyaallah,mestinya nangis tobat kok malah syukuran
Masyaallah,mestinya bercermin kok malah menampar muka orang
Masyaallah, mestinya berterima kasih kok malah memaki-maki
Masyaallah, mestinya mengoreksi diri kok malah menfitnah orang lain
Masyaallah, mestinya belajar kembali kok malah merasa paling pintar sendiri
Masyaallah, mestinya andhap asor kok malah sesumbar
Masyaallah, mestinya minta maaf kok malah pethenthang-pethentheng
Masyaallah, mestinya tawadldlu’ kok malah takabbur
Masyaallah, terancam masuk neraka kok malah yakin masuk sorga
Masyaallah, itu bukan kejahatan, itu hasil dari kebodohan
Itulah sebabanya kanjeng Nabi tidak menyebut Zaman Syarriyah
melainkan Zaman Jahiliyah
Masyaallah,itu bedoa apa memperbudak Allah
Masyaallah, itu istigtsah apa memperalat Allah
Masyaallah,itu mujahadah apa maksa Allah
Masyaallah,itu ijtihad apa menggampangkan Allah
Masyaallah, itu jihad apa memojokkan Allah
Masyaallah, itu mengaji apa membeo
Masyaallah, itu sembahyang apa absensi kayawan
Masyaallah, itu wiridan apa melarikan diri dari kekhelafahan
Maka siapa saja yang berada dalam lingkaran cinta ini maka siapa saja yang ikhlas jasmani rohani dalam cincin uluhiyah ini
Maka siapsa saja yang menumpahkan seluruh eksistensi hidupnya dalam ma’iyatullah ini
Hendaklah jangan melantunkan shalat, melainkan bersalawatlah
Hendaklah jangan menyanyikan shalawat
melainkan leburkan hidupmu dalam keindahan rububiyah
hendaklah jangan menomersatukan bibir dan suara musikmu
melainkan buktikan kepada Allah dan Kanjeng Nabi
kesungguhan cintamu.

Maiyah Fakir 1
Kami miskin
Kami faqir, ya Allah
Penghidupan miskin
Hati miskin
Akal miskin
Watak miskin
Jiwa miskin

Maiyah Fakir 2
Batin kering
Jiwa dangkal
Pikiran pendek
Mental kerdil
Moral ambruk
Kehendak-kehendak kami lalim
Lalim, ya Allah

Maiyah Fakir 3
Logika serabutan
Memandang segala sesuatu
Dengan kebusukan hati
Mendengar apa saja
Dengan logika yang curang
Ya Allah, yang pantas untuk kmai
Hanya adzab

Maiyah Fakir 4
Miskin terlalu lama
Telah mendidik kami
Jadi pendendam
Faqir berkempanjangan
Kecerdasan hilang
Milik terakhir hanya kebodohan
Kami gengam erat
Kami bangga-banggakan
Sebab kamu sampai kebodohan inipun sirna
Kami tak lagi punya apa-apa

Maiyah Fakir 5
Karena miskin penghidupan, ya Allah
Kalau ada orang makan enak
Kami simpulkan itu adalah ejekan
Kalau orang lainnya kepalaran
Kami gembira diam-diam

Maiyah Fakir 6
Karena faqir dan semakin ditinggalkan harapan
Maka jiwa kerdil melantunkan doa rahasia
Semoga orang pada menderita
Semoga siapa saja jangan ada yang beruntung nasibnya
Semoga kiri kanan yang ada orang sengsara

Sementara mulut bertugas
Mengucapkan yang mulia-mulia
Bibir meneriakkan kemanusiaan
Satu tangan mengacungkan demokrasi
Tangan lain siap siaga mencuri

Maiyah Fakir 7
Kerena miskin ilmu
Jadi gampang bicara
Karena miskin mengetahuan
Omongan menebar seluas udara
Karena miskin pikiran
Sedikit aja punya gagasan
Seluruh dunia disuruh mentaatinya
Karena faqir kreativitas
Sehelai ide yang memenuhi kepalanya
Diyakini sebagai kitab suci kebenarannya
Ya Allah, hamba-hamba
Yang mencapai kekerdilan tiada tara
Memantulkan kebesaran dan kemuliaan
milikMu yang tiada terhingga

Maiyah Fakir 8
Ya Allah sedemikian faqir para hamba
Pergi menemuiMu dengan bekal uang curian
Menaiki kendarann curian
Menyanyikan lagu-lagu curian
Menyebarkan shalawat curian
Mendendangkan suara curian
Mendirian peribadatan
Dengan tiang-tiang curian
Ya Allah maha Mulia dzatMu yang amat bersabar
Atas penghinaan hamba-hambaMU

Album rekaman MAIYAH ini merupakan salah satu dari 7 kaset Cak Nun dan Gamelan Kiai Kanjeng. Seluruhnya masih saya simpan. Yang pasti masih dibisa didengar walau ada penurunan kwalitas pitanya, karena dimakan waktu. Sebagian isi sampul masing-masing (7) kaset itu, saya simpan di archive69/arsip kula ini.

salam

Nyiar Barang Bekas di Bandung

Dulu saat masih jadi anak kost dengan anggaran pas-pasan. Pasar loak di Bandung adalah salah satu tempat favorit. Untuk memenuhi kebutuhan, terutama buku (kutu buku ceritanya nih).

Untuk mengenangnya kembali. Saya menyimpan di archive69/arsip kula, beberapa tempat yang menjadi pusat menjualan barang bekas di seputar kota Bandung. Referensi ini diperoleh dari Koran Harian Pikiran Rakyat.

Banceuy
Jalan ini merupakan surga bagi pencinta otomotif. Aktivitas bongkar pasang onderdil kendaraan dilaklukan langsung di sepanjang jalan. Sayangnya, konsumen agak sulit untuk menghiasai kendaraannya karena sejumlah pedagang onderdil bekas yang masih berada di tempat penampungan sementara di sekitar Jln. Viaduct belum dipindahkan ke tempat asalnya sejak 3 tahun terakhir.

Cikapundung
Sepanjang Jln. Cikapundung merupakan sentra barang bekas elektronik. Selain barang elektronik, dipasar Cikapundung juga dijual barang bekas lainnya, seperti sepeda, mesin tik, dan mesin jahit. Tidak jauh dari Pasar Cikapundung, di trotoar kantor PLN, berjajar pedagang buku dan majalah bekas. Mereka berjualan sejak dekade 1980. buku dan majalah yang dijual tidak hanya yang lokal, tetapi juga yang asing.

Dewi Sartika
Para pedagang buku dan majalah bekas juga berjejer di depan toko-toko pakaian di sini. Jumlah yang dijual lebih banyak dibadingkan dengan yang dijual di Jln. Cikapundung. Selain buku dan majalah, di lokasi yang sama, berjejer juga para pedagang yang menjual kaset bekas/lama.

Jatayu
Di Jln. Jatayu (Komodor Supadio), berjejer ratusan lapak yang menyediakan onderdfil kendaraan bekas, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat. Pedagang juga menyediakan jasa pemasangan di tempat. Namun, lebih banyak konsumen yang memasangkan onderdil untuk kedaraan roda dua. Selain onderdil kendaraan, ada pula kios yang sengaja menjual barang bekas berupa perlengkapan kamar mandi seperti bath tub dan wastafel. Di lokasi itu pun, alat-alat elektronik turut dijual.

Jamika
Tempat penjualan barang bekas tidak tepat berada di jalan Jamika, tetapi di Jln. Situ Aksan. Di tempat ini, barang bekas yang dijual terbilang khusus, yakni berbahan balu dasar kayu seperti papan, kusen, dan perabot rumah tangga.

Cigéréléng
Di sepanjang Jln. Soekarno-Hatta, tepatnya di Cigéléréng dan Gedébagé, terdapat lebih dari seratus kios yang menjual bahan bangunan bekas. Mayoritas pemilik kios yang berasal dari Madura itu mengaku membeli dan menjual kayu, genting, pintu, senf, batu bata, serta berbagai bahan bekas yang diperlukan untuk mendirikan bangunan. Harga yang dipatok para pendjual di Cigéléréng dan Gedébagé untuk bahan-bahan bangunan itu biasanya lebih murah 30-40 persen dari harga yang ditawarkan toko-toko material. Bisnis ini sudah berlangsung selama lebih dari puluh tahun dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Cikudapateuh
Jalan Cikudapateuh, sejak dekade 1960, dikenal sebagai pasar barang bekas yang menyediakan sepatu dan pakaian bekas. Namun, seiring dengan berkembangnya industri fashion, dimana produk-produk fashion membanjiri Kota Bandung, perdagangan di Cikudapateuh mengalami kemunduran. Dari sekitar 70 pedagang yang dulu bisa mangkal di sana, kini hanya tinggal 40 pedagang saja. Itu pun tidak semuanya berjualan setiap hari. Mereka kini hanya menjual (mayoritas sepatu pria), dimana 95 persen di antaranya merupakan sepatu baru. Sepatu-sepatu yang ditawarkan disana merupakan produksi Cibaduyut, Tangerang, dan Garut. Para pembeli masih setia menjadi para pelanggan sepatu Cikudapateuh karena harga yang ditawarkan murah, yaitu Rp 30.000 – Rp 200.000 dan tersedia nomor besar.

Cimol (Gedébagé)
Pasar Cimol Gedébagé merupakan pasar barang bekas terbesar di Indonesia. Sebuah bangunan besar berisi 1.088 kios dengan lantai keramik, dan tembok beton, sejak awal 2011 lalu, menjadi rumah baru para pedagang pakaian, sepatu, dan tas bekas itu. Setiap harinya, rata-rata seribu pengunjung dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mendatangi Pasar Cimol Gedébagé untuk berburu barang bekas bermerk yang masih berkualitas baik. Pada hari libur, jumlah pengujung dapat meningkat hingga tiga ribu orang dalam sehari.

Palasari
Nama Palasari sebagai pusat penjualan buku baru dan bekas tidak hanya dikenal oleh warga Bandung dan sekitarnya, tetapi sudah tersohor hingga ke Asia Tenggara. Para penggemar buku dari berbagai daerah dan luar negeri, biasanya datang ke pasar buku ini untuk berburu buku antik.
Namun, buku bekas biasanya seperti buku pelajaran, diktat kulaih, novel, komik, dan kamus juga masih menjadi favorit. Pasalnya, harga buku bekas di Jln. Palasari bisa lebih murah tujuh puluh persen dari harga buku baru. Hampir setiap kios di pasar yang berdiri sejak 1981 itu memiliki stok buku bekas untuk dijual.

Astanaanyar
Perlu suku cadang alat elekronik bekas atau suku cadang sepeda motor? Datanglah ke Jln. Astanaanyar. Di sepanjang jalan itu, anda bisa menemukan berbagai barang yang bahkan tidak pernah terpikir. Para pedagang menggelar dagangannya di atas jalan dan taman, muylai dari sepeda, kacamata, DVD, handphone, suku cadang alat elektronik, onderdil sepeda motor, hingga baju dan sepatu bekas. Mereka beroperasi dari pikul 7.30-15.00 WIB.

Jalan Malabar
Sudah lebih dari sepuluh tahun Jln. Malabar menjadi pusat penjualan barang bekas. Para pemburu barang bekas dapat menemukan sepeda, kursi lipat, meja kantor, hinga etalase kaca alumunium di sepanjang jalan ini. Berbagai transaksi dapat dilakukan mulai dari jual, beli, hingga tukar tambah.
Jln. Malabar dapat bertahan sebagai pusat penjualan barang bekas karena memiliki beberapa kelebihan. Sebut saja, harga yang miring dibading dengan toko atau pasar loak lainnya di Bandung, sebagai contoh, harga sepeda bekas yang dipatok para pedagang lebih murah 30-40 persen dari harga toko. Sementara untuk sepeda baru, harga yang ditawarkan lebih murah 10-15 persen.

Cihapit
Di pasar barang bekas ini, barang-barang yang dijual cukup banyak jenisnya, mulai dari tape mobil, sepatu, jaket kulit, onderdil kendaraan, hingga kaset bekas. Biasanya, Pasar Cihapit jadi rujukan pasar loak lain untuk mencari pasokan barang yang terbilang langka.

Cihaurgeulis (Suci)
Kondisi fisik Busra Buku Cihaurgeulis di Lantai II Pasa Cihaurgeulis sangat memprihatinkan. Keberadaan bursa buku yang terkenal pada dekade 1980 itu bagaikan tertelan pemandangan lapangan parker yang becek dan berlumpur, serta sampah pasar yang menumpuk sembarangan. Dari sekitar 80 kios yang berjualan pada akhir dekade 1980 kini hanya dua belas kios yang bertahan.
Lokasi Bursa Buku Cihaurgeulis yang strategis di pusat kota tidak dapat mendongkrak kembali popularitas pasar buku tersebut. Para pedagang malah harus langsung bersaing dengan toko-toko buku besar yang menawarkan diskon hingga tiga puluh persen. Padahal dilihat dari koleksi buku baru dan buku bekas, Bursa Buku Cihaurgeulis tidak kalah lengkah.

Bagaimana sobat tertarik untuk nyiar/mencari barang bekas di Bandung?

salam

Munding Dikawihan Kuda Didangdanan :: Dongéng

Munding Dikawihan Kuda Didangdanan
(ilustrasi: Mangle)
Baheula béh ditueun baheula, lembur urang téh leuweungna weuteuh, caina ogé curcor harérang ngagolontor ka walungan palid ka hilirkeun. Pangeusi ieu lembur lolobana mah sasatoan boh nu hirup di darat boh nu hirup di cai. Ari nu disebut jelema can loba harita mah. Caricing na di guha-guha batu, sakapeung bareng wé jeung sasatoan kayaning jeung maung, munding, kuda, atawa nu séjénna. Malah ari ku mindeng panggih jeung jiga nu sanasib mah antara jelema jeung sasatoan téh jiga anu silih hartikeun. Masing-masing nganggap baraya atawa tatangga anu babarengan hirup ngeusian hiji tempat.

Sanajan natangga, masing-masing boga kabiasaan sorangan, boga kabeuki anu béda. Sasatoan nu beuki jujukutan mun baranghakan tinggal ka pangangonan atawa ka leuweung ngagares jukut anu ngémploh héjo. Sato mah teu mikir pamali teu mikir boga batur, mun manggih kabeuki langsung diremus.

Nya kitu harita ogé, jelema boga kahayang sorangan jeung geus bisa mikir. Sanajan cicing di guha, ari dahareun mah hayang nu ngeunah, hayang bisa nyawah keur melak paré. Jelema hayang boga imah sangkan ulah kapanasan jeung katirisan.

Lantaran ku béda kabiasaan jeung kabeuki téa, jelema mideng ngambek ka sakadang munding jeung sakadang kuda. Ngambek téh lantaran kudu jeung munding mindeng pisan ngaranjah sawah jeung pepelakan jelema. Hiji waktu mah kuda jeung munding téh diontog ku jelema: “Hey sakadang kuda, sakadang munding, abong mangkeluk teu boda pikiran, ulah ngaruksak pepelakan batur atuh. Lamun hayang baranghakan indit ka leuweung néangan jukut ku sorangan.”

Sakadang kuda jeung munding méh bareng némbal bari reuwas da jelema datangna mawa pecut keur ngarangkét, “Hampura atuh sakadang jelema, da kami mah teu nyaho pepelakan maranéh”. Ngaromong rada ngosom bakat ku reuwas jeung sieun. “Tuh tempo sawah kami ruksak jeung pasti moal kaala paréna, gantian ku maranéh!”. Kuda jeung munding tingharuleng bari silih rérét. Duanana rumasa kana kasalahan tapi nya kudu kumaha ngagantianana.

Keur tinghaluleng kitu jelema datang deui bari ngacungkeun pecut jiga rék ngarangkét. “Kumaha kuda, munding sanggup ngagantian téh?” Nempo jelema jiga tambah ambekna, kuda jeung munding baradami yén rék nyanggupan ngagantian ku tanaga keur mantuan pagawéan jelema. “Kumaha mun ku kami digantian baé ku tanaga. Iraha baé aranjeun butuh ku tanaga kami, kami siap mantuan asal dicumponan paménta kami”. Ngadéngé kasanggupan kuda jeung munding kitu, jelema pohara atoheunana bakal aya nu mantuan digawé. “Naon atuh pamenta maraneh téh, pok omongkeun, sugan bae kami bisa nyumponan”.

Pok munding miheulaan sakadang kuda, “Heug kami mantuan gawé aranjeun asal kami dikawihan mun keur digawékeun, jeung sakadang kuda gé sanggup mantuan jelema asal didangdanan”.

Ngadéngé kahayang kuda jeung munding kitu, jelema malikir kamaha nyieun lagu keur munding jeung kamaha nyieun dangdanan keur kuda. Tapi teu lila geus kapikir. Lagu keur munding bakal diajak digawé di sawah jelema nyiptakeun tembang pupuh kinanti,
Mideur, kia, arang, luput
Mideur téh hartina malik
Ari arang mah kaliwat
Lamun kia sisi teuing
Luput téh nya mengkol téa
Eta kawih keur ilaing.
Barang éta lagu dicoba dikawihkeun, munding unggut-unggutan tanda panuju. Ari sakadang kuda ngan kulantang kulinting baé néangan dangdanan nu disanggupan ku jelema. Nempo kuda jiga nu panasaran, gancang baé baju kulit keur sakadang kuda téh ditembongkeun bari sakalian sina dipecakan. Barang rap dicoba enya bae kuda téh jadi leuwih kasép. Dina sirah aya hiasan jajambulan tina majun jeung génggé nu kékéréncéengan, make kacamata nu ngahiji jeung borongsong. Kadalina tina beusi nyambung kana eles. Dina dada ngadaplok toka-toka tina kulit nu ditarétés ku hiasan pérak nu harérang. Dina beuteung aya beubeur gedé nu ngahiji jeung sela paranti diuk jelema. Ka handapna disapatu ku beusi sangkan leumpang teuy tiseureuleu. Pokona ginding wéh dangdanan kuda téh. Sarua kuda gé ari tos nempo paméntana dicumponan mah unggut-unggutan bari hihieum tanda panuju kana kahayang jeung satu kana janti mantuan jelema.

Tah ti harita mah kuda jeung munding téh beuki mindeng tembong babarengan jeung jelema. Munding mindeng tembong digawékeun di sawah keur narik wuluku atawa garu, dikawihan ku jelema. Atuh sabada aya gawé bareng antara jelema jeung munding mah, pagawéan ngagarap sawah téh jadi leuwih énténg. Ari sakadang kuda beunang ngadangdanan tek sok sina narik keretek, ditumpakan ku jelelma lamun jelema rék nyanyabaan ka nu jauh.

Tah kitu ari hirup rukun sauyunan mah, mun aya pasualan téh dipigawé babarengan. Hasil mucekil, gawéan teu sabahara capé. Tah sakitu lanan dongéng picontoeun ti Aki minggu ieu mah.(Helins/Dongéng Aki Guru/Manglé No. 2299)**

Seni Tembang (Macapat, Tengahan, Gedhe)

Seni Tembang (Macapat, Tengahan, Gedhe), adalah salah satu kesenian yang terdapat di daerah Jawa. Artikel yang mengulas tentang seni tembang ini, archive69/arsip kula mengambilnya dari Buku Pintar Pepak Basa Jawa (Penyusun Ronggo Warsito, Penerbit NUSANTARA Surakarta). Seni Tembang “Macapat dan tengahan” ada persamaan nama-namanya dengan seni tembang yang ada di daerah Sunda yaitu Pupuh.

Seperti biasa saya ketik ulang sebagian isi buku yang mempergunakan bahasa Jawa ini. Sebagai berikut:




Tembang Jawa Ana Telung Warna:
- Tembang Macapat ana 11 pupuh
1. Asmradana 7. Magatruh
2. Dhandhang gula 8. Mijil
3. Durma 9. Pangkur
4. Gambuh 10. Pucung
5. Kinanthi 11. Sinom
6. Maskumambang
- Tembang Tengahan
1. Balabak 3. Jurudemung
2. Girisa 4. Wirangrong
- Tembang Gedhe
1. Citamengeng 3. Mintajiwa
2. Kusumastuti 4. Pamularsih

Ing tembang Jawa saben sak baris diarani sak gatra
Dhandang gula ana : 10 gatra (baris)
Gambuh ana : 5 gatra (baris)
Kinanthi ana : 6 gatra (baris)
Megatruh ana : 5 gatra (baris)
Pangkur ana : 7 gatra (baris)
Sinom ana : 9 gatra (baris)

Guru Wilangan lan Guru Lagu
Guru Wilangan - yaiku : Akehing kecap (ucap) suku tembung saben sa gatra (baris)
Guru Lagu - yaiku : Aksara urip (vokap) ing pungkasaning gatra (baris)

Tuladna:
Kinanthi guru wilangan guru lagu
Anoman malumpat sampun = 8 wanda = u
Prapteng witing nagasari = 8 wanda = i
Mulat mangandhap katingal = 8 wanda = a
Wanodya yu kuru aking = 8 wanda = i
Galung rusak wor lan kisma = 8 wanda = a
Kang iga-iga kaeksi = 8 wanda = i

Demikian artikel yang membahas tentang keberagaman seni yang ada di bumi Pertiwi ini. Tapi maaf-maaf, kalau pengetikan ulangnya ada kesalahan, maklum saya kurang memahami bahasa Jawa. Kalau ada sobat yang lebih fasih dan berkenan untuk mengalihkan bahasanya ke bahasa Indonesia, sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Salam

Hikmat Berbalut Tradisi (Lebaran di Beberapa Kampung Adat)

Hikmat Berbalut Tradisi (Lebaran di Beberapa Kampung Adat)
FOTO: USEP USMAN NASRULLOH/ ”PR”
WARGA bersalaman saling memaafkan seusai salat Id di Balai Pertemuan Kesatuan Adat Banten Kidul di Kasepuhan Adat Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (19/8)
GEGAP gempita perayaan hari kemenangan Idulfitri menjadi agenda tahunan masyarakat perkotaan. Keberhasilan melewati satu bulan Ramadan, diakhiri dengan gema beduk dan kumandang takbir di masjid sampai menyusuri jalan, juga tumpah ruahnya manusia ke pusat perkotaan dengan aneka kembang api dan petasa. Meriah.

Kondisi berbeda akan pembaca temukan jika merayakan Idulfitri di Kampung Adat di Jawa Barat. Idulfitri yang dimaknai kembalinya manusia kepada fitrahnya yang suci, lebih berlangsung hikmat, dengan menjunjung tinggi sakralitas hari kemenangan. Tentunya, tradisi khas yang masih dipelihara tetap menjadi pemandangan unik yang bisa pembaca saksikan.

Di Kampung Adat Urug yang terletak di Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor, hikmatnya Idulfitri 1433 H, sebenarnya sudah terasa sejak malam-malam ganjil di sepuh hari terakhir atau saat katam Alquran penghujung bulan Ramadan. Pada malam-malam tersebut, ketupat atau yang dikenal dengan sebutan pesor sudah disajikan. Hal itu berbeda dengan kebiasaan masyarakat kebanyakan yang menyajikan ketupat pada 1 Syawal.

Maka jangan heran, pada 1 Syawalnya justru tidak ada ketupat dan opor ayam di kampung berjarak 55 kilometer dari Kota Bogor ini. Makan yang paling umum disajikan adalah nasi tumpeng lengkap dengan lauk berupa daging dan ayam, kadang dengan bakakak ayam (ayam utuh).

Ketua Adat Kampung Urug Abah Ukat menuturkan sebelum mengumandangkan takbir di masjid Kampung Adat, masyarakat setempat menyiapkan syukuran di rumah masing-masing dengan makanan seadanya yang disebut ririungan. “Ririungan ini dimaksud untuk mengingat para leluhur,” ujar Abah Ukat.

Seusai ririungan, masyarakat berduyun-duyun ke masjid untuk mengumandangkan takbir hingga dini hari. Masjid kemudian akan menjadi pusat kegiatan selama Labaran. Pagi hari, salat Id mereka selenggarakan di masjid setempat. Setelah itu masyarakat adat berkumpul kembali ke masjid dengan membawa sejumlah makanan. Di tempat itu pula, mereka berbagi makan dan kegembiraan.

Sementara berlebaran di Kampung Pulo yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, masjid kampung adat tidak dijadikan sebagai tempat salat Idulfitri. Masyarakat adat lebih memilih salat Id di masjid desa setempat, membaur dengan warga lainnya.

Seusai salat Id, warga Kampung Adat Pulo berkumpul di halaman enam rumah yang berderet saling berhadapan. Warga kampung adat yang merupakan garis keturunan Eyang Dalem Arif Muhammad, penyebar Islam di Garut itu, menyambut hari kemenangan dengan peluk dan salam saling memaafkan. Barulah kemudian mereka berkumpul di Masjid Pulo.

Doa-doa dipanjatkan, dipimpin oleh Ketua Kampung Adat. Kusyuk dan khidmat, mereka memohon keselamatan bagi Rasulullah saw. dan para sahabatnya, memohon berkah dan keselamatan bagi warga kampung adat dan masyarakat sekitar.

“Setelah itu, baru kami berziarah ke makam keluarga dan makam Eyang Embah Dalem Arif Muhammad, leluhur Kampung Pulo yang tereletak di belakang Candi Cangkuang,” ujar Ketua Kampung Adat sekaligus kuncen Makam Arif Muhammad, Tatang Sanjaya (57).

Tradisi itu terus dipertahankan seperti halnya ketentuan jumlah dan bentuk tujuh bangunan pokok di Kampung Adat yang tidak boleh berubah. Tujuh bangunan pokok itu yakni enam rumah panggung panjang berbahan kayu dan bilik dengan posisi masing-masing tiga berjajar salang berhadapan dan masjid kecil.

Tidak boleh ada lebih dari satu kepala keluarga di dalam rumah. Saat ini, 21 orang warga yang tinggal di enam rumah adat Kampung Pulo adalah generasi ke-8, 9, dan 10 dari nenekk/kakek mereka. Mereka terdiri dari 12 laki-laki dan sembilan perempuan, termasuk diantaranya enam anak-anak.

Petasan Lodong Bambu
Suasana yang agak berbeda dari kampung adat di atas, bisa pembaca temukan di Kasepuhan Adat Ciptagelar yang berada di kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Di sana ada tradisi petasan tradisional lodong bambu, sang Ketua Abah Anom atau Abah Ugi Sugriana Rakasiwi bersama istrinya, Ma alit, didampingi para rorokan dan baris kolot (para sesepuh kampung) turun dari Imah Gede (rumah utama) pada malam menjelang idulfitri. Pakaiannya khas, mengunakan baju koko hitam atau putih dan berikat kepala.

Tidak hanya menyaksikan pembakaran petasan lodong, Abah Anom pun turut membakarnya, membaur dengan warga. Tradisi itu tetap bertahan mengingat menyalakan lodong rupanya menjadi kesenangan tersendiri Abah Anom sejak kecil.

Dalam waktu hampir bersamaan, ratusan anak kecil yang dibagi beberapa kelompok mendatangi rumah warga di sejumlah kampung. Dengan bunyi-bunyian, mereka berkeliling kampung mendatangi rumah warga mengumpulkan sedekah. Kegiatan itu disebut Nopeng dan berlangsung hingga tengah malam. Selanjutnya hasil nopeng dikumpulkan di balai peremuan untuk sedekah warga dan anak-anak yang terlibat ikut takbiran.

Sedekah juga diterima oleh Amil Adat Ciptagelar Rahman berupa makan dari warga yang langsung datang ke rumah Amil. Sedekah itu disebut sedekah kadaharan.

Prosesi pembuatan hingga pembagian sedekah kadaharan itulah yang berkesan hikmat. Sehari sebelum Idulfitri, warga sudah menghentikan seluruh aktivitas bercocok tanam dan berkonsentrasi Mapag Lebaran dengan berbagai acara ritual, salah satunya kegiatan bubar panggang.

Seluruh warga yang memiliki binatang ternak, wajib memotong dan memanggangnya. Daging panggang adalah salah satu makanan menu andalan lebaran yang sudah harus siap sebelum azan Magrib berkumandang.

“Binatang ternak, seperti ayam, bebek, kambing, dan itik harus tuntas dipanggang sebelum mamasuki takbiran bersama. Kalau tidak tuntas hingga Magrib maka pamali,” kata Amil Adar Ciptagelar Rahman. Selanjutnya, Amil akan menerima sedekah makanan hasil bubar panggang.

Dibantu seluruh anggota keluarganya, makan sedekah didistribusikan kembali kepada seluruh warga, tanpa terkecuali. Pembagian makanan harus tuntas sebelum salat Idulfitri.

“Warga yang memberikan sedekah harus kembali menerima makanan yang berbeda. Karena itu, keluarga Amil tidak menerima kunjungan tamu hingga usai membagikan makan sedekah,” tutur dia.

Pada 1 Syawal, hikmatnya lebaran mencapai puncaknya ketika Abah Anom didampingi istrinya, Ma Alit, menggelar Patarema Leungeun ( bersalaman). Kegiatan itu tidak hanya dihadiri para rorokan dan baris kolot. Semua warga juga tumplek memenuhi Imah Gede.

Uniknya, warga penuh santun bersalaman dengan cara ngesot baik kepada ketua adat, juga orang-orang yang dituakan. Puncak Lebaran berakhir setelah Abah Anom menyelenggarkan upacara Salametan Syukuran Lebaran.

Salametan ditandai dengan disajikannya semua olahan masakan Imah Gede kepada seluruh warga.

Agak berbeda dengan tradisi di Kelurahan Cigugur Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan.

Pertemuan disertai sapa salam lebaran dari warga non-Muslim kepada warga Muslim seperti itu, mewarnai suasana Idulfitri kemarin.

“Kelurahan Cigugur ini, sejak dulu sampai sekarang dikenal sebagai kelurahan di Kabupaten kuningan yang memiliki banyak penduduk berbeda-beda agama. Namun, kerukunan antarumat beda agama warga di kelurahan kami ini sampai sekarang selalu terjaga baik. Bahkan karena itu, Kelurahan Cigugur ini sering dibilang banyak orang, miniaturnya Indonesia,” ututr H. Diding Sunardi, seorang tokoh masyarakat setempat.
Ungkapan sanada juga dilontarkan sejumlah warga lainnya di kelurahan tersebut, termasuk Lurah (Kepala Kelurahan) Cigugur Ujang Sutrisna dan Camat Cigugur Jojo Juharsa yang melaksanakan Salat Id berjamaah di alun-alun depan Masid Jami Al-Jihad di kelurahan tersebut.

“Kerukunan antarwaarga berbeda agama di keluran ini tidak hanya ditunjukkan warganya pada hari raya Idullfitri sepertio sekarang ini, tetapi selalu terjaga pula dalam suasan sehari-hari serta pada hari raya agama lainnya,” kata Camat Cigugur Jojo Juharsa. (Dirangkum Amaliya/-“PR”. Laporan dari Ahmad Rayadie/Kismi Dwi Astuti/Arif Budi/Nuryaman/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Kampung Adat Sang Penawan Wisatawan

Kampung Adat Sang Penawan Wisatawan
ARIF BUDI K/”PR”
KELUARGA keturunan Kampung Adat Pulo berziarah di makam Eyang Dalem Arif Muhammad dengan latar belakang Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Minggu (19/8). Berziarah ke makam penyebar pertama agama Islam di Garut itu menjadi salah satu tradisi keluarga Kampung Adat Pulo pada perayaan Idulfitri.
UNIK selalu menjadi perhatian. Demikian pula dengan Kampung Adat di Jawa Barat, keunikannya mampu menawan para wisatawan termasuk wisatawan manca negara.

Tak heran, saat lebaran termasuk pada tahun ini, sejumlah kampung Adat kedatangan “tamu” dari luar kampung. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja mampir ke Kampung Adat misalnya Kampung Pulo untuk mengabadikan kentalnya suasana adat.

Kampung Adat Pulo yang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, memang ramai dilintasi ribuan pengunjung. Selain penasaran dengan tradisi kampung adat, pengunjung biasanya ingin menikmati keindahan Candi Cangkuang atau berziarah ke makam Arif Muhammad.

Candi Cangkuang memang menjadi salah satu objek wisata andalan Garut yang menyedot wisatawan, terutama wisatawan asing. Pesona utama objek wisata tersebut sebenarnya adalah sebuah candi dengan arca Dewa Syiwa peninggalan budaya Hindu abad VII-VIII.

Candi Hindu pertama dan satu-satunya yang ditemukan di Tanah Pasundan ini menjadi daya pikat turis asing sekaligus dijadikan sumber penelitian. Tetapi di belakang candi, terdapat makam Eyang Dalem arif Muhammad, penyebar agama Islam di Garut. Makam tersebut berhadapat dengan museum kecil yang berisi naskah-naskah Alquran dan Khotbah berusia sekitar empat ratus tahun.

Danau kecil menjadi perlintasan yang harus dilalui dengan rakit untuk bisa menjejak daratan tempat situs berdiri. Sepanjang perjalan di atas rakit, udara segar dan angin dingin akan terasa semilir. Gunung Haruman, Mandalawangi, dan Guntur yang menjulang dengan elok juga jadi pemandangan memesona yang dapat dinikmati kala menumpang rakit.

Sementara di Kampung Urug yang terletak di Kiara Pandak, Sukajaya, Kabupaten Bogor. Kebanyakan wisatawan lokal maupun asing, datang hanya pada perayaan tertentu seperti ruwahan, seren taun (perayaan syukur atas hasil bumi), sedekah bumi sebelum menanam padi, dan menyambut tahun baru Isalam. Pada saat Lebaran, nihil wisatawan.

Hal yang sama juga terjadi di Kasepuhan Adar Ciptagelar yang berada di wilayah Kampung Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Wisatawan ramai saat perasaan seren taun.

Tidak hanya warga setempat, warga di luar Kabupaten Sukabumi pun sangat antusias menyaksikannya. “Hampir setiap upacara seren taun, kami selalau menyempatkan diri menghadiri. Upacara tahunan di Ciptagelar, sangat kami nanti. Dari agenda yang kami dapat di kasepuhan, seren taun berlangsung 1-3 September mendatang,” kata Ruli, salah seorang warga Cicurug, Kabupaten Sukabumi.

Bagi masyarakat adat kasepuhan Banten Kidul di kaki Gunung Halimun yang mayoritas petani, aktivitas upacara seren taun yang diawali arak-arakan warga mengusung padi (rengko) merupakan bentuk syukuran atas panen yang mereka peroleh selama setahun. Arak-arakan ribuan pocong padi kemudian disimpan di lumbung yang disebut leuit di jimat. (Dirangkum Amaliya/”PR”. Laporan dari Ahmad Rayadie/Kismi Dwi Astuti/Arif Budi K,/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Pernikahan Adat Bekasi, Dipengaruhi oleh Adat Betawi

Bekasi Selatan mengunakan budaya Sunda, Utara menggunakan Budaya Betawi, sedangkan di Tengah Netral.

Tahap Pertikahan Adat Betawi
- Nedelengin:
Adat ini sudah tidak lazim dilakukan.
Dulu, di daerah tertentu ada kebiaasn menggantungkan sepasang ikan bandeng di depan rumah seorang gadis yang ditaksir. Pekerjaan itu bisa dilakukan oleh mak comblang atas permintaan orang tua pemuda. Setelah itu mak comblang mengunjungi rumah si gadis, dan setelah melalui obrolan dengan orang tua si gadis, mak comblang kemudian memberikan uang sembe kepada di gadis. Setelah ada kecocokan, mak comblang lalu menjadi juru bicara penentuan waktu dan barang yang akan dibawa untuk melamar.

- Ngelamar:
Pihak orang tua pria menyatakan permintaan resmi pada pihak wanita, yang ditindaklanjuti dengan pemberian jawaban langsung dari pihak wanita. Acara ini biasa dilakukan pada hari Rabu.
Salah satu prasyarat untuk menikah di antaranya calon pengantin wanita harus sudah tamat membaca Alquran.
Bahan-bahan yang dipersiapkan: Sirih lamaran, Pisang raja, Roti tawar, Hadiah pelengkah.
Utusan yang melamar terdiri atar: mak cmblang, dua orang wakil keluarga ibu, dan dua orang wakil keluarga bapak.

- Bawa tanda putus:
Acara yang melambangkan jika calon wanita sudah terikat dan tidak boleh diganggu oleh pihak lain. Dilaksanakan pada hari Rabu seminggu setelah acara ngelamar.
Pada acara ini juga dibicarakan hal-hal seperti mahar yang diminta, uang yang diperlukan untuk resepsi, perangkat pakaian, pelangkah, dan berbagai hal lainnya.

- Pra-akan nikah,
Terdiri atas: masa dipiare/dipelihara oleh tukang rias, siraman, tangas tau mandi uap rempah-rempah, ngerik dan memereahkan kaukau kaki dan tangan dengan pacar.

- Akad nikah:
Mempelai pria dan keluarga mendatangi rumah mempelai wanita menggunakan andong atau delman hias. Setelah seserahan dan akad nikah selesai, pengantin pria membuka cadar pengantin wanita dan acara kebesaran dimulai. Tarian kembang lalu dipersebahkan untuk menghibur kedua pengantin.

Barang bawaan: sirih nanas lamaran, Sirih nanas hiasan, Mas kawin, Miniatur masjid yang berisi uang belanja, Sepayang roti buaya (untuk menghormati sepasang buaya putih penunggu sungai – kehadirannya kental dalam tradisi masyarakat Melayu Betawi), Kotak berornamen tempat sayur dan telur asin, Jung atau perahu Cina (melambangkan bahtera rumah tangga), Hadiah pelengkap, Kue pengantin, Kekudang/kudanghan atau barang favorit yang disukai calon penganitn wanita dari kecil hingga dewasa (kudangan juga bisa beruda suatu barang yang dijanjikan oleh orang tua wanita saat ia masih kecil, jika kelak ia mendapatkan jodoh).

Pakaian:
Penantin Wanita: Baju kurung dengan selendang sarung songket. Kepala mempelaai wanita dihiasi sanggul Sawi, kemang goyang sebanyak 5 buah, serta hiasan sepsang burung hong.
Pengantin pria: jas rebet, kain sarung plakat, hem jas, serta kopiah. Saat resepsi pengantin pria mengenakan jubah arab/baju gamis.

- Acara negor:
Setelah akad nikah, pengantin pria nginap di rumah pengantin wanita selama beberapa hari, namun belum diperkenalkan berhubungan suami-istri.
Pengantin wanita akan bersikap jual mahal dan pengantin pria akan merayu dengan mengucapkan kata-kata indah dan memberikan uang tegor (diselipkan di bawah taplak meja atau tatakan gelas)

- Pulang tige ari:
Setelah bermalam beberapa hari di rumah pengantin wanita, orang tua pengan pria gembira anaknya mendapatkan istri yang dapat menjaga kesuciaanya. Kelaurga pihak pria lalu mengrimkan bahan-bahan pembaut lakes penganten kepada keluarga wanita.

Sumber: Pikiran Rakyat

Ketupat Idulfitri

Ketupat Idulfitri
Tanpa terasa saya bersama archive69/arsip kula, memasuki tahun ketiga berjumpa dengan hari kemenangan umat muslim. Idul Firtri tahun lalu saya mengarsipkan Kupat (ngaku lepat) Lebaran. Lebaran tahun ini pun saya mencoba mengarsipkan kembali sebuah esai yang ditulis oleh Asep Salahudin, dosen di IALM Suryalaya dan UIN Bandung, yang berjudul Ketupat Idulfitri. Diterbitkan koran harian Pikiran Rakyat edisi Kamis (Pahing) 16 Agustus 2012.



Ketupat Idulfitri

Oleh: Asep Salahudin, dosen di IALM Suryalaya dan UIN Bandung

ADALAH Claude Levi-Strauss seorang seorang antropolog berkebangsaan Prancis yang sampai pada sebuah kesimpulan bahwa makanan dapat dijadikan pintu masuk untuk mengungkap geneologi kebudayaan seperti tampak dalam bukunya Myth and Meaning (1978)

Orang menelaah kebudyaan tidak lagi perlu melulu jalur “resmi” semisal tari, pemikiran, lukisan, sastra, kesenian, tapi juga dari jenis dan karakteristik makanannya. Makanan sebagai bagian dari kreasi budaya luhur manusia. Makan menjadi pintu masuk untuk meneguhkan bahwa “aku makan oleh karena itu aku (budaya) ada”.

Ketika Idulfitri dilambangkan dengan ketupat, maka ketupat itu sendiri tidaklah berdiri sendiri. maknanya menjadi berkelindan secara simbolik tidak hanya dengan ritus spiritualitas namun juga dengan situs kultural. Tanda seperti ini telah secara laten disepakati bersama, kita tidak bisa menggantinya secara serampangan (arbitrer). Ketupat digeser misalnya dengan timbel. Akan menjadi terasa ganjil seandainya kita mengirim kartu Lebaran dengan gambar pohon nangka di pojok sisi kiri.

Ketupat yang berbentuk segi empat dengan sudut penempatan mengarah secara diagonal pada gilirannya bukan hanya menjadi makanan khas Idulfitri tapi juga menjadi semiotika Idulfitri itu sendiri. itulah yang menjadi alasan utama dengan mudah ditemukan gambar ketupat itu dalam kartu pos, email, Facebook, MMS. Ketupat menyatu dengan munajat “semoga puasa Anda diterima, kembali kepada kesucian dan menjadi orang-orang yang berbahagia, minal aidin wal faizin.

Sejarah
Konon katanya ketupat ini sudah ada sejak pemerintahan Demak dipimpin Raden fatah awal abad ke-15. Raden Fatah sengaja membuat ketupat yang dibagikan secara rutin kepada rakyatnya sebagai bagian “politik kerajaan’ untuk mencari simpatik massa. Dengan ketupat hati mereka terbeli. Tak ubahnya hari ini para politisi membeli masyarakat dengan sebaran parsel dan hadiah hari raya lainnya sebagai investasi untuk pemilihan umum dan atau pilkada.

Riwayat lain menyebutkan bahwa salah seorang Wali Songo, Sunan Kalijaga, adalah orang pertama yang mengenalkan tradisi ketupat pada masyarakat pedalaman Jawa. Sang wali itu memilah ketupat buatannya dalam dua tipologi: ketupan saat Lebaran dan ketupat yang dibikin seminggu setelah Lebaran. Ketupat-ketupat ini kemudian dibagikan kepada penduduk sekitar sebagai lambang hasrat menegakkan kohesivitas sosial. Ketupat di tangan sang wali menjadi sengat bersentuhan dengan etos penyebaran sebuah agama sebagai ekspresi dari ijtihad budaya lokalnya. Sebentuk komunikasi ritual sang wali yang dibungkus dengan ketupat agar pesan-pesan keagamaannya lekas tersampaikan.

Lima Tanda
Minimal ada lima tanda di balik plihan ketupat sebagai simbol Idulfitri: Pertama, melambangkan tekad pemadatan pengalaman keberagaman selepas Ramadan. Tak ubahnya padatnya beras yang ada di dalam ketupat. Ramadan diposisikan sebagai kawah candradimuka untuk melakukan pelatihan rohaniah. Dan sejauh mana pelatihan itu berhasil, acuannya adalah dalam pertandingan resmi pada sebelas bulan sisanya.

Kedua, melambangkan ihwal keniscahyaan membangun solidaritas kokoh yang melampaui sekat-sekat fanatisme kelompok dan ekslusifisme pemahan keberagamaan. Seperti kokohnya janur yang teranyam sehingga menjadi bentuk otonom dari sebuah ketupat segi empat tanpa pernah beras yang dimasukkannya ketika sudah matang kemudian menyembul ke luar dari garis kebebasan.

Tidak pernah terjadi nasi yang sudah matang (sikap beragama yang dewasa) menerabas bungkus ketupat karena merasa berhak untuk memonopoli kebenaran dan menganggap “lian” sebagai keliru.

Ketiga: membuat ketupat membutuhkan ketekunan agar anyaman yang dibuat sesuai keinginan, selaras dengan jalur yang telah terpolakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan tentang kewajiban proses dalam hal ihwal termasuk dalam membangun kematangan iman. Iman yang rusuh tapi toleran lebih baik dari pada klaim keimanan yang stabil tapi tertutup, intoleransi dan tidak bersedia didialogan dengan iman orang lain. Hal ini dengan sangat bagus ditulis filsuf Sunda Haji Hasan Mustapa yang menempatkan dirinya yang berada terus dalam proses mencari kebenaran sebagaimana tampak dalam sebuah guguritan-nya:

…Kadungsang-dungsang kasandung/Manggih lain manggih lain//ek nanya nanya ka saha/Keur pada ngalain-lain/Teu kaur asa paisa/Asa enya asa lain/Di buru da lain kitu/Di lain-lain da bukti//i sidik-sidik aringgis/Wantu mapay nu neangan/Kapanggih aringgis lain.

Pencarian yang meghajatkan sikap terbuka kepada “orang lain” sebagaimana terbukanya anyaman ketupat dengan anyaman yang lainnya untuk dipersatukan dalam bentuk yang dikehendaki. Da ang kudu jeung batur/da batur kudu jeung aing/da aing kudu jeung saha/da saha kudu jeung hiji/da hiji kudu jeung hiji/da hiji kudu jeung dua/da dua kudu jeung hiji.

Keempat: ketupat mengandung arti sikap dari yang ngaku lepat (mengaku salah). Pengakuan ini yang kemudian menjadi motif substansial di hari raya penuh kemenangan. Orang saling meminta permafaan. Pengakuan lepat ini penting sebab hanya diharapkan orang bisa mengiventarisasi kesalahan-kesalahannya dengan niat kuat untuk tidak diulangnya lagi di kemudian hari.

Pengakuan lepat menjadi tidak penting ketika justru kesalahan yang sama terus terulang. Tentu pengakuan seperti ini bukan hanya akan menjebak seseorang pada perayaan Idulfitri yang artifisial, tetapi juga dapat menumpulkan nuraninya sehingga pada akhirnya menghilangkan sensitivitas kepekaan sebab dia telah melakukan dusta bukan hanya dengan dirinya, dengan pihak lain, juga dengan Tuhannya.

Kelima: maka ketupat terasa kurang sempurna kecuali dibarengi “kerabatnya” serupa opor ayam, rendang, tumis, dan kerupuk. Filosonya bahwa seorang pemimpin dikatakan pemimpin ketika ada rakyatnya. Ketika rakyat melakukan pembangkangan dan sudah tidak percaya lagi maka kepemimpinan itu bukan hanya tidak legitmit, tetapi juga kan terasa hambar sebagaimana hambarnya Idulfitri hanya dengan ketupat tanpa kerabatnya itu. Dalam kontkes ini kepemimpinan harus dijangkarkan pada haluan moralitas yang kokoh agar pada akhirnya terwujud keadaban publik; suasana tiis ceuli herang mata, hurip gustina waras abdina, rea ketan rea keton rea harta jeung rea harti.

Alhasil, agar Idulfitri yang kita rayakan setiap satu Syawal tidak hanya menghidangkan ketupat, maka simbol di balik makanan ketupat itu mesti kita perhatikan bersama sehingga Idulfitri benar-benar dapat menyentuh dimensinya yang paling hakiki. Betul apa yang dibilang Levi, dari makan kita dapat belajar banyak hal. Dari ketupat kita dapat mencapai hakikat.***

Sumber: Pikran Rakyat



Akhirulkalam, saya ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H / 2012 M, Mohon Maaf Lahir Batin”.

Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI 1945

Naskah Proklamasi Kemerdekaan RI 1945
Naskah proklamasi diketik oleh Sayuti Melik





Lirik lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” (Chrisye 1997)

Chrisye
Chrismansyah Rahadi, seorang mualaf yang terlahir dengan nama Christian Rahadi. Dengan nama populer Chrisye. Banyak lagu yang menjadi hit dibawakan Chrisye, salah satu diantaranya yang berjudul “Ketika Tangan dan Kaki berkata” (lirik Taufiq Ismail. 1997)

Saya jadi teringat kembali, tak lama setelah kepergian Chrisye menghadap Sang Pencipta (30 Maret 2007). Di salah satu TV swasta Nasional menggelar acara mengenang kepergian Chrisye, disela-sela konser karya Chrisye (alm). G.F Damayanti Noor, istri almarhum sempat bercerita, bahwa Chrisye sempat beberapa kali mengulang saat mengambilan suara lagu Ketika Tangan dan Kaki berkata. “Almarhum sangat menghayati dalam membawakan lagu ini (Ketika Tangan dan Kaki berkata), tanpa terasa air matanya berlinang dan tak kuasa meneruskan rekaman”.

Untuk selalu mengingat karya yang sangat menyentuh ini. Saya coba arsipkan kembali lirik lagu Ketika Tangan dan Kaki Berkata, di archive69/arsip kula.

Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lgi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba...

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina


Lagu yang sangat indah ini. Pernah juga jadi soundtrack sinetron religi beberapa tahun kebelakang.

salam

Lalu, Abu Nawas Menjadi Sufi

(Oleh: H. Usep Romli HM, Pikiran Rakyat)

SEPERTI biasa, Abu Nawas alias Abu Hani Muhammad bin Nakami (735-810) keluyuran setiap malam. Ia mabuk-mabukan. Tak peduli saat Ramadan tiba, tatkala ayat-ayat suci bergema dari masjid-masjid di Bagdad yang meriah, di bawah pemerintahan Harun Arrasyid Al’abbasiy.

Bahkan, Abu Nawas meninggikan suara. Membacakan syair-syair secara spontan. Kalimat-kalimat puitis penuh leucon senda-gurau (mujuniyyah), gairah cinta kepada wanita (ghazl), sanjungan bagi seseorang (madh), sindiran halus tetapi tajam (hijaa’), dan puja-puji bagi alkohol (khumrayaat) meluncur dari mulutnya yang bau minuman keras.

Sial, malam itu, Abu Nawas berjalan sempoyongan hingga ke pinggir sungai Efrat, lalu terjerembap jatuh dan tenggelam. Ia tak berdaya disedot oleh pusaran air. Untunglah, seseorang tiba-tiba muncul, lalu menarik badan Abu Nawas dan membaringkannya di bantaran. Ia berkata, “Ya Abaa Hani, idzaa lam takun milhan tushlih, fa laa takun zubaabatan tufsid (Wahai Abu Hani, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan (hidangan), janganlah engkau menjadi lalat yang merusak (hidangan itu)”.

Abu Nawas langsung tersadar, merasa dirinya sebagai lalat, bahkan lebih hina dina. Bertahun-tahun mengarungi kehidupan, tidak membawa manfaat, sebagaimana garam memberi rasa sedap. Justru, ia terus menerus merusak, merusak, dan merusak. Padahal merusak dilarang keras oleh Allah swt. “Laa tufsiduu fi-lardhi. Inna-llaaha laa yuhibbu-lmufsidiin (Alqashash: 77)

Teringat pula ia bahwa malam itu bertepatan dengan Lailatulkadar. Malam seribu bulan. Tatkala malaikat turun ke bumi, menabur dan menebar salam keselamatan dan kesejahteraan hingga fajar datang menjelang.

Malam itu juga, Abu Nawas langsung bertobat. Mengganti syair-syair dengan zikir. Memindahkan malam-malamnya dari kafe, bar, atau pub, ke masjid. Ia tidak ingin lagi menjadi lalat. Biarlah tak menjadi apa-apa asal tidak membawa kerusakan bagi dirinya dan orang lain.
**

BEBERAPA kawan satu “geng’ mendatangi Abu Nawas yang sedang iktikaf di sebuah masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan. “Apa yang keluar dari bibirmu sekarang?” kata kawan-kawannya dengan nada mengejek.

‘Ayat-ayat Alquran,” jawab Abu Nawas, kalem.

“Yang kau pikirkan di kepalamu?”

“Kemahagungan Allah yang sudah mengubah manusia buruk seperti kalian menjadi manusia yang baik seperti aku sekarang”

“Kau habiskan malam-malammu dengan apa?”

“Dengan mendekatkan diriku yang hina dina kepada zat Mahamulia, yaitu Allah swt”.

“Lalu, siang-siangmu keluyuran ke mana?”

“Ke gurun dan samudra petunjuk-Nya yang penuh rahmat dan ampunan. Aku tak akan tersesat di situ karena firman-firman-Nya amat jelas,” kata Abu Nawas. Ia pun mengutip hadis Nabi Muhammad saw, “Afdhalu ‘ibaadati ummatii tilaawatu-lqur (sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran)

Abu Nawas menjadi sufi sejak itu. Ia banyak mengeluarkan syair tasawuf. Salah satunya yang masyur adalah:

Ilaahii, lastu li-lfirdausi ahlan/Wa laa aqwaa ‘ala-maari-ljahiimi/Fa hablii raubatan wa-ghfir dzanuubii (Yuhanku, sunggung aku bukan ahli surga/Aku pun tak kuat (menghadapi) siksa api neraka/Maka terimalah tobat dan ampuni dosaku/Sesungguhnya Engkaulah Sang Maha Pengampun atas segala dosa). (dinukil dari Abu Nawas, Hayaatuhuu wa Sya’iruhuu karya Mustafa Abdurrazzaq)

Sudah “Etnis”, Lupa “Suku”

Oleh: Hawe Setiawan

DALAM bahasa Indonesia baku, kata etnis adalah adjektiva alias kata sifat. Kata itu dipakai untuk menerangkan kata yang mendahuluinya. Contohnya, istilah kelompok etnis berarti sekelompok orang yang memperhatikan ciri-ciri entis tertentu.

Bahasa Indoensia menyerap kata etnis dari bahasa Inggris. Istilah aslinya adalah ethnic. Dalam bahasa Inggris, kata ethnic terutama berfungsi sebagai kata sifat, tapi sepertinya dapat juga berfungsi sebagai kata benda alias nomina. Salah satu variannya adalah ethnicity, yang dalam bahasa Indonesia biasanya dijadikan etnisitas, yaitu keadaan yang menunjukan ciri-ciri sekelompok orang.

Uniknya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi 2008, kata etnis hanya diserap sebagai kata sifat. Di situ diterangkan bahwa etnis adalah adjektiva dalam bidang antoropologi yang “berkenaan dengan ilmu tentang persebaran, kedaaan jasmani, adat istiadat, dan cara hidup berbagai macam orang”.

Meski begitu, banyak penutur bahasa Indonesia yang memakai kata etnis dalam fungsinya sebagai kata benda. Mereka menggunakan isitilah etnis Sunda, etnis Jawa, etnis Melayu, sebagainya. Seakan-akan mereka mengabaikan petunjung KBBI.

Sedikitnya ada dua kemungkinan penjelasan atas kesengajaan antara bahasa baku dan bahasa populer dalam pemakaian istilah etnis. Pertama, para penyusun KBBI barangkali kurang gaul. Mereka seakan tidak menggubris kegemaran para penutur bahasa Indonesia kini dalam urusan etnis. Kedua, para penutur bahasa Indonesia kini barangkali kurang percaya diri. Mereka seakan beranggapan bahwa kalau tidak ikut-ikutan menyerap segala yang berbau Inggris, hidup mereka bakal habis.

Misalnya, kita abaikan spekulasi demikian. Alih-alih berburuk sangka, kita dapat mengingat istilah suku yang kedengarkan bertabiat Indonesia. Dalam bahasa Indoensia, istilah ini mengandung banyak arti. Salah satu di antaranya adalah “kaki”, sama dengan arti suku dalam bahasa Sunda yang juga mengenal sampean dan cokor. Arti lainnya lebih kurang sama dengan atnis atau etnik.

Menurut KBBI, suku dapat berarti “golongan bangsa sebagai bagian dari bangsa yang besar”. Contonya Indonesia adalah “bangsa yang besar:, dalam arti bangsa yang terdiri ata banyak suku bangsa, seperti raksasa yang memililki banyak kaki. Saking besarnya, Indoensia seringkali tidak cekatan mengurus kesemua sukunya. Pada 1950-an, misalnya ada suku yang merasa tersisihkan oleh suku lainnya, setelah reformasi, ada pula suku yang sering pasang aksi, sampai-sampai ingin melepasakan diri dari kumpulannya. Dengan kata lain, Indonesia seakan mengalami amputasi.

“Di Indoensia, yang terbagi menjadi sekian pulau ketimbang menjadi sekian lanskap, unit-unitnya adalah (dan selalu berupa) … kaum --- suku, suku bangsa --- wahana dan idiologi penghubung bagi identitas bersama; dan negeri ini hendak menjadi bangsa diantara bangsa-bangsa. Jawa, Aceh, Dayak, Dani; Muslim, Hindu, Kristen; Melayu, Cina, Papua --- itulah yang perlu disatukan. Dan apa yang diperlukan untuk menyatukan mereka adalah cerita yang meyakinkan mereka bahwa, bahwa berdasarkan kodrat dan alamnya, mereka terikat secara politik,” papar mendiang antropolog Clifford Geerts sewaktu membandingkan masyarakat Indonesia dengan masyarakat Maroko dalam After the Fact (1995).

Kita catat kata kunci dari Geertz. Bagi Indonesia, “suku atau “suku bangsa” dianggap sebagai satuan terkecil yang menjadi “connective medium and ideology of general identity”.

Jauh-jauh hari sebelum orang Indonesia keranjingan bahasa Inggris, raja dangdut Rhoma Irama dan jutaan penduduk Indonesia lainnya sudah terbiasa menggunakan istilah Suku Sunda, Suku Jawa, Suku Melayu, dan sebagainya. Pada Zaman autokrasi Soeharto, aksara “S” dalam akronim “SARA” yang berbisa itu mengacu pada istilah suku pula. Malah pernah orang Indonesia memakai istilah “sukuisme” entah apa artinya.

Jika hari ini kita lebih cenderung memakai etnis ketimbang memakai suku, barangkali soalnya bukan sekedar lupa atau abai terhadap kosakata warisan leluhur. Jangan-jangan, kita sedang menyangsikan, masihkan suku atau suku bangsa merupakan satuan terkecil yang mempertautkan bagian-bagian Indonesia satu dengan yang lainnya.

Sumber: Pikiran Rakyat

Perempuan Miskin yang Dermawan

(Oleh: Yuliash, tutor di Pendidikan Anak Usia Dini [PAUD] Huwaida, Sarijadi, Kota Bandung. /”Pikiran Rakyat”)

SUATU ketika, dalam perjalanan dari Syam ke Hijaz, Abdullah bin Abbas ra dan rombongan singgah di suatu temapt. Ternyata mereka kehabisan bekal makanan. “pergilah ke dusun terdekat dari sini. Mudah-mudahan kau berjumpa dengan seorang penggembala atau orang yang mempunyai susu atau makanan.” Kata Ibnu Abbas kepada seorang anggota rombongan.

Bersama beberapa pelayan, orang itu pun pergi. Di dusun terdekat, mereka berjumpa dengan seorang perempuan tua. Mereka bertanya, “Apakah Anda mempunyai makanan yang dapat kami beli?”
“Makanan untuk dijual tidak ada. Aku mempunyai makanan sekadar untuk keperluan aku dan anak-anakku”.

Mereka bertanya lagi, “Mana anak-anakmu?”

“Di tempat penggembalaan dan sekarang sudah waktunya mereka pulang.”

“Apa yang Anda sediakan?”

“Roti bakar”

“Selain itu”

“Tidak ada,” kata perempuan itu.

Utusan Ibnu Abbas berkata, “Berilah kami sebagian”.

“Kalau sebagian tidak ada. Kalau mau, semunya, ambillah!” jawaban yang tentu saja mengejutkan. “Memberi sebagain adalah suatu kekurangan, sedangkan memberi semua itu adalah kesempurnaan dan keutamaan. Aku tidak suka kepada yang merendahkanku, tetapi Aku akan memberikan apa yang akan mengangkatku.”
**

PERCAKAPAN dengan perempuan itu dilaporkan kepada Ibnu Abbas. Ia merasa heran sekaligus penasaran. “Coba ajak perempuan tua itu kemari,” ia memerintah utusan tadi.

Di rumah perempuan tua itu, dialog kembali terjadi. “Mari ikut dengan kami menemui majikan kami karena beliau ingin berjumpa dengan Anda”.

“Siapa majikan kalian?”

“Abdullah bin Abbas.”

“Aku tidak mengenal nama ini, siap Abaas itu?”

“Paman Rasulullah saw.”

“Kalau begitu, ia adalah seorang yang mulia dan mempunyai kedudukan tinggi. Apa perlunya dengan saya?”

“Untuk membalas budi Anda.”

Singkat cerita, perempuan itu akhirnya mau menemui Ibnu Abbas.

“Anda dari kabilah mana?” tanya Ibnu Abbas.

“Dari kabilah Bani Kalb.”

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya lagi.

“Jika malam tiba, aku bertahan untuk tidak tidur. Aku melihat segalanya menyenangkan dan dunia ini tidak ada artinya, kecuali seperti yang aku peroleh.”

Ibnu Abbas bertanya, “Apa yang Anda simpan untuk anak-anak Anda jika mereka datang nanti?”

“Aku simpan untuk mereka apa yang telah dikatakan oleh Hatim Aththay’i, ‘Ada kalanya aku tidur kelaparan berkepanjangan sehingga aku dapatkan makanan-makanan yang baik-baik.”

Ibnu Abbas kagum akan jawaban perempuan itu, “Jika anak-anak Anda datang dalam keadaan lapar, apa yang akan Anda lakukan?”

“Hai Fulan, rupanya Tuan telah membesar-besarkan roti itu sehingga Tuan banyak bicara dan memikirkannya. Hilangkanlah sebab itu dapat merusak jiwa dan menyeret ke arah kehinaan.”

Ibnu Abbas memerintah anggota rombongan uintuk mengundang anak-anak perempuan tua itu. Setelah mereka tiba, Ibnu Abbas berkata, “Aku bermaksud akan memberikan sesuatu yang dapat kalian pergunakan untuk memperbaiki keadaan.”

Mereka menjawab, “Hal ini jarang terjadi. Kecuali karena diminta atau karena membalas budi.”

“Hai Fulan, kami hidup dalam berkecukupan. Oleh karena itu, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya. Namun, jika Tuan mau memberinya juga tanpa diminta, kebaikan itu akan kami terima dan kami syukuri”.

“Itulah yang aku maksudkan.” Ibnu Abbas pun memberikan uang 10.000 dirham dan 20 ekor unta. ***

Muslimah Pertama yang Mati Syahid

(Oleh: Nugraha Ramdhani, Pikiran Rakyat)

KISAH ini berawal ketika Sumayyah binti Khayyat dan suaminya Yasir, masuk Isalam. Sumayyah memutuskan memluk agama Islam setelah mendengar dakwah putranya sendiri. Ammar bin Yasir. Bahkan, mereka mengumumkan keislaman kepada banyak orang.

Sumayyah merupakan orang ketujuh yang memeluk Islam. Sebenarnya, ia hanyalah seorang hamba sahaya (budak) Abu Hudzaifah bin Mughirah. Sementara itu, Yasir merupakan seorang pendatang. Di kota Mekah, ia menetap dan berlindung kepada Bani Makhzum.

Singkat cerita, kabar soal Sumayyah dan suami yang memeluk agama Islam tersebar luas dan sampai ke telinga Bani Makhzum. Sumayyah dan Yasir pun ditangkap lalu didera berbagai siksaan. Orang-orang dari Bani Makhzum punya satu tujuan, memaksa Sumayyah dan Yasir keluar dari Islam.

Puncaknya, tubuh mereka diseret ke padang pasir tatkala cuaca sangat panas dan menyengat. Tubuh Sumayyah dibuang ke sebuah tempat lalu ditimbun dengan pasir yang sangat panas pula. Tak cukup sampai di situ, orang-orang Bani Makhzum meletakkan sebongkah batu besar di atas dada Sumayyah.

Meskipun demikian, tak sepatah kata pun rintihan, ratapan, apalagi penyesalan terucap dari bibir Sumayyah. Perempuan itu hanya mengucapkan satu kata yang terus diulang, “AhadAhad! (Esa…Esa).”
**

SUATU ketika, Rasulullah saw menyaksikan keluarga Muslim tersebut yang tengah menjalani siksaan secara kejam itu. Ia pun menadahkan tangan sambil menengadahkan wajah ke langit, lalu berseru, “Bersabarlah keluarga Yasir karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Rupanya, ucapan itu didengar oleh Sumayyah. Seperti mendapat suntikan semangat, bertambah tegarlah ia. Bertambah kuat pula keyakinan dan kewibawaan imannya. Lalu, dengan mantap, Sumayyah berujar, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar,” Kalimat itu diikuti Yasir. Tak hanya sekali mereka berucap, tetapi berkali-kali.

Ketegaran itulah yang membuat para penyiksa dari Bani Makhzum – termasuk abuk Jahal – putus asa. Abu Jahal naik pitam. Untuk melampiaskan kemarahan, ia menusukkan sangkur ke tubuh Sumayyah. Perempuan itu wafat. Ya Sumayyah binti Khayyat merupakan Muslimah pertama yang mati syahid pada zaman rasulullah saw. (dinukil dari buku “Mengenal Shabiah Nabi saw” terjemahan Abu Umar Abdullah Asy Syarif)

Kisah Tsumamah yang Hendak Membunuh Rasul

(Oleh: Hj. NUNUNG KARWATI, ustazah./”Pikiran Rakyat”)

TSUMAMAH bin Itsal merupakan musyrikin dari Kabilah alyamamah di Mekkah. Dia sombong dan ingin selalu dipuji karena keberaniaanya. Suatu ahri, dia sitantang oleh kaumnya. “Wahai Tsumamah, bila engkau memang pemberani, mengapa tidak pergi saja ke Madinah dan membunuh Muhammad?”

Tsumamah terpancing emosi. Karena tak ingin kehilangan muka, ia pun segera mengemasi perlengkapan dan senjatanya untuk pergi ke Madinah.

Tiba di Madinah, tsumamah kembali menunjukkan kesombongannya. Ia berteriak-teriak mencari majils nabi (tempat nabi berkumpul atau duduk-pen).teriakan tak sopan itu didengar oleh Umar bin Khaththab. Sang Asadullah pun segera menemui Tsumamah lalu bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah?”

“Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”

Tanpa banyak cakap, Umar segera membekuk orang musyrik itu. Setelah merampas senjata dan menelikungnya, Umar menggelandang Tsumamah ke masjid. Tsumamah tak mampu melawan. Sesampainya di masjid, tubuh Tsumamah diikatkan di salah satu tiang masjid. Setelah itu, Umar melapor kepada rasulullah.

Rasulullah segera menemui Tsumamah, mengamati wajahnya, lalu berkata kepada para sahabat, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”

Rasulullah mengucapkan kalimat itu dengan lemah lembut. Para sahabat tentu saja kaget, trutama Umar. Padahal, sejak tadi, ia menunggu perintah Rasul untuk membunuh Tsumamah. “Makanan apa yang anda maksud, wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh anda, bukan ingin masuk Islam,” kata Umar.

Namun, Rasulullah tak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku dan buka tali pengikat orang itu”, sebagai sahabat yang patuh, Umar menuruti perintah Rasulullah.

Setelah memberi minum Tsumamah, dengan sopan Rasulullah memintanya mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illa-llaah. Namun Tsumamah menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”

Rasulullah membujuk lagi, tetapi Tsumamah tetap pada pendiriaannya. Para sahabat yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram. Meskipun demikian, lagi-lagi, Rasulullah membuat keputusan janggal. Beliau malah membebaskan tsumamah lalu menyuruhnya pergi.

Tsumamah bangkit dan segera berlalu. Akan tetapi, belumlah jauh melangkah, Tsumamah kembali menemui Rasulullah dengan wajah ramah berseri-seri. Ia berkata, “YA Rasulullah, Aku bersaksi tiada ilah, kecuali Allah, dan Muhammad Rasul Allah”.

Rasulullah tersenyum lalu bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahmu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menggangap akan masuk Islam karena takut kepadamu. Namun, setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridaan Allah.”

Sebelum pulang, Tsumamah berkata, “Ketika memasuki Madinah, tiada yang lebih ku benci dari Muhammad. Akan tetapi, setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang kucintai, kecuali Muhammad Rasulullah. (dinulik dari “Mukhtashar Hayatu-Shshahaabat”)**

Museum Inggit Garnasih

Museum Inggit Garnasih
Ilustrasi parmaali/"PR"
Lokasi : Jalan Inggit Garnasih No. 8 (dulu Jln. Ciateul) Kecamatan Regol, Kota Bandung
Berdiri : 1920
Luas Bangunan : 161, 50 M2
Luas tanah : 260 M2
Pengelola : Dinas Parawisata dan Kebudayaan Jawa Barat
Koleksi Saat Ini : Dua pasang batu pipisan jenis batu andesit, foto peristiwa dan kegiatan para pejuang pelopor kemerdekaan, meja belajar Soekarno dan sofa, surat nikah dan permohonan cerai Inggit Garnasih
Fungsi : Museum koleksi Inggit Garnasih dari Soekarno, pusat studi sejarah pergerakan pejuang dan peran kaum ibu, serta wisata sejarah dan budaya
Fasilitas : Ruang kegiatan untuk Komunitas
BANGUNAN yang tadinya merupakan rumah tinggal ini menjadi saksi sejarah hubungan Presiden RI pertama Ir Soekarno dengan Inggit Garnasih. Keberaaannya seolah menegaskan pameo bahwa di balik seorang pria tangguh selalu ada wanita tangguh yang mendukungnya. Ya, Inggit Garnasih tak pernah mundur dari perjuangan mendukung suami, Soekarno, ketika sedang berusaha keras mencapai Indonesia merdeka. Wanita kelahiran 17 Februari 1888 di Desa Kamasan Banjaran, Kabupaten Bandung ini, bahkan rela ikut ke Ende dan Bengkulu demi menemani suami dalam pembuangan. Hari-hari bersama Inggit Garnasih dan anak angkatnya Ratna Djuami serta Kartika di pulau pengasingan, membesarkan jiwa Soekarno untuk terus melawan tirani penjajah.

Kala itu, pemerintah Hindia Belanda sangat giat memata-matai Soekarno di Partai Nasional Indonesia yang baru berganti nama dari Perserikatan Nasional Indonesia pada tahun 1928. Belanda menunggu kesempatan untuk segera meringkusnya bersama-sama para pejuang kemerdekaan Indonesia yang lain. Penjara Banceuy dan lapas Sukamiskin di Bandung adalah tempat yang dipersiapkan memenjarakan diri serta pemikiran Soekarno. Namun, kegigihan Inggit dalam memberikan semangat kepada suaminya itu membuat Sang Putra Fajar itu tak melempem di tengah dinginnya dinding penjara. Selama beberapa waktu, Inggit yang berjualan bedak, lulur, serta jamu untuk membiayai kehidupannya membesuk Soekarno dan memberikan makanan juga informasi. Dengan bermacam-macam kode dan cara, inggit berhasil menyelundupkan buku-buku yang menjadi sumber penulisan pledoi Soekarno yang terkenal, Indonesia Menggugat.

Pembelaan Soekarno ini membuka mata dunia akan buruknya efek penjajahan dan bangkitnya perlawanan pribumi. Meskipun Soekarno berjuang secara pemikiran dan fisik melawan penjajah Belanda. Inggit berjuang secara domestik memastikan perjuangan lainnya berjalan. Wanita ini rela berjualan rokok yang dibungkus daun kawung dan dilintingnya sendiri dengan merek “Rokok Kawung Ratna Djuami bikinan ibu Inggit Garnasih”. Upaya ini dilakukan karena Bung Karno selalu dibayangi penahanan dan pembuangan, serta hari-harinya lebih banyak tersita oleh konsolidasi perjuangan, sehingga dalam mencari nafkah lebih banyak dilakukan oleh Nyonya Soekarno.

Sejuta kenangan telah menghiasi rumah sederhana ini, yang hanya terdiri atas satu ruang tamu, satu ruang makan, dan tiga kamar tidur. Para pejuang datang dan pergi dari rumah ini setelah berdiskusi dengan Kusno, panggilan kesayangan Bung Karno dari Inggit Garnasih.

Inggit dinikahi Bung Karno pada tanggal 24 Maret 1923. Berbagai aktivitas politik yang sering digelar di rumahnya. Pada 23 Desember 2010, rumah ini telah diresmikan sebagai rumah bersejarah oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Bangunan cagar budaya ini ditingkatkan statusnya menjadi museum. Batu pipisan yang telah menemani Inggit membuat bahan kecantikan Sari Pohaci yang juga membantu membiayai perjuangan awal kemerdekaan, menjadi ikonnya. Inggit Garnasih tidak pernah tinggal di Istana, karena dalam upaya Soekarno mendapatkan keturunan, kedua pasangan ini bercerai pada 29 Januari 1943 dengan disaksikan salah satunya oleh Mohammad Hatta. Inggit Garnasih meninggal dunia pada 13 April 1984 di usianya yang ke-96 tahun dan dimakamkan di TPU Caringin (Porib) Kota Bandung.

Sumber: E. Saepulah/Periset “Pikiran Rakyat”

Ramadan Bersahaja di Kampung Adat

Ramadan Bersahaja di Kampung Adat
KRISHNA AHADIYAT/"PR"
RUMAH adat Kampung Kuta yang masih tetap terjaga kelestariannya di Dusun Kuta, kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jumat (27/7). menururt sesepuh Kampung adat Kuta, Ki Warja (64), agama Islam yang dipeluk warganya merupakan amanat dari para pendahulu. Adalah "pamali' jika ada warga yang tidak mengemban amanat itu dengan baik.*
Di Kota, suasana Ramadan identik dengan ingar-bingar yang dibalut komersialisme. Sementara di kampung adat, Ramadan disikapi secara sederhana. Tidak ada penjual tajil dadakan atau pemhamburan uang dengan membakar petasan. Masyarakat kampung adat menjalni puasa apa adanya dengan tetap menjung karifan lokal.

Akhir pekan lalu, ”Pikiran Rakyat” berkesempatan mengunjungi Kampung Naga di Kabupaten Tasikmalaya dan Kampung Kuta di Kabupaten Ciamis. Meski hanya melewatkan waktu masing-masing satu hari dikedua kampung itu, kesan khidmat dan kerendahan hati dengan mudah ditangkap. Orang-orang yang menghabiskan hidupnya dengan memegang teguh prinsip adar-istiadat itu ternyata dapat memaknai Ramadan begitu dalam.

Di kampung Naga, warga berbuka puasa dengan memanfaatkan bahan-bahan makanan yang dihasilkan dari bumi kampungnya. Beras dari sawah yang ditanam sendiri, sayur-mayur dari kebun yang mereka petik sendiri, dan ikan dari sungai Ciwulan yang mereka pancing sendiri. tidak ada menu istimewa yang sengaja dihidangkan sebagai kompensasi menahan lapar seharian seperti yang banyak terjadi di perkotaan.

Aktivitas warga pun berlangsung sebagaimana hari-hari lain di luar Ramadan. Para perempuan masih menumbuk padi untuk makanan sehari-hari. Anak-anak juga masih dengan sabar menapaki ratusan anak tangga dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah. Kampung naga pun tetep dibuka untuk kunjungan para wisatawan mancanegara dan lokal. Pria-pria kampung Naga yang bekerja sebagai pemandu kunjungan dengan sabar menemani dan menjawab pertanyaan dari para pengunjung.

Menurut salah satu warga Kampung Naga, Abah Ayo (56), tidak ada yang istimewa dengan pelaksanaan ibadah puasa di kampungnya. Hanya ada dulag di masjid kampung yang selalu dibunyikan untuk membangunkan warga menjelang sahur. Suasana berbeda baru didapat pada malam hari takbiran, dimana gema takbir dengan alunan dulag diselingi dengan permainan rebana dan lantunan selawat.
**

Di Kampung Kuta Kabupaten Ciamis, bulan Ramadan tahun ini dijalani dengan khidmat. Kondisi kampung yang kesulitan air membuat banyak warga mengalami gagal panen. Sebagian warga menyebut tahun ini sebagai tahun paceklik. Itu sebabnya, para sesepuh adat di kampung Kuta mengimbau agar semua warga menahan diri. Anak-anak tidak diperkenankan membakar petasa. Selain mengganggu ketertiban, bermain petasan juga dianggap menyia-nyiakan uang. Warga kampung pun diimbau untuk memanfaatkan hasil bumi kampung seefisien mungkin.

Menurut sesepuh kampung Kuta. Ki Warja (64). Agama Islam yang dipeluk warga Kampung Kuta merupakan amanat dari para pendahulunya. Adalah pamali jika ada warga yang tidak mengemban amanat itu dengan baik. Itu sebabnya, sampai sekarang, semua warga Kampung Kuta masih memeluk agama Islam. “Aya kasebat cenah pamali. Pamali téh aya makna, perilaku manusa anu bener, jujur, yakin, iman. Pamali téh poma ulah lali,” ujarnya.

Hanya dengan kecap pamali dari tokoh adat, warga dapat memahami norma-norma yang berlaku dalam kehidupan di kampung adat. Jarang ada warga yang berani melanggar hal-hal yang dianggap tabu itu. Mungkin itu sebabnya Ki Warja sangat yakin bahwa tradisi memeluk agama Islam di Kampung Kuta akan bertahan hingga kiamat datang.

Suasana puasa di Kampung Kuta baru terasa hingar bingar pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam ganjil. Dalam rangka menyambut lailatulqadar, warga melaksanakan syukuran pada setiap malam ganjil. Penduduk setempat kerap mengistilahkannya sebagai lilikuran. Para pria dan anak-anak menggelar terbangan, permainan alat musik mirip rebana yang dipadu dengan lantunan selawat dan lirik tentang dakwah.

Pada malam-malam itu, secara bergantian, warga mengirimkan makanan ke masjid kampung untuk disantap para jemaah. Biasanya, acara berlangsung sejak bakda salat Isya hingga menjelang sahur. Makanan yang dihidangkan merupakan makanan khas Kampung Kuta.

Seperti Kampung Naga, bahan-bahan yang digunakan sebagai makanan juga berasal dari hasil bumi kampung. Di Kampung Kuta, makanan khas yang selalu hadir saat malam lilikuran adalah cimplung, yaitu singkong muda yang direbus dalam air gula aren.

Begitulah warga kampung adat menyikapi Ramadan. Mereka dapat menempatkan dari sesuai dengan makna-makna dalam setiap berkah yang terkandung di bulan puasa. Tidak ada satu pun warga yang ditemui "PR" dalam mengungkapkan kresahannya menyambut Lebaran. Mereka semua tampak berbahagia dan bersyukur dengan apa yang dilikinya saat ini. Cara pikir mereka memang sederhana, tetapi merekalah yang justru mampu memahami ini dari bulan penuh ampunan ini. Mereka tidak terjebak ke dalam makna-makna semu yang terkadang sangat jauh dari arti Ramadan yang sesungguhnya.

Sumber: Lia Marlia/”Pikiran Rakyat”